
"Mas, kau mau pulang??" Mara masih bertanya, meski Byan tak memberikan jawaban apapun.
"Mas, tolong. Tidak perlu semarah ini," bujuk Mara pada Byan. Namun sepertinya Byan tak juga menanggapi hal itu. Ia terus saja melaju pergi dan meninggalkan Mara sendiri.
"Mas Byan!!" Teriak Mara, ingin sekali ia mengejar Byan, tapi itu tidak mungkin. Karena ini sudah larut malam dan ia tak begitu hafal jalan di negara asing ini.
Mara hanya mengantarkan Byan pergi dari ambang pintu kamarnya, hingga punggung itu pun akhirnya hilang dari pandangan.
"Mengapa dia semarah ini? Apa aku begitu keterlaluan?"
Banyak pertanyaan yang Mara simpulkan di dalam. hati, ia tak habis fikir jika keadaannya akan serumit ini. Bahkan wajah dingin Byan itu dapat terlihat jelas, sepertinya Byan kembali beku.
Mara menutup pintu kamarnya kembali, kemudian ia pun segera menuju ke ranjang tempatnya tidur. Diraihnya kartu nama yang tadi Byan letakkan, ia membacanya dengan teliti.
"Apa maksudnya meninggalkan kartu nama ini tanpa bicara?" Mara semakin kesal atas tindakan Byan yang meninggalkannya begitu saja tanpa pesan apapun.
"Egois sekali!" Umpat Mara lagi.
Tok! Tok!
Baru saja ingin merebahkan tubuhnya, Mara sudah mendengar suara ketukan pintu kembali. Ia merasa malas untuk beranjak, namun ketukan pintu itu kembali berbunyi bahkan lebih keras.
Tok! Tok!
Mau tak mau, Mara pun terpaksa membukakan pintu itu kembali. Dengan perasan kesalnya, ia menarik pintu itu dengan keras. Matanya membola ketika tahu siapa yang datang dan mendorong tubuhnya masuk.
"Mas, eum ..."
Belum sempat ia berkata-kata, Byan sudah kembali menyatukan bibirnya pada bibir Mara.
Mara merasa tak siap, sebenarnya apa yang Byan fikirkan? Baru saja ia tak ingin berbicara, tapi kini ia sudah kembali dan menciumnya dengan bringas.
Mara merasa kehabisan nafas, ia memukul tangannya pada dada bidang Byan, berharap Byan akan melepaskannya.
"Mas, lepaskan aku!!" Akhirnya Mara bisa melepaskan pagutan bibirnya dari Byan. Dengan nafas yang tersengal Mara mendorong tubuh Byan sekuat tenaga.
"Aku tidak mungkin melepaskanmu begitu saja," Byan kembali menarik tubuh Mara ke dalam pelukannya.
"Mas, sebenarnya apa maumu?" Suara Mara mulai melemah, ia tak mengerti mengapa sikap Byan seperti ini dan cenderung berubah-ubah.
"Kau tak sadar, sudah membuatku kesal?" ucap Byan dengan jujur. Nada bicaranya pun sudah naik satu oktaf.
"Aku tidak bermaksud begitu, tapi jika Steven tahu malam ini kita bertemu kau dengannya pasti akan kembali berkelahi, aku tidak ingin itu terjadi," ungkap Mara dari lubuk hati yang terdalam. Ia mengingat pertengkaran Steven dan Byan beberapa waktu yang lalu. Steven menghajar Byan tanpa ampun, sedangkan Byan tak melakukan perlawanan sama sekali. Ia tak ingin Byan kembali terluka karenanya.
__ADS_1
"Jangan marah lagi," Mara merebahkan kepalanya pada dada bidang Byan, hal ini membuatnya merasa nyaman.
"Aku tidak akan marah, jika tadi kau melarangku pergi," sahut Byan dengan ekspresi datarnya.
"Jadi, kau marah karena aku membiarkanmu pergi?" Mara mendongakkan kepalanya, ia tatap wajah Byan dengan lekat.
"Jangan menatapku seperti itu, jika kau terus begitu aku akan menculikmu," umpat Byan mengalihkan pandangannya. Sungguh, tatapan Mara membuat jantungnya terasa ingin jatuh, hatinya terus berdesir dan darahnya mengalir cukup deras.
"Yang benar saja!" Mara menggelitik perutnya Byan. Ia tak percaya akan ucapan Byan barusan. Jika Byan menculiknya, mungkin Mara hanya akan dijadikan hiasan saja. Mara terkikik membayangkan hal itu.
"Mara, apa yang kau lakukan?" Byan sungguh tak tahan dengan gelitikan itu. Byan mencoba menghindar, namun rupanya Mara tak berhenti begitu saja.
Saat Byan berlari, Mara menarik jas yang ia pakai dan membuatnya kembali menggelitik perut itu. Byan tak bisa menahannya lagi, ia terus menghindar dan membuat tubuhnya terdorong ke arah ranjang.
"Kenapa? Kau merasa geli, hah??" Bukannya menghentikan aksinya, Mara malah semakin membuat Byan tergelitik. Keisengan yang ia lakukan sangat menyenangkan. Apa lagi ia bisa melihat wajah Byan yang memerah disertai tawa yang tak henti.
"Mara, hentikan," Byan tak tahan, ia terus tertawa dan berguling-guling di atas ranjang.
"Ternyata kau lemah, Mas!" Mara terus saja melancarkan aksinya. Tangan lentik itu menggelitik perut Byan dengan brutal.
