Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Saling merindukan


__ADS_3

🍒 Byan


Dua minggu, Byan menahan semua gejolak rindu di hatinya. Disibukkan dengan urusan kerja, hingga tak memiliki waktu banyak untuk berleha-leha. Meski sempat memikirkan perihal wanitanya yang berada jauh, di Negara yang berbeda.


Tangannya terasa gatal, ingin segera menekan ikon hijau untuk menelpon pujaan hatinya. Tetapi lagi-lagi ia gusar. Memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya.


Teringat akan pesan dari Uminya.


Berikan ruang dan waktu untuknya, biarkan dia berfikir dan terbebas sejenak dari beban hati akibat ulahmu.


Ia kembali mendongakkan kepala, memandang langit yang kini sudah berubah warna menjadi gelap.


Setelah itu, kita akan datang ke rumahnya.


Entah kapan rencana itu akan terwujud. Baginya, melewati waktu dua minggu serasa dua abad. Bahkan hatinya kini terasa semakin sakit dan pilu akibat menahan rindu yang telah menumpuk segunung.


Sampai kapan ia akan terus menjalani hubungan jarak jauh seperti ini?


Tunggu, hubungan?


Bahkan sudah jelas, jika ia dan Mara tak memiliki ikatan hubungan apapun. Lucu sekali!


"Aku merindukanmu, Mara," lirihnya. Dengan Mata yang kini berfokus pada salah satu bintang yang terang diatas sana. Venus.


Hari berganti hari, waktu terus berjalan. Menunjukkan keberhasilan akibat kerja kerasnya selama ini. Bahkan, bisa dibilang jika ia bekerja bagai kuda.


Tanpa henti.


"By," panggil Kessy.


"Eum," jawabnya seadanya. Ralat, lebih tepatnya malas menjawab.


"By, Ayo kita pulang!" Ajak Kessy padanya.


"Sudah pukul sembilan malam," lanjut Kessy.


"Kamu pulang saja lebih dulu," pintanya. Tanpa mengalihkan pandangan pada Venus.


Kessy menghampirinya, mendekat dan memperhatikan kemana arah matanya memandang.


"Terang sekali," puji Kessy dengan senyuman merona.


"Apa kamu tidak lelah, By?" Tanya Kessy. Kini berganti fokus ke arah Byan.


Ia hanya menggeleng. Menjawab melalui body language, berharap Kessy memahami maksudnya.


"Kita pulang bersama," ajak Kessy lagi.


Namun ia masih tak menjawab, malah meninggalkan Kessy yang masih berdiri di sana menatap langit.


"Mau kemana, By?" Tanya Kessy ketika melihatnya sudah meraih jas hitam dari kursi kerja dan memakainya.


"Namun ia masih tak menjawab, memilih meninggalkan ruangan yang kini kian sepi.

__ADS_1


"Byan!!!!!" Teriak Kessy. Masih tak digubris sama sekali olehnya.


Merasa kesal, Kessy pun segera menyusulnya dengan berjalan menghentakkan kaki sekuat-kuatnya pada lantai. Hingga menimbulkan suara tuk tuk tuk. Memekikkan telinga.


Sampai di Lobby, Kessy tak menemukan lagi sosoknya. Mencari-cari keberadaannya. Ternyata ia sudah lebih dulu kabur menggunakan mobil dengan cepat.


"Byan!!!!" Teriak Kessy lagi saat melihat mobilnya sudah berlalu menjauh.


"Si*al!!!" Umpat Kessy kesal.


Ia lebih memilih menjauhi wanita lain demi menjaga hati Mara yang jauh di sana. Meski Kessy selalu mengambil peluang untuk menggodanya, ia tidak tertarik sama sekali. Baginya, Kessy adalah rekan kerja yang bisa diandalkan. Hanya itu saja. Tidak lebih.


Tidak ada niat sama sekali untuk menjadikan Kessy spesial. Lebih tepatnya, tak akan bisa menggantikan Posisi Mara di hatinya.


Mara, cukup Mara.


"Mara, aku sangat merindukanmu," ucapnya lirih. Sembari terus membayangkan wajah Mara.


****************


🍒 Mara


Kesibukan di toko kue akhir-akhir ini membuat tenaganya hampir habis. Menjelang lebaran, banyak sekali pesanan kue yang ia terima. Belum lagi pengunjung yang tiap hari selalu datang, ramai sekali membuatnya kewalahan. Bahkan pendapatannya bulan ini melebihi target.


Wow! Amazing!


Tubuh lelah, bahkan terasa lengket. Ingin segera ia mandi dan tidur. Untuk mengumpulkan tenaga kembali agar besok lebih bersemangat lagi. Mengingat masih banyak pesanan pelanggannya yang belum ia selesaikan.


