Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Pria Batu part.2


__ADS_3

"Dasar Pria Batu!" Umpat Kessy.


"Awas saja, aku takkan membiarkanmu lolos begitu saja! Aku akan membuatmu bertekuk lutut, Byan!"


Dengan tubuh yang basah kuyup, Kessy pun pergi keluar dari rumah keluarga Malik. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi disertai amarah yang luar biasa. Ia sungguh ingin memikat hati Byan, namun sebelumnya ia ingin memberi pelajaran terlebih dahulu pada Pria Batu itu.


Sementara itu, Byan menghampiri Andryani dan Star setelah selesai mengganti pakaiannya. Dilihatnya Star sedang terbaring sembari memeluk erat boneka kelinci pemberian Mara. Sesekali dapat terdengar lirih olehnya, jika Star sedang berbicara dengan boneka itu.


Hal itu sungguh membuat Byan Khawatir, namun ia juga bersikap optimis jika Star perlahan pasti akan mampu ia luluhkan. Menurutnya, sikap Star saat ini hanyalah untuk menggertak dirinya saja.


"Star, sudah makan?" Tanya Byan baik-baik disertai senyum yang menghiasi wajahnya.


Namun rasanya percuma, Star tak juga menjawab pertanyaannya. Sakit sekali rasanya mendapat sikap acuh tak acuh dari Putrinya sendiri. Apalagi ini sudah berlangsung selama dua hari.


"Byan, tadi Kessy kemari," Andryani mencoba mengambil alih topik pembicaraan.


"Umi jangan pernah mengizinkan dia masuk ke dalam rumah kita lagi," jawab Byan tegas. Ia benar-benar lelah dibuat kesal oleh para wanita termasuk Uminya sendiri.


"Byan, apa lagi salah Kessy? Dia baik, bahkan dia terlihat menyayangi Star," jelas Andryani. Ia belum tahu jika Kessy memiliki niat buruk pada keluarganya.


"Umi belum mengenalnya,"


"Byan, melihat sikapmu seperti ini Umi jadi khawatir!" Andryani kini menaikkan nada bicaranya satu oktaf. Ulah Byan akhir-akhir ini benar-benar menguras otak dan tenaganya.


"Tidak perlu mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja, Umi!" Byan pun pergi keluar meninggalkan Andryani dan Star. Ia tak ingin lebih lama berdebat dengan Uminya yang hanya membuat kepalanya semakin terasa ingin pecah.


"Pergi saja, bawa batu keras yang ada di kepalamu itu!" Lagi-lagi Andryani memijit kepalanya yang bertambah pusing akibat memikirkan Byan.


...****************...


Andryani menelisik setiap sudut toko kue milik Asmara yang kini ia singgahi. Bukan, ia sengaja datang kemari untuk menemui Asmara. Bahkan membutuhkan banyak bantuan dari Mantan menantunya itu.


"Umi," melihat Andryani berada di dalam toko kuenya Asmara begitu terkejut. Pasti ada hal yang ingin Andryani sampaikan hingga membuatnya datang kemari.


"Mara, bisakah kita bicara sebentar?" Andryani tak ingin berbasa-basi.


Benar dugaan Mara, ia pun mempersilahkan Andryani masuk ke dalam ruang kerjanya yang tak begitu luas. Ia juga menyiapkan segelas teh aroma melati hangat untuk mantan mertuanya itu.


"Mara, kau terlihat berbeda, " ucap Andryani membuka pembahasan melihat penampilan dari diri Mara saat ini.


Mara tak ingin banyak bicara, ia harus bersikap waspada ketika berhadapan dengan mantan mertuanya itu. Hingga ia hanya mengeluarkan sekelibat senyuman keterpaksaan saja.


"Mara, mungkin kamu sudah menebak mengapa Umi datang menemuimu,"


"Aku tidak mau asal menebak, Umi," jawab Mara dengan penuh kehati-hatian.

__ADS_1


Andryani mengulum senyumannya, ia kemudian memegang tangan Asmara dengan lembut.


"Mara, maafkan Umi dan Byan," Andryani memperlihatkan matanya yang kini mulai memerah. Berharap jika Mara akan percaya jika kata maaf yang ia sampaikan ini benar-benar tulus.


