
Sepertinya skenario yang dibuat Steven kini telah berhasil. Meski sempat kecewa atas penolakan Mara tempo hari, nyatanya ia bisa kembali dekat dengan Mara setelah melakukan cara yang satu ini. Cara yang dianggapnya ampuh dan tidak ada yang bisa membuat Mara menjauhinya lagi.
Hal itu baginya terlalu sulit, bahkan sakit. Apalagi jika ia melihat Byan terus dekat dengan Mara. Sakitnya alan bertambah dua kali lipat.
Selepas penolakan Mara tempo hari, Steven tidak memberikan ancaman apapun pada Malik. Karena ia tahu, Malik tidak tahu-menahu jika Mara akan pergi ke Seoul bersamanya. Namun, jika setelah ini Byan masih saja mendekati Mara. Maka ia pasti akan menghubungi Malik kembali dan mengancam akan menyebarkan rahasia besarnya itu.
Sedikit beruntung, karena Steven sudah mengetahui jika Byan tinggal bersama seorang wanita dalam satu apartemen. Hal itu akan semakin mempermudah dirinya untuk menyingkirkan Byan dari hati Mara.
"Steve, apa yang menjadi rahasia besar keluarga Malik? Dan apa hubungannya dengan Ayahku?"
Mara masih menagih janji Steven yang akan memberitahu rahasia besar. Rahasia besar yang tak ia ketahui hingga saat ini.
"Kau tahu Kessy?" Bukannya menjawab, Steven malah melontarkan pertanyaan pada Mara tentang Kessy. Wanita yang bisa membuatnya kesal sekaligus cemburu.
"Siapa dia?" Mara sungguh malas membahas perihal Kessy. Yang ia ingin tahu bukanlah hal ini, melainkan rahasia besar yang selalu Steven sebut-sebut.
"Bahkan Byan tidak memberitahumu soal Kessy?" Steven tersenyum menyeringai. Masih saja Byan menutup-nutupi masalah ini, bahkan menurutnya Byan begitu munafik.
"Ck! Apa ini hanya akal-akalanmu saja, Steve?" Mata Mara mulai memerah, tatapannya ke arah Steven kini berubah menjadi tatapan kebencian yang tak terukur lagi.
"Byan, Byan, bisa-bisanya kau membohongi wanita secantik ini," Steven tersenyum menatap wajah marah Mara.
Mara hanya bisa mengehela nafasnya panjang. Ia yakin jika Steven kali ini memang sedang memeprmainkan dirinya. Ia tak habis fikir bisa mempercayai Steven dan ikut pulang ke Jakarta bersamanya.
"Mara, ketahuilah aku tak pernah berniat membohongi dirimu sedikitpun, karena aku benar-benar menyayangimu dengan tulus," Steven tak ingin kehilangan kepercayaan Mara lagi. Ia mencoba untuk terus meyakinkan Mara.
"Steven, aku tidak membutuhkan ..."
__ADS_1
"Ya, aku tahu. Aku tahu jika kamu tidak membutuhkan semua perkataan yang keluar dari mulutku ini, maka dari itu aku harap kamu menunggu, aku akan membuktikannya, Mara."
Panjang kali lebar, Steven memperjelas semua keniatan hatinya. Ia harap, Mara akan memberikan kesempatan padanya lagi. Kepercayaan Mara seperti dulu, ia ingin mendapatkan itu lagi.
"Untuk masalah kemarin, aku minta maaf. Aku terlalu ambisius, egois, bahkan aku memalukan. Maafkan kesalahanku itu, Mara. Aku mau kau memberikanku kesempatan kedua," lanjut Steven lagi dengan wajah yang memelas.
Mara tak menanggapi apapun, perkataan Steven baginya bagaikan kaset lama yang terus berputar berulang-ulang. Bukan hal ini yang ingin ia bahas bersama Steven, namun sepertinya Steven kembali memiliki rencana lain dan hal itu justru membuat Mara harus lebih berhati-hati.
"Sampai kapan pesawat ini akan terbang? Aku bahkan sudah bosan," Mara merutuki dirinya sendiri. Ia merasa pesawat yang ditumpanginya bersama Steven tak kunjung tiba di Jakarta.
"Mara, apa kau tahu jika Byan dan Kessy tinggal bersama?"
