
Kecanggungan terjadi kembali ketika semua orang sudah siap di meja makan. Tanpa henti Mara dan Byan terus saling bertatapan. Andryani yang melihat putranya baru muncul pun segera menghentikan aksi pandang-pandangan dua orang itu.
"Ehem!!" Andryani berdehem sembari menatap Byan dan Mara bergantian.
Mendengar Ommanya berdehem, Star pun menatap kearahnya.
"Omma, apakah tenggorokan Omma gatal?"
"Bukan tenggorokan Omma yang gatal, tapi mata,"
"Kenapa tidak dikucek saja, Omma? Kenapa malah berdehem?"
Star masih belum tahu apa yang mengganggu mata Andryani. Namun, matanya pun mulai paham saat menatap kearah Byan.
"Jika di kucek itu cucian, sayang."
Byan yang mengetahui jika Star dan Uminya sedang menyindirnya pun segera duduk di kursi tepat bersebelahan dengan Star. Ia pun mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Umi, masak apa?"
"Bukan Umi yang masak. Tapi Chef di restoran."
Ujar Andryani dengan ketus. Ia sempat memesan makanan via online tadi. Karena di Apartement Byan tak ada bahan makanan yang bisa dimasak.
Byan mengulum senyumannya. Ia baru ingat jika Apartementnya ini tak memiliki stok bahan makanan yang bisa di masak selain makanan instan.
"Kamu tinggal di Seoul tidak pernah makan makanan sehat! Bagaimana jika kamu terkena kanker?"
"Uhuk! Uhuk!"
Penuturan Andryani sontak membuat tenggorokan Mara menjadi aneh. Hingga ia pun terbatuk-batuk.
"Mara, kamu tidak apa-apa?"
Byan langsung menyodorkan satu gelas air putih ke arah Mara yang kini duduk tepat di seberangnya.
"Tidak apa, Mas,"
Mara meraih gelas dari tangan Byan dan meminum air putih itu hingga tandas. Perasaan aneh macam apa ini, mengapa Mara seolah merasa tak terima akan ucapan Andryani tentang Byan barusan.
"Mara itu takut, Byan!" Celetuk Andryani.
"Takut kenapa, Umi?" Byan yang tak paham pun langsung mengajukan pertanyaan.
"Ya, takut jika kamu terkena kanker dan akan merepotkan semua orang. Termasuk, Umi!"
Mara dan Star hanya bisa mengulum senyuman dan saling bertatapan. Sementara wajah Byan yang semula tersenyum kini berubah menjadi sedikit masam. Namun ia segera menepiskan perasaan yang sedikit kesal itu. Ia lebih memilih kembali menggoda Mara. Itulah tujuannya saat ini. Senang jika melihat Mara terganggu, senang melihat wajah Mara yang menurutnya begitu menggemaskan.
"Jadi, apa Byan harus makan sayuran setiap hari, Umi?"
"Tidak juga,"
Ucapan Byan langsung dijawab oleh Andryani dengan cepat.
"Lalu?"
"Kamu harus fikirkan, siapa yang mau membuat masakan sehat untukmu?"
"Oh, itu. Byan tidak bisa berfikir lagi. Menurut Umi siapa?"
__ADS_1
"Mungkin kamu harus membayar Chef, Umi punya Chef handal yang ..."
"Ah, itu hanya akan menambah pengeluaran saja, Umi. Menghabiskan uang,"
"Kamu ini! Hidup sehat itu memang mahal, Byan!"
Andryani semakin kesal terhadap Byan. Ia begitu perhitungan untuk mengeluarkan uang. Padahal uangnya tak akan mungkin habis selama tujuh turunan.
"Aku merasa akan rugi, Umi. Jika membayar Chef, aku hanya akan mendapatkan masakan saja, sementara aku tidak mendapat pelayanan yang lain,"
"Pelayanan yang lain?" Andryani begitu heran dengan sikap putranya yang keras kepala dan susah diatur.
"Eum, maksud Byan lebih baik kita mencari orang yang sekaligus bisa ..."
"Papa banyak maunya," sambung Star memotong ucapan Byan yang belum selesai.
Byan mengulum senyumannya, kemudian matanya mengarah pada Asmara yang memasang wajah kaku, sejak tadi hanya diam tak memiliki suara.
"Star, Papa ini seorang pria biasa. Papa juga ingin pelayanan yang ..."
"Mas, cukup. Jangan bicarakan hal seperti itu di depan anak kecil,"
Suara Mara sedikit berbisik disertai mata yang menatap Byan dengan Tajam. Meski begitu, semua orang justru bisa mendengarnya.
"Tante, aku memang anak kecil. Tapi aku tahu maksud Papa,"
Hampir semua orang tersenyum. Terkecuali Asmara. Sungguh, wajahnya kali ini hampir memerah bak tomat.
