
"Apa yang kau lakukan di sini?!"
"Mas, aku hanya ingin menemui Star," ucap Belly terbata-bata karena ketakutannya pun menjadi kenyataan. Ia berharap tak akan bertemu dengan Byan, tapi ternyata Mara kalah cepat darinya.
"Aku sudah memperingatkanmu, tapi ternyata nyalimu lumayan besar!" Byan menekan kedua pundak Mara dengan kuat.
Mara dapat mencium aroma menyengat dari nafas Byan. Ia yakin jika Byan habis meminum alkohol malam ini.
"Mas, kamu mabuk!" Dengan sekuat tenaga Mara mendorong tubuh Byan hingga terhuyung kebelakang dan hampir saja terjatuh.
Andai tubuhnya sedang baik-baik saja, tentunya dorongan dari Mara tak akan berpengaruh apapun padanya. Namun keadaannya saat ini berbeda, rasa panas yang dialami tubuhnya membuatnya tak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Mara mencoba mengambil kesempatan untuk melarikan diri, namun belum saja membuka kunci tangan Byan sudah meraih pinggulnya yang langsing itu. Byan mendorong tubuh Mara hingga mengenai tembok, kemudian satu tangannya berpindah menekan pundak Mara.
"Mau lari kemana kamu?" Tatapan Byan kali ini begitu tajam hingga membuat Mara ketakutan.
"Takkan semudah itu kau lari dariku, Mara," tambah Byan lagi masih menelisik setiap sudut wajah Mara yang begitu membuat hasratnya malam ini semakin kuat.
"Mas, lepaskan aku!" Mara memberontak, berharap Byan akan melepaskan dirinya. Namun harapannya itu tak semudah membalikkan telapak tangan, Byan malah semakin mencengkramnya dengan kuat.
Melihat raut wajah Byan yang kini berbeda dan seperti ada sesuatu yang janggal, Mara merasa curiga jika telah terjadi sesuatu pada Byan. Niatnya untuk kabur kini ia tunda lebih dulu.
"Mas, Byan ada apa denganmu?" Tanya Mara masih dengan perasaan takut memandangi wajah Byan yang kini sudah semakin memerah.
Byan langsung membuka bajunya, ia merasa tubuhnya kali ini seperti terbakar. Belum lagi masalah adik kecilnya di sana yang semakin berkedut. Ia membuka setiap kencing kemejanya, setelah semua kencing terlepas, ia membuang kemeja putih polosnya itu ke sembarang arah.
"Mas, apa yang kamu lakukan?" Mara merasa semakin takut ketika melihat gelagat Byan yang mencurigakan.
"Mara," lirih Byan dengan tatapan tanpa ampun kepada Mara.
"Panas," lirih Byan lagi dengan tubuh yang kini sudah bersimpuh di lantai. Ia benar-benar tak kuat menahan rasa yang campur aduk melanda tubuhnya.
"Euhgggg..."
Byan pun melenguh, membuat Mara semakin bingung. Mara menyingkirkan rasa takutnya, kali ini ia memilih untuk membantu Byan dan memapahnya menuju ke atas ranjang.
"Mas, panas kenapa?" Mara mencoba meraba kening Byan, namun belum juga tangannya sampai pada kening itu tangannya sudah dicekal oleh Byan hingga membuat Mara terjatuh tepat di atas tubuh Byan.
Byan tak bisa lagi menunda, sejak tadi ia sudah berusaha dengan kuat untuk menahan gejolak yang membara. Entah ini keberuntungan atau sebuah kebetulan baginya, keberadaan Mara saat ini begitu dibutuhkan untuk melampiaskan rasa yang melanda tubuhnya saat ini.
"Mas, Byan heeummp ..." Mara tak dapat meneruskan ucapannya lagi karena Byan telah mengecup bibir ranum miliknya dengan tangan yang memeluk Mara.
Mara merasa tak dapat bernafas lagi, ia berusaha keras mendorong tubuh Byan berharap dapat terlepas dari jeratannya kali ini. Bukannya melepaskan Mara, Byan malah membalikkan posisinya kini menjadi di atas tubuh Mara.