Ucapan Steven begitu mengganggu pendengaran Mara. Apa yang Steven katakan tak masuk akal. Ia bahkan tak ingin mempercayai ucapan yang baru saja ia dengarkan.
"Steve, berhenti memfitnahnya,"
Steven menyeringai. Ia tak habis fikir mengapa Mara bisa lebih menyukai pria pembohong dan munafik seperti Byan daripada dirinya.
"Steven, apa yang baru saja kau katakan? Aku tidak menutupi hal apapun," elak Mara. Namun ia memang belum mengetahui jika Byan dan Kessy tinggal bersama seperti yang baru saja Steven katakan.
"Mara, kau berhak bahagia. Kau tak pantas dibohongi seperti ini,"
"Steven, sebaiknya kau istirahat. Karena aku juga akan tidur," Mara segera memejamkan matanya agar Steven tak lagi mengajaknya berbicara. Sungguh ia amat lelah.
Apalagi ia sempat menghampiri pegawai hotel untuk tidak memberikan info apapun tentang dirinya kepada Byan. Saat ini mungkin Byan tengah bingung mencari keberadaannya yang pergi begitu saja tanpa pesan.
Benarkah apa yang dikatakan Steven? Sementara Byan hanya mengatakan jika Kessy hanya seorang Asistennya, dan hubungan mereka berdua sebatas pekerjaan saja.
__ADS_1
Kepala Mara sungguh ingin pecah dibuatnya, apalagi hatinya. Hatinya bahkan seperti sudah tertembus peluru saat ini. Belum hancur, namun begitu sakit akibat lukanya.
Biarlah, ia pergi dari Seoul saja. Jika terus berada di negara ini, ia pasti akan terus bertemu dengan Byan. Hal itu malah akan mempersulit hatinya untuk melupakan semua tentang Byan.
...****************...
Byan merasa prustasi, hingga saat ini Mara belum juga menghubunginya. Bahkan pencarianya tak membuahkan hasil sama sekali.
Alih-alih menemukan Mara, petunjuk di mana Mara berada pun tak ia dapatkan. Seseorang yang ia perintahkan untuk melacak ponsel Mara, tak bisa menemukannya karena ponsel itu berada di luar jangkauan hingga saat ini.
Byan berjalan tertatih, hingga pukul satu malam ia baru kembali ke Apartementnya. Tubuhnya sempoyongan, bahkan tak memiliki daya sama sekali.
"Kau dari mana?" Tanya Kessy, ia menyalakan lampu dengan kedua tangan dilipat di dada. Ia memakai piyama satin berwarna merah maroon, rambutnya yang tergerai indah, dan menampakkan bagian-bagian tubuh yang semestinya disensor.
Kessy yang melihat Byan baru pulang di jam selarut ini pun bertanya. Tindakannya itu seakan mencerminkan seorang Istri yang tengah memergoki Suaminya ketika pulang terlalu malam.
"Byan!!!" Kessy masih memanggil Byan yang amat keras kepala itu. Lelaki itu benar-benar membuatnya harus memutar otak dengan keras.
Byan tak mempedulikan Kessy, ia terus saja berjalan menuju ke dalam kamarnya. Rasa lelah menurutnya tak masalah, yang mengganggunya saat ini adalah tak juga menemukan keberadaan Mara.
Hilang bagai ditelan bumi, meninggalkannya tanpa sebab. Jelas-jelas sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja tanpa masalah apapun. Kecuali masalah dengan Steven yang belum sempat Mara ceritakan kepadanya.
"Mengapa kau pergi begitu saja, Mara? Apa sebenarnya yang terjadi?" Byan masih tak mengerti apa penyebab Mara pergi.
Kepalanya terasa berdenyut, ketika otaknya penuh dengan nama Asmara. Tak ada yang bisa menyegarkan tubuhnya saat ini selain menyiramnya dengan air hangat di bawah aliran shower.
Belum ada kejelasan apapun dari Mara, namun ia merasa curiga jika kepergian Mara ini pasti ada kaitannya dengan Steven.
__ADS_1
Byan meremas rambutnya dengan kuat, ia tak akan mengampuni siapapun jika berani menyakiti Mara. Baginya, Mara adalah separuh hidupnya saat ini.