Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Sebuah Rahasia


__ADS_3

FLASH BACK


Setengah bulan yang lalu...


"Selamat siang, Tuan Malik yang terhormat?"


Malik terkejut atas kedatangan seseorang, matanya membola sempurna ketika ia melihat siapa yang menemuinya.


"Kau?? Beraninya menampakkan diri di depanku?"


"Kenapa? Anda terkejut?" Pria muda ini tanpa di persilahkan oleh Malik langsung duduk di sofa, Ia menyandarkan tubuhnya dengan kaki yang menyilang.


"Mau apa kau?" Malik tak tahan melihat ketidak sopanannya. Ia menatap Pria itu dengan penuh kebencian. Ia yakin ada udang di balik batu atas kedatangannya menemui Malik di Seoul.


"Kau peka sekali, Tuan Malik," Pria itu menyeringai, dengan senyum ala Devilnya.


"Silahkan pergi dari sini, jangan membuang waktuku!" Usir Malik pada Steven. Entah mimpi apa ia semalam hingga harus kedatangan tamu yang tak diundang.


"Ups! Aku tahu kesibukan seorang pebisnis sukses sepertimu, sukses tapi selalu menjatuhkan orang lain??"


Malik benar-benar tak mengerti apa yang Steven sampaikan. Ia merasa ambigu atas perkataan yang menggantung itu.


"Apa kau ingin aku kembalikan ke dalam penjara lagi seperti lima tahun yang lalu?" Malik tak tahan melihat sikap Steven, ia pun mencoba menggertak anak muda yang bersikap tak sopan padanya.


"Silahkan! Jika kau mau, aku bahkan bisa menyeretmu juga," Steven masih bersikap santai. Kali ini ia tak akan termakan oleh gertakan atau ancaman Malik karena ia telah memiliki satu kunci emas di tangannya.


"Heuh, anak ingusan sepertimu bisa melakukan apa??" Malik memandang rendah ke arah Steven. Meski ia tahu sebenarnya jika Steven bukanlah orang yang gampangan. Ia bahkan lebih licin dari seekor belut.


"Kau bahkan menyepelekan anak ingusan sepertiku?" Steven mengangkat sebelah alisnya. Dengan senyum yang kian melebar, ia bangun dari duduk santai itu dan menghampiri Malik yang masih berada pada kursi kerjanya.


"Itu akan membahayakanmu!" Steven menatap lekat mata Malik dengan jarak yang begitu dekat dengan tubuh sedikit membungkuk pada meja kerja Malik.

__ADS_1


"Singkirkan tubuhmu itu!" Malik mencoba menggertak Steven agar tak mendekat dengannya. Sungguh ia begitu risih atas perilaku Steven.


"Bagaimana jika kita berbisnis?" Steven kini mulai melakukan penawaran.


"Aku tidak sudi berbisnis dengan orang licik sepertimu!" Malik tahu jika Steven kali ini pasti memiliki tujuan lain.


Ha... Ha... Ha...


Steven tertawa lepas, ia merasa Malik sudah ketakutan atas kedatangannya kemari.


"Sekarang pergi dari sini atau aku akan memanggil security untuk mengusirmu!" Malik kini sudah mulai kehabisan kesabarannya.


"Silahkan, jika kau ingin rahasia sepuluh tahun yang lalu aku sebar!" Steven tak menunda lagi, ini adalah puncak dari tujuannya datang jauh-jauh dari Amsterdam ke Seoul untuk menemui Malik.


"Tahu apa kau??" Malik tak seperti tadi, nada bicaranya sudah mulai merendah.


"Kau penasaran? Atau kau pura-pura lupa atas skandal yang sengaja kau ciptakan demi menegelabui banyak orang??" Steven menatap Malik dengan senang. Karena kali ini Malik sudah menunjukkan wajah paniknya.


"Apa maumu??" Mata Malik mulai meredup, kali ini jantungnya terasa ingin jatuh. Banhkan ia tak sabar ingin segera tahu sampai mana Steven mengetahui rahasianya.


"Baiklah, jika kau ingin begitu. Maka aku akan langsung mengatakan apa yang aku inginkan!" Lanjut Steven dengan ekspresi wajah puasnya.


"Jangan macam-macam, jika kau bertindak ceroboh maka aku tidak akan segan menghabisimu!" Ancam Malik lagi.


