
"Mara, aku tidak bermaksud menyakitimu," Byan merasa bingung. Telinganya sudah mendengar suara tangisan Mara yang sesak itu. Kini hatinya pun menjadi risau.
"Mara, maafkan aku," Byan tak tahan lagi, ia pun dengan cepat meraih tubuh Mara dan memeluknya.
"Lepas!" Mara berusaha memberontak dari dekapan Byan.
"Lepaskan aku, Mas!" Karena Byan tak juga melepaskan Mara. Ia pun memukul-mukul dada bidang Byan dengan kedua tangannya.
Yang dilakukan Byan hanya diam, ia membiarkan Mara untuk melampiaskan kemarahannya terlebih dahulu. Ia berharap, setelah ini tangisan Mara akan mereda.
"Pukul aku, Mara. Jika itu bisa membuatmu puas dan tenang."
Kini Mara tak lagi melakukan perlawanan. Ia hanya bisa menangis sesak dalam pelukan Byan.
Byan mengusap lembut puncak kepala Mara, ia berharap kali ini Mara akan lebih tenang saat mengeluarkan semua kekesalannya pada Byan.
"Mara, aku tidak menyukai wanita itu atau wanita lainnya," perlahan Byan mencoba membuka percakapan kembali. Ia ingin menuntaskan masalah yang terjadi hari ini juga. Ia berharap penjelasannya akan diterima oleh Mara.
"Aku hanya ..."
"Mas, Byan?" Mara mendongakkan kepalanya menatap wajah Byan yang begitu jelas. Entah ini adalah sebuah kesalahan atau bukan, menurutnya jika berada dipelukan Byan membuat dirinya merasa nyaman.
Di tatapnya wajah itu dengan dalam, hingga matanya mengitari setiap sudut wajah Byan yang membuatnya semakin terpana. Ia tak pernah menyangka jika akan dipertemukan dengan seorang berwajah tegas, teduh dan tampan itu kembali.
"Eum??" Byan pun menatap nanar Mara yang masih memerah dengan sisa-sisa air matanya. Ia usap air mata itu dengan jarinya dengan lembut.
Mendapat sentuhan dari Byan, Mara tersadar ia harus melepaskan rasa nyamannya itu saat ini juga. Tak mungkin baginya terus-menerus bersandar pada dada bidang Byan. Jika tidak dengan cepat ia lepaskan, bukan tak mungkin jika dirinya akan terhanyut akan sentuhan Byan lagi.
"Mas, sebaiknya kamu segera pergi," pinta Mara tak ingin berlama-lama bersama Byan apalagi mereka hanya berdua.
Byan bingung, sebenarnya ia masih ingin bersama Mara. Yang ia sayangkan, mengapa Mara terus saja memintanya untuk pergi.
"Mara, mintalah hal yang lain, jangan memintaku pergi lagi!"
Jawaban Byan belum cukup untuk Mara, ia masih saja ingin Byan segera meninggalkannya saat ini. Ia benar-benar butuh waktu untuk sendiri.
"Aku mohon jangan menolak, Mas," lirih Mara.
__ADS_1
"Mara, aku tidak bisa!" Byan menggeleng kepalanya sebagai tanda menolak.
"Jika kau tak ingin pergi, maka aku yang akan pergi!" Mara mencoba membuka pintu mobil, namun Byan dengan segera mencekal tangannya. Hingga aksi ingin pergi Mara pun batal.
"Katakan padaku, Mara. Jika apa yang sedang kita rasakan saat ini sama," ucap Byan masih memegangi tangan Mara.
"Rasa? Apa yang aku rasakan itu tidak mungkin sama dengan rasamu, Mas!" Mara masih menampik, jujur ia sendiri belum paham akan perkataan Byan itu.
Byan mendekatkan wajahnya ke arah Mara, ia terus saja memajukan posisi tubuhnya hingga mencondong tepat di depan Mara. Jarak mereka berdua kini hanya tersisa beberapa senti saja. Aroma parfum Byan begitu membuat Mara semakin terpikat, apalagi kini ia dapat merasakan hembusan nafas hangat Byan.
Ketika mata Byan terus menatap mata indah milik Mara, Mara segera mengalihkan pandangannya ke arah luar.
"Apa yang kau lakukan, Mas?" Jujur, saat ini perasaan Mara menjadi tak karuan. Hatinya terus berdesir hebat, begitu pula jantungnya yang semakin berdegup kencang.
