Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Cemburu


__ADS_3

Saat Byan menggendong Mara ala bride style dan tiba tepat di depan lift, saat itu pula pintu terbuka dan menampakkan sosok wanita dengan mata yang membola.


"By ..."


Byan tak menghiraukan wanita di dalam lift itu yang ternyata adalah Kessy. Ia masih saja membopong tubuh Mara tanpa ingin melepaskannya sedetik pun.


Berbeda dengan Mara yang merasa malu seakan disergap saat ini. Ia pun dengan cepat turun dari gendongan Byan dan merapihkan rambut juga pakaiannya.


"Ke-Kessy," sapa Mara kaku.


Namun mata Kessy masih menimbulkan banyak tanya. Ia menatap Mara penuh dengan emosi dan kebencian.


"Kessy, ini tidak seperti yang kamu fikirkan," Mara mencoba menjelaskan sesuatu.


Kessy tak mengindahkan perkataan Mara, ia malah berjalan keluar dari dalam lift dan menghampiri Byan yang memang ingin ia temui.


"By, aku ingin menemuimu. Mengapa kau tak angkat teleponku? Aku begitu khawatir,"


Melihat Kessy menyentuh Byan dan merapihkan kerah kemejanya, Mara merasa hatinya saat ini sedang tak baik-baik saja.


"Kessy, turunkan tanganmu!" Byan langsung memberi perintah agar Kessy menjaga sikapnya. Apalagi didepan Mara saat ini. Ia yakin, Mara akan salah paham.


"By, tidak biasanya kamu seperti ini? Bukankah kamu suka jika aku selalu merapihkan pakaianmu?"


Kessy berbicara tepat ditelinga Byan bahkan sangat dekat, sembari mata yang melirik ke arah Mara. Ia yakin, aksinya kali ini berhasil membuat Mara kesal. Bukan tidak mungkin jika Mara akan pergi meninggalkan mereka saat ini juga.


Dan benar, ucapan Kessy disertai tindakannya pun berhasil membuat Mara pergi begitu saja tanpa kata-kata.


"Mara!!!"


Byan berusaha mengejar wanitanya itu. Ia tak peduli lagi dengan Kessy.


"Mara, tunggu!" Byan mencekal tangan Mara yang kini terasa dingin.


"Lepaskan, Mas,"


"Mara, kau mau kemana?"


"Aku ingin pergi!"


"Kemana?"


"Kemana saja,"


"Bagaimana jika kau tersesat?"


"Tidak akan mungkin,"

__ADS_1


"Hey, ada apa denganmu??" Byan mencoba menenangkan wanitanya itu dengan memegang kedua tangannya.


"Sebaiknya kamu kembali saja temui wanita itu!"


Sontak Mara terlihat begitu kesal hingga nada bicaranya sudah tidak bisa lagi ia kontrol.


"Wanita itu??? Apa kau cemburu?"


"A-apa? Cemburu?? Heuh, tidak mungkin. Untuk apa aku cemburu!" Mara mencoba menampik tuduhan Byan padanya. Ia berusaha bersikap lebih tenang lagi agar perasaan campur aduk yang ada dihatinya saat ini tak menggoyahkan dirinya.


"Benar, kau cemburu!" Byan tersenyum kecil nyaris tak terlihat.


"Tidak!" Mara masih mengelak.


Byan kembali tersenyum, hatinya merasa senang sekali dan berbunga-bunga mendapati sikap Mara seperti ini. Ia yakin jika saat ini Mara tengah cemburu terhadap Kessy.


"Aku dan Kessy hanya sebatas rekan kerja. Jadi, kau tak perlu khawatir, Mara." Jelas Byan.


"Aku tidak butuh penjelasan apapun,"


"Oh, benar! kau tak membutuhkan penjelasan, tapi membutuhkan ini,"


Byan mendorong Mara dengan cepat hingga tubuhnya terhimpit ke tembok. Tak ingin membuang waktu lagi, Byan pun langsung melancarkan aksinya.


Cup!


Byan menatap sepasang mata indah dihadapannya, menyentuh wajah mulus yang tadi sempat ia kecup. Bukan wajah itu saja yang ingin ia jelajahi, bahkan bibir ranum Mara begitu melemahkan dirinya saat ini. Akh, andai saja ia bisa melakukannya saat ini. Tetapi ia harus bisa mengontrol hasratnya.


Byan hanya bisa menelan salivanya, ia tak ingin melakukan hal yang kini ada didalam otaknya di tempat seperti ini. Sepertinya ia harus bersabar lagi untuk bisa menaklukkan Mara.


