
Setelah pergi meninggalkan Byan disana, Mara segera menghampiri sepasang temannya Adryan dan Ratih. Mara berpamitan untuk segera pulang ke rumahnya, karena ini sudah jam sembilan malam maka ia harus segera kembali mengingat jarak tempuh yang lumayan jauh dari kediaman Adryan dan Ratih.
Mara pun mendapat izin dari Ratih temannya itu. Kemudian ia pergi menuju pinggir jalan untuk menunggu taksi. Ia sengaja tak membawa mobil sendiri karena ibunya melarang jika mengendarai mobil di malam hari. Menurutnya hal itu bisa membahayakan Mara, meskipun sebenarnya Mara sudah mahir dalam urusan menyetir Mobil.
Setibanya dipinggir jalan yang tak jauh dari tempat pesta pernikahan Adryan dan Ratih diadakan, seorang lelaki muda yang asing baginya datang menghampiri Mara. Sebenarnya lelaki itu sudah mengikutinya sedari tadi saat Mara keluar dari tempat pesta, hanya saja Mara tak menyadari hal itu.
"Sendirian saja?" Sapa lelaki berparas tampan, namun sepertinya sedikit lebih muda daripada usia Mara saat ini.
Mara tersenyum menyapa lelaki itu, tak ingin dikatakan sebagai wanita sombong, ia pun membalas sapaan lelaki itu meski hanya singkat.
"Iya,"
"Mau pulang kemana?" Tanya lelaki itu lagi dengan gelagat yang menurut Mara tak biasa.
"Kelapa Gading,"
"Wah, lumayan jauh. Ada yang menjemput?"
Ternyata lelaki ini cerewet juga, meski Mara hanya menanggapi perkataannya dengan singkat, ia masih saja terus bertanya dan mengajak Mara berbincang.
"Ya."
Meski Mara sudah menjawab sesingkat mungkin dan tak begitu meladeninya, lelaki itu masih saja terus mengajak Mara berbincang.
"Siapa yang menjemput? Taksi bukan?" Lagi-lagi lelaki ini membuat Mara muak. Hingga ia pun hanya diam tak menjawab perkataan lelaki itu kembali.
"Bagaimana jika aku yang mengantarmu pulang, aku bisa dipercaya,"
"Terimakasih," Mara tak ingin banyak bicara lagi, ia harus bersikap hati-hati terhadap orang yang tak dikenalnya. Apalagi Mara merasa jika lelaki yang kini dekat dengannya ini memiliki maksud lain.
"Untuk di jam malam seperti sekarang, daerah ini sangat jarang dilalui taksi. Jika kau tak keberatan aku akan menggantikan taksi tanpa kau bayar," Lelaki Muda itu tersenyum menyeringai dengan tatapan yang tak berkedip memandangi Mara.
"Aku pesan online saja," Mara mengambil ponsel yang berada di tas kecil selempangnya, kemudian membuka aplikasi pemesanan taksi online.
Namun sayang, ia sudah lama menunggu tapi tak kunjung mendapatkan taksi.
"Apa aku bilang, kamu tidak akan mendapat taksi di daerah ini. Aku orang baik, jangan khawatir," Lelaki itu kembali mencoba meyakinkan Asmara.
__ADS_1
Mara hanya tersenyum pahit, ia bingung bagaimana caranya kembali ke rumahnya jika tak ada taksi.
"Aku antar saja, kamu bisa percaya padaku," Lelaki itu memegang kantung celananya lalu mengambil sebuah dompet berwarna coklat.
"Ini KTP ku, kamu bisa pegang. Jika memang kamu takut dan tak percaya padaku," Lelaki itu menyodorkan KTP nya pada Mara. Dapat terlihat jelas nama yang tercantum disana. Jerry Tristan Darmawangsa, ya hanya nama pemuda itu yang ia baca.
"Tidak perlu, aku bisa jalan ke depan mencari taksi," Mara masih menyimpulkan senyuman ramahnya.
"Hey, berbahaya jika wanita secantik dirimu pergi sendirian," cegah Tristan, ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk mendekati Mara wanita yang sudah mengganggu pandangannya sejak awal ia datang ke pesta.
"Aku bisa menjaga diriku," ucap Mara ia membungkukkan sekali tubuhnya sebagai tanda pamit pada lelaki yang bernama Jerry itu.
