Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Curiga


__ADS_3

"Tapi?? Tapi apa Steve?" Mara menunggu perkataan Steve yang menurutnya masih menggantung.


"Tunggu aku kembali Mara, aku akan beritahu semuanya padamu nanti,"


"Kenapa tidak sekarang Steve? Kenapa harus nanti?" Tanya Asmara penasaran.


Steve tersenyum kecil, kembali ditatapnya nanar seorang wanita yang kini ada di hadapannya. Wanita yang akhir-akhir ini terus mengisi relung hatinya. Wanita yang ingin sekali ia miliki, ya dialah Asmara Arsytanty.


"Mara, kau akan tahu nanti setelah aku kembali dari Amsterdam,"


"Steve, kau payah sekali! Jangan membuatku penasaran!"


"Justru aku menginginkan itu, untuk kejutan,"


"Kejutan??" Mata mara membola, benar-benar tak sampai keotaknya arah pembicaraan Steve yang menurutnya rancu.


"Aku harus pergi Mara, jaga dirimu baik-baik," Steven mengangkat tangannya, kemudian menepuk pundak Mara perlahan. Sebenarnya ia amat ingin memeluk Mara saat ini, tetapi ...


Ya, masih banyak kata TAPI yang mengganggu ruang geraknya saat ini. Masih banyak beberapa hal yang menurutnya belum boleh dilakukan.


Karena sudah waktunya Steven berangkat, pesawat yang akan dinaikinya sebentar lagi akan take off, mau tak mau ia harus meninggalkan Mara.


Berat pasti bagi Steve, entah kapan lagi ia dapat melihat senyum wanita pujaannya secara langsung, bahkan baru berjarak beberapa meter saja ia sudah merindukan Mara kembali.


"Mara, tunggu aku kembali. Aku pastikan kau akan jadi milikku!" Ucap Steve dalam hati. Meski sebenarnya ia ingin mengungkapkan perasaannya saat ini juga.


Dari kejauhan Mara menatap kepergian Steve yang kian menghilang, Mara melambai-lambaikan tangannya sebagai tanda salam perpisahan.


"Hati-hati Steve, semoga perjalananmu menyenangkan," Mara pun kembali menuju toko kuenya. Ia beringsut pergi menuju keluar dari kawasan Bandara Internasional Soekarno Hatta.


Di dalam mobilnya, Mara menyalakan musik dengan suara pelan. Ia pun menyanyikan lagu itu dengan menggoyang-goyangkan kepala dan satu tangannya ke atas.


...****************...


Di tempat berbeda, tepatnya di sebuah Rumah besar keluarga Malik, saat ini Bintang Putri Agyan atau yang sering dipanggil Star, tengah asyik bermain boneka baru pemberian dari tante cantiknya. Tanpa ditemani baby sitternya Sumi, Star sibuk berbicara sendiri dengan boneka-bonekanya. Ia berbicara dengan gaya bahasa seperti anak kecil pada umumnya.


Karena hari ini Byan pulang lebih cepat tak seperti biasanya, ia pun menghampiri putri kecilnya yang sedang bermain didalam kamarnya.


"Star, asyik sekali mainnya??" Tanya Byan yang terheran-heran melihat keasyikan Star dari ambang pintu kamarnya.

__ADS_1


"Papa sudah pulang??" Star menghentikan aktivitas bermainnya sejenak, kemudian ia pun menyalami Byan yang kini menghampirinya dan duduk di pinggiran ranjang tepat bersebelahan dengannya.


"Sudah sayang, Star mainan apa?" Tangan byan mengusap puncak kepala Star pelan, namun Mata Byan menelisik setiap boneka yang tergeletak diatas kasur beralaskan sprei berwarna Pink muda itu.


"Boneka pa," ucapnya singkat. Kemudian Star meraih Boneka kelinci berwarna Pink, hal itu pun sontak menjadi sorotan mata Byan.


"Star, Boneka baru?" Tanya Byan ketika merasa tak asing terhadap boneka yang kini tengah dipegang Star.


"I-ya pa," Star baru sadar, ternyata ia ketahuan memiliki boneka baru oleh papanya. Pasti papanya akan mencerca dirinya dengan beberapa pertanyaan lagi, itulah yang Star fikirkan saat ini.


"Siapa yang membelikan?? Papa baru lihat,"


"Emmmm, Star baru dapat hadiah dari teman, Pa," Star bingung, terpaksa ia berbohong pada papanya. Karena ia takut papanya akan marah jika ketahuan bertemu dengan orang asing.


