
Byan sangat ingin menghabisi Steven ketika melihat Mara sudah menangis terisak. Entah apa yang Steven lakukan, yang jelas hal itu pasti amat menyakiti Mara.
Belum saatnya Byan menanyakan apa yang telah Steven perbuat padanya, hingga membuat Asmara menangis seperti ini. Biarlah nanti Mara akan bercerita sendiri ketika hatinya sudah merasa tenang.
"Mara," Byan memberikan sebotol air mineral untuk wanita pujaan hatinya itu.
"Terimakasih," begitu menerima air mineral yang Byan serahkan, Mara pun langsung meneguknya hingga tandas. Tenggorokannya memang terasa kering sejak ia bangun tidur, karena tak sempat meminum air.
"Sudah, jangan menangis lagi," Byan mengusap sisa-sisa air mata di wajah Mara dengan tangannya.
"Mas, bagaimana kau tahu jika aku ada di sini?" Tanya Mara penasaran. Karena ia merasa tak memberi tahu pada Byan tempat yang ia datangi bersama Steven. Sebenarnya ia pun tak tahu di mana ia berada saat ini.
"Itu bukan hal yang sulit, Mara. Yang terpenting sekarang adalah kau sudah kutemukan. Kita kembali ke Seoul?"
Byan masih memegangi dan memandangi wajah Mara, bahkan ia tak ingin berpaling lagi. Melihat Mara mengangguk, Byan pun segera melajukan mobilnya dengan cepat mengantarkan Mara pulang menuju tempat penginapannya.
...****************...
Byan terus menemani Mara di kamarnya, ia tak ingin meninggalkan wanita itu sendiri. Karena sampai sekarang pun Mara tak berbicara sepatah kata pun.
Di tatapnya wanita yang masih memperlihatkan wajah sedihnya itu dalam diam. Mara masih bungkam dengan tubuh yang bersandar di kepala ranjang.
Hati dan fikirannya terus saja mengingat perbuatan Steven padanya. Ia sungguh tak menyangka jika Steve akan berbuat sejauh ini. Pertemanan dan tali saudara yang tengah ia bangun bersama Steven kini hilang, membuatnya tak bisa mempercayai Steven sepenuhnya kembali.
"Mara, sudahlah," Byan menggenggam tangan Mara erat-erat, mencoba menenangkan hati Mara saat ini.
Mara menatap lekat wajah pria yang terus menemaninya sejak tadi tanpa jemu.
"Kau tak bosan, Mas?"
"Bosan?" Byan menaikkan satu alisnya, di tatapnya Mara dengan heran. Namun, setelah itu dia tersenyum kecil.
"Aku tak akan pernah bosan, jika di hadapanku nampak sosok bidadari," Byan memegang wajah Mara yang terasa dingin.
"Bidadari dari Hongkong!" Mara menjadi tersipu malu, bisa-bisanya Byan menggombalinya disaat sedih seperti ini.
"Indonesia," jawab Byan lagi.
"Siapa?" Tanya Mara dengan membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Bidadari," jawab Byan tanpa melepas pandangannya dari Mara.
"Mas, bisakah sehari saja kau tidak bermain-main atau menggombal?" Mara sudah mulai kesal.
"Jika sejak tadi kau seperti ini, mungkin aku tak akan sesulit ini menahannya," Byan memegang dagu bangir milik Mara, ia memajukan wajahnya agar dekat dan melakukan apa yang kini tengah ia fikirkan.
Drtttt.... Drttt.....
Sayangnya, ponsel di dalam saku celana Byan terus bergetar beberapa kali hingga membuat Byan harus menunda aksinya terlebih dahulu kali ini.
"Mas, tidak di angkat?" Tanya Mara ketika melihat Byan tak kunjung meraih ponselnya.
"Ck! Mengganggu saja," Byan berdecak kesal. Ponselnya itu terus saja bergetar tanpa henti.
Mara hanya tersenyum melihat kekesalan di wajah Byan. Sungguh Byan malah terlihat semakin menggemaskan di matanya.
"Mungkin itu penting," ucap Mara mencoba menyadarkan Byan.
Byan meraih benda pipih berwarna hitam itu dari aku celananya. Ia melihat nama si penelpon yang telah berani mengganggu aktivitasnya kali ini.
"Siapa, Mas?" Tanya Mara penasaran.
Mara terdiam setelah tahu jika Kessy menelepon lelakinya. Kini hatinya berubah menjadi kesal setelah mengetahui itu. Namun ia belum bisa mengakui jika hatinya kini tengah merasa cemburu. Padahal ia memang benar-benar sedang cemburu.
