Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Semua sudah berakhir


__ADS_3

"Mara??"


Suara seseorang yang terdengar berat itu membuat Mara terkejut. Dari jauh mata mereka telah bertemu, saling menatap, ternyata itu adalah nyata.


"Eum, hai?" Sapa Mara ketika matanya telah bertemu dengan sosok pria yang ia tengah cari. Perasaannya terkejut, namun ia berusaha untuk mencairkan rasa itu.


Byan tersenyum ketika mendengar sapaan kaku dari Mara. Ia menarik koper hitam miliknya, langkahnya pun semakin mendekati Mara.


"Kau mencari seseorang?" Byan berharap, orang yang sedang Mara cari adalah dirinya.


"Apa? Tidak, aku sedang tidak mencari siapa-siapa," elak Mara dengan membuang tatapannya kearah lain. Sulit sekali baginya untuk mengakui jika ia memang sedang mencari seseorang yang kini tengah berdiri tepat didepannya.


"Oh," Byan hanya mengangguk, tak ingin bertanya lebih ketika sudah mengetahui jawaban Mara. Ia takut jika Mara malah akan salah paham. Apalagi ia sudah berjanji kemarin adalah terakhir baginya untuk muncul dihadapan Mara.


Berbeda dengan Mara, mendengar Byan hanya berkata 'oh' membuat hatinya terasa terganjal oleh batu. Berat sekali.


"Lalu, kau?"


"Eum? Aku?" Byan menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk.


"Bukan, security yang di sana!" Mara menunjuk ke arah security yang tengah berdiri tak jauh dari keberadaan mereka berdua.


Byan menoleh kearah mata Mara memandang. Ia melebarkan senyumannya, "Benarkah?"


"Kau mau pergi?" Tanya Mata menatap tajam mata Byan. Seakan menunjukkan jika ia tak ingin Byan pergi.


Tatapan yang dilontarkan oleh Mara mengartikan sesuatu. Hingga senyumannya pun perlahan memudar, ia membalas tatapan Mara dengan berat. "Ya, aku harus pergi,"


"Apakah kau akan pergi jauh? Kau pergi lama atau sebentar? Apa kita masih bisa bertemu, Mas?" Tanya Mara dalam hati, sungguh ia tak berani melontarkan pertanyaan itu pada Byan. Menurutnya ia adalah wanita yang tak tahu malu, karena kemarin telah meminta Byan untuk tak menemuinya lagi, namun sekarang malah ia yang ingin menemui Byan bahkan melarangnya untuk pergi.


"Mara?" Panggil Byan menyadarkan lamunan Mara.


"Ya, ada apa, Mas?"


Byan tersenyum, setidaknya Byan masih mendengar Mara memanggilnya dengan sebutan yang sangat ia sukai 'MAS'.


"Pesawatku akan berangkat sepuluh menit lagi, aku ..."


"Oh, silahkan. Semoga perjalananmu menyenangkan," potong Mara dengan senyuman sakit, akibat menahan beratnya beban didalam hatinya. Sungguh, batu yang mengganjal hatinya kini malah terasa semakin berat.


"Tentu akan menyenangkan, karena sekarang aku bisa bertemu denganmu," Byan mencoba mengangkat tangannya. Setidaknya ia bisa memegang wajah Mara untuk terakhir kali, atau diberi kesempatan untuk memegang tangannya pun tak apa baginya. Namun, ia mengurungkan niat itu dan menurunkan tangannya kembali.

__ADS_1


Mara tak tahu apa yang akan Byan lakukan, tetapi Mara tak suka ketika melihat Byan menurunkan tangannya kembali.


"Aku berangkat," Byan melontarkan senyumannya. Senyum untuk menutupi betapa sakit hatinya saat ini, sakit karena tak bisa bertindak sesuai kata hatinya. Semua itu terhalang dan ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan ia pergi tanpa mendengar ucapan perpisahan dari Mara.


Langkahnya begitu berat, ia menarik koper itu perlahan mengiringi langkah kakinya. Tanpa menoleh kearah belakang ia meninggalkan Mara sendiri. Hingga air matanya pun menetes, karena sudah tak tahan lagi untuk di bendung.


Sama halnya dengan Byan, air mata Mara pun menetes menyaksikan kepergiannya. Dan hatinya begitu sakit, ketika ia tak bisa mengatakan apa yang ingin ia katakan. Kakinya terasa ingin mengejar Byan, namun lagi-lagi otaknya memerintahkan untuk tetap diam di sini.


"Akulah penyebab sakit ini, akulah yang menghancurkan semuanya, kini semua sudah berakhir," ucap Mara dalam hati menyesali perbuatannya.


Tangisan sesak itu pun kini tumpah setelah punggung Byan mulai menjauh dan hilang perlahan dari pandangannya. Tubuhnya tersimpuh di atas lantai, menangis sesegukan tanpa peduli banyaknya orang yang menyaksikan.


"Tante?"


Mendengar suara Star, Mara pun mendongakkan wajahnya menatap Star. "Star?"


"Tante, apa yang terjadi?" Star langsung memeluk tubuh Mara yang kini tengah menangis. Mendapat perlakuan dari Star, Mara malah semakin mengencangkan tangisannya.


"Tante, apakah Papa menyakiti Tante lagi?"


