Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Seorang penjahat


__ADS_3

Byan mengeratkan rahangnya, dengan kedua tangan yang dikepal. Tak mengerti mengapa semua ini terjadi, padahal ia sudah melarang keras agar Star tidak bertemu dengan Mara. Tapi hal yang ia larang itu masih saja dilanggar.


Star yang kini sudah melihat Byan berdiri menatap tajam kearahnya pun merasa takut, hingga ia berhambur memeluk tubuh Asmara.


"Star, ada apa?" Mara menjadi heran karena Star memeluknya secara tiba-tiba. Apalagi Star mengeratkan pegangan tangannya pada tubuh Mara.


"Papa," ucap Star dengan terbata dan suara yang begitu berat.


Mara pun mengikuti arah tatapan Star saat ini, hingga matanya dan mata tajam milik Byan pun bertemu. Mara sudah memikirkan ini, ia mencoba untuk lebih tenang dan mengontrol detak jantungnya saat ini. Ia menghembuskan nafasnya kasar, kemudian mencoba menenangkan Star lebih dulu.


"Apa yang kamu lakukan di sini??" Byan mengeluarkan suara kerasnya menatap Mara tidak suka.


"Mba Sumi, tolong jaga Star," Mara pun meminta Sumi menjaga Star terlebih dulu. Kemudian ia melirik Byan dan memberikan kode dengan memainkan matanya agar mereka berbicara di luar.


Setelah sampai di luar, Mara pun berbicara dengan Byan dengan perasaan yang dipaksa untuk lebih tenang. Meski saat ini ia pun sangat ingin memaki Byan, bahkan ia ingin sekali mencengkram wajah Byan. Tapi apalah daya, keberaniannya itu mengendur seketika berhadapan langsung dengan Byan.


"Mas, aku hanya menjenguk Star, kamu tidak perlu marah padanya," ucap Mara dengan suara lembut berharap Byan akan memakluminya.


"Aku sudah peringatkan kamu, tapi ternyata kamu keras kepala!" Byan merasa tak terima karena Mara kini masih saja bertemu dengan Star.


"Aku harap kamu bisa lebih tenang Mas, ini di rumah sakit," Mara mencoba membuat Byan sadar akan nada bicaranya di rumah sakit.


"Aku tidak peduli, sekarang pergilah dari hadapanku! Sebelum kesabaranku habis!!"


Dua tanduk Byan kali ini sudah keluar, ia tak bisa mengontrol dirinya hingga membuat beberapa orang yang tengah lewat pun menengok kearah mereka.


"Aku tidak tahu apa kesalahanku, setelah hari itu kau meninggalkanku begitu saja tanpa kata, dan tiba-tiba kau semarah ini padaku! Bisakah kau tak berbuat semaumu, Mas Byan?" ucap Mara dengan lirih disertai perasaan yang mengganjal di lubuk hatinya. Entah mengapa setiap kali berhadapan dengan Byan, Mara merasa menjadi wanita yang amat lemah.

__ADS_1


Mara mengusap air matanya yang entah sejak kapan sudah keluar. Ia tak habis fikir dengan sikap Byan yang masih saja berbuat semaunya.


Byan terpaku, diam tak lagi berbicara mendengar penuturan yang disampaikan oleh Mara. Ia juga dapat melihat mata merah Mara yang kini tengah mengeluarkan air Mata.


"Tidak usah berpura-pura, aku tidak butuh air mata bawangmu itu!" Byan masih sama saja, ia tak bersikap baik atau kasihan terhadap Mara. Entah di mana letak hati nurani Byan sekarang. Ia terlihat menjadi seorang penjahat bagi Mara.


"Berhenti menyakiti perasaanku! Jangan bersikap semaumu Mas," Mara tak ingin lebih lama bersama Byan. Ia pun memilih pergi meninggalkan Byan.


Namun saat ia membalikkan tubuhnya, ia berpapasan dengan Umi Andryani.


"Ma-ra," Andryani tak tahu harus bicara apa ketika berhadapan dengan Mara, ia juga tak tahu mengapa Mara kini tengah menangis.


"Umi, Mara permisi," Mara pun langsung mengambil langkah seribu. Ia tak ingin lebih lama berada di dekat orang-orang yang dulu telah menyakitinya. Mencari aman saat ini adalah jalan yang terbaik.


