Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Celotehan Star


__ADS_3

"Papa, apa Tante Cantik dan Papa sedang bertengkar?" Tanya Star setelah Byan masuk ke dalam mobilnya.


"Star, Papa dan Tante Cantik tidak bertengkar." Jelas Byan pada pertanyaan Star.


"Tapi, Star melihat jika Tante Cantik marah dengan Papa," Star mencoba menjelaskan tentang apa yang ia nilai dari perubahan wajah Mara.


"Star, setiap orang yang marah itu berarti dia begitu menyayangi kita. Jadi, kemarahan Tante Cantik hari ini adalah wujud dari rasa sayangnya terhadap Papa!"


Byan begitu percaya diri, membuat Star terus memakai otaknya untuk berfikir lebih. Star pun menatap ke arah Sumi yang duduk di bangku belakang.


"Mba Sumi tidak pernah memarahi Star, bahkan Tente cantik pun sama. Apakah kalian tidak menyayangi Star??"


Bukan itu yang Byan harapkan dari pemikiran Star. Namun ia juga tak berhenti untuk berusaha lebih menjelaskan lagi, agar Star tidak salah paham.


"Star, tidak marah bukan berarti tidak sayang. Tapi rasa marah antara Tante Cantik dan Papa itu adalah rasa yang berbeda!"


Sumi hanya diam mendengarkan penuturan Byan, hingga ia tak perlu lagi menjelaskan pertanyaan Star barusan.


"Papa, mengapa rasa sayang harus berbeda-beda??" Star hanya seorang anak kecil yang sedang berada pada fase pertumbuhan. Hingga banyak sekali hal yang harus ia ketahui.


"Nanti, setelah Star dewasa maka Star akan mengerti itu semua." Jelas Byan lagi dengan sabar.


"Dewasa? Apakah jika nanti Star sudah besar seperti Papa?" Tanya Star lagi belum berhenti.


"Ya, dewasa seperti ini." Byan mengusap puncak kepala Star perlahan. Sungguh hari ini anaknya amat begitu cerewet.


"Jika Star sudah dewasa seperti Papa, apakah Star akan menikah?"


"Ya Tuhan, Star ..."


Byan fikir Star akan berhenti bertanya, tapi ternyata dugaannya itu salah. Star masih saja berceloteh hingga ia bingung bagaimana lagi harus menjawab dan menjelaskannya.


Sumi terkikik pelan mendapati papa dan anaknya yang saat ini seperti tengah berdebat. Bahkan di dalam hatinya, ia merasa lebih banyak bersyukur karena sikap Byan sudah mulai berubah tidak seperti dulu lagi.


...****************...


Setelah mengantarkan Star ke rumah, Byan langsung bergegas menuju ke kantornya. Namun betapa terkejutnya ketika Sam mendatanginya secara tiba-tiba dengan kepanikan di wajahnya.


"Sam?" Byan mengernyitkan dahinya ketika melihat Sam begitu tergesa-gesa.


"Pak Byan, gawat!"


"Gawat? Apa ada masalah?" Byan masih menanggapinya dengan santai setelah selesai menutup pintu mobilnya.


"Sebaiknya Pak Byan segera ke ruangan," pinta Sam karena tak berani mengatakan hal yang sebenarnya.


Jika sudah begini, Byan langsung bergerak cepat menuju ke ruangan kerjanya. Benar dugaannya, ada yang tak beres. Byan melihat Direktur utama sudah menunggunya di sana.

__ADS_1


"Abi??" Byan langsung menghampiri Malik, yang tak lain adalah ayahnya sendiri.


Malik menoleh ke arah Byan. Di tatapnya tampang anaknya yang sudah lama tak ia lihat. Ia duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya.


"Dari mana?" Tanya Malik dengan suara berat dan tatapan tajamnya.


"Abi, mengapa tak mengabari Byan jika datang ke kantor??" Bukannya menjawab, Byan malah balik bertanya dan membuat Malik semakin marah.


Malik melemparkan beberapa keping kertas di atas meja Byan dengan ukuran sekitar lima sampai tujuh senti. Kertas tebal berwarna itu ternyata adalah sebuah kertas foto.


"Abi, Byan ..."


"Apakah begini pekerjaanmu selama ini?" Tanya Malik masih bernada dingin.


"Abi, aku bisa jelaskan!" Byan mencoba menenangkan dirinya, ia juga berharap Malik akan mendengarkannya terlebih dahulu.


"Jelaskan secara rinci!!"


Setelah suara bariton Malik terdengar menakutkan, Sam segera menutup pintu dan menuju ke luar ruangan Byan.


"Sam, tetap di sini!!!" Perintah Malik pada Sam yang baru saja mau melangkahkan kakinya ke luar. Sam pun memilih tinggal dan berdiri di belakang Malik dengan kepala yang terus menunduk tak berani menatapnya atau pun menatap Byan.


"Habislah aku," gumam Sam di dalam hati dengan perasaan takut. Pasalnya setelah sekian lama tak bertemu Malik, kini ia datang dengan sejuta tanya bahkan marah besar.


Byan mengambil kepingan-kepingan foto yang berserakan di atas meja kerjanya itu. Ia melihat satu persatu gambarnya. Gambar yang menunjukkan dirinya dan Mara ketika bertemu. Bahkan ketika Byan sempat mengantar Mara menuju ke rumahnya. Dan yang terakhir, ketika kemarin di rumah sakit.