"Untuk apa?" Mara tak mengerti dengan maksud pembicaraan Andryani.


"Untuk semua kesalahan di masa lalu bahkan kemarin," jelas Andryani yang kini sudah mengeluarkan titik air matanya.


"Umi ..."


"Mara, maukah kamu hari ini menemui Star? Dia bahkan tak mau makan lagi setelah hari itu," Andryani semakin menggenggam erat tangan Mara.


"Umi, tapi ..."


"Tolong jangan lihat Byan, tapi lihatlah Umi dan Star. Umi yang memintamu untuk menemui Star, abaikan saja Byan," jelas Andryani lagi mencoba meyakinkan Mara.


"Umi, maaf tapi aku tidak bisa," Mara pun melepaskan genggaman tangan Andryani.


"Mara, apakah Umi harus meminta izin pada Ibu Kamila?"


"Umi, tidak perlu memberitahu Ibu," tolak Mara tak ingin mengaitkan masalah ini pada Ibunya. Ia berfikir jika waktunya sudah tepat, maka ia akan memberi tahu semuanya sendiri.


"Mara, apa kamu tahu? Satu rumah tak ada yang diajaknya bicara selain boneka kelinci itu, bahkan ia tak mau membuka mulutnya untuk Byan! Umi benar-benar khawatir pada Star, Umi membutuhkan bantuanmu ..." Andryani kini sudah mulai menumpahkan air matanya. Kali ini ia benar-benar membutuhkan Mara demi cucu yang sangat dicintainya.


Mata mara mulai memerah mendengar penjelasan Andryani, ia tak menyangka jika Star akan melakukan hal senekat ini. Fikiran akan terjadi hal buruk pun berkecamuk dalam otaknya, ia tak ingin semua itu terjadi.


Karena tak tega dengan keadaan Star, Mara pun akhirnya mengangguk sebagai tanda setuju atas permintaan Andryani.


Andryani di buat senag oleh keputusan Mara, ia pun memeluk tubuh Mara dengan hangat. "Terimakasih, Mara,"


Mara pun ikut bersama Andryani menuju ke kediaman Malik untuk menemui Star. Ia juga sudah tak sabar ingin berjumpa dengan anak menggemaskan itu, menurutnya Star adalah separuh dari bagian hidupnya. Lagi-lagi ia mengesampingkan masalah hatinya demi Star.


Tiba di kediaman Malik, Mara diajak menuju ke kamar Star. Sepanjang ia berjalan, matanya menelisik setiap sudut ruangan di rumah besar yang kini terlihat berbeda dari sebelumnya.


"Apakah rumah ini begitu asing bagimu, Mara?" sadar akan gelagat Mara yang memperhatikan setiap sudut rumahnya, Andryani pun bertanya.


"Rumah ini terlihat berbeda dan banyak berubah, Umi," jawab Asmara kaku dan masih berhati-hati. Ia juga masih menjaga jarak pada Andryani, tak ingin banyak bicara dan terlihat sok akrab.


"Ya, itu semua keinginan Byan! Dia tak ingin rumah ini terbawa oleh masa lalu. Dia ingin menghapus semua kenangan di masa lalu. Kamu bisa melihatnya sekarang bukan? Byan terlalu mengekang Star, hal itu yang membuat Umi khawatir," itulah penjelasan kecil Andryani yang dapat didengar oleh telinga Mara.


Namun pembicaraan itu tak lagi di lanjutkan karena mereka sudah tiba di kamar Star.


Mara dapat melihat tangan Star masih terpasang oleh selang infus dan berbaring di atas ranjang dengan wajah yang semakin pucat. Ia pun segera menghampiri Star dan mengusap-usap puncak kepalanya.


"Star, bangun Nak," panggil Mara dengan suara yang kian serak karena menangis melihat keadaan Star kali ini. Sungguh hatinya merasa tersayat melihat anak kecil seperti Star sakit. Meski Star bukanlah anak kandungan.

__ADS_1


Star membuka matanya perlahan, ia dapat melihat wajah Mara samar-samar.


