Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Dokter konyol


__ADS_3

"Dari mana saja, kamu!" Suara bariton itu menghentikan langkah kaki Byan yang kini sudah memasuki rumah dalam keadaan gelap.


Bagaimana tidak, sekarang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan Byan baru saja pulang entah dari mana.


"Abi?" Byan menghela nafas panjang ketika melihat Malik yang duduk di kursi sendirian. Malam ini ia begitu lelah dan membutuhkan istirahat, namun sepertinya ayahnya itu ingin lebih menguji dirinya.


"Apa kau menemuinya lagi?" Tanya Malik ingin memastikan ke mana Byan pergi. Pasalnya, saat ia menelpon Sam, Byan tak berada di kantor.


"Ya, aku menemui Mara!" Byan berani bertemu terang pada Malik. Toh, jika ia menutupi itu tidak akan mengubah apapun. Penilaian Malik tetap akan terus negatif terhadap dirinya.


"Sampai kapan kamu akan terus membangkang seperti ini, Byan?!" Tengah malam, Malik pun harus menguras tenaganya untuk memarahi Byan.


"Abi, aku sudah katakan, bukan? Aku akan terus melakukan apa yang sudah menjadi keinginanku sejak awal, aku tidak akan berhenti!" Byan masih sama, ia tak ingin menyerah begitu saja meski sudah tahu jika orang tuanya itu melarang keras.


"Byan, beraninya kau!!!" Kemarahan Malik semakin terdengar menggelegar. Mungkin seluruh isi rumah akan mendengar kemarahannya itu, namun mereka tak berani untuk bangun.


"Abi, jangan melarang Byan lagi," Byan tak ingin lebih lama berdebat dengan ayahnya. Ia pun memilih pergi menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.


"Dasar anak itu!" Malik mengumpat kesal, ia tak menyangka jika Byan akan membangkang.


"Dia harus di beri pelajaran!" Umpat Malik lagi.


Sesampainya di dalam kamar, Byan segera membersihkan diri ke kamar mandi. Ia merendam tubuhnya dengan air hangat di dalam bath tube. Rasa lelah dan sakit pada beberapa bagian tubuhnya pun menyerang. Bekas luka yang belum mengering itu pun kini rasanya seperti tersayat kembali, hanya saja tak mengeluarkan darah seperti kemarin. Byan memijat pelan lengannya itu, dengan beberapa kali rintihan kecil yang keluar dari mulutnya.


Selesai mandi, Byan segera meminum obat pereda sakit yang disarankan oleh dokternya. Ia tak ingin luka di lengannya ini menghalangi berbagai hal yang akan dilakukannya. Ia juga tak ingin dirinya dianggap lemah hanya karena luka kecil ini. Begitulah Byan, ia akan terus menutupi segala kelemahannya agar terlihat kuat dan tak ingin diremehkan atau direndahkan oleh orang lain.


"Sepertinya aku terlalu banyak bergerak," Byan merintih kembaki merasa kesakitan akibat luka di lengannya. Sepertinya ia besok harus pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter Adryan memeriksakan lukanya.


Namun di balik rasa sakit yang ia terima, ia lebih mencemaskan keadaan Mara.


"Bagaimana keadaannya malam ini, apakah dia sudah tidur?"


Byan terus membayangkan wajah Mara, beberapa kejadian yang ia lalui malam ini bersama Mara terus saja berputar di otaknya. Terkadang ia tersenyum sendiri mengingat beberapa hal yang berkaitan dengan Mara. Keunikan sikap Mara membuatnya semakin menggemaskan seperti bayi. Bahkan Byan ingin sekali mencubit pipinya itu.


"Apakah aku sudah jatuh hati padanya?"


Bayangan Mara malam ini sungguh sangat berguna bagi Byan. Karena bayangan Mara, rasa sakit yang ia alami sedikit memudar dan menghantarkannya ke alam mimpi. Padahal bukan karena itu, mungkin saja itu adalah efek dari obat pereda nyeri yang sebelumnya ia minum.


