
"Star, kita harus segera kembali ke rumah sebelum malam," Byan masih merayu Star agar ia mau ikut pulang bersamanya.
"Tidak!" Seolah tak ingin berpisah, Star terus memeluk tubuh Mara dengan erat.
"Star, sebaiknya pulang dulu. Nanti setelah kaki Tante sembuh, Tante akan pergi menemui Star," kali ini Mara yang mulai membujuk Star. Sudah pernah dialami olehnya, bagaimana susahnya mendapatkan hati Star jika ia sedang berada di mode tidak baik.
"Tapi, Star ..."
"Star, ayo berpamitan pada Tante dan Ne- maksud Papa Ibu Kamila," Byan tak ingin lebih lama, jika ia menuruti kemauan Star, mungkin Star tidak akan patuh padanya lagi.
"Baiklah," Star pun menyalami tangan Kamila kemudian tangan Mara dengan perasaan pasrah dan berat. Akhirnya ia menuruti perkataan Papanya itu.
"Tante, Star pergi dulu. Jaga diri Tante baik-baik," pernyataan Star pada Mara begitu aneh. Seolah mengucapkan kata perpisahan. Namun Mara tak terlalu memikirkan itu, yang ia fikirkan adalah bagaimana ia akan menjelaskan masalah ini pada Ibunya nanti.
Setelah selesai berpamitan dan mengantar Star masuk lebih dulu ke dalam mobil, Byan mengambil kesempatan untuk berbicara pada Kamila dan juga Mara.
"Bu, setelah mengantarkan Star izinkan aku kembali lagi ke sini untuk menjelaskan ..."
"Tidak perlu! Tidak usah menjelaskan apapun, dan tidak usah datang kemari lagi! Urusan kamu dan Mara cukup sampai di sini, dan Ibu hanya perlu mendengarkan penjelasan itu dari Mara. Jangan merepotkan diri sendiri, Nak Byan!"
Kamila berlalu begitu saja, ia masuk ke dalam rumah lebih dulu meninggalkan Mara dan juga Byan. Ia harap Mara dan Byan menghargai keputusan yang telah ia ambil barusan.
"Mas, soal Ibu biar aku yang urus,"
"Mara, apa setelah ini aku masih bisa bertemu denganmu?"
"Kau tidak dengar apa yang Ibuku katakan? Itu tidak mungkin lagi, Mas?" Mara merasa keputusan Ibunya itu benar dan sudah final. Tapi entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal pada dirinya. Hatinya, seolah tak terima atas keputusan Ibunya. Ingin sekali hati kecil itu memberontak, namun apalah daya. Ia tak ingin lebih mengecewakan Ibunya lagi.
"Mara, aku ..."
"Sebaiknya kau segera pulang, aku akan masuk lebih dulu," tak ingin Byan lebih lama di sini, tak ingin pula Ibunya merasa lebih kecewa terhadapnya, Mara pun memutuskan untuk segera meninggalkan Byan dan masuk ke dalam rumah.
"Mara, aku akan pergi jauh, besok!"
"Lalu kenapa jika kau akan pergi? Apa urusannya denganku? Apa itu akan merubah segalanya? Tidak!!! Itu tidak akan pernah bisa merubah semuanya, Mas!"
Sudah, pupus semua harapan Byan. Harapan yang ia niatkan dalam hati untuk terus bersama Mara. Semua itu kini kandas, setelah tahu perasaan Mara yang sebenarnya hari ini.
"Pergilah, pergilah Mas. Bila perlu sejauh mungkin, agar seluruh dunia tahu kau dan aku tidak akan bisa bertemu kembali!"
Ucapan Mara bak sebuah air garam yang menyiram luka pada hatinya. Perih dan bertambah semakin perih. Lidahnya pun terasa kelu, seakan beku dan kehabisan kata-kata.
Dengan berat hati, Byan pun meninggalkan kediaman Mara. Ia masuk ke dalam mobil, bersama perasaan kecewanya kembali atas keputusan yang telah Mara ambil.
Sejenak Byan menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada sandaran kursi. Dengan menutup matanya, kemudian membuang nafasnya panjang.
"Papa," panggil Star yang merasa janggal melihat apa yang Byan perbuat.
"Heum?" Byan segera mengesampingkan perasaannya lebih dulu, kemudian ia kembali fokus pada putrinya.