"Mas, lepaskan aku!" Mara tak dapat lagi berbuat apa-apa. Tubuhnya kini telah di kungkung oleh Byan, meski tangannya kini memukuli dada bidang Byan namun tetap saja Byan tak melepaskannya.
Mara merasa kehabisan tenaga, ia hanya bisa menangis mengeluarkan air matanya ketika Byan memeperlakukan dirinya semaunya.
Byan ******* bibir Mara dengan ganas, tangannya pun kini mulai bermain pada bagian dada milik Mara dan mencoba menyelipkan tangannya itu untuk masuk ke balik gaun cokelat yang kini Mara kenakan.
"Mas Byan, cukup!!" Mara akhirnya dapat terlepas setelah mendorong tubuh Byan dibantu dengan kakinya yang menendang perut Byan.
"Sadarlah Mas!" Mara segera bangun dari pembaringannya, ia mulai mencari celah saat Byan sedang lemah dan sedang kesakitan.
Krek!! Krekkk! (Suara baju Mara yang kini tengah sobek)
Namun, lagi-lagi Mara gagal untuk melepaskan diri. Byan kini telah menarik gaunnya hingga sobek pada bagian pundak hingga membuat kulit putih Mara terpampang jelas.
Byan yang kini tengah memegang baju Mara pun menariknya kembali hingga sobekan baju Mara menjadi semakin melebar.
Byan menarik Mara kedalam pelukannya, sungguh hasratnya kali ini benar-benar tak dapat tertahan lagi. Meski ia tahu jika Mara saat ini sedang menangis, ia benar-benar tak peduli.
__ADS_1
Byan membopong tubuh Mara menuju ke atas ranjang, ia memandangi setiap inci tubuh yang kini ada di hadapannya. Tubuh yang selalu bisa membuat Byan ingin memilikinya.
Ketika Byan ingin melancarkan aksinya kembali, dengan posisi Mara yang kini ada di bawah tubuhnya, Mara pun mengambil sebuah tindakan untuk membuat Byan tersadar.
Plakkk!!!
Mara menggunakan tangannya itu untuk menampar wajah Byan dengan sekuat tenaganya.
"Cukup Mas, hentikan!!" Pinta Mara dengan tangisan tersedu.
Mendapat tamparan dari Mara, mata Byan pun dapat melihat dengan jelas penampilan Mara dengan gaunnya yang telah sobek di beberapa bagian. Ia juga dapat melihat Mara sedang menangis dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"Ma-mara,"
Byan berusaha membantu Mara untuk bangun, namun Mara menepis tangan Byan yang ingin menolongnya. Sungguh, kali ini Mara benar-benar merasa telah tersakiti. Bahkan menurutnya Byan telah melecehkan dirinya.
Byan meremas rambutnya kuat, kepalanya terasa semakin pusing dan tubuhnya pun masih saja panas. Ia pun memilih untuk segera ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Di dalam kamar mandi, ia mengingat perbuatannya tadi terhadap Mara. Hal itu membuat dirinya merasa malu. Malu karena sebagai lelaki, ia telah hampir saja menodai Mara yang jelas-jelas bukanlah miliknya.
Setelah beberapa menit Byan selesai mandi dan ia masih melihat Mara berada di atas ranjang. Mara duduk dengan kedua lutut yang di tekuk menutupi wajahnya yang masih saja menangis tersedu.
Byan merutuki perbuatannya sendiri, ia melihat penampilan Mara yang begitu berantakan dengan gaun yang sobek pada beberapa bagian hingga dapat memperlihatkan pundak, paha dan dadanya yang putih itu.
"Sial! Siapa yang telah membuatku kacau seperti ini?" Umpat Byan dengan penuh amarah.
Dengan tubuh yang masih berbalut handuk untuk menutupi separuh dari bagian tubuhnya, Byan mendekati Mara dengan penuh kehati-hatian.
Ia meneguk satu gelas penuh air putih yang ada di atas nakas, kemudian mengambil selimut untuk menutupi tubuh Mara yang merusak pandangan matanya itu.