"Mara, lihat aku!" Byan memegang kedua pundak Mara, berharap Mara akan membalas menatap dirinya. Namun Mara tak mengindahkan perkataan Byan.
"Mara, aku tahu kau masih marah tapi ..."
"Aku tidak pernah marah, Mas Byan," Mara membesarkan kelopak matanya.
"Aku tidak ingin mendengar apapun, Mas! Sadar, aku siapa dan kamu siapa? Kita bukan siapa-siapa, Mas? Aku dan kamu tidak memiliki hubungan APAPUN!!!"
Mendengar ucapan Mara, hati Byan terasa nyeri. Mengapa Mara tak mau mendengarkan penjelasan apapun darinya? Mengapa sikap Mara begitu keras padanya? Padahal, Byan berupaya untuk mengatakan apa yang ada dalam hatinya saat ini. Namun sayang, Mara tak pernah memberinya kesempatan untuk berbicara hingga tuntas.
"Mas Byan, lepaskan!!!" Dengan sekuat tenaga, Mara menghempas tangan Byan hingga membuat tubuhnya terhuyung mengenai dashboard mobil.
Byan meringis, ia merasakan lengan kanannya yang kemarin sempat terluka kini terasa sakit kembali. Namun ia mencoba untuk menghalau rasa sakit itu.
"Mara??"
Di saat tak tepat itu pula, seseorang datang. Ia terkejut ketika membuka pintu mobil mendapati Mara sedang bersama Byan.
"Kurang ajar!!!" Steven dengan sekuat tenaganya segera menarik tubuh Byan hingga keluar dari dalam mobil. Ia lempar dengan kasar tubuh itu dan akhirnya terjatuh.
Byan merasa lengan kanannya semakin sakit dan berdenyut, hingga ia pun terus memegangi lengan itu dengan tangan kirinya.
Melihat Steven bertindak kasar pada Byan, Mara dengan cepat keluar dari mobil dan mencegah Steve untuk bertindak lebih.
__ADS_1
"Steve, sudah ..."
"Apa yang kamu perbuat pada Mara, hah???" Steven meraih kerah kemeja putih yang di kenakan Byan. Ia pun memberi hadiah pada Byan dengan memukul wajah Byan sekuat tenaga.
"Bughhh!!"
"Bughhh!"
Byan tak bisa berkutik ataupun melawan Steven, bahkan bangun saja ia tak mampu karena lengannya saat ini terasa amat sakit. Ia meraba lengannya itu dan merasakan jika kemeja putih yang ia kenakan sudah basah akibat mengeluarkan darah.
"Steve, hentikan!!!!" Mara tak kuasa melihat Steve menghajar Byan. Ia hanya bisa menjerit ketakutan. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menarik tangan Steven agar tak lagi memberikan hantaman pada Byan yang sudah terkulai lemas.
Steve kembali melayangkan tendangannya pada perut Byan.
"Bugh!!!"
"Steven, please stop!!!!" Teriak Mara lagi dengan air mata yang terus mengalir. Sungguh ia tak tega melihat Byan yang terus saja di hajar oleh Steven. Apalagi matanya kini melihat, jika kemeja putih yang di pakai Byan kini terdapat bercak merah.
"Mara? Kau tak apa?" Steve segera berbalik, ia menelisik setiap wajah Mara yang kini sudah banjir karena air mata.
"Steve, aku baik-baik saja," jawab Mara dengan mata yang terus mengarah pada Byan yang kini terbaring lemah di atas trotoar.
Mara hendak menghampiri Byan, ingin sekali ia menolongnya. Tetapi Steven segera menghalangi niat Mara.
"Mara, ayo kita pergi."
"Steve, tapi ..."
"Ayo Mara!" Ajak Steven lagi sedikit memaksa dengan menarik tangannya.
Byan tak bisa berbuat apa-apa, apa lagi melawan Steven yang lebih kuat darinya. Andai saja ia sedang tidak terluka, ia pasti akan menghajar Steven dengan sekuat tenaganya.
Pandangan Byan tak teralihkan, ia terus menatap Mara yang kini telah pergi bersama Steven sembari terus memegangi lengan kanannya.
Dapat ia lihat pula, sesekali Mara menoleh ke belakang untuk melihatnya di sertai tangisan yang terisak.
Ingin sekali Byan merebut Mara dari Steven, namun keinginan itu ia pendam terlebih dulu karena tubuhnya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1