
Asmara membuka tutup laci pada meja riasnya, di telisiknya setiap ruang kecil itu mencari-cari sesuatu yang sejak kemarin ia cari namun tak kunjung ia temukan.
"Di mana, ya?" Mara memegangi kepalanya, ia mencoba mengingat-ingat terakhir kali memakai kalung liontin yang kini sudah hilang.
Ia mencoba mencari ke kamar mandi, namun ia tak menemukan liontin miliknya itu. Ia kembali menuju ke kamar tidurnya, mencari-cari disetiap celah tempat tidur. Tubuhnya menjongkok ke bawah kolong ranjang, namun matanya tak juga melihat benda itu.
"Ck! Aku ceroboh sekali. Kenapa harus hilang?" Mara mengutuk dirinya sendiri. Bertahun-tahun ia memakai liontin pemberian Ibunya itu, namun kini liontin itu sudah hilang.
Mara menghembuskan nafasnya panjang, ia mencoba berfikir lebih keras lagi agar ingat perihal liontinnya.
"Mara, apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Kamila pada Putrinya ketika tahu di jam yang sudah siang begini, Mara tak kunjung keluar dari kamar.
"Eh, Ibu," Mara seolah menjadi gugup ketika melihat Ibunya sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu mencari sesuatu, apa ingin Ibu bantu?" Kamila menawarkan diri untuk membantu Mara yang terlihat seperti sedang mencari sesuatu.
"Ponsel, ponsel Mara, Bu," Mara mencari alasan. Ia secara spontan menyebutkan benda pipih miliknya itu.
"Ponsel? Ini," Kamila melihat ponsel milik Mara tergeletak di atas kasur beralaskan sprei biru.
"Oh, kenapa bisa di sana? Mungkin Mara lupa, Bu," Mara mengambil ponsel miliknya itu dengan rasa bersalah yang terus menghantuinya.
"Maafkan aku, Tuhan." Mara hanya bisa meminta ampun dari dalam hati karena telah berbohong pada Ibunya. Ia memilih untuk menyembunyikan perihal ini dari Ibunya terlebih dulu, hingga ia benar-benar menemukan liontin itu.
"Ibu sudah siapkan sarapan, atau kamu mau bekal saja?" Tanya Kamila pada Mara yang masih terhanyut dengan lamunannya.
"Em, terimakasih, Bu. Aku mau bekal saja," ujar Mara diiringi dengan senyum kepalsuannya.
"Baiklah, Ibu akan siapkan," Kamila pun pergi ke luar kamar menuju dapur mempersiapkan bekal untuk Mara.
Sebesar ini, Mara terkadang merasa malu karena masih saja disiapkan sarapan oleh Ibunya. Namun, jika Mara yang membuat sarapan, Ibunya selalu melarangnya dengan alasan jika Mara akan lelah karena bekerja. Ibunya memberi kesempatan memasak pada Mara hanya di waktu libur saja.
Setelah mendapat bekal dan berpamitan pada Ibunya, Mara pun segera pergi untuk bekerja. Seperti biasa ia mengemudikan mobilnya menuju ke toko di mana setiap hari ia harus berfikir keras, mencari ide-ide baru bagi usahanya saat ini.
Setelah beberapa menit, Mara pun mematikan mesin mobilnya itu di depan toko kue miliknya. Ia keluar dengan beberapa tentengan di tangannya. Tak disadari, dari jarak beberapa meter ada seseorang yang tengah memperhatikannya dengan perasaan bahagia. Meski memandang dari jauh, setidaknya melihat keadaannya saat ini membuat hatinya lega.
"Dia berbeda," Byan membuka kaca helm untuk melihat lebih jelas sosok Mara di sana. Keceriaannya, serta sapaan lembutnya terhadap beberapa orang karyawan yang tengah menunggunya datang pun menjadi pusat perhatian Byan. Ia sungguh tak menduga, Asmara yang dulu adalah sosok wanita yang cuek dan pendiam, ternyata kini berubah seratus delapan puluh derajat.
Begitu Mara masuk ke dalam toko, Byan kembali menutup kaca helm dan segera melajukan motor sportnya. Pagi ini, Byan begitu senang karena telah melihat Mara. Apalagi, Mara begitu terlihat ceria setelah tempo hari Byan sempat melihat Mara sedikit muram.
"Dia menggangguku," Byan terus menggelengkan kepalanya, ia menjadi tak fokus berkendara karena otaknya terus saja memikirkan Mara. Ia pun segera tancap gas menuju ke kantornya.
Byan tiba di kantor tepat jam sepuluh, ia tak pernah datang sesiang ini. Biasanya ia selalu on time dan tak menyukai setiap karyawannya datang terlambat. Namun, hanya gara-gara mengintai seorang wanita pagi ini, ia menjadi lupa akan kebiasaannya.
"Pak Byan," sapa Sam sekretarisnya.
__ADS_1
"Ada apa, Sam?" jawab Byan ketika melihat Sam dengan wajah khawatir.
"Pak, apa Bapak lupa hari ini?"
"Aku tidak melupakan hari ini, pertanyaan macam apa itu, Sam?" Byan mengangkat sebelah alisnya, ia merasa ada yang aneh pada Sam. Byan tak habis fikir sekretarisnya berani melontarkan pertanyaan seperti itu padanya.
"Pak, hari ini ada meeting dengan Investor besar. Bapak terlambat?" Sam berusaha mengingatkan Byan. Harapannya hanya satu, semoga Byan tak memakinya kali ini.
"A-aapa??" Byan terkejut namun suaranya masih dapat terkontrol. Ingin sekali ia memaki Sam karena tak menghubunginya. Namun ia tepiskan itu semua, karena menyadari jika keterlambatannya hari ini adalah salahnya sendiri.