"Apa yang Papa katakan pada Tante, mengapa lama sekali?"
"Papa hanya berpamitan, Star. Ayo kita pulang," tak ingin berlarut-larut, Byan segera mengemudikan mobilnya menuju ke kediamannya.
Dari dalam rumah, Mara dapat melihat jika mobil Byan sudah hilang dan menjauh dari pandangannya. Ia segera menutup tirai jendela, kemudian mengusap kasar air mata yang kini tengah menetes di pipi.
"Mara," Kamila tahu, putrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Banyak sekali beban fikiran yang harus ia tanggung. Bahkan gurat wajahnya dapat menunjukkan betapa beratnya masalah pada hatinya saat ini.
Kamila memeluk tubuh Mara, ia menepuk pundak bagian belakang dengan perlahan berharap Mara akan tenang bersama tumpahan air matanya.
"Tindakanmu sudah benar, jangan menyalahkan diri sendiri. Menjauh dari masa lalu adalah pilihan tepat, jika tidak begitu luka lamamu akan kambuh kembali, Mara,"
Petuah yang Kamila ucapkan dapat Mara cerna dengan baik. Semua yang Ibunya itu ucapkan ada benarnya.
"Ibu, maafkan Mara telah menutupi ini semua. Mara tidak bermaksud berbohong, tapi Mara tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan hal ini pada Ibu," Mara bersimpuh memohon maaf pada Kamila. Ia sangat menyesal karena telah berbohong pada Ibunya itu.
"Sudah, ibu tak menyalahkanmu. Tapi, ibu ingin tahu lebih jelas alasanmu tetap terus bertemu dengan Byan sampai sejauh ini?"
__ADS_1
Pertanyaan Kamila membuat Mara terjebak. Sebenarnya sudah lama ia ingin tak bertemu dan menghindar dari Byan. Namun, ia tidak bisa. Bahkan semakin ia menghindar, semakin bayang-bayang Byan tak mau hilang.
"Ibu, mungkin karena Star. Aku begitu mencintainya," Mara masih menutupi apa isi hati yang lainnya dari Kamila.
"Kau mencintainya?"
Mara mengangguk, bahkan air matanya malah bertambah deras diiringi tangisan yang amat sesak.
"Kau sungguh mencintainya, Nak. Ibu dapat melihat itu," yang Kamila maksud bukanlah cinta Mara pada Star, melainkan cintanya pada Byan. Ia tahu, betapa Mara sangat mencintai Byan sejak awal bertemu. Ia masih ingat persis, meski sudah berulang kali disakiti, Mara tetap menyimpan baik perasaannya untuk Byan hingga sekarang.
Kamila memeluk erat tubuh Mara, sebagai Ibu ia tak bisa membiarkan putrinya terus terpuruk. Sebagai orang tua, ia ingin kebahagiaan untuk anaknya. Ia juga ingin mendukung semua keputusan yang Mara ambil.
"Mara, apapun keputusanmu Ibu akan mendukungnya, jangan memaksakan perasaanmu, Nak. Ibu tahu sebenarnya kamu begitu menginginkan Byan,"
"Ibu, Mara tidak ..."
"Jangan menghancurkan perasaanmu sendiri, jangan lagi berbohong pada Ibu. Karena itu percuma, Ibu lebih tahu bagaimana perasaan anak Ibu yang sebenarnya,"
"Ibu ..."
Keduanya sama-sama menangis dalam pelukan. Mara sangat bersyukur memiliki Ibu yang selalu mendukungnya. Baginya, Kamila adalah orang tua sekaligus sahabat yang baik untuknya.
"Bu, apa boleh malam ini aku menemuinya?"
"Ikuti kata hatimu, jaga batasan dan tahu waktu," Kamila memicingkan senyumannya, kemudian ia mengusap pelan puncak kepala putrinya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Terimaksih, Bu," tak tahu lagi harus berkata apa. Entah hati Ibunya terbuat dari apa, mara tak tahu. Yang jelas, ia sangat senang dan begitu bersyukur memiliki Ibu seperti Kamila.
...****************...
Sementara di tempat yang berbeda, di kediaman Malik yang suasananya kini bertambah panas, akibat ketegangan dan perang dingin antara ayah dan Malik beberapa hari ini.