Din! Din!


Tak lama, adik lelaki semata wayangnya pun muncul dari balik gerbang. Randy.


Membukakan pintu gerbang, menunggunya keluar dari dalam mobil.


"Kak, Mara," sapa Randy dengan wajah yang tak biasa. Seperti ingin menyampaikan sesuatu.


"Ada apa, Randy?" Tanyanya, membutuhkan kejelasan.


"Kak, cepat masuk!!" Tarik Randy pada tangannya. Namun kali ini melalui pintu samping.


"Loh, ada apa??" Tanyanya sedikit berbisik.


"Udah, cepetan masuk. Terus mandi!!!" Perintah Randy sedikit memaksa.


"Randy, memang ada apa? Apakah ada tamu??" Tanyanya lagi dengan mimik wajah penasaran.


Randy tak menggubris, ia hanya mendorong tubuh kakaknya yang langsing itu menuju ke dalam kamar.


"Cepetan! Banyak yang nungguin di depan!" Teriak Randy dari luar kamar.


Randy segera menutup pintu kamar, berharap kakaknya itu memahami maksud dan segera menjalankan permintaannya.


"Ada apa sebenarnya? Siapa yang datang?" Batinnya cemas.

__ADS_1


Tanpa babibu lagi, ia langsung segera mandi. Menghilangkan rasa lengket pada tubuhnya. Menyiramnya dengan air dingin agar terasa lebih segar.


Tak butuh waktu lama, karena mengingat perkataan Randy tadi. Jika banyak orang yang sedang menunggunya di luar. Ia pun segera bergegas, mencari pakaian yang sopan.


Dress sebatas lutut, berwarna cokelat muda ia kenakan. Tak lupa ia menempel tipis-tipis make up pada wajahnya. Berharap riasannya ini sedikit menutupi mata pandanya. Mata panda akibat beberapa minggu ini susah tidur.


Memikirkan apa?? Tentunya memikirkan seseorang yang sudah menguasai hatinya.


Siapa??


Ia segera bergegas keluar, mencari-cari keberadaan ibunya. Namun tak ia temukan di dapur, ruang keluarga. Hanya terdengar suara sayup-sayup orang sedang mengobrol dari ruang tamu.


"Siapa yang datang?" Tanyanya dalam hati.


Untuk menjawab rasa penasarannya, ia pun segera keluar menuju ruang tamu.


"Nah, itu dia yang ditunggu-tunggu!" Ucap Ibunya.


Semua mata orang yang ada di ruang tamu menatap ke arahnya. Menampakkan senyuman kebahagiaan.


Namun, satu orang di sana menatapnya haus. Hingga tak dapat lagi berpaling. Dialah, Byan.


"Mara," panggil Andryani.


"Umi," ia segera mendekat. Menyalami Andryani. Kemudian ia pun bergantian menyalami Abi Malik.


"Pulang kerja selarut ini, kamu pasti lelah," ucap Malik.


"Sudah biasa, Abi," jawabnya kaku.


Kini giliran gadis kecil manja yang berhambur ke pelukannya, mendekapnya dengan erat. Seperti tak ingin melepaskan.


"Tante, cantik. Star rindu," ucap Star lirih. Menampakkan sepasang mata yang kian memerah dan berair.


"Tante pun rindu. Rindu sekali," balasnya lirih. Mengusap-usap pelan puncak kepala Star.


Ketika matanya menoleh kearah seseorang, ia merasa mati kutu karena tengah diperhatikan.


Byan, dialah yang tak melepaskan pandangan ke arah lain. Hingga mata mereka pun saling bertemu. Seolah mengalirkan rasa rindu yang teramat sangat.


"Ikatan batin Star dan Mara memang kuat," ucap Andryani yang tertegun menatapnya.


"Star, biarkan Tante Mara istirahat. Jika terus memelukmu, tangannya akan pegal," sambung Malik. Mencoba memberikan pengertian pada Star yang sejak tadi terus mendekapnya dengan erat.


Mendengar penuturan Oppanya, Star pun segera beringsut. Menuntun tangannya agar duduk di sofa. Hingga kini Star berada ditengah-tengah Byan dan dirinya.


"Wah, sudah cocok!" Puji Andryani menatap kearah mereka bertiga.


"Serasi," sambung Malik.


Sementara ia hanya melihat senyum kecil yang tersinggung dari wajah Ibunya dan Randy. Tanpa memberikan komentar apapun.


"Tante cantik, maukah menjadi Mama Star??

__ADS_1


__ADS_2