"Baru saja berpisah, aku sudah merindukannya,"


...****************...


Byan bangun tepat jam enam pagi seperti biasanya. Ia memang terbiasa disiplin ketika bangun tidur. Meski pun tubuhnya masih amat lelah dan lemah, ia tetap bangun pagi.


Selesai mempersiapkan diri dengan pakaian kantornya, ia pun turun menemui semua anggota keluarga yang sudah menunggu di meja makan.


"Star," pertama kali ia menemui Star yang tak sempat ia kunjungi semalam. Byan mengecup puncak kepala putri kecilnya itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


Cup!!


Byan mendudukkan bokongnya pada kursi tepat di sebelah Star.


"Papa, apakah semalam bertengkar dengan Oppa?"


Penuturan Star membuat semua orang di meja makan menjadi tegang. Andryani tak bisa lagi menutupi hal ini, karena ia juga tahu dan mendengar jelas jika semalam Byan dan Malik sempat bertengkar.


"Star, apakah melihatnya?" Tanya Andryani memastikan. Ia takut Star akan melihat perkelahian Byan dan Malik. Jika hal itu terjadi, itu amat memalukan.


"Tidak!" Star menggelengkan kepalanya.


"Lalu, mengapa Star bertanya seperti itu?" Andryani menaikkan satu alisnya.


"Star hanya mendengarnya saja," jawab Star dengan suara pelan dan wajah polos.


"Sayang, Papa dan Oppa tidak bertengkar. Mungkin Star hanya bermimpi," Andryani berdalih.


Berbeda dengan Malik dan Byan yang masih dilanda ketegangan dan perang dingin. Mereka berdua tak berkata sepatah kata pun.


Star sudah selesai sarapan, ia pun berpamitan kepada ketiga orang tua yang ada di meja makan itu. Setelah Star pergi menuju ke sekolah bersama Sumi dan Pak Kurdi, Malik kembali membahas persoalan semalam yang belum juga selesai.


"Cepat selesaikan semua ini, atau kau akan menanggung akibatnya!"


"Aku tidak akan takut dengan akibat apapun, Abi," Byan masih juga tak ingin mengalah, meski mulutnya penuh dengan isi makanan, ia tetap menjawab perkataan Malik.


"Kau ini, keras kepala sekali!!" Bentak Malik, ia membanting sendok dan garpu dengan kasar.


"Abi tahu, aku keras kepala begini menurun sifat siapa??" Byan malah tersenyum smirk, kemudian ia menatap Abinya beberapa detik.


"Pembangkang!" Malik kembali menaikkan intonasi bicaranya.


"Cukuppp!!!!!" Andryani yang mendengar kedua pria itu bertengkar merasa terganggu. Bahkan tensi darahnya kali ini sepertinya telah naik akibat ketegangan yang terjadi beberapa hari ini memenuhi isi rumahnya.


"Abi, Byan, hentikan ini semua. Kalian berdua sama saja!!!" Andryani pergi meninggalkan meja makan. Ia tak tahan jika terus berada di dekat Malik maupun Byan.

__ADS_1


"Terserah kalian berdua mau berbuat apa!" Ucap Andryani penuh kekecewaan.


"Kau ingin menghancurkan keluargamu sendiri?" Tanya Malik dengan tatapan tajamnya. Ia masih menuntut Byan untuk mengikuti perintah darinya agar tidak mendekati Mara.


"Abi, apa yang salah denganku??" Byan masih saja menikmati sarapannya. Akibat semalaman, ia kehabisan tenaga dan membutuhkan asupan makanan.


"Byan! Ini terakhir kalinya Abi memperingatkanmu!"


"Aku sudah bilang berulang kali, aku tidak akan menyerah dan akan terus mengejar Mara sampai dapat, TITIK!"


