Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Keputusan Malik


__ADS_3

"Kau tunggu di sini saja, biar aku yang menebus obat untukmu," karena melihat Mara begitu kesulitan dalam berjalan, sementara apotek yang mereka tuju masih lumayan jauh, Byan meminta Mara untuk duduk menunggunya di sebuah kursi tunggu yang ada di lorong rumah sakit.


"Tidak, aku tidak ingin merepotkanmu lagi," Mara menolak mentah-mentah penawaran Byan. Ia tak ingin bergantung pada orang lain, apalagi Byan bukanlah siapa-siapanya.


"Aku tidak merasa direpotkan, Mara," jawab Byan masih dengan langkah perlahan memapah Mara.


"Aku bisa jalan, jika kau tak sabar memapahku lebih baik kau duluan saja!"


Ucapan Mara terdengar tidak enak ditelinga Byan. Namun Byan tak mengambil hati, ucapan pedas itu lebih baik daripada harus melihat Mara tak berbicara sama sekali.


"Apa kau mau aku gendong?"


"Jangan gila, Mas. Ini rumah sakit!" Mara mulai membolakan matanya dengan lebar. Ia menatap Byan yang kini sudah mulai menyebalkan kembali.


"Berarti jika bukan di rumah sakit, kau mau?" Byan mengulum senyumannya setelah melihat wajah Mara mulai kesal. Ia juga mengingat ketika semalam menggendong tubuh Mara.


"Aku menyesal!"


"Menyesal kenapa?" Byan tak mengerti apa maksud Mara kali ini. Padahal, ia tak mengatakan apapun yang ada di fikirannya saat ini.


Mara tidak menjawab, ia memilih diam daripada harus mendengar kata-kata yang menyebalkan dari mulut Byan.


"Aku seperti sedang berjalan dengan patung," umpat Byan yang masih bisa didengar oleh telinga Mara.


Mara masih menahan emosinya, ia tetap bungkam dan tak ingin mengeluarkan suara. Baginya, diam adalah pilihan terbaik saat ini.


Hingga tak terasa, Byan dan Mara pun sama-sama sampai di apotek rumah sakit. Kebetulan ini masih pagi, jadi belum banyak pasien yang mengantre, hanya ada beberapa orang saja.


Mara mendudukkan bokongnya di kursi, Byan pun duduk tepat di sebelahnya. Saat Mara duduk, tiba-tiba kertas resep obat miliknya terjatuh. Mau-tak mau ia sedikit merendahkan tubuhnya dan berpegangan dengan lengan Byan.


"A-aw!" Byan merasa kesakitan ketika lengannya di pegang oleh Mara. Apalagi tepat pada lengan kanannya yang terluka. Namun ia mencoba menahan rasa sakit itu agar Mara tak melihat betapa jelek wajahnya ketika sedang merintih.


Mara menoleh, ia melihat Byan kini sedang meringis bak seseorang yang menahan rasa sakit. Mara melepaskan lengan Byan yang tak sengaja ia jadikan pegangan tadi, ia memperhatikan Byan yang terus saja memegangi lengannya.


Mara masih ingin bungkam, tapi sepertinya ia harus membuka suaranya karena melihat Byan dengan wajah memerah seolah menahan rasa sakit.


"Apa dia sungguh-sungguh kesakitan? Argh, dia hanya mengelabuiku, dia pasti sedang berakting agar aku membuka suara," Mara bermonolog di dalam hati.


Ia pun memilih tak mempedulikan Byan, ia memilih menyerahkan kertas obat pada apoteker yang sedang bertugas.


Setelah itu ia kembali lagi, namun ia duduk tak dekat dengan Byan. Ia memilih duduk di kursi yang berjarak jauh dari Byan.


Byan yang melihat Mara sudah menjauh darinya tidak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya ia masih merintih kesakitan, bahkan ia tidak tahan ingin segera meminum obat agar rasa sakitnya ini segera hilang.


Setelah beberapa menit, nama Byan pun di panggil. Mara memperhatikan penjelasan dari Apoteker yang menunjukkan beberapa obat untuk Byan.


"Banyak sekali obat yang ia terima? Apa dia benar-benar sakit?" Mara menyimpan berbagai asumsi yang belum bisa ia tebak.


"Tapi sakit apa dia? Tadi dokter Adryan bilang dia terluka? Bagian lengan?" Tiba-tiba mata Mara membola, saat itu pula Byan menghampirinya.


"Mara, namamu belum juga dipanggil?" Tanya Byan dengan duduk di sebelah Mara.


