
"Mara, percaya padaku. Aku akan membuatmu bahagia, sampai akhir hayatku," ucap Steven meyakinkan Mara.
Ia tak ingin jika Mara akan menjauhinya setelah ungkapan perasaannya ini di tolak oleh Mara. Sebisa mungkin, ia mencoba untuk meyakinkan Mara kembali.
"Steve, aku percaya itu. Tapi kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang, bukan?"
Bagaimana pun Mara ingin menolak perasaan Steven dengan baik juga secara halus. Ia juga tak ingin ada kesalahpahaman lain. Meski sebenarnya hatinya kini sudah menjadi milik Byan. Bahkan, sejak dulu Mara tak bisa menghilangkan rasa ini untuk Byan.
"Mara, perasaan itu akan timbul dengan sendirinya nanti. Aku yakin, perlahan aku akan membuatmu mencintaiku. Seperti aku yang sangat mencintaimu," keyakinan Steven sudah bulat. Ia juga sudah bertekad untuk mendapatkan hati Mara hari ini juga.
"Steven, definisi itu tidak benar!" Mara mengambil tas kecil miliknya, ia berusaha untuk tidak takut lagi dengan apa yang akan di lakukan Steven terhadapnya.
"Mara, bahkan kau belum pernah mencobanya? Kita sama-sama mencoba, aku yakin kita bisa bersama, menikahlah denganku," tidak berhenti sampai di situ, Steven masih kukuh membujuk dan meyakinkan hati Mara agar menerima dan menikah dengannya.
"Steve, maafkan aku. Aku tidak bisa," Mara sudah mulai kehabisan kesabaran. Ia pun menuju ke arah pintu untuk keluar. Dengan begitu, hatinya ini akan sedikit tenang.
"Mara, kau mau kemana?" Steven mencegah kepergian Mara. Ia mencekal tangan Mara dengan kuat.
"Steve, lepaskan. Aku ingin sendiri," ucap Mara dengan suara lesu.
"Aku tidak akan membiarkan kau pergi, sebelum kau menerimaku!" Mata sayu yang tadi Steven tampakkan, kini telah berubah menjadi mata yang begitu tajam.
"Apa yang kau lakukan, Steve? Apa kau memaksaku?" Mara tak habis fikir dengan apa yang diucapkan Steven. Ternyata benar, jika Steven mengajaknya pergi ke negara ini karena memiliki tujuan lain, bukan bisnis yang seprti ia janjikan.
"Aku sudah mempersiapkan ini semua jauh-jauh hari, aku ingin melamarmu, aku ingin membuat kesan yang baik di depanmu, kau tak bisa pergi begitu saja, Mara,"
Ternyata watak asli Steven pun terlihat oleh Mara hari ini. Sikap yang ia tunjukkan selama ini tak sepenuhnya benar, bukan tak mungkin jika masih ada sifat buruk lain yang ia sembunyikan.
"Steve, jangan memaksaku, lepaskan!!" Mara tak mau lagi bersama di dalam ruangan ini bersama Steven. Ia pun memilih ke luar dan membuka pintu.
"Asmara!!!" Teriak Steven, ia tak menduga jika rencananya kali ini akan gagal.
__ADS_1
Steven berjalan cepat, langkahnya melebar untuk mengejar Mara.
"Mara, tunggu!!" Steven kembali berteriak.
Mara tak memepedulikan panggilan Steven sama sekali, ia terus berjalan menelusuri jalanan yang tak ia ketahui.
"****! Umpat Steven. Dengan cepat ia pun melilih berlari mengejar Mara. Ia tak mau kehilangan jejak Mara.
"Mara, berhenti! Aku bilang berhenti!!!" Steven meraih pergelangan tangan Mara. Akhirnya ia pun mendapatkan wanita keras kepala itu kembali.
"Tolong jangan keras kepala," ucap Steven sembari menahan emosinya yang sudah kian memuncak.
"Steven, aku tidak keras kepala. Kau yang keras kepala!" Bantah Mara pada Steven.
"Mara, mari kita bicarakan ini baik-baik. Jangan pergi begitu saja, ayo kita kembali ke dalam,"
Steven membujuk Mara kembali. Mungkin ia harus bersikap lebih lembut pada Mara, karena cara keras membuat Mara malah semakin menolaknya.
