Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Salah paham


__ADS_3

"Apa yang aku fikirkan? Tidak mungkin jika Mara berada di Seoul," Byan masih memikirkan masalah Mara yang sempat ia lihat tadi. Namun ia masih menilai jika apa yang dilihatnya tadi adalah sebuah kesalahan.


"Jika benar Mara ada di Seoul, untuk apa dia kemari? Lalu dengan siapa?" Hati Byan merasa jika Mara kali ini memang sedang berada dekat dengannya. Jika feellingnya sudah berkata, itu tidak mungkin salah.


"Mara benar-benar ada di sini, aku tidak mungkin salah!" Byan kembali meyakinkan diri. Ia tak mau ragu-ragu lagi dan segera mencari di mana Mara berada.


"Apakah Mara sudah mengetahui jika aku berada di Seoul? Mara mencariku?"


Byan tak menunda lagi, ia pun segera menuju ke luar dari ruang kerjanya mencari di mana Mara berada.


"By, kau mau kemana?" Kessy yang bingung melihat Byan tengah terburu-buru pun mencoba mencegahnya. Namun, si keras kepala itu tetap saja pergi tanpa mempedulikan keberadaannya.


"Dia baru saja sampai, dan sekarang mau pergi lagi?? Dasar keras kepala! Apakah dia melupakan pertemuan penting malam ini?" Kessy membiarkan Byan pergi begitu saja. Ia masih begitu banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Jika sudah waktunya, ia akan menghubungi Byan.


Mengendarai mobil dalam kecepatan tinggi itu bukan hal yang aneh bagi Byan. Apa lagi kali ini ia sedang mengejar cintanya.


"Mara, jika benar-benar kau datang hanya untuk mencariku, aku sungguh pria yang benar-benar beruntung!"


Byan berusaha mencari tahu keberadaan Mara di sekitar tempat yang ia kunjungi tadi. Ia bertanya-tanya pada orang-orang sekitar. Namun setelah Byan menyebutkan ciri-ciri Mara pada beberapa orang, mereka menjawab dengan penjelasan yang sama.


"Banyak wanita yang datang kemari dengan ciri-ciri yang kau sebutkan!" Itulah jawaban yang selalu Byan dapatkan. Ternyata tak mudah mencari seseorang di tempat ini. Apa lagi banyak orang yang tidak paham dengan perkataannya meski itu berbahasa Inggris. Sepertinya dia harus kursus bahasa Korea agar lebih mudah berkomunikasi dengan orang-orang di sini.


"Harus ke mana aku mencarinya?" Merasa putus asa, Byan pun mendudukkan bokongnya pada kursi kayu di pinggir jalan. Setelah merasa bosan, karena tak juga menemukan Mara hingga malam ini, Byan pun memilih pulang menuju Apartemennya.


"Mungkin besok aku akan mencarimu kembali," ucap Byan dengan nada lesu. Tubuhnya terasa lemas, rasanya ia tak begitu semangat.


Drtttt... Drttt...


Byan melihat siapa yang menghubunginya malam ini. "Kessy?"


...****************...


Sementara di tempat yang berbeda, Steven dan Mara menuju ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Seharian ini, Steven merasa puas karena terus bersama Mara tanpa adanya pengganggu atau pertengkaran diantara mereka. Hingga ia berfikir, tak ingin berpisah dari Mara karena waktu yang ia miliki hanyalah satu minggu. Waktu yang sangat singkat, hingga ia harus kembali ke Amsterdam.


"Aku lelah sekali," Mara mendudukkan bokongnya pada kursi di mana Steven mengajaknya makan malam di restoran yang ada di hotel tempat mereka berdua menginap.


"Ini baru awalnya, besok kau pasti akan lebih lelah," ujar Steven dengan membuka buku menu makanan.


"Memangnya besok kita akan pergi, lagi?" Tanya Mara penasaran.

__ADS_1


"Tentu, kita besok akan menemui relasi bisnisku. Aku akan memperkenalkan mereka semua kepadamu, Mara."