"Mara, jangan heran. Star adalah orang yang sangat, sangat dan sangat memahami Papanya, Byan," ujar Andryani mencoba memberi pengertian pada Asmara.
"Iya, Umi," Mara tak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya pun mengarah kesembarang arah. Ia tak berani menatap Byan yang sejak tadi terus memandanginya.
"Lalu bagaimana dengan kamu, Mara?"
"Ya. Maksud Umi, apakah kamu mengerti dengan ucapan Byan?"
"Euh," Mara hanya tersenyum menampakkan sederet gigi putih dengan lesung pipinya yang terlihat dalam. Jujur ia belum begitu paham akan ucapan Byan. Tetapi hatinya bisa merasakan jika perkataan Byan itu ada hubungan dengan dirinya.
Mara segera menepis perasaannya. Ia tak boleh terlalu menaruh harapan pada Byan.
"Jangan seperti ini, Mara,"
"Hah??"
"Aku benar-benar tidak sabar,"
Star dan Andryani yang menyaksikan tingkah Byan pun hanya bisa tertawa kecil. Belum lagi sikap Mara yang terlihat lebih polos dari Star. Hal itu malah semakin membuat hiburan ditengah-tengah mereka saat ini.
"Apa yang membuat kamu tidak sabar, Byan?"
"Umi, bolehkah sekarang aku melamar Asmara??"
Degg!!
Mata Mara kini semakin membola dengan sempurna. Jantungnya pun semakin bergetar dengan cepat seketika mendengar penuturan Byan.
Plak!!!
Andryani memukul tangan Byan yang ada di atas meja dengan keras. Ia harap Putranya ini akan segera sadar akan ucapannya barusan.
__ADS_1
"Aduh, Umi. Mengapa memukulku?" Byan mengusap perlahan tangannya yang sedikit terasa sakit.
"Byan, kamu fikir Mara ini anak Ayam? Yang bisa seenaknya kamu lamar lalu kamu ceraikan, hah??"
Andryani tersulut emosi. Baginya kata-kata Byan barusan adalah candaan yang keterlaluan. Ia mengerti bagaimana perasaan Asmara saat ini. Mungkin luka beberapa tahun lalu akibat ulah Byan belum juga kering. Kini Byan dengan mudah menyatakan ingin melamar Mara. Byan memang belum bisa memahami perasaan wanita.
Kini mata Mara mulai berkaca-kaca. Mengingat segala yang telah ia alami meski waktu itu sudah sangat lama. Ia sudah mengubur dalam-dalam masalalu itu, tetapi kini ia kembali mengingatnya lagi.
"Apa maksud, Omma?"
Tanpa disadari, Andryani lupa jika selama ini Star tidak tahu persoalan Byan dengan Asmara.
"Star, tidak ada apa-apa. Omma hanya khawatir jika nanti Papamu ini akan nakal terhadap Tante, Mara."
"Umi, Byan tidak bercanda. Byan serius!"
Byan tak terima jika Uminya menganggap hal yang baru saja ia sampaikan sebagai candaan. Ia kembali menatap fokus wajah Mara.
"Star, apa kamu setuju jika Papa melamar Tante cantikmu ini??"
Semua orang terdiam, ucapan Byan membuat semua bungkam. Bahkan disaat seperti ini mereka masih menganggap ucapan Byan adalah sebuah candaan.
"Byan??"
Andryani membulatkan matanya kearah Byan. Ia harap anaknya itu tak akan lagi membuat ulah.
"Umi, Byan bersungguh-sungguh. Byan akan melamar Asmara,"
"Ck!"
Andryani hanya bisa memukul dahinya sendiri merutuki kelakuan Byan.
"Mara, aku sudah bicarakan ini dengan Umi. Sekarang aku ingin bicara denganmu,"
Byan bangun dari duduknya menghampiri Mara yang sejak tadi diam bak patung tak bergerak sama sekali.
"Ayo, Mara!" Byan menarik tangan Mara, membawa Mara bersamanya.
"Byan, mau ke mana??"
Pertanyaan Andryani tak diindahkan oleh Byan. Ia tetap saja melaju membawa Mara bersamanya.
Sampai di luar pintu Unit Apartemen, Mara pun mulai memberontak.
"Mas, lepaskan!"
"Mara, ikutlah denganku,"
"Tidak, Mas!"
"Mara, Ayolah,"
"Mau kemana, Mas?"
"Ikutlah, maka kau akan tahu,"
"Untuk apa aku ikut denganmu?"
Byan meraup wajahnya, hingga ia tak sabar dengan sikap Mara yang hanya menunda dan membuang waktu.
__ADS_1
Dengan sigap Ia pun langsung membopong tubuh Mara dan menggendongnya.
"Mas Byan!!!!"