"Byan ingin membawa Star," makan malam kali ini dikejutkan oleh penuturan Byan.
"Membawa Star? Kemana?" Tanya Andryani.
"A-apaaa????" Andryani terkejut, bahkan sangat terkejut mendengar penuturan putranya yang keras kepala itu.
Sementara Malik masih diam, ia belum angkat suara. Ia masih mau mendengarkan perkataan Byan yang lain.
"Byan setuju untuk di pindah tugaskan ke Papua, sepeti keinginan Abi," lanjut Byan lagi.
Rasanya makanan yang ia kunyah itu menyangkut di lehernya, tak bisa tertelan hingga ia harus mendorongnya dengan meminum air putih.
"Byan, jika kau setuju di pindah tugaskan ke sana tidak perlu membawa Star!" Kini Malik pun buka suara.
"Kenapa? Aku adalah orang tua Star yang sah, dia adalah anak kandungku. Apakah kalian juga melarangku untuk dekat dengan anakku sendiri??"
"Byan, cukup!!!!" Andryani tidak tahan lagi dengan sikap keras Byan. Ia tak ingin berpisah dari cucunya itu.
"Kenapa, Umi marah? Umi tidak bisa jauh dari Star?" Byan menatap Uminya dengan mata yang memerah.
"Byan, turunkan nada bicaramu itu pada Umi!" Perintah Malik.
"Aku tetap akan membawa Star ikut bersamaku, dan tidak akan ada yang bisa melarangku lagi!" Byan masihlah Byan, ia tetap kerasa kepala.
"Byan, tolonglah. Jangan pisahkan Umi dari Star, Umi begitu menyayanginya," pinta Andryani dengan tetesan air mata.
"Kalian memang egois, kalian memintaku pergi namun melarangku untuk membawa anakku sendiri!"
"Abi, tolong hentikan semua ini! Bisakah kalian tidak membuat kekacauan di rumah ini? Bisakah kalian tidak membuatku cepat meninggal?"
"Umi!!!" Malik kini beralih membentak istrinya yang sudah sembarangan berbicara.
"Bagaimana Umi tidak akan cepat meninggal jika kalian selalu memberi ketegangan seperti ini, kita ini keluarga, mengapa kita harus saling berperang??" Andryani tak tahan lagi, ia kemudian pergi meninggalkan meja makan.
"Kau lihat, inilah akibatnya jika seorang anak membangkang kepada orang tuanya!" Malik terus menyalahkan semua ini pada Byan.
__ADS_1
"Terus saja salahkan Byan, tanpa melihat biang dari kesalahan itu adalah Abi sendiri!" Byan masih tak ingin mengalah malam ini. Ia sudah setuju untuk di pindahkan ke Papua, namun ia masih saja di salahkan oleh Malik.
"Byan akan tetap membawa Star, Byan juga sudah mengurus keberangkatan kami besok,"
Malik dibuat mati kutu oleh tindakan Byan. Tidak mungkin juga Malik melarang Byan membawa Star bersamanya karena Star adalah anak Byan. Namun, kekhawatirannya terhadap Andryani kini membuatnya sedikit goyah. Ia takut keputusan ini berimbas pada kesehatan istri yang begitu ia cintai itu.
Kini Malik dihadapkan pada situasi yang amat sulit. Ia terus merenung dan berfikir kerasa agar semua keputusannya tak lagi bertentangan untuk Byan atau pun Andryani. Namun, belum ada cara lain yang dapat ia temukan.
Jika Byan pergi ke Papua setidaknya ia bisa terhindar dari masalah Asmara. Tapi jika Byan pergi membawa Star, bagaimana nasib istrinya yang tidak bisa hidup tanpa cucunya itu? Tidak mungkin pula Andryani ikut bersama Byan ke Papua. Memikirkan hal ini, rasanya kepala Malik akan segera meledak.
"Star, ayo segera berkemas," melihat Star yang sedang bermain di temani Sumi dan Andryani, Byan segera menghampirinya.
"Berkemas? Kita mau pergi ke mana, Pa?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut comel milik Star.
"Kita akan pergi jauh, dalam waktu yang lama," jawab Byan dengan suara lembut berharap putrinya itu akan mengerti.
"Pergi jauh? Lalu, apakah kita akan pergindari rumah ini?" Tanya Star lagi.