"Mara, maafkan aku," itulah kata penyesalan Byan yang mampu ia lontarkan.
Mara masih tak menanggapi ucapan Byan meski ia mendengarnya. Ia masih menutupi wajahnya masih dengan diiringi tangisan yang sesak.
"Aku tidak tahu siapa yang telah membuat kekacauan sehingga tubuhku merasa berbeda dan aku tak bisa mengendalikannya," lanjut Byan lagi mencoba menjelaskan.
"Mara, percayalah padaku. Aku tak berniat menyakitimu ..."
Byan mengambil nafas panjang, ia tak tahu harus berkata apa lagi untuk meyakinkan Mara agar percaya pada dirinya.
"Mara, sekali lagi maafkan aku, perbuatanku kali ini benar-benar keterlaluan!"
Mara mengangkat kepalanya, ia kemudian menatap kearah Byan yang kini tepat berada di depannya. Perasaan benci terhadap perilaku Byan kini menyelimuti hatinya yang tengah merasakan sakit. Hingga ia kali ini hanya bisa bungkam, tak mampu berucap. Tubuhnya lemas, mentalnya melemah, matanya menjadi sayu dan sedikit bengkak, bibirnya pun perih karena terluka.
Sungguh, Byan telah menyakitinya berkali-kali lipat malam ini. Meskipun Byan tak berhasil menodainya.
"Mara, bibirmu ..." Byan ingin menyentuh Bibir Mara yang kini mengeluarkan darah. Ia yakin ini pasti ulahnya tadi karena telah berbuat kasar pada Mara.
"Maafkan aku," Byan kembali menundukkan kepalanya. Ia kali ini sungguh menyesal dan tak tega melihat keadaan Mara.
"Mara, kau percaya padaku?"
"Aku ingin pulang," ucap Mara. Ia pun bangun dari duduknya melepas selimut yang tadi membalut tubuhnya.
"Mara, bagaimana bisa kau pulang dengan keadaan dan penampilan seperti ini?"
Mara tak menghiraukan ucapan Byan, ia masih melanjutkan langkah kakinya menuju pintu dan membuka kunci. Setelah berhasil membuka kunci pintu, Mara pun keluar dari kamar yang sempat menjadi penjara untuknya malam ini.
Mara keluar dari kamar Byan dengan perasaan hancur, ia tak peduli jika semua orang di rumah ini akan melihat penampakan dirinya. Ia juga tak peduli lagi akan penilaian orang lain terhadapnya.
Namun sepertinya ia beruntung, karena sekarang sudah jam sebelas malam, tak ada orang yang masih membuka mata. Hanya ada dua orang penjaga rumah dan satpam di pintu gerbang depan yang selalu standby.
__ADS_1
Byan yang tahu Mara keluar begitu saja pun langsung mengambil dan mengenakan pakaiannya, ia juga mengambil jaket serta kunci mobil.
Beruntung Byan belum kehilangan jejak Mara, ia dapat melihat Mara kini sedang berjalan perlahan menuju pintu depan.
"Pakai ini," Byan meminta Mara mengambil jaket yang ia sodorkan. Byan juga berharap Mara mau memakai jaket itu untuk menutupi tubuhnya.
Namun Mara tak menghiraukan itu, ia lebih memilih melanjutkan langkah kakinya. Byan pun menutupi tubuh Mara dengan jaketnya, ia mengaitkan jaket itu di kedua pundak Mara.
Perlakuan Byan ini tak mendapat tanggapan apapun, Mara kali ini benar-benar seperti patung.
"Aku akan mengantarmu pulang," Byan segera membukakan pintu mobil untuk Mara.
Meski Mara hanya bungkam, ia pun masuk ke dalam mobil Byan. Karena mau bagaimana lagi, saat larut malam begini sudah tak ada lagi taksi yang melintas.
Byan pun tak ingin membiarkan Mara pulang sendirian. Setidaknya dengan mengantarkan Mara pulang, ia menjadi sedikit bertanggung jawab.