"Haruskah, Steve?" Mendengar penuturan Steven Mara menjadi semakin lesu. Ternyata ingin menjadi pebisnis sukses itu tidak mudah.


"Jika kau sudah mengenal banyak relasi bisnis, maka itu akan mempermudah bisnismu nanti," jawab Steven dengan melambaikan tangannya pada seorang pelayan wanita.


Mara hanya bisa menghela nafasnya panjang. Meninjau tempat yang ia butuhkan untuk bisnisnya saja sudah membuatnya lelah hari ini. Apa lagi ia belum menemukan tempat yang pas dan cocok.


"Kau ingin pesan apa?" Tanya Steven.


"Terserah," ucap Mara malas.


"Kebiasaan buruk!" Steven merutuki tingkah Mara. Hingga ia pun memesankan menu yang sama dengannya.


Mara hanya tertawa kecil, sungguh malam ini ia malas memikirkan menu apa yang akan dimakannya. Untung saja Steven bersikap cepat tanggap, hingga ia tak perlu lagi kesusahan dan lama berfikir hanya karena memilih menu makanan.


Selang beberapa menit, makan malam pun dihidangkan. Dengan segera Mara menyantap makanan yang ada di depannya.


"Makanan ini terasa asing, bahkan tidak ada nasi," rasa lelah yang melanda, ternyata membuat perut Mara begitu kosong dan ia teramat lapar.


"Kau ingin nasi? Aku akan memesankannya untukmu," Steven mencoba memanggil pelayan kembali. Namun Mara segera mencegahnya.


"Besok aku akan mengajakmu makan nasi," ucap Steven menenangkan situasi hati Mara.


Mara hanya diam, ia tak menanggapi perkataan Steven. Namun kali ini matanya mengarah ke suatu titik. Di mana ia melihat seseorang wanita yang ia kenal tengah berdiri seolah menunggu kehadiran seseorang.


"Bukankah itu Kessy?" Mara bisa memastikan jika matanya tidak salah menebak. Wanita yang ia lihat itu benar-benar Kessy. Wanita yang sempat membuatnya salah paham ketika dekat dengan Byan. Wanita itu juga yang pernah mengancamnya juga untuk menjauh dari Byan.


"Ck! Dunia ini begitu sempit," Mara merutuki Kessy yang baru saja ia lihat di dalam hati. Ia pun memilih pergi ke toilet sebentar kepada Steven yang masih asyik menyantap makanan.


"Steve, aku ke toilet sebentar,"


"Baiklah," Steve pun mengizinkan Mara disertai dengan anggukan kepalanya pelan. Ia tak memiliki rasa curiga sedikit pun pada Mara.


Mara yang berpamitan untuk pergi ke toilet, ternyata hanya ingin memastikan apa yang ia lihat kali ini tak mungkin salah. Jika itu benar Kessy, maka ia akan membiarkannya. Mungkin apa yang ia lihat ini hanya kebetulan saja.


Mara menuju ke arah luar, di mana Kessy tengah berdiri. Ia mengintai dari balik tiang penyangga besar untuk menutupi tubuhnya agar tak terlihat oleh Kessy.


"By," Kessy menghampiri mobil yang baru saja tiba di lobby hotel.

__ADS_1


Betapa terkejutnya Mara setelah tahu siapa lelaki yang di tunggu oleh Kessy itu. Setelah Byan keluar dari mobil, dan menyerahkan kunci mobilnya pada pelayan ia pun segera menuju masuk ke dalam restoran.


"By, aku sudah menunggumu ..." Kessy meraih lengan Byan dan berusaha menggandenganya, dengan wajah yang full senyum.


Mendapat perlakuan itu, Byan segera menatap Kessy dan melepaskan pegangan tangan itu dari lengannya.


"Jangan bertindak sesukamu!" Ucap Byan dengan tatapan tajamnya.