"Iya, besok kita harus segera berangkat," jawab Byan.
"Omma dan Oppa ikut?" Tanya Star lagi memastikan.
"Tidak! Kita hanya pergi berdua, tapi jika Mba Sumi ingin ikut, maka Mba Sumi juga perlu berkemas."
Andryani tak tahu laginharus berkata apa, keputusan yang Byan ambil ini memang berat untuknya. Ia tak tahan lagi, air mata itu kini membanjiri wajah Andryani.
Setelah Star dan Sumi berkemas, Byan mengambil kesempatan untuk bicara dengan Ibunya.
"Umi, ini sudah keputusan Byan. Biarkan Byan membawa Star," Byan tak ingin melihat Andryani terus larut dalam kesedihan.
"Yang Byan lakukan ini demi keutuhan keluarga kita, sebenarnya Byan pun berat memutuskan semua ini. Tolong hargai keputusan akhir Byan, Umi." Byan bersimpuh meminta maaf dengan Andryani.
"Byan, tidak bisakah kamu dan Star tetap tinggal di sini? Kalian jangan tinggalkan Umi," pinta Andryani diiringi air mata beningnya.
"Tidak, Umi. Ini sudah menjadi pilihan final Byan. Ini juga keputusan yang sudah Abi pilihkan untuk hidup Byan. Byan tidak ingin memecah keluarga ini, Byan sudah menuruti permintaan Abi untuk menjauhi Mara. Tapi tolong, Umi juga harus menuruti keinginan Byan untuk membawa Star."
Panjang lebar Byan menjelaskan, namun Andryani merasa belum bisa menerima semua ini. Ia pun langsung pergi menghampiri suaminya.
"Abi, jika Star dan Byan pergi dari rumah ini, maka Umi pun akan ikut!!"
"Apa yang Umi katakan?"Kepala Malik terasa semakin berdenyut ketika mendengar istrinya berbicara kali ini. Belum selesai satu masalah, kini sudah bertambah lagi masalah lain.
"Jika Abi ingin memisahkan Umi dari Byan dan Star, itu tidak akan mungkin bisa!"
"Umi! Abi tidak pernah berniat memisahkan kalian!" Malik masih berdalih, ia tidak terima jika Andryani menuduhnya seperti itu.
"Lalu apa?? Apa tujuan Abi sebenarnya?" Andryani pun belum tahu persis apa tujuan suaminya, jika alasannya hanyalah masalah masa lalu keluarga mereka.
"Abi hanya ingin Byan berhenti berhubungan dengan Mara!"
"Kenyataannya sekarang, bukan hanya berpisah dengan Mara, tapi Byan juga akan berpisah dari kita!"
"Umi, Abi tahu hanya Umi lah yang paling memahami Abi," Malik mencoba meminta pengertian pada Andryani. Ia juga berharap emosi Andryani akan mereda.
"Umi mohon, hentikan sekarang juga. Biarkan masa lalu Abi itu terkubur dalam-dalam. Biarkan Byan dan Mara bahagia dan bersatu kembali," Andryani memohon penuh pada Malik, namun sepertinya Malik tetap bersikeras.
"Itu tidak akan mungkin, Umi!" Pantang bagi Malik untuk menarik ucapannya kembali. Ia benar-benar tak ingin ditentang oleh siapapun termasuk anak dan istrinya sendiri.
"Baiklah, pilihan Abi hanya ada dua. Membiarkan Byan tetap tinggal di sini, atau membiarkan keluarga kita ini terpecah belah!"
Malik hanya diam, pilihan yang Andryani berikan begitu sulit baginya. Ia mencoba berfikir keras lagi untuk mencari alternatif lain. Namun masih sama, ia belum juga menemukan hasil yang memuaskan.
"Masa lalu Abi itu tidak berarti lagi, tapi keluarga kecil kita ini akan selalu berarti, siapa lagi yang akan menjaga masa tua kita nanti selain Byan dan Star?" Andryani tak tahan lagi dengan keegoisan suaminya. Ia pun memilih mengambil koper untuk mengemas barangnya.
"Umi, jangan seperti ini," Malik mencoba mencegah aksi Andryani.
Namun sepertinya Andryani tak peduli, ia tetap mengemas semua pakaian dan barang-barangnya untuk ikut bersama Byan besok.
__ADS_1