Hingga sepanjang jalan, tak ada suara apapun di dalam mobil itu. Byan kini tak berani buka suara, karena tahu setiap ucapannya tak ditanggapi oleh Mara. Ia memilih membiarkan Mara terlebih dahulu hingga situasinya tenang.
Mara hanya meratapi nasib dirinya kali ini. Setelah perlakuan Byan terhadapnya malam ini, ia benar-benar sudah hampir gila. Hingga tak terasa, air matanya terus mengalir begitu saja. Kali ini Mara benar-benar sedang menangis tanpa suara.
Byan mengetahui jika Mara tengah menangis sesak, ia tak tahunharus berbuat apa. Yang ada hanyalah rasa bersalahnya terhadap Mara semakin tinggi.
Saat tiba di depan rumah, Mara langsung turun begitu saja. Ia tak berbasa-basi seperti biasanya. Namun sebelum masuk rumah, Byan mengikutinya dari belakang tanpa Mara ketahui.
Setelah pintu rumah Mara di buka oleh bu Kamila, Mara pun langsung menyalami tangan Kamila. Namun ia tak berkata apappun pada Ibunya seperti biasanya. Ia masuk ke dalam rumah tanpa begitu saja tanpa sepatah kata apapun.
"Mara, ada apa denganmu?" Tanya Kamila penuh kekhawatiran melihat penampilan Mara yang sedikit berantakan. Namun ia tak melihat jika pakaian Mara sobek karena telah ditutupi jaket.
Mara tak menghiraukan pertanyaan Kamila, ia terus saja masuk kedalam rumah menuju ke kamarnya.
"Selamat malam Bu," Suara Byan mengalihkan perhatian Kamila.
"By-byan?" Kamila pun terkejut, ingin sekali ia mengusir lelaki itu dari rumahnya, namun ia masih memiliki rasa sopan terhadap tamu. Ia juga tak ingin mengundang keributan ditengah malam begini.
"Bu, apa kabar?" Tanya Byan canggung dengan menanyakan kabar Kamila. Byan juga berharap jika Kamila mau mendengarkan penjelasan darinya.
"Sepeti yang kamu lihat, ada apa kemari? Apa kamu berbuat ulah lagi terhadap Mara?"
Byan kini tengah di cecar oleh pertanyaan yang tak mampu ia jawab. Ia juga bingung harus menjelaskan apa dan mulai dari mana pada Kamila. Tak mungkin ia membeberkan kejadian yang baru saja ia lakukan kepada Mara. Bisa mati di gantung ia oleh Kamila.
"Bu, saya membawa Mara menemui Star. Em, maksud saya Bintang, maaf jika mengantarnya pulang selarut ini,"
Byan bersyukur, dalam kondisi seperti ini otaknya masih bisa berfikir dan mencari alasan untuk menjelaskan kepada Kamila meski itu berbohong.
"Silahkan pergi, dan jangan pernah menemui Mara lagi!"
Derr!!!
Kamila menutup pintu rumah dengan kasar, ia merasa jika Byan kini telah berbuat buruk pada Mara. Hingga sikap Mara malam ini di rasa begitu berbeda.
Kamila pun memutuskan untuk menemui Mara di kamarnya.
"Mara," Kamila mendapati pintu kamar yang terkunci, Mara juga tak menyahuti panggilan darinya.
Namun Kamila dapat mendengar suara pericikan air dari arah kamar mandi Mara. Ia pun memutuskan untuk membiarkan Mara sendiri terlebih dahulu.
Sementara Byan hanya bisa menyesali perbuatan bodohnya itu. Sekarang yang ia fikirkan adalah keadaan Mara, ia pasti merasa tersakiti akibat ulahnya tadi.
Ia pun kembali ke rumah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Di tengah perjalanan, ia juga memikirkan kejadian yang menimpa dirinya setelah kembali dari club malam.
Ia pun memutuskan untuk menyelidiki masalah ini, dan takkan mengampuni jika sudah menemukan siapa orang yang telah berbuat curang padanya.
__ADS_1
"Aku takkan mengampuninya, ku pastikan mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal dariku! Lihat saja nanti," umpat Byan merutuki orang yang telah mengerjainya dan belum ia ketahui.
To be continue ...