"Byan, apa yang kamu perbuat terhadap Mara?" cecar Andryani ketika kini tengah berhadapan dengan Byan yang sedang mematung di depan ruang rawat Star.


"Umi, apakah Umi yang memintanya untuk menemui Star?" Bukannya menjawab pertanyaan Andryani, Byan malah berbalik melontarkan pertanyaan lain.


"Apa Umi juga kini membelanya? Byan melakukan ini hanya untuk melindungi Star, apakah Umi lupa lima tahun lalu bagaiman kita menderita karena ulahnya?" Byan malah mengingatkan Andryani pada masa lalu.


"Byan! Itu masa lalu, cobalah untuk hidup di masa sekarang! Masa yang di mana Star membutuhkan kasih sayang, bukan malah mengingatkannya pada kenangan buruk!" Andryani angkat bicara, ia pun menceramahi Byan dengan nada yang sedikit tinggi berharap Byan mau mendengarkannya.


"Umi, Byan tidak bisa melupakan masa lalu itu! Tidak akan pernah bisa!!"


Byan masih pada pendiriannya, masih saja ia membawa-bawa kehidupan di masa lalu.


"Byan, Umi tidak habis fikir! Entah bagaimana lagi Umi menasihatimu! Harusnya kamu berterimakasih dengan kehadiran Mara di sini! Bukan malah kembali menyakiti perasaannya," Andryani menarik nafasnya panjang.

__ADS_1


"Saran Umi, segeralah kamu meminta maaf padanya atau ..."


"Itu tidak akan pernah Umi!" Byan pun memilih masuk ke dalam ruang rawat Star meninggalakan Andryani yang belum juga selesai berbicara.


"Dasar anak itu, keras kepala sekali!" Umpat Andryani kesal, ia hanya bisa memijit keningnya yang semakin terasa berdenyut akibat ulah Byan.


...****************...


"Dia fikir siapa dia? Kenapa dia bertindak semaunya?" Saat di perjalanan menuju pulang, ia terus saja mengumpat merutuki perbuatan Byan.


"Apakah dia tidak punya hati lagi? Dasar penjahat!" Umpat Mara kesal.


Karena ada botol bekas di depannya, Mara pun melampiaskan kemarahannya pada botol bekas yang tidak bersalah itu. Kemudian ia menendang botol itu hingga terpental.


"Aduh!!" Terdengar suara seseorang mengaduh kesakitan akibat kepalanya yang kini terkena botol bekas minuman.


Melihat seseorang yang terkena botol akibat tendangannya, Mara pun merasa bersalah namun ia juga takut. Hingga ia memutuskan untuk berbalik arah dan menghindar.


"Hei, kamu!!!" Teriak wanita itu dengan suara lantang memanggil Mara.


"Apa kamu yang melakukannya? Mau pergi kemana kamu!!" Teriak wanita itu lagi.


Mara kemudian berbalik arah, kemudian ia menyunggingkan senyumannya kearah wanita itu, dengan kedua telapak tangan yang menakup didepan dada sebagai tanda memohon maaf. "Maaf, saya tidak sengaja,"


"Apa kamu bilang, tidak sengaja? Beraninya kamu ..." Wanita itu mengambil sebuah batu kecil di depannya saat ini, kemudian ia melemparkan batu itu kearah Mara yang kini sudah berlari menjauh darinya.


"Ber***sek! Akan Ku ingat wajah jelekmu itu!" Celetuk Kessy, ia merasa kesal akibat ulah wanita yang telah membuatnya sial hari ini.

__ADS_1


Padahal hari ini ia ingin menemui Star dan Byan di rumah sakit. Ia sudah berdandan rapi dan semaksimal mungkin terlihat cantik agar penampilannya terlihat baik di mata Byan. Namun persiapannya itu kini digagalkan oleh wanita yang tak dikenalnya, rambutnya pun kini menjadi kotor karena ulahnya.


Karena itu, ia memilih menemui Byan esok hari saja. Karena melihat penampilannya saat ini ia tak begitu percaya diri. Apalagi ia ingin meminta maaf pada Byan akibat ulahnya tempo hari.


__ADS_2