Mara hanya diam, tak lama kemudian namanya di panggil. Dan ia pun hanya mendapat dua jenis obat dari Apoteker. Tidak seperti Byan, obatnya begitu banyak. Ingin sekali ia bertanya pada Apoteker perihal sakit Byan. Namun ia tepiskan semua itu, menurutnya itu bukanlah urusannya.


Setelah ia berbalik, ia tak mendapati keberadaan Byan. Mara celingukan mencari-cari Byan ke sana-kemari. Ia pun sempat bertanya pada seseorang.


"Maaf, Bu. Apakah anda melihat kemana Pria yang bersamaku tadi?"


"Oh, dia berjalan kearah kantin," ucap Ibu-ibu berwajah ramah itu.


"Terimaksih, Bu," ucap Mara dengan sopan.


Tak menunda lagi, Mara pun segera menuju kantin rumah sakit yang jaraknya tak jauh dari apotek. Mara menelisik setiap sudut kantin dan benar saja, ia bisa melihat Byan tengah duduk di kursi pojok sana.


Mara pun menghampiri Byan, setelah jaraknya dekat ia melihat Byan sedang membuka beberapa jenis obat yang tadi diterimanya. Dapat Mara lihat dengan jelas, bahkan ia bisa menghitung jumlah obat yang Byan buka satu persatu.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam," Mara terkejut, enam obat itu cukup banyak baginya. Apalagi beberapa pil itu bentuknya begitu besar dan berwarna-warni.


Byan belum menyadari keberadaan Mara, ia masih serius menatap obat yang kini ada di telapak tangannya. Namun, satu hal yang ia sayangkan. Ternyata ia lupa membeli air mineral.


"Ya Tuhan, apa aku harus menelan semua pil ini pahit-pahit tanpa air?"

__ADS_1


Saat ia akan beranjak dari duduknya untuk membeli air mineral, seseorang datang dengan menaruh sebotol air yang ia butuhkan di atas meja.


Byan tersenyum, mengetahui siapa yang datang memberikannya satu botol air.


"Ini," Mara menyerahkan sebotol air mineral itu kehadapan Byan.


"Kau sangat pengertian," Byan mencoba meraih botol air, namun ia bingung ketika tangannya hendak membuka tutup botol karena sebelah tangannya menggenggam beberapa pil yang sudah ia buka.


Byan merutuki diri sendiri, tidak mungkin ia membuka botol air itu dengan satu tangan. Meskipun tenaganya cukup kuat, tapi ia rasa hal itu akan menyulitkan.


"Mara bolehkah ..."


Mara tahu apa yang Byan fikirkan, ia segera mengambil botol air itu dan membukakannya untuk Byan.


"Terimaksih," Byan pun meminum pil itu sekaligus dengan perasaan lega. Meski terasa sedikit pahit, setidaknya ia bisa melihat wajah Mara yang menemaninya saat ini.


Melihat Byan minum obat begitu banyak sekaligus, Mara merasa heran, bahkan ia tidak sanggup jika menjadi Byan.


"Apa kau sakit?"


"Tidak!" Jawab Byan tegas.


"Kau masih bercanda," Mara merasa Byan tidak berubah. Ia tetap saja Byan yang menyebalkan.


"Mas, apa kau sakit?"


"Tidak, Mara," jawab Byan masih menutupi.


"Astaga! Aku ini bodoh, jika kau tidak sakit untuk apa kau ke rumah sakit dan meminum pil sebanyak itu!" Mara merutuki diri sendiri, mengapa ia berfikiran sesempit ini.


"Mara, aku hanya terluka sedikit," Byan menebarkan senyuman manisnya kearah Mara. Hatinya merasa senang, kali ini Mara begitu mengkhawatirkan keadaannya. Apakah mungkin Mara sudah mulai peduli padanya??


"Terluka? Di mana?" Tanya Mara penasaran.


"Di si-ni!" Byan menunjuk area hatinya berada. Di tatapnya lekat-lekat wajah syahdu milik mantan istrinya yang begitu menghipnotisnya.


"Ck! Cobalah bersikap serius, Mas Byan!" Mara kini mulai memperlihatkan tanduknya yang sudah mulai muncul di atas kepala.


"Ya sudah, jika kau baik-baik saja. Aku hanya takut kau terluka karena menolongku semalam, aku tidak ingin berurusan dengan polisi lagi,"


"Polisi?" Byan tak mengerti mengapa Mara membawa-bawa polisi dalam pembicaraan mereka.