Byan sudah tak ingin lagi berhadapan dengan Malik. Ia memilih mengambil jasnya, kemudian pergi menuju keluar rumah. Berdebat dengan Malik tak akan menghasilkan ujung yang baik. Yang ada mereka berdua sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah.


Sampai sekarang Byan belum tahu jelas apa alasan yang membuat Abinya begitu melarang hubungannya dengan Mara. Tak ada yang memberi tahu dirinya baik itu Andryani atau pun Malik. Sekelebat, ia hanya diberitahukan jika ini menyangkut masalah masa lalu keluarganya.


"Sebaiknya aku segera menuju ke rumah sakit," Byan menancap pedal gas mobilnya. Ia segera ke rumah sakit untuk memeriksakan lengannya yang masih saja sakit.


Setelah sampai di rumah sakit, Byan segera menuju ke ruangan Adryan. Ia sudah tak tahan lagi dengan lukanya ini, ia takut terjadi sesuatu pada lengannya karena sejak semalam area luka itu terus saja berdenyut.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Byan pada Adryan yang masih fokus memeriksa luka di lengannya.


"Ck!" Adryan hanya berdecak.


"Ada apa?" Byan semakin tak mengerti.


"Apa kau semalam bersama seorang wanita?"


Byan di buat bingung oleh pertanyaan Adryan. Bagaimana Adryan bisa tahu jika ia semalam bersama dengan wanita yang tak lain adalah Mara. Apa jangan-jangan Adryan melihatnya bersama Mara?


"Benar dugaanku," Adryan memasang wajah seriusnya.


"Adryan, aku ..."


"Jika kau bersama wanita, harusnya jangan terlalu menggunakan tenaga dan ototmu begitu keras! Bermainlah dengan santai, rileks, lakukan secara perlahan karena, permainan perlahan itu malah akan menambah kenikmatan diantara kalian,"


"Astaga!" Byan menepuk keningnya, ia fikir jika Adryan melihatnya semalam telah bersama dengan Mara. Ternyata Adryan hanya mengarang cerita yang tidak jelas.


"Jadi, siapa wanita itu? Di mana kalian bertemu?" Tanya Adryan begitu ingin tahu. Ia memasang wajah siap untuk mendengarkan cerita dari Byan. Pasalnya, hingga sampai saat ini setelah kepergian Agatha Byan tak pernah terlihat dekat dengan wanita lain atau pun berkencan. Wanita mana yang kini telah mengisi hati Byan? Sungguh Adryan begitu penasaran.


"Simpan fikiran mesummu itu!" Bentak Byan.


"Kau payah, mengapa kau tak mau berbagi pengalaman denganku?" Adryan mulai merajuk.


"Aku tidak akan berbagi apapun denganmu, mana resep obat untukku?"


"Aku sudah memberi resep obat terbaik untukmu. Tapi Byan ..."


"Tapi, apa?"


"Tapi jika kau ada keluhan lain tentang wanita, atau bagian intimu, aku juga siap memberi resep terbaik untukmu!" Adryan tertawa lepas. Ia berhasil menjahili seorang Byan yang terkenal berkepala batu dan berhati dingin itu.


"Sial*n kau!!" Byan merampas resep obat dari tangan Adryan, kemudian ia memilih keluar.


"Pasien selanjutnya," Adryan memanggil pasien di luar yang kini sudah antre menunggu giliran sembari menahan tawanya.


Betapa terkejutnya ketika Byan melihat siapa pasien yang akan masuk ke dalam ruangan praktek Adryan.


"Mara??"


Mata Mara pun membola melihat siapa orang yang baru saja keluar dari ruangan dokter yang akan ia temui.


"Ma-mas Byan?" Ucapan Mara terasa kaku, ia tak menyangka akan bertemu Byan kembali sepagi ini di rumah sakit. Rasanya dunia ini sempit sekali, lagi-lagi Byan, lagi-lagi Byan.