"Ck! Kenapa kau tak menghubungiku?" Byan berdecak, ia mencoba menghela nafasnya agar sedikit lebih tenang.
"Pak, Saya sudah menelepon berulang kali. Tapi Bapak tidak me-"
"Argh! Sial," Byan berjalan cepat menuju ke ruang kerjanya. Ia sadar, sejak tadi ponselnya terus bergetar namun ia tak menggubrisnya karena tengah asyik mengintai Mara.
"Siapkan semua berkasnya," perintah Byan pada Sam.
"Sudah siap semua, Pak," jawab Sam sedikit takut dengan menundukkan kepalanya.
Byan tak pernah sekalipun bersikap ceroboh seperti ini. Apalagi ini adalah investor besar untuk perusahaannya. Jika ia gagal, maka tak mungkin Malik akan memarahinya habis-habisan.
Ia segera bergegas, karena di ruang meeting ia sudah di tunggu sejak lima menit lalu. Meski hanya terlambat lima menit saja, perasaan Byan begitu gusar. Otaknya pun harus terus berputar untuk memikirkan cara bagaimana mendapatkan kepercayaan dari investor besar itu.
"Nyaris sekali," Byan menggelengkan kepalanya setelah selesai melakukan pertemuan diikuti Sam sekretarisnya dari belakang.
"Pak Byan hebat!" Sam memuji Bossnya yang mampu menaklukkan investor besar itu.
Byan tersenyum menyeringai, gembiranya hari ini ia dapat menyelesaikan masalah yang ia buat sendiri. "Kau bisa pulang lebih awal hari ini, Sam,"
"A-apa Pak?" Sam merasa tak percaya pada apa yang baru saja dikatakan oleh Bossnya.
"Ya, segera selesaikan pekerjaanmu!" Byan masuk ke dalam ruang kerjanya setelah memberikan perintah pada Sam.
"Ya Tuhan, ada apa dengan batu keras itu hari ini?" Sam berusaha berfikir dengan keras, ia begitu senang karena hari ini takkan pulang malam lagi. Setidaknya hari ini sudah banyak pekerjaan yang diselesaikan olehnya, jadi ia bisa lebih santai.
"Wajahnya selalu berseri-seri beberapa hari ini," gumam Sam lagi dalam hati. Ia tahu jika ada perubahan dari Byan saat ini. Menurutnya, ada sesuatu yang sedang memepengaruhi sikap Byan sekarang.
Masih dengan motor helm dan motor sport merahnya, ia memerintahkan Sam untuk pulang lebih awal hari ini karena ia sendiri pun ingin pulang lebih awal.
Untuk masalah pekerjaan, ia sudah selesaikan. Harusnya ia merayakan kemenangan perusahaannya hari ini, namun ia tepiskan semua itu karena sesuatu.
Byan menuju toko bunga, ia membeli satu bucket mawar putih segar dan membawa bunga itu bersamanya. Entah untuk apa ia membeli bunga itu, yang jelas hatinya tahu jika saat ini ia membutuhkannya.
"Permisi," panggil Byan pada seorang karyawan yang kebetulan lewat di depannya.
__ADS_1
Wanita muda itu menaruh telunjuk tangan pada dadanya, memastikan jika memang benar ia yang tengah dipanggil oleh pria berhelm itu.
Byan melangkah mendekat ke arah wanita muda itu, kemudian ia menyerahkan bucket bunga mawar putih yang ia beli tadi.
"Tolong berikan pada Asmara," ucap Byan dengan lembut.
"Apa kamu pria yang memberi vitamin ..."
"Terimakasih," Byan hanya mengucap singkat. Ia kemudian kembali menuju ke sepeda motornya dan pergi meninggalkan sekitar toko kue milik Mara.
"Apakah Pria itu seorang fasilitas Mba Mara? Tanya Renata bingung, namun ia tak ingin berpikir lebih. Ia memilih segera masuk ke dalam toko setelah selesai istirahat.
"Ini untuk Mba," Renata menaruh bucket bunga itu di atas meja kerja Mara.
"Re??" Mara mengangkat sebelah alisnya tak paham maksud Renata.
"Terima saja Mba, mungkin dia Fans berat Mba Mara." Renata keluar begitu saja setelah meletakkan bucket bunga itu di atas meja Mara.
"Fans??" Mara merasa aneh, sebelumnya ia tak pernah mendapatkan barang-barang seperti ini dari seseorang yang tak ia ketahui batang hidungnya.
"Harusnya Renata tidak menerima sembarangan, bagaimana jika orang itu memiliki niat jahat?"
Mara mencari-cari letak kartu pengirim, namun ia tak menemukannya. Ia pun keluar untuk bertanya lebih pada Renata.
"Renata," panggil Mara.
"Ya, Mba," jawab Renata menghampiri Mara.
"Re, apa kamu mengenal orang yang memberikan bunga ini?"
"Tidak," Renata menggelengkan kepalanya.
"Lalu mengapa kamu menerima pemberian sembarang orang? Bagaimana jika dia memiliki niat jahat?" Mara mencoba menasihati Renata agar tidak lagi menerima pemberian dari sembarangan orang.
"Maaf Mba," Renata tertunduk lesu.
"Lain kali kamu kenali dulu orangnya, atau kamu tidak usah terima apapun!"
"Mba, tapi Aku yakin jika dia adalah Pria vitamin C itu," ujar Renata dengan yakin.
"Vitamin C?" Mara mencoba mengingat-ingat kembali jika tempo hari ia menerima pemberian Vitamin C dari seseorang.
"Iya Mba, orangnya keren, tampan dan ..."
"Entah apapun bentuknya, mulai sekarang jangan asal menerima lagi!" Mara langsung masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Renata.
__ADS_1