Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Masih bungkam


__ADS_3

Sepeninggalan Byan, Mara hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Sekuat tenaga ia sudah mencoba untuk menghindari Byan. Bahkan ia juga sudah mencoba membuat Byan membencinya dengan berkata kasar. Namun, semua usahanya itu dirasa telah sia-sia. Byan tak menyerah begitu saja, ia tetap pada tujuan utamanya.


"Ya Tuhan, apa lagi yang harus aku lakukan?" Mara menjadi bingung. Hampir semua cara telah ia tempuh. Namun bukannya Byan pergi, yang ada Byan semakin rapat dan lengket dengannya.


"Dia tak menyerah juga," Mara takut jika ia terus bertemu atau berhubungan dengan Byan hal itu akan diketahui oleh Ibunya. Ia tak ingin terus menutupi kesalahannya ini hingga harus terus berbohong.


"Aku bisa gila!" Mara terus merutuki kesalahannya ketika bayangan Byan terus berputar di otaknya.


"Mba," panggil Renata setelah Byan keluar dari ruangan kerja Mara.


"Ck!" Mara hanya bisa memegangi kepalanya ketika melihat siapa yang datang.


"Mba, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku janji!" Renata menundukkan kepalanya, berharap dapat pengampunan dari atasannya yang kini terlihat sedih.


"Re, apa yang kamu lakukan?"


"Sebenarnya aku yang telah mengizinkan Pria Mis-"


"Sudah, kamu tidak bersalah!" Mara langsung memotong ucapan Renata yang belum selesai. Hal itu membuat Renata menjadi semakin merasa bersalah.


"Maaf, Mba," perlahan Renata memundurkan langkahnya dan keluar dari ruangan Mara.


...****************...


Langit sudah mulai petang, jam sudah menunjukkan pukul sembilan belas malam tepat. Mara, ia melangkahkan kakinya hendak keluar dari tempat di mana seharian ia harus memeras otaknya.


Rasa lelah dalam dirinya kian bertambah, di mana hari ini ia harus menghadapi seseorang dengan sikap pantang menyerahnya. Seseorang yang tak lain adalah Byan mantan suaminya.


Jika ia harus memilih, ia lebih memilih tidak pernah bertemu Byan sejak awal. Namun, pilihan untuknya itu tidak ada. Yang ada saat ini hanyalah, tetap bertahan atau meninggalkan.


"Mara?"


Mara semakin tertunduk lesu ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Suara yang tak lagi asing, suara yang sering sekali terngiang-ngiang ditelinganya akhir-akhir ini.


Benar dugaannya, orang yang ia anggap sebagai pengganggu itu kini datang lagi. Datang menepati janjinya siang tadi. Meskipun sebenarnya ia tak menginginkan bertemu dengan Byan.


"Ck!" Mara berdecak kesal, ia tak tahu jalan fikiran Byan saat ini.


"Kau masih kesal padaku?" Tanya Byan ketika mendapati wajah Mara yang muram.


Mara tak ingin menjawab atau berkata sepatah kata pun. Ia lebih memilih untuk menutup toko kuenya. Ia juga ingin segera menghindari Byan dengan terus bungkam.


"Biar aku saja!" Byan menahan tangan Mara yang hendak menarik Rolling Door.


Ingin rasanya Mara berteriak, mengeluarkan kekesalannya. Tetapi apalah daya, ia tak mungkin salah bertindak dan membuat semua orang kembali menontonnya seperti siang tadi. Mara pun membiarkan Byan menarik Rolling Door tokonya.

__ADS_1


"Selesai," Byan menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya setelah selesai membantu Mara menutup Rolling Door.


Begitu selesai mengunci, Mara langsung saja berlalu dari hadapan Byan tanpa sepatah kata.


"Mara, kau ingin pulang?"


Mara masih saja tak menghiraukan celotehan Byan yang amat begitu mengganggunya.


"Mara, ada yang ingin ku tunjukkan padamu," Byan menarik tangan Mara hingga membuat tubuhnya terhuyung dan mengikuti langkah Byan yang semakin cepat.


"Apa lagi yang akan dia lakukan, ya Tuhan ..." lirih Mara merutuki tingkah Byan yang tak bisa ia tolak itu.


Byan terus menggandeng tangan Mara menelusuri trotoar jalanan. Setelah beberapa menit berjalan, Byan menghentikan langkahnya begitu pula dengan Mara.


Tanpa disadari, ternyata mereka berdua sudah berada dipinggir sebuah danau dengan udara yang terasa menyejukkan.


"Hah, akhirnya sampai juga," Byan menghembuskan nafasnya merasa lega setelah beberapa menit berjalan kaki. Rasanya lelah juga, namun karena bersama Mara semua itu seakan tak terasa hingga tiba di tempat tujuan.


Mara menelisik setiap penjuru pinggir danau, dengan pemandangan air yang berwarna-warni akibat pantulan cahaya lampu malam ini.