"Ya, aku takut kau akan melaporkanku pada Polisi, dan mungkin aku akan masuk di dalam penjara,"


Byan tahu ke arah mana Mara berbicara, ia pasti membahas masa lalunya dulu. Byan tertunduk lesu jika mengingat hal yang sempat ia lakukan dulu. Namun itu dulu, ia tak mungkin melaporkan Mara kepada polisi sekarang. Yang ada ia malah meminta beberapa orang suruhannya, untuk mencari keberadaan keempat pria yang semalam mengganggu Mara.


Tak ada niat buruk sedikitpun dari Byan, ia mendekati bahkan menolong Mara dengan perasaan tulus.


"Mara, sebaiknya kau segera pulang, karena aku juga akan pulang," Byan tak secerah tadi, wajahnya kali ini terlihat lesu hingga Mara merasa bersalah. Harusnya ia tak menyinggung masa lalunya, sekesal apapun itu harusnya ia tak bertindak seperti ini.


Mara tak mau menjawab apapun, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Aku pulang lebih dulu," tak seperti tadi yang berani bertindak, Byan kali ini sepertinya lebih menjaga jarak terhadap Mara. Ia berpamitan hanya dengan menyimpulkan senyumannya yang nyaris tak dapat terlihat.


"Apakah Byan marah padaku? Ya Tuhan, apa ucapanku ini begitu menyakitkan?"


Mara hanya bisa diam melihat tingkah Byan yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat, ia berjalan tertatih menuju ke arah parkiran mobil, namun ia lupa karena mengingat pagi ini ia datang ke rumah sakit dengan menaiki taksi.


"Astaga!" Mara menepuk keningnya sendiri, pantas saja ia tak menemukan keberadaan mobilnya di area parkiran rumah sakit.


Dari dalam mobil, Byan dapat melihat Mara yang kini sedang berdiri seolah kebingungan. Ingin rasanya ia menghampiri Mara, namun hatinya masih belum mampu untuk berhadapan dengan Mara.


"Sepertinya Mara memang benar-benar membenciku, apakah aku harus menyerah?" Byan masih memandangi Mara dari kejauhan. Hingga ia melihat sebuah taksi datang dan Mara menaiki taksi itu.


"Ternyata dia tidak membawa mobil," Byan pun melajukan mobilnya menuju ke kantor. Jika ia mengantar Mara, maka Mara pasti akan menolaknya mentah-mentah. Lebih baik ia memberi ruang waktu pada Mara kali ini, karena ia sendiri pun butuh waktu untuk sekedar menjernihkan fikirannya.


...****************...


"Samuel," panggil Malik kepada pria yang sering disapa Sam itu.


"Iya, Pak," Sam mendekat ke arah Malik.

__ADS_1


"Berikan laporan yang aku minta kemarin,"


"Ini, Pak," Sam memberikan beberapa laporan penting perusahaan pada Malik.


Secara rinci dan detail, Malik memeriksa laporan perusahaan yang kini dipimpin oleh Byan. Ternyata hasilnya cukup baik dan memuaskan. Byan mampu memimpin perusahaan ini tanpa cacat, bahkan dapat dibilang kian berkembang pesat.


"Apa yang harus aku lakukan untuk memisahkannya dengan Mara," Malik memijat keningnya yang kian berdenyut. Ia kini telah kehabisan akal untuk membuat Byan menyerah.


"Pak, apa ada sesuatu yang salah?" Melihat Tuannya kini terlihat cemas, Sam mencoba menawarkan sebuah bantuan.


"Sam, katakan padaku, apa Byan memiliki celah?"


"Celah apa maksud Bapak?" Sam kebingungan, menurutnya Byan tak memiliki celah sedikitpun. Bahkan Byan selalu membuatnya gelabakan.


"Pak Byan tidak memiliki celah atau pun cacat dalam pekerjaan," lanjut Sam lagi dengan perasaan takut. Takut salah berkata, takut Malik akan memarahinya.


"Apa kau sedang membelanya? Atau kau sedang menutupi kesalahannya? Kau disuap?"


Perkataan Sam itu adalah sebuah kejujuran, tapi Malik malah menilainya negatif. Yang Sam sayangkan, mengapa Malik begitu mengekang Byan yang jelas putra kandungnya sendiri. Sampai saat ini Sam masih bingung dibuatnya.


"Pak, maaf saya sudah berkata jujur," tidak mungkin pula bagi Sam memfitnah Byan. Meski pun Byan selalu mempekerjakannya semaunya, tapi Byan sangat mengerti bagaimana kondisi para bawahannya.