Mendengar perkataan Mara, dengan sekuat tenaga Byan menahan rasa geli itu dan berhasil menangkap kedua tangan Mara yang telah menjahilinya.
"Aku tak akan mengampunimu, Mara," tatap Byan dengan tajam. Ia pun mengubah posisinya untuk membuat Mara berada di bawah kungkungannya.
"Mas, apa yang akan kau lakukan?" Mara merasa ketar-ketir. Melihat perangai Byan ia menjadi khawatir dan semakin takut.
"Terserah aku mau apa? Yang jelas aku akan menghukummu tanpa ampun!" Jawab Byan dengan semangat.
"Mas?"
Byan menyibakkan kaos putih yang Mara pakai hingga berada di atas tepat menutupi bagian dadanya. Sementara bagian perutnya kini terbuka dan memperlihatkan kulit putih mulus yang ia miliki. Bahkan menatapnya saja, Byan tak tahan. Namun karena ia hanya ingin memberikan sedikit hukuman untuk Mara, ia harus bisa menahan gejolak dan gair*hnya.
"Mas, apa yang akan kau lakukan?" Mara tak ingin Byan berlaku keras padanya. Ia juga tak ingin jika Byan sampai melakukan hal yang diluar batas.
"Sudah aku bilang, aku takkan mengampunimu!"
Byan tak menunda lagi, kedua tangan Mara kini berada dalam satu genggaman tangannya. Sementara kakinya sudah ada dalam kungkungannya.
Ia dengan segera melancarkan aksinya, ia meniup-niup perut Mara tepat pada bagian pusar, bagian tulang rusuk, dan yang terakhir tepat dibagian bawah dada.
"Mas, eugh ..." Tubuh Mara seketika bergelinjang, meski Byan baru melakukan tahap awal.
Perlahan, Byan mendaratkan bibirnya itu pada perut Mara dan mengecupnya.
__ADS_1
"Mas, akh ..."
Byan mengulum senyumannya. Ia senang ketika Mara merespon perlakuannya dengan baik. Byan kembali mengecup lembut beberapa titik di perut Mara.
"Mas, ampun!!!" Mara berteriak tak tahan atas hukuman yang Byan berikan.
Byan pun menghentikan aksinya, ia mendaratkan kecupan untuk Mara pada bibirnya. Dilum*tnya bibir itu dengan lembut, hingga ia memainkan tangannya dengan lihai tepat pada dua benda kenyal milik Mara.
"Lakukan banyak kesalahan, jika kau mau hukuman seperti ini lagi," Byan melepaskan cekalan tangannya dan tak lagi melakukan kungkungan terhadap tubuh Mara.
"Mas, kau keterlaluan!"
Mara masih tak menerima perlakuan Byan barusan. Sungguh hal itu membuat hati dan jantungnya terus berdesir tak bisa terkontrol lagi. Nafasnya memburu, malam ini sentuhan Byan benar-benar membuatnya ingin melayang jauh.
"Aku harus pulang, Mara," Byan membenahi kaos Mara kembali. Ia kecup puncak kepala yang kini sudah menampilkan rambut yang berantakan dengan lembut. Ia pun menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Mara.
"Beristirahatlah, jaga dirimu baik-baik," Byan mengecup lembut kening Mara dan berpamitan.
Perlakuan Byan begitu lembut, meski sebelumnya ia berbuat hal yang menyebalkan. Namun, itulah yang selalu membuat Mara betah dan ingin terus bertemu Byan.
Mara menarik tangan Byan, entah keberanian dari mana yang datang. Hatinya sungguh masih ingin bersama Byan hingga beberapa menit lagi.
"Mas, tetaplah di sini," pinta Mara dengan lirih.
"Apa?" Byan terkejut, hal itu tidak mungkin. Karena jika mereka terus bersama, Byan mungkin akan menginginkan hal yang lebih. Atau mungkin kini Mara pun menginginkan hal yang sama? Fikiran Byan menjadi kacau balau. Tak bisa ia bayangkan jika malam ini ia benar-benar bisa menaklukkan Mara.
"Mas, tetaplah di sini, hanya beberapa menit saja," ucap Mara meralat perkataan sebelumnya.
"Heuh," Byan sempat percaya diri tadi, ternyata Mara hanya menjahilinya. Byan pun membuang jauh-jauh fikiran dan khayalannya.
"Baiklah, aku akan berada di sini sampai kau tertidur," Byan menunda untuk kembali ke Apartementnya. Ia memilih duduk di pinggiran ranjang sembari menemani Mara sampai tertidur pulas.
Pagi telah tiba, sang mentari telah terbit memancarkan cahayanya. Cahaya yang kini menyilaukan mata Mara.
Mara mengucek beberapa kali matanya yang terasa berat. Jika tak mengingat hari ini akan ada pertemuan dengan klien bisnis, ia tak akan bangun sepagi ini.
Mara menelisik setiap ruang kamar hotel ini, ia mencari-cari keberadaan seseorang yang semalam sempat bersamanya, namun tak ia temukan.
Fikirannya kembali mengingat kejadian semalam, ketika ia meminta Byan untuk tetap tinggal dan setelah ia tertidur, tak tahu lagi apa yang terjadi.
"Apakah Mas Byan langsung pulang?" Mara menyibak selimut tebalnya. Ia memperhatikan setiap jengkal tubuhnya. Ternyata masih aman, semua pakaian masih melekat di tubuhnya tanpa ada sehelai pun yang kurang.
Mara melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, ia berharap tak terlambat untuk bertemu relasi bisnis bersama Steven.
__ADS_1