Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Taman kota


__ADS_3

Sempat semalaman ia tak dapat tertidur karena memikirkan kejadian yang menimpanya kemarin, Mara memilih pergi ke dapur untuk membuat teh melati hangat. Teh yang diharapkan bisa menjadi pereda nyeri hatinya saat ini.


Steven juga berkunjung ke rumahnya, namun hanya Kamila yang menemui Steve. Mara masih merasa kesal padanya, hingga beralasan lelah dan tak mau menemuinya.


"Mara, apa terjadi sesuatu?" Kamila berusaha untuk lebih bersikap sabar menghadapi Putrinya.


"Tidak, Bu," sembari meminum teh hangatnya, Mara masih saja menutupi keadaan yang sebenarnya dari Ibunya.


"Mara, mengapa kamu tidak mau menemui Steve, semalam?"


"Ibu, Mara begitu lelah semalam. Apakah Steve mengatakan sesuatu?"


Mara merasa ketar-ketir, ia khawatir jika Steve akan mengatakan hal yang tak diinginkan olehnya. Mara meneguk kembali teh hangatnya, berusaha menenangkan hatinya saat ini.


"Tidak ada hal penting, ia hanya berpamitan karena akan kembali ke Amsterdam," jawab Kamila mengatakan hal sejujurnya.


Namun ada satu pesan Steven yang tak dikatakan oleh Kamila. Pesan yang tak ingin Kamila katakan pada Mara.


Mara mengangguk pelan, hatinya sedikit berubah tenang. Setidaknya Steve masih menjaga rahasia yang selama ini ia tutup dari Kamila. Jika Steve mengatakan pada Kamila tentang apa yang terjadi, bukan tak mungkin Kamila akan marah besar padanya.


"Ibu, di mana Randy?" Tak ingin membahas masalah Steve, Mara mencoba mencari pembahasan lain. Ia juga tak melihat keberadaan Randy adiknya pagi ini.


"Sepagi ini dia sudah berangkat ke sekolah," jawab Kamila.


Mara lupa jika ini adalah hari senin, hari yang biasanya Randy akan berangkat ke sekolah lebih pagi. Ia juga sangat jarang bertemu dengan Randy, karena kesibukannya bekerja.


Mara memilih bersantai sejenak, ia juga tak ingin berangkat kerja sepagi ini. Rasa letih, lelah dan gundah yang melanda dirinya, membuatnya begitu malas untuk melakukan aktivitas apapun.


"Mara, kamu sepertinya begitu lelah. Berolah ragalah sejenak sebelum pergi bekerja," sebuah saran yang baik dari Kamila ketika melihat kekacauan pada wajah Mara sepagi ini.


"Terimakasih, Bu. Aku akan jogging sebentar,"

__ADS_1


Mara menaruh gelas tehnya yang sudah tak tersisa. Ia kemudian mengikuti saran dari Ibunya. Mungkin dengan berolahraga, tubuhnya bisa sedikit membaik dan kembali fit.


Mara membawa mobilnya menuju taman kota yang berjarak sekitar dua puluh menit dari rumahnya. Ia memakai alat pendengar musik yang dihubungkan pada ponselnya. Alunan musik mengiringi setiap langkah Mara mengitari taman kota.


"Tidak!! Star tidak ingin sekolah. Star ingin menunggu Papa," Star masih bersikeras menolak Sumi yang ingin membawanya pergi ke sekolah, padahal hari ini ia berencana menemani Byan di rumah sakit.


"Non, jika nanti Papa sudah siuman. Omma akan menghubungi kita," bujuk Sumi yang masih tak ditanggapi oleh Star.


"Tidak, Star ingin temani Papa," Star malah semakin mengencangkan tangisannya. Hal itu membuat Sumi menjadi bingung, karena tak tahu lagi bagaimana cara merayu Star.


Tangisan yang familiar itu pun terdengar oleh telinga Mara, ia melepas alat pendengar musik yang ada di telinganya. Benar dugaannya, ia tidak salah mendengar setelah menemukan keberadaan Star.