"Abi, kami dipertemukan secara tidak sengaja,"


"Lalu?" Malik masih memasang telinga untuk mendengar penjelasan Byan.


"Begitu juga dengan Star, dia amat menyayangi Mara," lanjut Byan lagi.


BRAKKKKK!!!!


Seluruh orang di sana serasa senam jantung ketika Malik menggebrak meja dengan hentakan yang begitu kuat.


"Jangan menjual nama Star, kamu fikir Abi tidak tahu, hah??" Malik tak lagi memandang siapa pun jika sedang marah. Baginya, orang yang membuat kesalahan harus di beri pelajaran tanpa tenang pilih.


"Abi, awalnya aku tidak menyetujui jika Star terus saja bertemu dengan Mara. Namun, ketika aku melarangnya, itu malah membuat Star semakin tersakiti," jelas Byan lagi dengan wajah yang kini sudah mulai memerah.


"Begitu saja kamu tidak becus!!!" Malik semakin marah.


"Abi, aku berkata jujur. Jujur, saat ini aku sudah mulai mencintai Mara," ujar Byan lagi tak ingin menutupi hal apapun dari Malik.


"Apa kamu sudah gila???" Malik merasa prustasi akan pengakuan Byan. Ia meraup wajahnya dengan kasar.


"Abi, aku bersungguh-sungguh." Byan berusaha meyakinkan Malik tentang pengakuannya kali ini. Ia juga tidak ingin Malik melarangnya untuk menemui Mara lagi.

__ADS_1


"Selesaikan sekarang juga, Abi tidak mau tahu!" Malik kembali memerintah.


"Abi, Byan tidak bisa!" Tolak Byan. Ia berjalan ke sana ke mari dengan tangan yang memegangi kepalanya.


"Kalau begitu, biar Abi yang menyelesaikannya sendiri!" Bentak Malik lagi.


"Abi, tolong jangan seperti ini," Byan berusaha untuk membuat Malik luluh, namun sepertinya usaha Byan ini gagal. Tak mudah baginya menentang perintah Malik.


"Susah payah Abi selama ini membereskan kekacauan yang kamu buat di masa lalu, sekarang kamu mau mengulangi kekacauan itu lagi, kamu fikir ini permainan???"


Malik sepertinya hilang kesabaran. Ia datang jauh-jauh dari Korea hanya untuk membereskan masalah yang Byan buat kali ini. Masalah yang menyangkut masa lalunya dengan Mara.


"Jika seluruh kolega bisnis kita mengetahui hal yang sebenarnya, bagaimana??" Malik mencoba membuka ruang fikir Byan agar tak lagi salah bertindak.


"Abi, maafkan atas kekacauan yang telah Byan buat. Tapi itu semua masa lalu, Byan hanya ingin membuka lembaran baru," keluh Byan. Ia berharap dengan sikap lemahnya kali ini Malik akan mengampuninya.


"Lembaran baru? Maksudmu dengan orang yang sama? Jangan gila, Byan!!!" Malik kembali menaikkan intonasi bicaranya.


"Abi, ini semua bukan kesalahan Mara. Ia hanya korban," Byan masih mencoba membujuk Malik.


"Terserah, pokoknya sekarang Abi tidak mau lagi melihat kamu berhubungan dengannya. Abi tidak ingin mendengar alasan apapun, atau ..."


"Atau apa, Abi?" Byan sudah tak sabar mendengar ucapan Malik yang sempat terhenti.


"Atau kamu akan pergi ke luar negeri sekarang juga!" Jawab Malik masih dengan intonasi kerasnya.


Byan merasa gusar, ia tidak habis fikir Abinya akan semarah ini. "Abi, tolong fikirkan lagi. Byan yakin semuanya akan baik-baik saja tanpa harus ..."


"Jika kamu menghancurkan usaha yang sudah Abi bangun sejak lama, maka Abi tidak akan mengampunimu!" Ancam Malik lagi memotong ucapan Byan yang belum selesai.


"Abi, Byan membangun usaha ini. Bukan menghancurkannya?" Elak Byan merasa tak terima jika Malik menilainya menghancurkan usahanya. Ia merasa selama ini sudah bekerja keras untuk perusahaan keluarga mereka.


"Fikirkan berapa banyak karyawan yang tidak makan, jika kamu sampai salah melangkah!" Ujar Malik dengan tegas.


"Abi, Byan tidak salah langkah. Byan mengambil keputusan yang tepat!"


"Jika kamu masih bersikeras, maka Abi yang akan menyelesaikannya sendiri" Malik bangun dari duduknya, tak ingin lagi mendengar penjelasan apapun dari Byan yang telah membuatnya kecewa, kemudian ia melangkah menuju ke luar.


"Sam, terus pantau dia! Jangan sampai aku juga tak memiliki kepercayaan padamu!" Perintah Malik pada Sam sekretaris Byan.


"Ba-ik Pak," Sam menjawab dengan ragu-ragu sembari mata yang melirik ke arah Byan.


Menjadi Sam serba salah dalam bergerak. Pasalnya, ia harus mematuhi semua perintah Malik, sedangkan ia juga harus menerima semua perintah dari Byan sebagai atasannya.


Setelah Malik dan Sam keluar, Byan mengambil setiap lembar foto yang berserakan di atas meja kerjanya.


"Apa yang akan dilakukan oleh Abi pada Mara, aku tidak akan membiarkan hal itu!"

__ADS_1


__ADS_2