"Ck! Susah sekali mendekatimu, namaku Jerry, panggil aku Tristan," Tristan menyodorkan tangannya untuk berkenalan dengan Mara.
Ingin menolak tapi ia takut, mau tidak mau Mara pun menerima uluran tangan Tristan namun hanya menempelkan tangannya sebentar saja.
"Mara."
"Mara?? Nama yang cantik secantik orangnya!"
Mara tak mengurungkan niatnya lagi untuk menuju gang depan mencari taksi, ia tak ingin berlama-lama bersama pria yang tak dikenal.
"Mara, tunggu!!!" Tristan mencekal tangan Mara yang hendak pergi.
"Tristan, tolong lepaskan tanganku," Mara masih bernada lembut. Tapi Tristan tak kunjung melepaskan cekalan tangannya.
"Mara, biar aku mengantarmu!"
"Tristan, aku bisa pulang sendiri. Tolong lepaskan tanganku!" Mara menggoyang-goyangkan tangannya yang terus dicekal oleh Tristan, tapi bukannya melepaskan malah Tristan semakin kuat mencekal tangan Mara.
"Aku tidak akan melepaskanmu, kecuali kamu ikut dengan aku!!" Tristan tersenyum menyeringai, sepertinya ia begitu bahagia melihat ekspresi Mara saat ini.
"Tristan lepaskan! Jangan memaksaku!" Mara terus saja memberontak, ia benar-benar tidak mengerti mengapa Tristan begitu memaksa dirinya.
"Singkirkan tanganmu!" Seseorang datang menghampiri Tristan dan Mara. Ia melepaskan pegangan tangan Tristan terhadap Mara. Ia juga mendorong tubuh Tristan hingga terhuyung dan hampir saja terjatuh.
Mara yang melihat kehadiran Byan pun menatap heran. Setengah hatinya merasa bahagia karena telah dibebaskan dari Tristan, setengah lagi merasa heran dengan sikap Byan karena mau menolongnya. Tanda tanya besar untuk Mara??
__ADS_1
"Tidak perlu ikut campur, bung! Ini urusanku dengan Mara!" Tristan merasa tak mau kalah, ia pun mengarah semakin dekat kearah Byan dengan raut wajah menantang.
"Jika berkaitan dengan Mara, ini juga menjadi urusanku!"
Perkataan Byan membuat Mara memutar otaknya, ia tak mengerti maksud Byan berkata seperti itu.
"Fuiihhh! Memangnya kamu siapa? Apa hubunganmu dengan Mara?" Tristan merasa kesal, karena upaya pendekatan yang dengan Mara kini di ganggu oleh kehadiran lelaki yang tak ia kenal.
"Aku kekasihnya!"
"A..apa? Kekasihnya?"
"Pergi dari sini, dan jangan pernah mengganggu kekasihku lagi! Atau aku akan menghajarmu!" Gertak Byan.
Byan pun mengepalkan tangannya, hendak mengarahkan kewajah Tristan. Tapi itu hanya sebuah gertakan saja, Byan tak bermaksud menghajar atau melukai seseorang. Apa lagi, usia Tristan jauh lebih muda daripada dirinya. Ia merasa sedang berkelahi dengan anak kecil.
"Maaf." Hanya itu yang Tristan ucapkan. Ia pun pergi meninggalkan Byan dan Mara di sana.
Setelah kepergian Tristan, Byan pun segera menghampiri Mara yang kini ada di belakangnya.
"Kamu tidak apa-apa? " Byan memperhatikan Mara yang kini terlihat ketakutan. Byan juga merasa panik, ia takut terjadi sesuatu pada Asmara.
Mara hanya menggelengkan kepalanya, tatapannya kosong, fikirannya panik ia merasa pandangannya terus saja berputar-putar. Bukan karena takut akan perlakuan Tristan, namun Mara lebih syock ketika mendengar semua penuturan yang keluar dari mulut Byan tadi.
"Kamu ingin pulang?" Tanya Byan tak ingin banyak bicara.
"I-iya." Jawab Mara tertatih.
"Aku antar,"
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri, Mas" Mara menakupkan kedua tangannya menahan dinginnya angin malam yang menyapu dan membelai tubuhnya saat ini.
Byan yang melihat hal itu pun segera melepas jas hitam yang kini ia pakai, lalu menautkannya diantara kedua pundak Mara.
"Ayo." Ajak Byan pada Mara yang hanya bisa mematung.
"Mas Byan aku ..."
__ADS_1