
Hingga saat ini, Byan belum tahu pasti apa penyebab Abinya begitu tak menyukai jika ia mendekati Mara. Padahal, sebelum lima tahun lalu Abinya mendukung hubungannya dengan Mara.
Namun, setelah kejadian itu Malik selalu mengekang bahkan mempengaruhi Byan untuk tak lagi mendekati Mara. Dan sampai sekarang, meski Byan sudah mengutarakan kejujurannya pada Malik, tetap saja tidak ada perubahan yang terjadi. Malik tetaplah Malik, seseorang yang berhati keras dan kukuh pada pendiriannya.
"Aku harus mencari tahu, aku tidak bisa terus berdiam diri seperti ini," batin Byan masih tak ingin mengalah.
Byan segera keluar dari ruangan kerjanya, ia pergi ke suatu tempat di mana dia ingin menemui seseorang. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga ia tiba di rumahnya.
Begitu ia sampai di dalam, ia mendengar perdebatan antara Umi dan Abinya. Byan pun memutuskan untuk menghentikan langkahnya dan mendengarkan lebih dulu perdebatan mereka.
"Abi, itu semua masa lalu, lupakanlah!" Andryani kini tengah berdebat dengan suaminya di ruangan keluarga.
"Kejadian itu tidak bisa di lupakan begitu saja, Umi." Meski suara Malik tak ada penekanan, namun begitu terdengar dingin.
"Abi, jangan mengekang Byan lagi. Kali ini biarkanlah dia memilih jalan kehidupannya sendiri," pinta Andryani dengan amat memohon.
"Umi lihat, apa yang terjadi pada gadis malang itu?? Byan sudah menghancurkan masa depannya, dan sekarang dia akan kembali menghancurkan masa depannya lagi???"
"Kali ini, Umi yakin Byan tidak mungkin menyakiti Mara kembali, Abi," Andryani masih berusaha membela Byan dan membujuk suaminya.
"Lihat, betapa Umi amat memanjakannya! Pantas saja ia bersikap membangkang!" Perasaan Malik kali ini begitu kesal. Pasalnya tadi ia dibuat marah oleh Byan, kali ini istrinya sendiri pun sama begitu.
"Umi tidak bermaksud memanjakan Byan, Abi. Dia anak kita, harusnya kita lebih mendukungnya," Andryani mengelak, ia benar-benar tak mengerti akan sikap Malik kali ini.
"Jika kita tidak menghentikan Byan dari sekarang, kita berdua adalah orang tua yang jahat, Umi!" Ucap Malik lagi. Ia masih tak ingin jika Byan terus bersama Asmara.
Ketika Byan mendengar semua perdebatan kedua orang tuanya, ia menjadi semakin yakin jika ada sesuatu yang tidak diketahui olehnya. Entah apa itu, Byan mencoba untuk mencari tahu yang sebenarnya mereka sembunyikan.
"Byan tidak akan berhenti, Abi, Umi!"
Andryani dan Malik pun terkejut dengan kedatangan Byan secara tiba-tiba. Apalagi kini Byan sudah memasang wajah marah dengan warna kemerahan.
__ADS_1
"Byan??" Andryani merasa kehabisan kata-kata. Ia menatap nanar Suaminya dan Byan secara bergantian. Nanar yang menandakan tak ada satu orang pun yang akan mengalah.
"Lakukan saja, jika itu kemauanmu. Berarti kamu mengibarkan bendera perang dengan Abi!" Malik kembali menantang Byan yang dianggapnya amat keras kepala.
"Baik, kita lihat saja siapa yang akan menang nanti!" Byan pun sama halnya dengan Malik. Ia tak pernah mau kalah.
"Byan, Abi!! Apa yang kalian lakukan? Apa kalian akan berperang, hah???" Andryani sudah semakin putus asa. Ia tidak habis fikir kedua lelaki yang amat ia sayangi itu kini saling mengobarkan bara Api seolah akan saling berperang.
"Umi, biarkan saja. Itu keinginannya yang lebih memilih orang lain dibandingkan orang tuanya sendiri," ujar Malik.
"Beritahu aku alasannya, jika memang aku pantas meninggalkan Mara," Byan tak ingin diam saja, ia masih menanti alasan yang akan kedua orang tuanya katakan.