Sejak tadi Mara hanya diam tak berbicara, namun sejak itu pula tangannya tak lepas dari genggaman Byan.


"Kau masih marah padaku?" Byan menatap Mara dalam-dalam. Di telisiknya setiap sudut wajah Mara yang makin lama semakin bersinar.


Sungguh, Byan kali ini bukanlah seperti Byan kemarin. Byan yang tak banyak bicara dan hanya seperlunya saja kini menjadi sosok yang cerewet bahkan membuat telinga Mara menjadi kelu mendengar perkataan Byan yang tiada henti.


"Jadi, bagaimana? Apakah kau sudah siap?"


Mara masih saja tak menjawab, ia sudah bertekad untuk mengacuhkan Byan kali ini.


"Jika kau diam, berarti itu mewakili kata YA!" Byan mengulum senyumannya ketika melihat wajah Mara yang kian menarik dan menggemaskan.


"Mara, andai kau tahu betapa susahnya aku untuk terus bisa berbicara banyak di depanmu, andai kamu tahu betapa aku ingin merubah ego yang sudah mendarah daging ini demi kamu, andai kamu tahu betapa sulit ini semua,"


Byan hanya bermonolog di dalam hatinya, ia tak mungkin menunjukkan kelemahannya di depan Mara. Ia tak ingin Mara tahu, jika sakit yang ia rasakan ini terus ia pendam.


"Mara, apakah kau ingin pergi bersamaku keluar negeri?"


Pertanyaan Byan masih tak mendapatkan respon apapun dari Mara. Namun Byan tetap tidak ingin menyerah begitu saja.


Setelah beberapa saat, ada seorang pria paruh baya mengantarkan jagung bakar yang sejak tadi sudah Byan pesan.


"Ini jagung bakarnya, Mba,"


"Maaf Pak, Istri saya sedang sariawan," karena Mara tak menanggapi, maka Byan yang mengambil jagung pesanan itu.

__ADS_1


"Oh," Baik penjual jagung mau pun Byan sama-sama mengulum senyuman.


"Eh, maaf. Bukannya ini Mba tempo hari yang kejambretan?" Ternyata pedagang jagung itu masih mengenal wajah Mara.


Mara pun menoleh ke arah Pria paruh baya itu, " Oh, iya Pak,"


Akhirnya Mara pun buka suara, Byan kini sedikit lega meski Mara berbicara kepada orang lain bukan kepadanya.


"Pak, apakah Pria yang membantu saya waktu itu pernah datang kemari?" Mara tiba-tiba bertanya pada pedagang jagung bakar itu.


"Maaf Mba, sampai sekarang saya pun belum melihat Pria itu lagi," setelah mengatakan itu, pedagang jagung bakar pun kembali ke lapak dagangannya.


Terlihat kekecewaan di wajah Mara dengan jelas, Byan tidak menyangka jika Mara masih mencarinya.


"Apakah kamu begitu ingin bertemu dengannya?"


"Tentu, aku sangat ingin bertemu dengan Pria yang sudah menolongku!" Mara menjawab dengan lantang.


"Benarkah? Sepertinya kau begitu berharap," kali ini Byan seperti sedang memancing Mara untuk berbicara lebih. Selain itu, Byan juga ingin mengetahui isi hati Mara.


"Aku sangat sangat sangat berharap!!" Timpal Mara penuh penekanan.


"Untuk apa kau ingin bertemu dengannya? Memangnya seperti apa pria yang sudah menolongmu itu?"


"Pertama, aku pasti akan mengucapkan terimakasih banyak padanya, setelah itu terserah aku ingin melakukan apapun bersamanya," Mara mencoba memanas-manasi hati Byan. Namun bukannya marah, Byan malah semakin melebarkan senyumannya.


"Kau sangat lucu!" Byan mengacak pelan rambut Mara.


"Ck!" Mara kembali memasang wajah manyunnya.


"Makanlah jagung ini, selagi hangat!"


Mara tak menyentuh jagung bakar itu sama sekali, ia masih begitu kesal pada Byan. Selain itu ia juga masih menunggu apa yang akan dilakukan Byan padanya. Ia juga ingin tahu, apa tujuan Byan mengajaknya kemari.


"Mara, makanlah. Siapa tahu dengan memakan jagung bakar ini Pria yang pernah menolongmu itu akan datang," Byan kembali menggoda Mara.


"Aku yakin suatu saat kami pasti akan bertemu," ucap Mara dengan penuh percaya diri.


"Bertemu dalam mimpi?" Byan terkikik geli akan ucapan Mara.


"Aku pasti akan bertemu dengannya di alam nyata, Pria yang hebat dalam bertarung. Dia sangat keren!" Mara memuji aksi pria misterius itu, tanpa ia ketahui sebenarnya pria itu sudah ada di hadapannya saat ini.


"Apakah kau mengenali ciri-cirinya? Siapa tahu aku mengenalnya dan bisa membantumu," Sembari menahan tawanya, Byan masih menjalankan sandiwaranya.


"Heuh?"

__ADS_1


__ADS_2