
Tatapan dalam Byan membuat Mara tak bisa berkutik. Apalagi kini bagian dadanya sudah tepat berada di depan wajah Byan. Mungkin kini Byan dapat mendengar ritme degupan jantung Mara yang tak beraturan.
"Mas, apa yang kau lakukan?" Mara mencoba menetralkan hatinya.
"Kau ingin melewatkanku?" Byan masih tak ingin melepaskan Mara. Meski gelagat Mara saat ini sudah menunjukkan bahwa ia ingin segera dilepaskan.
"Apa yang harus aku lewatkan?" Mara mencoba membuang pandangannya ke arah lain. Tak berani lagi menatap mata Byan lebih lama.
"Eum," Byan menelusuri setiap jengkal area wajah Mara yang membuatnya terpesona. Fikirannya melayang-layang membayangkan sesuatu.
"Dasar mesum!!" Mara menjentik kening Byan dengan jarinya.
"Kau tak menyesal? Kau yakin?" Tanya Byan meyakinkan Mara sembari memegangi keningnya yang sempat dijentik oleh Mara.
"Mas, jika aku memakanmu maka nanti kau akan habis!"
"Tak apa, jika itu akan membuatmu puas!" Byan tak mau kalah.
"Lebih baik kau makan nasi goreng itu!" Perintah Mara dengan nada naik satu oktaf.
"Aku akan memakannya setelah kau memakanku," jawab Byan belum mau melepaskan Mara dari pangkuannya.
"Kau ini!" Mara merasa jengah. Bahkan Byan tak juga melepaskan dirinya meski ia sudah melakukan berbagai macam cara.
Cup!
Entah keberanian dari mana, Mara mendaratkan bibirnya itu ke pipi Byan. Bukannya wajah Byan yang berubah kemerahan, ini malah sebaliknya. Mara lah yang merasa malu.
"Apa itu tadi?" Byan memegang dagu ranum yang kini ada di depannya.
"Mas, lepaskan aku!" Pinta Mara tak tahan lagi dengan sikap Byan dengan mengarahkan pandangannya pada tembok.
"Sekali lagi,"
"Apanya?"
Byan menunjuk pipinya, berharap Mara akan mengerti maksudnya.
"Tidak!" Mara menolak.
"Jika begitu, aku tidak akan melepasakanmu!"
"Mas, berhenti bermain-main?"
"Mara, dari awal sudah ku katakan, aku tidak bermain-main dengan ucapanku!" Sungguh, malam ini ingin sekali ia menghabiskan waktu bersama Mara.
"Besok aku akan pergi," lanjut Byan lagi. Ia mencoba mengatakan satu hal yang belum Mara ketahui.
"Aku tahu," jawab Mara santai. Karena tadi saat di pemakaman, ia sempat mendengar jika Byan akan pergi ke Papua. Bahkan jika mengingat Byan menangis, Mara malah ingin tertawa.
"Kau tahu? Apa?" Tanya Byan lagi tak percaya.
"Kau akan pergi ke Papua, bukan begitu?" jawab Mara penuh dengan keyakinan.
"Kau bahkan sudah tahu, jadi biarkan aku ..."
__ADS_1
Mara segera melepas cekalan tangan Byan dari dagunya. Ia pun melepaskan pegangan Byan dari pinggulnya. Setelah semua terasa longgar, ia pun beranjak dari pangkuan Byan saat ini.
"Habiskan makananmu," Mara duduk tepat di seberang Byan. Dengan begitu, Byan tak bisa lagi mengganggu atau menggodanya.
Mara menemani Byan menyantap nasi goreng itu hingga habis tak tersisa. Tak di sangka, jika masakan Mara begitu memikat lidahnya.
"Kau sudah pandai dalam memasak," puji Byan setelah selesai meneguk air putih.
"Aku pandai dalam segala hal," Mara membanggakan dirinya sendiri.
"Benarkah? Jika begitu, maukah kau ..."
"Jangan meminta yang tidak-tidak Mas," potong Mara pada ucapan Byan yang belum selesai. Ia yakin, di balik perkataan Byan yang belum selesai itu, ada kelanjutan yang tak bisa ditebak.
"Mara, kau tak apa jika aku pergi?"
"Tentu," jawab Mara singkat.
"Meski aku pergi jauh?" Byan kembali bertanya lagi.
"Ya, tak masalah bagiku,"
"Tapi, itu masalah bagiku, Mara," Di sini sepertinya hanya Byan yang tak bisa jauh dari Mara.
"Mas, kau pergi untuk bekerja. Bukannya kau sudah terbiasa keluar kota?"
"Mara, rasanya aku ingin membawamu bersamaku," Byan sudah menunjukkan wajah lesunya.
"Siapa aku yang harus ikut denganmu, Mas?"
Pertanyaan Mara membuat Byan tersadar. Selama ini ia pun belum memperjelas apa hubungan mereka sebenarnya.
"Mas, sudah malam sebaiknya kau segera pulang," Mara mencoba mengalihkan topik. Pertanyaan yang sempat ia lontarkan tadi justru menjadi bomerang untuk dirinya sendiri.
"Mara," Byan beranjak dari duduknya, ia menyandarkan tubuhnya di meja makan tepat di mana kursi Mara berada. Posisi keduannya pun kini saling berdekatan.
"Mara, katakan padaku jika kau pun menginginkan pengakuan?" Byan menatap lekat wajah Mara. Namun Mara malah membuang pandangannya ke arah lain. Hal yang selalu Mara lakukan untuk menghindari Byan. Itu juga digunakan untuk lebih menetralkan hatinya saat ini.
"Tatap mataku, Mara," Byan meraih dagu Mara kembali agar menatap matanya.