"Byan, tenangkan hatimu Nak, ini semua kami lakukan demi kebaikanmu," Andryani kembali mencoba membujuk Byan.
"Biarkan saja! Tidak usah melarangnya lagi, biarkan saja dia berbuat sesuka hatinya!" Malik sudah tidak ingin berdebat lagi, ia kemudian pergi menuju ke dalam kamarnya. Hari ini, ia begitu amat lelah. Perjalanan jauh yang ditempuhnya menjadi alasan tubuhnya begitu lelah. Namun, alasan utamanya adalah ulah Byan yang begitu menghabiskan kesabarannya.
"Abi, tunggu!!" Andryani semakin bingung. Pertengkaran antara ayah dan anak itu membuat kepalanya ingin meledak.
"Tidak, Umi! Byan tetap akan melanjutkan apa kata hati ini. Byan tidak ingin kehilangan Mara untuk kedua kalinya lagi," Byan masih sama dengan Byan yang kemarin. Ia tidak mengubah keputusan yang sudah dibuatnya. Baginya, Mara sangat berarti. Apalagi Star begitu menyayangi mantan istrinya itu.
"Byan, tolong dengarkan Umi," Andryani amat susah payah membujuk Byan. Hingga air matanya pun kini sudah mulai menetes. Apalagi yang harus ia lakukan agar Byan mau menuruti permintaannya.
"Umi, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin itu akan menjadi pertimbangan untuk Byan,"
"Itu hanya masa lalu, kamu tidak perlu mengetahuinya, Byan," Andryani masih menyembunyikan hal besar pada masa lalu keluarganya yang berkaitan dengan Asmara.
"Baiklah, maka jangan halangi Byan!"
Keras kepala atau kepala batu, itulah sebutan untuk Byan. Selain itu, ia juga memiliki sifat tak ingin mengalah meskipun terhadap ayahnya sendiri.
Andryani semakin pusing dibuatnya, entah suaminya ataupun anaknya sama saja membuat kepalanya terus berdenyut.
__ADS_1
"Aku bisa gila jika terus-menerus seperti ini," Andryani mengaduh, ia memegangi kepalanya yang kian bertambah sakit.
Begitulah dampak dari keras kepala Byan dan Malik. Mereka berdua sama-sama tak mau mengalah, jika bertemu pasti selalu berkelahi. Padahal sebelum mengetahui masa lalu itu, mereka berdua tak seperti ini.
"Aku harus mencari cara agar anak dan suamiku tidak selalu bertengkar. Jika begini, aku bisa mati mendadak!" Andryani bangkit dari duduknya dan segera menuju ke dalam kamarnya.
...****************...
Byan memukuli setir mobilnya, ia masih tidak terima atas keputusan ayahnya. Ia menghentikan mobilnya di depan sebuah toko, toko yang selama ini ada orang yang amat ia rindukan di dalamnya.
Byan hendak ke luar mobil, namun matanya menemukan sebuah pemandangan yang indah. Pemandangan yang dapat membuat hatinya sedikit tenang karena tadi sempat berperang dengan Malik.
"Dia sangat cantik," gumam Byan masih menikmati pemandangan dari dalam mobilnya.
Mara mengenakan kaos putih polos lengan pendek, dengan celana jeans hitamnya. Sesederhana itu penampilannya, namun dapat membuat Byan semakin terpikat.
Byan tak ingin kehilangan kesempatan lagi, ia pun segera keluar dari mobilnya menghampiri Mara di luar sana.
"Mara," panggil Byan dengan lirih.
"Mas, Byan?" Mara menoleh, ia pun menunda untuk melanjutkan langkah menuju ke mobilnya.
"Mara, apa aku mengganggu?" Tanya Byan seperti orang yang kehabisan perkataan.
"Sangat!" Jawab Mara dengan tegas.
Byan tersenyum, meskipun bersikap acuh dan jutek Mara malah terlihat semakin menggemaskan baginya.
"Maaf Mas, aku harus pergi," Mara mencoba membuka pintu mobilnya. Namun tangan Byan dengan sigap mencegahnya dengan memegang tangan milik Mara.
"Pergilah bersamaku, Mara,"
__ADS_1