"Aku sama sekali tidak takut," jawab Steven enteng. Ancaman Malik tidak berarti apapun baginya.


"Cepat katakan apa mau mu?" Malik merasa percuma melakukan gertakan atau ancaman pada Steven. Jelas-jelas pria itu tak memiliki rasa gentar sedikit pun.


"Jauhi Mara dan keluarganya!" Ucapan Steven terdengar begitu panas. Wajah yang tadinya menunjukkan mimik senang, kini berubah menjadi kaku dan garang.


"Heuh? Untuk apa aku melakukan itu?" Malik kini mulai mencari celah untuk menaklukkan Steven.

__ADS_1


"Jika putramu yang munafik itu masih saja mendekati Mara, maka aku akan membocorkan skandal bodoh yang kau ciptakan sepuluh tahun lalu!" Mata Steve bak mata elang yang sedang mengintai mangsanya. Kini ia sudah siap untuk menerkam.


"Apakah kau menyukai Mara?" Malik begitu terkejut. Bisa-bisanya Steven melakukan ancaman pada dirinya hanya karena masalah Asmara.


"Kau bisa menebak itu! Segera perintahkan putramu itu untuk tak mendekati Mara lagi, atau aku akan segera mengatakan yang sebenarnya pada Mara jika mantan mertuanya ini sudah membuat Ayahnya sendiri menjadi korban skandal itu!"


Malik hanya bisa diam dengan tangan yang terus mengepal kuat. Bagaimana bisa Steven mengetahui ini semua? Sungguh ia tak tahu bagaimana lagi menutupi semua kejahatan yang ia lakukan di masa lalu. Ia mencoba terus berfikir keras, siapa orang yang berani membocorkan masalahnya ini.


"Jika sampai Mara atau Ibunya tahu, bagaimana penilaiannya terhadap keluarga Malik?? Ck, aku bahkan tak sabar melihat bom yang akan meledak itu!" Steven kini kembali melakukan penyerangan terhadap Malik.


"Jangan pernah macam-macam denganku!!!"


"Aku tidak takut atas ancamanmu itu, Tuan Malik?" Steven kembali menyeringai. Bahkan ingin sekali ia mengambil gambar wajah Malik saat ini juga. Karena menurutnya, mimik wajah Malik yang menyimpan amarah dan emosi itu begitu asyik di pandang.


"Aku akan melakukan apa yang kau minta, silahkan pergi dari sini!" Malik tak berfikir banyak, ia segera cepat mengambil keputusan karena tak ingin jika Steven terus berlama-lama di dekatnya.


"Aku menunggu, jika dalam waktu satu minggu kau tak melakukan apapun! Maka lihat saja, apa yang akan aku lakukan??" Ancam Steven.


Steven segera keluar dari ruangan kerja milik Malik. Ternyata tak sia-sia ia datang menemui Malik dan melakukan kerja sama bisnis. Tentunya bisnis yang bisa menguntungkan untuknya.


"Mara, apapun bisa kulakukan untuk menjauhkanmu dari Byan! Kau hanya akan menjadi milikku!" Steven bermonolog penuh keyakinan di dalam hati. Bahkan setelah ini, ia akan segera datang menemui wanita yang amat ia rindukan di Negara yang berbeda.


Stelah Steven pergi, Malik menggebrak mejanya dengan kasar. Ia tidak habis fikir jika Steven mengetahui rahasia terbesar yang ia simpan rapat-rapat. Bahkan keluarganya sendiri tidak ada yang mengetahuinya.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Malik bingung. Tak mungkin baginya untuk membongkar rahasia yang sudah ia simpan rapat-rapat selama sepuluh tahun ini.


"Maafkan Abi, Byan," merasa putus asa karena tak ada jalan keluar lain. Mau tak mau ia harus mengorbankan perasaan putranya itu.


"Ini semua demi keluarga kita, setelah ini Abi akan cari jalan keluar yang lain,"


FLASH BACK OFF

__ADS_1


Malik merutuki perbuatannya sendiri setelah kepergian Byan. Jalan ini ia ambil sementara, jika nanti ia sudah mendapatkan jalan keluar yang lebih baik serta dapat membungkam Steven, ia berjanji akan mengembalikan putranya lagi.


Melihat Star yang kini terus menangis, juga Istrinya pun sama demikian. Membuat dirinya semakin merasa bersalah.


__ADS_2