Dari jauh, Mara dapat melihat jelas apa yang ada di hadapannya. Meski ia tak bisa mendengar pembicaraan mereka. Namun, melihat Kessy yang sempat menggandeng lengan Byan ia jadi tahu. Orang yang Kessy tunggu itu adalah Byan. Lelaki yang beberapa hari ini tengah ditunggunya pula.


"Dia bahkan baik-baik saja, dengan jas yang rapi dan wajah yang segar," Mata Mara masih mengikuti ke arah mana Byan dan Kessy berjalan.


"Mengapa dia berbohong? Ini bukan Papua, ini adalah Seoul," Mara merasa ada yang sakit pada bagian dalam tubuhnya. Hati, kini hatinya berdenyut begitu sakit. Ternyata kebohongan Byan bisa membuat hatinya kembali merasakan sakit seperti ini.


"Hati, kuatlah!" Mara berlalu pergi sembari memegangi dadanya yang terasa sesak. Ia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Steven, ia lebih memilih melangkahkan kakinya menuju ke kamar yang ia tempati. Ia berlari, tanpa melihat keadaan sekitar.


Mara mengirim pesan pada Steven, jika ia langsung ke kamar karena merasa tak enak badan. Setelah itu, ia langsung merebahkan tubuhnya sembari terus mengingat apa yang baru saja ia lihat malam ini.


"Kenapa sesakit ini?" Matanya kini sudah mulai mengeluarkan air bening. Sungguh hatinya begitu sakit ketika melihat Byan bersama dengan Kessy. Apa lagi mereka menuju ke sebuah restoran mewah ini.


Apa yang akan mereka lakukan? Apa sebenarnya yang Byan sembunyikan darinya? Mengapa Byan berbohong? Apakah ini alasan Byan tak menghubunginya meski sudah mendapat nomor teleponnya?


Betapa banyaknya pertanyaan yang Mara ingin ketahui. Bahkan otaknya tak lelah berhenti memikirkan sosok Byan.


Mara memilih untuk berdiam diri di dalam kamar, bahkan ia kembali tak bersemangat setelah melihat Byan dan Kessy bersama.


Sementara Byan dan Kessy datang ke restoran ini untuk menemui relasi bisnis penting bagi perusahaan kosmetik yang baru saja Byan pimpin. Ia bertemu dengan pebisnis sukses asal Korea yang biasa dipanggil dengan sebutan Mr. Lee.


"Selamat malam, Mr. Lee," sapa Byan dengan membungkukkan tubuhnya memberi salam pada pria yang baru pertama kali ia temui.


"Malam, Tuan Byan, senang bertemu denganmu," ucap Mr. Lee dengan ramah.


Pertemuan mereka untuk membahas kontrak kerja sama yang selama ini sudah terjalin baik. Sejak masa kepemimpinan almarhum kakaknya Rayhan, kemudian Malik Ayahnya, hingga sekarang ia yang melanjutkan kerja sama ini.


Tak selang lama, setelah satu jam bertemu mereka pun saling berpamitan untuk segera kembali ke rumah masing-masing.


Kessy telah mempersiapkan pertemuan penting ini sejak sore tadi. Di mana Byan pergi tanpa memberitahu padanya. Hingga malam Byan tak juga muncul, Kessy pun segera menelpon dan memberitahu padanya jika harus bertemu Mr. Lee di restoran yang mewah ini. Di mana hampir setiap orang datang ke tempat ini untuk melakukan berbagai macam pertemuan bisnis.


Byan pun menyadari peran Kessy pada pekerjaannya. Ia segera membenahi diri kemudian pergi menuju alamat yang telah Kessy kirimkan. Jika malam ini ia tak menemui Mr. Lee, bukan tak mungkin jika Malik akan kembali memarahinya.

__ADS_1


Sebagai Asisten, Kessy tentunya selalu menemani Byan kemana pun ia pergi. Apalagi ini tentang pekerjaan. Tanpa Byan sadari, hal itu sudah membuat seseorang salah paham dengan apa yang dilihatnya tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya.


__ADS_2