"Mas, heumpt ..."
Tanpa basa-basi dan tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Byan segera meraup bibir ranum dengan lapisan lipstick berwarna nude itu. Dengan lembut Byan ******* perlahan bibir itu hingga membuat mata keduanya saling terpejam.
"Kau tak mau mengakuinya?" Tanya Byan dengan nafas yang masih memburu setelah berhasil mendapatkan kecupan lembut di bibir Mara.
Mara tak tahu lagi apa yang tengah terjadi pada dirinya. Sentuhan Byan tak bisa di tolak oleh tubuhnya yang terasa kian melemah.
"Mara, jangan membohongiku," Byan kembali mendekatkan kepalanya ke arah Mara.
Namun Mara segera mengelak dan memundurkan sedikit tubuhnya agar Byan tak menyentuhnya.
"Mas, aku belum tahu apa isi hatiku sebenarnya. Jujur, ketika dekat denganmu aku merasa sedikit nyaman, tapi ..."
"Tapi apa? Kenapa ada kata tapi jika kau sudah merasa nyaman bersamaku??" Byan tak mengerti dengan pemikiran Mara saat ini.
__ADS_1
"Mas, mungkin ini terlalu cepat," Mara kembali mencari alasan.
"Baik, akan ku beri kamu waktu. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?"
Mara masih diam, ia belum bisa menjawab pertanyaan Byan.
"Bahkan kau tidak bisa menjawab, Mara apa aku harus menikahimu sekarang juga?" Byan tak sabar lagi, ia segera meraih tengkuk leher Mara dan kembali mendapatkan bibir ranum itu.
"Heumpttt," Mara mencoba melepaskan pagutan bibirnya bersama Byan. Namun Byan tak melepaskan begitu saja. Byan malah semakin memperluas penjelajahannya dengan menggigit bibir bagian bawah milik Mara hingga mulutnya pun terbuka. Di saat itulah Byan memainkan lidahnya menelusuri setiap rongga mulut Mara.
Setelah berhasil, Byan pun memainkan segala keahliannya untuk menciptakan kepuasan baginya dan juga untuk Mara.
Beberapa detik, setelah keduanya merasa kehabisan nafas, Byan pun melepaskan pagutannya. Dengan nafas yang tersengal, baik Mara atau Byan kembali saling menatap.
"Aku mencintaimu, Mara," lirih Byan tepat di dekat telinga Mara.
Deg!!
Ungkapan cinta dari Byan membuat tubuh Mara bergetar hebat. Antara percaya dan tak percaya, namun ia masih bungkam tak membalas dengan perkataan apapun.
Byan kembali mengecup lembut bibir ranum itu, kemudian ia mengecup kening Mara dengan perlahan dan sedikit lama.
"Asmara, aku tak memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Karena aku akan terus menunggu sampai kau benar-benar siap!"
Bukan tak ingin mendapat jawaban dari Mara segera, namun Byan merasa harus memberikan pengertian terhadap Mara. Ia tahu jika Mara masih bimbang dan belum mempercayai dirinya sepenuhnya.
"Aku tak ingin kau terburu-buru, aku hanya ingin kau benar-benar bisa melihat ketulusan dan kesungguhanku," Byan kembali mengecup puncak kepala Mara. Rasanya ia tak ingin melepaskan Mara malam ini. Karena besok ia harus pergi, dan tak tahu kapan ia akan kembali.
Byan meraih ponsel di saku celananya, kemudian ia menyerahkan ponsel itu ke pada Mara.
"Untuk apa?" Tanya Mara bingung.
"Berikan nomor teleponmu," Byan berharap Mara akan memberi nomor teleponnya agar nanti ia bisa lebih leluasa menghubungi Mara.
Mara tersenyum, tanpa basa-basi lagi ia pun mendial dua belas digit nomor teleponnya di ponsel Byan.
"Mara," suara Kamila dari luar kini sudah terdengar pertanda ia sudah pulang dari arisan.
"I-iya, Bu," perasaan Mara menjadi takut. Takut jika ibunya akan tahu apa yang baru saja ia lakukan bersama Byan di meja makan.
Berbeda dengan Byan yang terlihat bersikap santai dan tenang.
"Bu, aku menunggu Ibu pulang," Byan menyalami tangan mantan mertuanya.
Kamila hanya mengangguk disertai senyuman ramahnya pada Byan.
"Bu, besok aku akan pergi ke Papua. Sekalian ingin pamit," ucap Byan.
"Baiklah, hati-hati Nak Byan,"
Mara mengantarkan Byan sampai depan gerbang rumahnya, Byan menatap wajah Mara begitu lama. Bahkan ingin rasanya ia menculik Mara dan menjadikannya guling tidur malam ini. Tapi, masih banyak pertimbangan pada diri Byan. Belum lagi masalah Abinya, ia pasti tak akan suka jika tahu Byan dan Mara masih terus bertemu.
"Jaga diri baik-baik, Mara" Byan berpesan pada Mara untuk malam terakhir ini.
Setelah berpamitan, Byan pun menuju ke dalam mobilnya. Ia menyalakan klakson mobil satu kali sebagai tanda perpisahan.
__ADS_1
Asmara menatap mobil hitam metalic yang kini semakin hilang dari pandangannya. Kemudian ia segera mengunci gerbang dan masuk ke dalam rumah.
"Dia berpamitan seolah akan pergi begitu lama," Asmara bergumam sembari menggelengkan kepalanya pelan mengingat perkataan Byan. Tanpa ia tahu, sebenarnya Byan memang akan pergi dalam waktu yang lama. Bahkan Byan sendiri belum tahu kapan ia bisa kembali ke Jakarta.