"Menurutmu, bagaimana jika Byan aku kirim ke cabang yang ada di Papua?"


"A-aapa????" Sam terkejut. Bagaimana pun sikap Byan padanya, ia merasa tak terima jika Byan akan dikirim ke cabang perusahaan yang ada di Papua. Ia juga tidak ingin Malik yang terkenal garang itu mengambil alih kepemimpinan Byan. Bisa habis jika perusahaan ini di pimpin kembali oleh Malik. Seluruh isinya mungkin akan pindah ke gurun pasir yang terasa panas dan gersang.


"Kau terkejut? Kau tidak terima?" Tanya malik menatap Sam penuh penekanan.


"Pak, jika Pak Byan di kirim ke Papua, siapa yang akan memimpin perusahaan di sini?"


"Kau!" Jawab Malik tanpa basa-basi.


"Pak, bagaimana mungkin?"


Sam masih tak percaya, entah apa tujuan Malik sebenarnya. Ia merasa benar-benar terkejut dan bingung dibuatnya.


"Perusahaan ini berjalan baik bukan karena Byan, tapi kau juga ikut andil di dalamnya. Jika bukan karena dirimu, pasti perusahaan ini tidak akan maju seperti sekarang! Lihat saja, di jam sesiang ini dia bahkan masih bermain-main di luar dan belum juga datang!"


Panjang lebar Malik menjelaskan, tetap saja ia mencari kelemahan Byan. Tanpa ia sadari, dari luar Byan tengah mendengarkan percakapannya dengan Sam sejak beberapa menit lalu.


Byan merasa kecewa, bahkan kekecewaannya ini dua kali lipat. Ketika tahu Malik tak mempercayai kerja kerasnya selama ini, usahanya tak pernah dihargai oleh Malik. Lalu dianggap apa perjuangannya selama ini??


"Apa aku akan dikirim ke Papua?" Byan tak mau menahan diri lagi, ia masuk bersama perasaan kecewanya.


"Pak, Byan?" Sam tertunduk lesu, ia tak mampu menatap wajah.


"Sesiang ini kau baru tiba di kantor? Padahal pagi-pagi sekali kau sudah keluar dari rumah. Apakah begini pekerjaanmu selama ini??" Malik kembali mencerca Byan dengan beberapa pertanyaan. Ia menatap Byan dengan remeh, ia menduga pasti Byan habis menemui Mara.


"Jika Abi memang ingin mengirimkan aku ke Papua, silahkan! Tapi itu tidak akan mengubah apapun, tidak akan mengendurkan niatku sedikitpun untuk terus mengejar Mara!" Byan tak mau mengalah begitu saja. Semakin Malik mengancam, maka ia semakin tertantang.


BRAKKKKK!!!


"Byan!!!!" Malik menggebrak meja dengan keras.


"Abi atau Umi sampai sekarang pun tidak pernah mengatakan alasan yang jelas mengapa Byan harus menjauhi Mara? Yang kalian lakukan hanya meminta Byan menuruti keinginan tak masuk akal itu!"


Byan kembali meluapkan segala isi hatinya. Menurutnya kali ini adalah waktu yang tepat. Jika nanti ia akan di pindah tugaskan ke Papua atau kemana itu, ia sudah tak peduli lagi. Toh sama saja, Malik tak pernah menghargai kerja kerasnya selama ini.


"Kau memang pembangkang! Mulai besok, kau sudah pergi dari sini, dan di pindahkan ke Papua!"


Byan tak menjawab apapun, bersama perasaan kecewanya ia pergi meninggalkan area kantor.


"Pak, Byan!!" Sam mencoba mencegah kepergian Byan. Namun Malik melarangnya.


"Biarkan saja anak pembangkang itu pergi, Sam!!"


Sam tidak bisa berbuat apapun, serba salah yang ia alami saat ini. Di satu sisi ia tak ingin ditinggalkan oleh atasan dinginnya itu, di sisi yang lainnya ia juga tak bisa membantah perintah Boss besarnya.


"Simalakama," Sam hanya bisa tertunduk lesu, sembari menunggu Malik menenangkan dirinya.


Bagi Malik ini adalah keputusan terberatnya, namun ia tak memiliki cara yang lain. Untuk sementara waktu biarlah Byan pergi dari kota ini agar bisa menjauh dari Mara.

__ADS_1


Byan menerima tantangan Malik, ia tidak takut menghadapi apapun di dunia ini. Namun yang menjadi fikirannya adalah Star. Bagaimana bisa ia hidup tanpa Star?


__ADS_2