"Star?" Mara pun segera berlari kecil menghampiri Star yang sedang duduk di bangku kayu taman kota dengan seragam sekolahnya bersama sang pengasuh.


"Mba Sumi, apa yang terjadi?"


Sumi dan Star pun terkejut dengan kehadiran Mara di sana. Tak ambil langkah lama, Asmara pun langsung merangkul tubuh Star.


"Sayang, ada apa??" Mara sungguh khawatir. Ia menatap ke arah Sumi yang hanya bisa menundukkan kepala disertai wajah bingung.


"Mba, Non Star tidak mau pergi ke sekolah. Saya bingung," keluh Sumi mengadu.


"Apa? Kenapa Star tidak mau sekolah?? Ada apa Sayang?" Mara mengambil wajah gembul Star dengan memegangi kedua pipinya. Di tatapnya mata yang telah memerah itu, hingga ia tak tega melihatnya.


"Pa-pa," Star kembali merengek dengan bentuk bibir yang tak karuan.


"Papa??" Mara tidak tahu apa yang membuat Star begitu sesak menangis. Apa mungkin Byan melarangnya lagi? Atau ada masalah serius yang terjadi? Begitu banyak tanya yang Mara ingin tahu. Apalagi semalaman ia tak dapat tidur karena terus memikirkan Byan.


"Papa tidak mau bangun, Tante," Star kembali mengeluarkan air matanya. Namun kali ini ia tidak menangis dengan keras karena suaranya sudah serak. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Mara.


Mara memasang wajah tak mengerti, ia masih rancu dengan penjelasan Star. Ia pun langsung beralih menatap wajah Sumi berharap mendapat jawaban.

__ADS_1


"Pak Byan sedang di rawat, Mba. Sejak kemarin belum sadar juga,"


Deg!!


Bagai tersambar petir di siang bolong. Benar dugaannya, jika telah terjadi sesuatu pada Byan. Apakah ini diakibatkan oleh pertengkarannya kemarin dengan Steve? Atau ada masalah lain?


Masih banyak tanya dalam hati Mara, hingga ia memutuskan untuk menggali lebih informasi pada Sumi tentang apa yang terjadi pada Byan.


Namun Sumi menjawab tak tahu persis kejadian apa yang menimpa Bossnya itu. Ia hanya tahu Byan di rawat di rumah sakit keluarga dekat dengan taman kota ini sejak kemarin sore.


"Star, sudah berapa hari tidak masuk sekolah? Jika seperti ini, Star akan tertinggal pelajaran," ujar Mara lembut.


"Tante, Star ingin bertemu Papa,"


"Iya, sepulang sekolah Star akan bertemu Papa, tapi sekarang Star harus pergi ke sekolah dulu,"


Mara tak habis cara untuk membujuk Star agar mau pergi ke sekolah. Biarpun hatinya saat ini tengah meronta-ronta karena ingin segera mengetahui keadaan Byan.


"Tapi, Tante ..."


"Star, Tante yang akan mengantar ke sekolah, bagaimana?" Mara pun menawarkan diri. Ia berharap Star takkan menolak penawarannya kali ini.


"Sungguh?" Tanya Star meyakinkan Mara.


"He'um," Mara menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.


"Tapi Tente Cantik juga yang akan menjemput Star pulang?" Tak hanya sampai di situ, Star juga mempunyai keinginan yang lain dari Mara.


"Untuk hari ini, Tante akan menjadi sopir Star!"


Hati Star sedikit tenang jika bersama Mara yang mampu mengerti dirinya dalam segala situasi. Andryani sebagai neneknya saja tak bisa melakukan hal ini. Bersama Mara, ia sangat merasa nyaman.

__ADS_1


Sumi yang melihat hal itu pun merasa terharu. Ia tidak tahu apa hubungan Star dengan Mara sebenarnya. Yang dapat ia lihat, Mara dan Star seperti memiliki sebuah ikatan yang amat dekat. Ia juga merasa heran mengapa Byan tak menyukai jika Star dekat dengan Mara. Padahal Mara begitu baik dan terlihat sangat tulus menyayangi Star.


__ADS_2