"Mara, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Byan penasaran.


"Aku ..."


"Apakah terjadi sesuatu pada luka di kakimu?" Potong Byan tak sabar. Ia memperhatikan dengan intens setiap pergerakan Mara.


"Mas, aku ..."


"Pasien Asmara Arsytanty?" Adryan yang menunggu lama di dalam ruangan pun akhirnya keluar setelah pasien yang ia tunggu tak kunjung masuk.


"Iya, saya dok," jawab Mara.


"Mari silahkan masuk," pinta Adryan.


"Byan, mengapa kau masih di sini?" Tanya Adryan yang melihat Byan masih saja berdiri di depan pintu ruang kerjanya.


Byan masuk begitu saja, ia ingin melihat keadaan Mara yang sebenarnya.


"Byan, apa-apan kau?" Adryan mencoba mencegah langkah Byan yang masuk sembarangan.


"Mas, Byan mengapa kau ikut masuk juga?" Tanya Mara melihat Byan kini bersama dirinya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin tahu keadaanmu, Mara," jawab Byan disertai dengan wajah kepanikan.


"Tunggu, apa kalian berdua sudah saling mengenal dekat?" Tanya Adryan.


Byan bingung, tak tahu harus dari mana ia menjelaskan pada Adryan. Karena awalnya Byan maupun Mara menutupi kejadian yang sebenarnya dari Adryan dan Istrinya.


"Bukankah kau yang memperkenalkan kami saat pesta pernikahanmu?" Byan mencari alasan lain, otaknya dipaksa untuk terus berfikir keras. Ia yakin, masih banyak pertanyaan lain dari Adryan yang belum ia keluarkan.


"Aku tahu itu, aku tidak akan lupa! Yang aku pertanyakan adalah, mengapa Mara memanggilmu dengan sebutan 'MAS'. Apa kalian berdua sudah sedekat itu?"


Byan dan Mara semakin terjebak, mereka berdua sama-sama memikirkan alasan yang tepat untuk menjelaskan hal ini pada Adryan yang terkenal dengan kekonyolannya.


"Bagaimana bisa seseorang yang bersikap konyol dan tidak disiplin sepertimu ini menjadi seorang dokter?" Byan malah melontarkan pertanyaan yang membuat Adryan kesal.


"Ini tidak ada hubungannya dengan profesiku, Byan?" jawab Adryan kesal.


"Kalau begitu, silahkan periksa kaki Mara. Apakah terjadi sesuatu pada lukanya itu??" Perintah Byan, ia tak ingin Adryan berlama-lama melakukan pemeriksaan terhadap kaki Mara yang terluka.


Adryan tak menunda lagi, ia lebih mengutamakan pasiennya saat ini. Setelah ia memeriksa dengan rinci, ternyata luka Mara tidak begitu serius. Karena luka ini terbilang luka ringan. Lukanya hanya perlu di beri obat pereda nyeri dan salep.


"Tidak terjadi apapun pada luka di kakimu, Mara. Sepertinya orang yang mengobati lukamu ini sangat profesional, baguslah! Dia bekerja dengan baik," Adryan tersenyum, sepertinya masih ada hal lain yang akan ia katakan untuk menggoda Byan dan Mara yang membuatnya penasaran.


"Ck! Apa yang kau fikirkan?" Byan memelototi Adryan dengan kelopak mata yang terbuka lebar.


"Kenapa kau marah? Apa kau yang mengobati luka Mara? Semalam?"


Mara dan Byan bak mati kutu. Mereka berdua tak tahu lagi harus menjelaskan dari mana. Tapi mereka berdua sama-sama berfikir untuk menyimpan dan tak menceritakan apapun tentang kejadian semalam kepada siapapun termasuk Adryan.


