Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Ada Bayangmu


__ADS_3

Byan menerima uluran tangan wanita yang kini duduk tepat bersebrangan dengannya.


Ia hanya mengangguk pelan, tak banyak yang ia bicarakan. Bahkan Byan hanya terus memutar bola matanya kelain arah, tak ingin menatap wanita muda didepannya kini.


Sepanjang pertemuan itu, Byan hanya menanggapi beberapa kali ucapan Kessy.


Sebenarnya Kessy juga malas berbicara dengan pria dingin seperti Byan. Karena ini adalah keinginan orang tuanya agar Kessy mendekati Byan, mau tak mau dia yang harus banyak bicara.


"Kau suka kopi?" Tanya Kessy yang terus saja menatap Byan meneguk kopinya.


"He'eum," Hanya itulah yang Byan katakan untuk menjawab pertanyaan Kessy. Ia sebenarnya tahu jika Kessy dan dirinya bertemu karena sudah diatur oleh Uminya sendiri.


Uminya mengatakan, jika Kessy akan menjadi Klien besar bagi perusahaan mereka. Padahal itu hanya akal-akalan uminya saja.


Sejauh ini, Byan memang tak pernah dekat lagi dengan wanita setelah perceraiannya lima tahun yang lalu. Andryani sudah berusaha memperkenalkan Byan dengan putri teman-temannya, tapi Byan selalu saja menolak mereka.


"Ternyata benar ya, kau ini sangat kaku dan dingin!" Celetuk Kessy yang merasa sedari tadi tak mendapat tanggapan baik dari Byan.


"Jika tak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku permisi!" Byan hendak bangun dari duduknya untuk pergi pulang.


"Pria unik, tapi justru membuatku semakin penasaran," gumam Kessy dalam hatinya.


Byan pun pergi meninggalkan Kessy sendiri disana, sungguh terlalu.


Didalam mobilnya, Byan terus teringat akan kejadian ketika bertemu Asmara dan Steven di restoran tadi. Apalagi saat tahu jika Mara dan Steve bergandengan tangan, mereka terlihat sangat akrab.


Bughh! Bugh!!


Tangan Byan memukul-mukul stir mobilnya, ia berfikir jika dirinya begitu bod*h karena terus saja memikirkan Asmara. Jika kemarin bertemu Asmara di Rumah Sakit, lalu sekarang harus bertemu kembali di restoran. Bukannya lupa, ia malah semakin mengingat wajah Asmara.


"Fabyan Alfarizi Malik, kau bukanlah orang yang lemah! Tak penting bagi otakmu jika terus memikirkan wanita itu!"


Segera Byan tancap gas, ia mengemudikan mobilnya menuju ke Rumah.


Masih sama seperti kemarin, mata Byan malam ini tak dapat terpejam, bahkan lebih sulit dari kemarin. Semakin Byan merapatkan matanya, semakin susah pula ia untuk menghilangkan bayang-bayang Mara.


"Shi***!!!!" Byan bangun dari pembaringannya, ia beranjak menuju kamar mandi kemudian membasuh kasar wajahnya.


Byan menyalakan kran di wastafel, ia melihat pantulan wajahnya yang sudah basah dicermin.

__ADS_1


"Sangat miris! Apa yang kamu fikirkan Byan? Kenapa otakmu hanya berisi Asmara, Asmara dan Asmara!!"


Saat Byan menatap lekat wajahnya dicermin, tiba-tiba saja muncul wajah Asmara disitu.


"Hah???" Byan terkejut, ia langsung melangkah mundur dengan cepat.


"Bagaimana mungkin??" Byan menggelengkan kepalanya, dipejamkan matanya dengan cepat kemudian dibukanya kembali. Ternyata itu hanyalah halusinasinya saja.


"Tidak mungkin? Aku sudah gil*a dibuatnya!!!"


Sebisa mungkin Byan menghilangkan bayang-bayang wajah Asmara dari otaknya, dengan membasuh kasar wajahnya hingga beberapa kali. Kemudian ia pun kembali untuk mengistirahatkan tubuh dan fikirannya diatas ranjang.


Tak berhenti disitu saja, saat ia mencoba memejamkan matanya kembali, tiba-tiba otaknya mengingat kejadian ketika tangan Asmara yang tengah digandeng oleh Steve.


Fikiran itu membuatnya kembali tak bisa tidur.


"Ya Tuhan, jangan siksa aku seperti ini, ku mohon."


Byan meraih bantal untuk menutupi wajahnya yang terus saja memikirkan Asmara.


...****************...


"Sam, cancel semua jadwalku hari ini. Aku tak ingin diganggu!"