"Tidak, Star," jawab Mara. Karena ia tahu jika sakit yang ia rasa ini bukanlah karena Byan. Tetapi dirinya sendirilah yang membuat kesakitan ini.


"Jika Papa menyakiti Tante, Star minta maaf atas nama Papa," Star mengusap air mata Mara.


...****************...


Di negara yang berbeda, entah sudah terhitung berapa lama. Mungkin sudah sekitar dua minggu berlalu, kesibukan pekerjaan membuatnya perlahan bisa mengalihkan fikirannya dari Mara. Meski tak hilang, setidaknya perlahan ia mencoba melupakan Asmara.


"Baru beberapa minggu, perlahan semua itu akan hilang," gumam Byan dalam hati meyakinkan diri sendiri.


Meski sebenarnya semakin ia melupakan, maka semakin tajam pula bayangan Mara muncul di fikirannya. Melupakan Mara ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan.


"By," panggil Kessy.


Melihat Kessy datang ke dalam ruangannya, ia mencoba mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela kaca yang menampilkan pemandangan indah malam hari di negara ginseng ini. Baginya, menatap pemandangan luar lebih baik dan terlihat indah, daripada menatap Kessy yang memakai kemeja ketat dengan satu kancing bagian atas yang terbuka. Belum lagi rok mini diatas lututnya itu, bukan nafsu melihatnya, Byan malah bergidik akan hal itu.


"By, kau tak ingin pulang?" Tanya Kessy. Seperti biasa, Byan jarang sekali menghiraukan perkataannya. Sehingga membuat Kessy harus lebih dulu mengambil peran utama agar bisa berkomunikasi lebih dengan Byan.


"Pulanglah," pinta Byan pada Kessy diiringi helaan nafas berat.


"By, sesuai perintah Abi Malik, aku sudah memindahkan barang-barangku ke Apartementku,"

__ADS_1


"Baguslah," jawab Byan singkat.


"Byan," Kessy mendekat ke arah kursi di mana Byan duduk.


Ingin sekali ia mengalihkan pandangan Byan agar menuju ke arahnya. Ia pun duduk di pinggiran meja kerja Byan. Meski begitu, Byan tak menunjukkan reaksi apapun.


"By, jika kau butuh sesuatu kau bisa datang padaku," Kessy menawarkan diri, karena ia tahu susah sekali mengharapkan Byan untuk datang kepadanya. Jangankan datang dengan sendirinya, ia yang sudah susah payah mendatangi Byan pun masih terus ditolak mentah-mentah.


Byan hanya melirik kesal ke arah Kessy, ia bangun dari duduknya, mengambil jas pada sandaran kursi kemudian memakainya.


"Pulanglah, aku akan mengantarmu,"


"What?" Kessy terkejut, ia tak habis fikir jika rayuannya ini berhasil membuat Byan bereaksi. Senyum mengembang pada wajahnya, ia pun turun dari meja dan segera menyusul Byan.


"Cepatlah, atau aku akan berubah fikiran!" Byan berjalan lebih dulu meninggalkan Kessy.


"By, Tunggu!" Kessy tersenyum senang. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuknya merebut hati Byan, setelah ia mendengar jika Byan sempat mendapat penolakan dari Mara.


"By, terimakasih sudah mau mengantarku," ucap Kessy lembut. Ia mencoba mengimbangi langkah kaki Byan yang lebih lebar dari langkah kakinya.


Byan hanya diam saja, tak ada hal yang harus ia jawab atau dikatakannya kepada Kessy, Asisstennya itu.


"By, sebenarnya ada banyak hal yang belum aku selesaikan di Apartementku," Kessy masih mengajak Byan berbicara meski mereka berdua sedang berjalan cepat. Kessy hafal betul meski terlihat cuek, Byan tetap mendengarkan lawan bicaranya dengan baik.


"Aku harap, kau bisa membantuku," lanjut Kessy lagi.


Byan tak memberikan jawaban atau reaksi apapun. Sikap dingin masih terus ia tunjukkan kepada wanita lain, tapi tidak dengan Mara.


Setelah lama berjalan, Kessy merasa aneh karena mereka kini sudah berada di lobby depan gedung, bukan di basement tempat mobil Byan terparkir.


"Taksi!"


Mata Kessy terbelalak lebar mendapati Byan menghentikan salah satu taksi yang lewat. Ia juga mendengar ketika Byan berbicara dengan sopir taksi menyebutkan alamat Apartementnya.


"Masuklah," Byan membukakan pintu mobil untuk Kessy. Setelah Kessy masuk, ia segera menutup pintu mobil dengan kuat.


"Byan, kau ..."


"Antarkan dia dengan selamat, Pak," Byan tersenyum smirk, kemudian ia segera masuk kembali menuju tempat mobilnya terparkir.


"Byan!!!!!!!" Kessy berteriak kencang.

__ADS_1


Namun mobil taksi tetap berjalan sesuai permintaan Byan. Sang sopir pun tak mengindahkan teriakan Kessy, ia masih tetap melajukan mobilnya menuju alamat yang Byan katakan tadi.


"Awassss kau!!!" Kessy mengumpat Byan dengan kesal. Ia tidak menyangka jika akan tertipu lagi oleh reaksi Byan malam ini.


__ADS_2