"Dok, tolong beri resep obat secepatnya saya harus segera pulang," beruntung Mara segera mengalihkan pembicaraan yang membuatnya terjebak itu. Hingga Adryan pun segera menulis resep obat dan memberikannya kepada Mara.


"Oh, baik," Adryan pun menulis resep obat yang harus Mara tebus di apotek rumah sakit.


Setelah selesai, Mara dan Byan pun sama-sama menuju ke luar ruangan Adryan.


"Tunggu!" Lagi-lagi Adryan membuat jantung keduanya berdegup kencang.


"Ada apa lagi?" Byan memasang wajah garangnya berharap Adryan tak menanyakan hal macam-macam yang lain. Ia dan Mara sudah kesusahan memikirkan cara apa lagi yang harus mereka lakukan untuk menghindari Adryan.


"Mengapa kalian berdua sama-sama terluka? Mara terluka di kaki, Byan terluka di lengan? Apa terjadi sesuatu pada kalian?"


"Dokter, pertanyaan itu terlalu berlebihan. Tidak terjadi apapun pada kami berdua!" Mara tak sabar ingin menutup mulut Adryan yang banyak pertanyaan itu. Ia baru menemui seorang dokter seperti Adryan.


"Jadi, apakah ini kebetulan?" Adryan menatap curiga keduanya secara bergantian.


"Ck! Kau ini ..." Byan sangat ingin memukul keras wajah menyebalkan Adryan. Namun ia lebih berusaha untuk menahan emosinya terhadap Adryan. Ia tahu betul sifat Adryan, yang dilakukannya itu hanyalah bercanda dan bukan hal serius.


"Byan, Mara, aku sarankan kepada kalian berdua. Jangan terlalu keras dalam bermain!" Adryan mengulum senyumannya.


"Ha????" Keduanya sama-sama membolakan matanya. Penuturan Adryan begitu ambigu, hingga mereka berdua harus kembali memutar otak.


"Mara, jangan terlalu kuat mencengkram lengan Byan. Dan kau sebagai lelaki sejati, akuntahu kau begitu kuat dan tahan lama! Tapi jangan terlalu kasar menarik kaki Mara!" Adryan tak ingin menjadi bulan-bulanan Byan, ia segera menutup pintu ruang prakteknya dan mengunci dari dalam. Dari dalam sana, Adryan tertawa lepas. Ia dapat melihat dengan jelas raut wajah keduanya yang tak biasa hingga menimbulkan rona kemerahan.


"Dia benar-benar gila!" Byan hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Apa yang dia maksud, aku tidak mengerti, Mas?" Mara bertanya dengan wajah yang amat polos di depan Byan.


"Ya, Tuhan," Byan terasa berat menjalani langkahnya.


"Jadi kau mengerti maksud dokter Adryan, tadi? Katakan padaku, apa maksudnya?"


"Mara, aku tidak sedang berhadapan dengan anak di bawah umur, bukan??" Tanya Byan disertai gelengan kepalanya.


"Bukan," jawab Mara masih dengan raut wajah kebingungan.


"Jadi?"


"Jadi, jadi apa?" Mara malah semakin bingung.


"Jadi, harusnya kau sudah mengerti apa maksud dari perkataan Adryan yang konyol itu!" Jawab Byan dengan tegas.


"Tapi aku tidak mengerti, Mas?" Mara masih butuh penjelasan dari Byan.


"Apakah harus kita praktekan di sini, agar kau mengerti?"


"Di sini?"


"Sepertinya tidak! Ayo kita menebus obat!" Byan melangkah cepat, namun ia memundurkan langkahnya kembali karena baru menyadari Mara yang telah tertinggal jauh di belakangnya.


"Pelan-pelan saja, biar aku bantu," Byan memegang kedua pundak Mara, ia memapah tubuh langsing itu perlahan.


"Terimakasih," jawab Mara dengan wajah lesu.


"Kau tunggu di sini saja, biar aku yang menebus obat untukmu,"

__ADS_1


__ADS_2