"Tante,"


Mara langsung memeluk tubuh mungil Star, baru beberapa hari ia sakit namun tubuhnya sudah terlihat mengurus.


"Kita makan, mau?" tawar Mara tak ingin berlama-lama menunda makan malam untuk Star. Ia tak ingin kegembulan Star hilang begitu saja karena kurangnya asupan makanan.


Star mengangguk dengan cepat, ia pun mengeluarkan senyuman manisnya kali ini.


"Tante akan buatan sup spesial untuk Star," Mara ingin beranjak menuju ke dapur namun langkahnya terhenti ketika tangan Star menarik gaun cokelat mudanya.


"Tante temani Star di sini,"


"Star tidak ingin makan masakan Tante?" Tanya Mara meyakinkan bocah itu.


"Star tidak ingin di tinggal lagi sama Tante, jangan pergi lagi," ucapan Star membuat tangis semua orang di dalam ruangan itu pecah. Mara pun kembali memeluk tubuh Star dan mencium puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.


Andryani pun segera meminta Sumi untuk membuatkan sup kesukaan Star. Sebelum air matanya tumpah ruah melihat suasana haru di ruangan ini.


Sementara di tempat lain, malam ini Byan merasa tubuhnya amatlah panas dan berbeda. Setelah ia pergi ke club bersama Adryan dan Sam, tubuhnya bereaksi tak jelas seperti cacing yang sedang kepanasan.


"*****!!" Byan mengumpat kasar, ia benar-benar merasa ada yang tak beres pada tubuhnya.


"Siapa yang melakukan ini, awas saja akan ku beri perhitungan nanti!!" Ucapnya lagi dengan menambah kecepatan mobilnya agar segera tiba di rumahnya.


Saat di club malam, Byan ditemani Sam sekretarisnya dan Adryan temannya. Ia merasa tak ada orang lain diantara mereka. Ia juga tak meminum minuman begitu banyak. Lagi pula jika itu hanya minuman biasa, tak mungkin reaksi tubuhnya menjadi seperti ini.


Jika ia berfikir lagi, Sam dan Adryan bersikap curang padanya untuk apa? Apakah kini Sam dan Adryan telah menusuknya dari belakang? Entahlah, ia benar-benar seperti sedang menebak sebuah teka-teki dan sulit untuk dipecahkan.


Banyak sekali fikiran yang berkecamuk dalam diri Byan. Namun bukan itu yang harus ia lakukan sekarang. Saat ini tubuhnya benar-benar panas dan butuh untuk diguyur air dingin.


Setibanya di rumah, tepat pukul sepuluh malam. Keadaan di rumah sudah hening, karena hampir semua penghuninya sudah terlelap tidur. Hanya dua orang penjaga gerbang yang masih aktif malam ini.


Byan merasa ada yang sakit pada bagian intinya, adik kecilnya yang kian mengeras dan tak bisa lagi di ajak kompromi. Ia segera menaiki anak tangga dengan langkah cepat untuk menuju ke dalam kamarnya.


Namun saat itu ia melihat sosok wanita bergaun cokelat muda dengan rambut yang terurai keluar dari kamar Star.


Ceklek!


Mara menutup pintu kamar Star perlahan agar tak membangunkan putri yang sedang tertidur nyenyak itu. Meski Andryani sudah memintanya untuk menginap di rumah ini, namun Mara tetap memaksa untuk pulang. Mara juga tak ingin bertemu dengan Byan. Sebelum Byan kembali, ia harus sudah pergi dari rumah ini.


Betapa terkejutnya Mara ketika hendak melangkah namun di hadapannya kini sudah ada sosok pria yang begitu tak menyukai dirinya. Sosok Pria yang menatapnya dengan tajam bak mata elang yang sedang memburu mangsanya.


Mara terperanjat kaget ketika tangan kokoh Byan menarik lengannya dan menyeret dirinya masuk ke dalam kamar tepat bersebrangan dengan kamar Star.

__ADS_1


"Sedang apa kau di sini?" Byan menutup pintu kamarnya rapat dan menguncinya. Tanpa melepaskan cekalan tangannya pada Mara.


__ADS_2