Sebenarnya Star ingin bercerita pada Byan tentang Tante cantik yang selama ini ia temui, namun ia masih belum berani mengatakan hal itu pada Byan. Ia lebih memilih menunggu beberapa waktu lagi.


"Hadiah??? Dalam rangka apa? Kenapa Papa tidak diberi tahu?"


Byan merasa tak asing dengan boneka itu, dia terus menyelidiki anaknya dengan beberapa pertanyaan. Sungguh, Byan sangatlah penasaran.


"Terus, siapa Teman Star itu??" Lanjut Byan lagi.


"Star belum makan?? Ya sudah ayo kita makan bersama," Byan pun mencoba lebih sabar lagi menghadapi tingkah anaknya yang kian membesar. Ia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya perihal boneka yang ia lihat tadi.


Karena Star mengajak makan, Byan pun menuruti permintaan putri kecilnya itu. Meski sebenarnya ia pulang cepat dari kantor untuk beristirahat.


Sedang asyik makan siang bersama, Andryani datang menghampiri Byan dan Star di meja makan.


Namun Andryani datang tidak sendirian, ia datang dengan seorang wanita cantik bertubuh proporsional ala model.


Ketika itu Andryani menyapa cucunya, kemudian memperkenalkan wanita yang bersamanya itu pada Star dan Byan.


Star menyalami wanita muda nan molek itu, tapi Byan hanya diam saja.


"Kamu cute banget, namanya siapa, nak?" Sapa wanita itu pada Star dengan sedikit pujian. Tentunya pujian itu tulus, karena memang benar Star sangat cute menurutnya.


"Star." Setelah menyalami wanita itu, Star pun berpamitan pada Byan dan Andryani untuk pergi ke kamarnya.


"Omma, Papa, Star ingin ke kamar,"

__ADS_1


Belum sempat Kessy memperkenalkan dirinya pada bocah itu, tapi sudah ditinggalkan begitu saja. Yah, apa boleh buat namanya juga anak-anak. Kessy tak begitu mengambil hati akan tindakan Star.


"Kessy, maaf ya Star memang sedikit agak cuek sama orang yang baru ditemuinya," itulah alasan Andryani agar Kessy tak merasa kecewa atas tingkah Star barusan.


"Anak itu begitu lucu Tante, dia begitu menggemaskan," Kessy memuji Star untuk membuat dirinya terlihat baik di depan Byan.


"Ya sudah, kamu ngobrol dulu ya sama Byan, Tante ingin membuat minuman sebentar,"


"Tant, tidak perlu repot-repot!"


Andryani hanya tersenyum sipu, kemudian ia pun pergi ke dapur untuk membuatkan Kessy minuman.


Sepeninggalan Andryani, Byan tak juga mengeluarkan suaranya. Ia hanya fokus dengan makanan yang belum sempat dihabiskan.


"Kita ketemu lagi By ..."


Lagi-lagi Kessy yang harus membuka suara. Karena menurutnya jika menunggu Byan mungkin sampai lebaran monyet pun tak akan membuka suaranya.


"Ya," Byan hanya berkata sesingkat itu dengan sedikit anggukan kepalanya.


"Kamu makan tidak menawariku By?" Hanya sekedar basa-basi, tapi lebih tepatnya Kessy ingin lebih akrab dengan Byan.


Byan menghentikan aktivitas makannya, ia meraih gelas berisi air putih dan meneguknya hingga tandas.


"Kamu bukan tamu spesial yang harus aku tawari makan," Byan pun beranjak dari duduknya, ia kemudian pergi meninggalkan Kessy.


"Loh, Byan kenapa pergi? Mau kemana nak?" Mengetahui Byan pergi begitu ia datang membawa minuman untuk Kessy, Andryani pun mencoba menghentikan langkah Byan.


"Byan mau istirahat Umi, Byan lelah," Byan melajukan langkah kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


"Ya ampun anak itu!!!" Andryani mengumpat kesal melihat kelakuan Byan.


"Kessy, maaf ya Byan tuh memang sedikit cuek sama seperti Star. Jadi tolong kamu maklumi saja ya ..."


"Ya, Kessy tahu Tante. Santai aja, tidak masalah. Biarkan Byan istirahat sepertinya dia lelah dan penat,"


Kessy mencoba lebih ramah lagi pada Andryani meskipun dia sudah diacuhkan oleh Byan dan juga Star. Kesal, sangat kesal tapi ia harus lebih ekstra sabar lagi demi mendekati keluarga Malik untuk mencapai tujuannya.


"Aku pastikan kau akan bertekuk lutut padaku Byan, lihat saja nanti ..."

__ADS_1


__ADS_2