Byan berbicara pada sekretaris nya Sam via sambungan telepon, ia pun memilih tidur dikamar pribadinya yang ada didalam ruang kerjanya.


Beberapa jam berlalu, tak terasa Byan sudah tidur selama dua jam. Menurutnya itu cukup untuk mengistirahatkan matanya yang belum sempat terpejam sama sekali semalaman.


Byan bangun dengan kepala yang berat, ia membasuh wajahnya kemudian keluar dari ruangannya. Ia melangkah menghampiri sekretarisnya.


"Sam, aku hari ini pulang lebih cepat! Jika ada hal mendesak, hubungi aku!"


"Baik pak Byan!"


Byan pun melangkah keluar menuju parkiran mobilnya, kemudian ia melajukan mobilnya menuju kesuatu tempat terlebih dahulu. Akhirnya Byan telah tiba disebuah toko langganannya yang menjual berbagai pernak-pernik, bucket bunga dan boneka.


Saat itu Byan hendak membeli sebuah bucket bunga mawar, namun langkahnya terhenti ketika melihat wanita yang mencuri perhatiannya, wanita itu tengah berdiri didepan kasir untuk membayar sebuah boneka kelinci dan jepitan rambut berwarna Pink. Ya semua yang dibeli Asmara dapat terlihat jelas oleh byan.


"Boneka dan jepitan rambut anak? Apakah Mara saat ini sudah memiliki anak?"

__ADS_1


Fikiran Byan bergerilya kemana-mana. "Tapi anak siapa? Apakah Mara sudah menikah dengan Steve?"


"Byan! Apa yang kamu fikirkan? Kalau itu semua terjadi, memangnya kenapa? Itu bukan urusanmu!"


Kembali ia menyadarkan diri dari lamunan tak berfaedahnya itu.


"Mas Byan? "Karena merasa tak enak terus saja bertemu Byan beberapa hari ini secara tidak sengaja dan berturut-turut, Asmara memutuskan untuk menyapa Byan terlebih dulu. Meski ia tahu akan mendapatkan sikap dingin darinya.


Byan tersadar kini Asmara tepat berdiri didepannya, tatapannya mengarah pada wajah Asmara, telinganya mendengar jelas suara lembut Asmara yang masih memanggilnya dengan sebutan MAS, seperti dulu.


Byan hanya menganggukkan kepalanya, kemudian ia pun memilih menuju ke kasir untuk membayar bunga yang telah dibelinya.


Lagi, Asmara lagi-lagi mendapatkan perlakuan dingin dari Byan. Meskipun niatnya saat ini baik, tapi tetap saja Byan tak menganggapnya.


Mara tak mau ambil pusing atas perlakuan Byan, yang penting ia sudah berniat baik untuk menyapanya. Diterima atau tidak menurutnya itu urusan Byan. Toh, Mara sudah terbiasa mendapat perlakuan acuh dari Byan meski itu sudah lama sekali dan hanyalah masa lalu.


Mara pun melajukan langkah kakinya menuju mobilnya yang terparkir dihalaman toko, ia segera melajukan mobilnya menuju toko kuenya.


"Ternyata dia sudah banyak berubah, bahkan sekarang dia bisa mengendarai mobil sendiri!"


Gumam Byan yang terus saja memperhatikan Mara dari kejauhan.


Byan pun menuju mobilnya, ia pergi kesuatu tempat untuk mengunjungi kekasih hatinya.


Ya, setiap hari jumat, byan memang tak pernah lupa untuk mengunjungi tempat peristirahatan terakhir kekasih hatinya. Kekasih sekaligus istri yang amat ia cintai, wanita yang menurutnya tak bisa digantikan posisinya oleh siapapun meski ia sudah tiada.


Byan meletakkan bunga diatas pusara Agatha, ia memegang nisan yang tertulis nama Agatha putri afrizal itu.


"Assalamualaikum atha, aku datang,"


Byan membacakan beberapa kali doa untuk Agatha, setelah itu ia pun menceritakan semua yang terjadi padanya beberapa hari ini.


Menurutnya, meskipun Agatha sudah tiada ia tak ingin ada rahasia diantara mereka berdua. Maka dari itu saat Byan berkunjung ke makam Agatha, ia pasti akan selalu bercerita.


"Aku pulang tha, ceritaku sudah selesai hari ini. Aku harap, kau mendapat tempat yang baik disana,"


Byan hendak pergi dari makam Agatha, namun saat ia berdiri ternyata sudah ada seseorang dibelakangnya dengan membawa sebucket bunga.


Mata tajam Byan menyoroti sepasang mata dihadapannya, ia benar-benar tak suka dengan keberadaan orang itu disini.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini?!"


__ADS_2