"Mara, ayo kita pergi!"


Mara yang tubuhnya sejak tadi serasa membeku pun tersadar. Ia segera mengumpulkan semua nyawanya untuk fokus kembali.


Tanpa berbicara banyak, ia pun langsung mendorong tubuh Byan dan meninggalkan pria itu.


"Mara, kau mau kemana?"


"Pulang,"


"Bukan ke arah sana,"


Karena sadar jika arah langkahnya itu salah, Mara pun merasa malu. Ia akhirnya berbalik arah dan melewati Byan dengan wajah yang memerah.


Byan hanya bisa menggelengkan kepalanya, heran sekaligus merasa beruntung karena bisa membuat Mara tak lagi merajuk. Dengan langkah cepat ia pun segera mengimbangi langkah Mara dan berjalan beriringan.


Byan mengurungkan niatnya untuk membawa Mara ke suatu tempat hari ini. Ia lebih memilih mengikuti Mara masuk ke dalam Unit Apartemennya. Lebih baik ia menahan dulu keinginannya karena sepertinya Mara kali ini masih dalam keadaan sedikit marah padanya.

__ADS_1


Sampai di dalam, ternyata sudah ada Kessy yang tengah duduk bersama Andryani dan Star.


"Ck!" Byan berdecak kesal, hingga membuat Mara menoleh kearahnya.


Melihat tatapan Mara yang seakan bertambah marah dengannya, Byan menjadi takut. Tatapan tajam itu seakan hampir menusuk jantung dan hatinya. Perasaannya pun menjadi was-was.


"Mara, Byan, kalian dari mana?" Tanya Andryani.


"Umi, kami hanya berjalan di depan mencari udara segar," jawab Mara kaku.


Mendengar penuturan Mara, Kessy tersenyum smirk. Ini merupakan kesempatan baginya untuk mengecoh dan mengganggu Mara kembali.


"Udara segar?? Heuh, bukankah di luar begitu dingin?"


Mara hanya diam, perasaan kesalnya terhadap Kessy kini bertambah dua kali lipat. Ingin sekali ia membalas wanita yang telah membuat hatinya menjadi kacau hari ini. Tetapi ia kembali mengingat lagi, jika Kessy bukanlah tandingannya. Ia menjadi melemah mengingat jika Kessy dengan segala kelebihan, penampilan dan latar belakang yang jauh diatasnya itu membuatnya kalah telak.


"Umi, aku ingin mandi. Rasanya di sini panas sekali, sepertinya ada aura negatif yang memenuhi ruangan ini,"


Mara memilih masuk ke dalam untuk ke kamar mandi. Setidaknya ucapannya barusan bisa meredakan kekesalannya akan tindakan Kessy. Ia harap, Kessy akan sadar dengan ucapannya barusan.


Seluruh isi ruangan pun merasa canggung atas ucapan Mara. Terutama Byan, ia hanya bisa menarik nafas panjang menyaksikan kemarahan Mara yang malah membuatnya semakin takut.


Berbeda dengan Kessy yang merasa tersindir, ia berjanji akan membalas perbuatan Mara. Bahkan, ia akan segera menghempas Mara jauh-jauh dari Byan.


"Dasar wanita g*la!" Umpat Kessy dalam hati.


"Umi, Byan pun ingin mandi,"


"Jangan By!!!"


Kessy mengira Byan akan mandi bersama dengan Mara, jelas saja hatinya tak terima. Ia yang selama ini selalu ada dan menemani kemana pun Byan, dan sangat berharap lebih dengan Byan. Tetapi Byan tak pernah memperlakukannya seperti ia memperlakukan Mara yang menurutnya hanyalah wanita kampungan.


"Kamu tidak berhak melarangku, Kessy!"


Byan tak banyak berbicara, ia pun segera masuk ke dalam untuk mandi.


Andryani dan Star hanya diam, mereka berdua merasa sepertinya ada perang dingin antara Kessy dan Mara.


"Kessy, mau ke mana?"


Melihat Kessy melangkahkan kakinya, Andryani pun buka suara.


"Menemui Byan ...,"


"Apa kamu ingin menemui orang yang sedang Mandi? Tunggu saja di sini!"


"Oh, baiklah, Tant," Kessy hanya bisa menahan amarahnya didalam hati. Ia merasa Andryani kini tengah menghalanginya untuk dekat dengan Byan.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara wanita itu! Awas saja, akan kubalas kamu!" Kessy kembali mengumpat dalam hati.


__ADS_2