"Mara, jangan bersikap seperti ini. Ayolah," ajak Steven lagi dengan nada semakin lembut namun terlihat dari wajahnya jika ia sangat terpaksa. Sebenarnya Steven tak ingin terus-menerus membujuk Mara. Bahkan ia tak sabar ingin Mara segera menerima tawarannya itu.
"Steven, lebih baik kita kembali ke Seoul. Aku tidak mau berada di tempat ini," Mara mulai lelah berdebat tanpa ujung dengan Steven.
"Mara, bagaimana mungkin? Aku sudah mempersiapkan semua ini jauh-jauh hari hanya untuk dirimu ..."
"Oh, rupanya ini semua rencanamu, Steve? Jadi, semua bisnis yang kau bicarakan itu bohong? Semua relasi yang terus kau puji-puji itu hanya tipuan? Benar begitu?"
Mara tak habis fikir, ternyata Steven selicik ini. Mengapa ia harus berbohong hanya untuk mengajak Mara ke tempat ini? Steven ternyata penuh misteri.
"Mara, itu semua tidak bohong. Masalah bisnis, kita bisa bicarakan besok. Tapi, aku hanya ingin kau segera tahu perasaanku yang sebenarnya, aku tak ingin terus menundanya lagi," jelas Steven dengan perasaan yang tak menentu.
"Aku ingin pulang!" Teriak Mara, ia tak mengindahkan lagi perkataan Steven. Ia mencoba melepaskan cekalan tangannya, namun Steven tak melepaskannya begitu saja. Steven malah mencengkram tangan Mara semakin kuat.
__ADS_1
"Mara, jangan begini," lirih Steve berharap Mara akan mengerti dan menuruti keinginannya.
"Steve, lepaskan!" Mara masih mencoba memberontak, namun tak ada yang bisa ia lakukan karena Steven terus saja memaksa Mara untuk ikut dengannya.
"Ikutilah bersamaku, maka kau akan aman," Steven kembali merayu Mara.
"Tidak! Aku ingin pulang!" Mara masih menolak keras. Ia lelah, bahkan kini ia sudah menangis namun Steven tetap memaksanya untuk tinggal.
"Mara, kita akan pulang besok. Tapi untuk malam ini, kita harus bermalam di sini," jelas Steven lagi.
"Lepaskan Mara, baj*ngan!!!"
Seseorang datang melayangkan tendangannya dengan keras ke arah Steven hingga membuatnya terjatuh di atas rerumputan tepat di depan Villa.
Steven mengaduh kesakitan, ia memegangi bagian punggungnya yang terkena tendangan Byan.
"Mas, Byan??" Mara begitu terkejut dengan kedatangan Byan.
"Mara, kau tak apa?" Byan memegangi wajah Mara dengan kedua tangannya. Kemudian ia memeluk tubuh Mara dengan erat.
"Byan?? Mengapa dia ada di sini??" Steven meremas rerumputan hijau dengan kekesalan yang memuncak akibat kehadiran Byan.
"Steve, apa yang kau lakukan pada Mara, hah??" Byan menarik kerah kemeja Steven dengan tatapan garangnya. Emosinya kini sudah memuncak, karena melihat Mara telah menangis meski ia belum tahu apa yang telah Steven perbuat pada jandanya itu.
"Mas, Byan, sudah!!!!" Mara berteriak ketika melihat Byan akan melayangkan pukulannya ke wajah Steve.
Beruntung Byan mendengarkan Mara hingga ia pun menurunkan kepalanya tangannya itu. Byan memilih menghempaskan tubuh Steve dan membiarkannya. Yang dikhawatirkan Byan adalah keadaan Mara saat ini.
"Jangan kau mengganggu Mara lagi, atau aku akan menghajarmu!!"
Mendapat ancaman dari Byan Steve hanya menyeringai, menurutnya belum waktunya untuk memberi pelajaran pada Byan.
__ADS_1
Byan memilih menghampiri Mara, ia pun mengajak Mara pergi dari tempat ini dengan menggandeng tangannya.