"Ada apa?" Byan berbicara datar dan dingin pada Kessy via telepon.
"By, kau kemana? Apa kau lupa jika ada meeting penting hari ini!!!" Kessy mengingatkan Byan masalah pekerjaan penting. Ia kesal ketika Byan tiba-tiba menghilang tanpa memberitahu padanya. Menurutnya Byan bersikap aneh sejak semalam. Ia tak tahu kemana Byan pergi kerana baru pulang pagi hari.
"Apa kau tidak bisa mengurusnya?" Byan menjawab perkataan Kessy di seberang sana.
"Kau fikir aku boss di sini? Jangan membuat gagal proyek ini Byan. Atau kau akan di makan oleh Abi-mu sendiri!!" Kessy menutup sambungan teleponnya sepihak. Ia sungguh kesal dengan perilaku Byan yang seenaknya itu hingga ia pun berbicara dengan keras.
"Ck, si*l!!!" Umpat Byan kasar. Ia tak menduga jika Kessy berani menutup teleponnya sepihak.
"Ada apa, Mas?" Mara penasaran ketika melihat wajah cemas pada wajah Byan.
"Mara, segera bereskan pakaianmu!" Perintah Byan.
"Pakaian? Untuk apa?" Mara tak paham terhadap permintaan Byan yang tiba-tiba ini.
__ADS_1
"Mara, aku ada meeting penting di kantor,"
"Oh, begitu. Jika ada meeting penting mengapa tidak segera pergi, Mas?"
Mara heran dengan sikap Byan. Ia mengerenyitkan dahinya hingga terlihat beberapa kejutan di sana.
"Mara, aku tidak mungkin meninggalkanmu di sini," ucap Byan khawatir.
"Mas, tidak perlu secemas itu. Aku bisa menjaga diri, pergilah!" Mara berusaha meyakinkan Byan agar tidak terlalu mencemaskan keadaanya.
"Mara, ayo ikut denganku," pinta Byan lagi.
"Mas, pergilah. Aku bisa menjaga diriku sendiri," senyuman manis Mara menghiasi wajahnya yang sempat sembab itu. Ia berusaha meyakinkan Byan kembali meski sebenarnya ia masih tak rela jika Byan pergi. Namun, ia juga tak mungkin ikut dengan Byan.
"Tidak mungkin, aku takut jika dia akan ..."
"Mas, aku yakin Steven tidak akan mungkin bertindak bod*h seperti apa yang kau fikirkan," Mara tahu kekhawatiran Byan ini berkaitan dengan Steven.
"Hmmm," Byan menghembuskan nafasnya kasar. Ternyata Mara masih saja mempercayai Steven meski ia sudah mengetahui jika Steven berlaku kasar padanya.
"Mas, jika dia macam-macam aku akan segera menghubungimu," Mara berusaha membuat Byan percaya padanya.
"Baiklah, setelah urusanku selesai aku akan segera datang menemuimu," Byan mengecup puncak kepala Mara perlahan, meski sebenarnya bukan puncak kepala itu yang menjadi tujuan sebelumnya.
"Hati-hati," pesan Mara pada Byan yang kini sudah terlihat terburu-buru.
Byan menganggukkan kepalanya pelan. Terasa berat ia meninggalkan Mara sendiri, namun ia tak punya pilihan lain karena Mara tak mau ikut dengannya.
Byan berjalan cepat menyusuri lorong hotel tempat Mara menginap. Meski sebenarnya tubuhnya begitu lelah, namun ia harus kuat demi menjaga wanitanya itu. Ingin rasanya ia membawa Mara dan menaruh tubuh wanita itu di dalam sakunya. Tapi, hal itu sangat mustahil.
Selang dua puluh menit, Byan pun tiba di kantor. Ia sengaja mempercepat laju kendaraannya agar segera tiba dan menyelesaikan meeting pentingnya kali ini.
Sudah banyak orang yang menunggu kehadiran Byan, sang pemimpin perusahaan di dalam meeting room sejak lima belas menit yang lalu.
Ternyata Byan terlambat. Untung saja Kessy bisa meyakinkan mereka untuk menunggu Byan lebih dulu.
Ketika melihat Byan datang, wajah Kessy menjadi sedikit lega. Ternyata usaha yang ia lakukan pun tak sia-sia. Ia pun segera menyambut kedatangan Byan dan menyerahkan materi meeting hari ini.
"Maaf, aku membuat kalian semua menunggu, " Byan membungkukkan tubuhnya sebagai tanda untuk menyapa orang-orang penting di dalam sana, sekaligus permintaan maaf atas keterlambatannya.
__ADS_1