Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Rencana Steven


__ADS_3

Star menangis di dalam kamarnya, baru saja semalam ia tak bertemu dengan Byan rasa rindu itu sudah mulai membuncah di hatinya. Tangis sesak dengan kedua mata yang mulai membengkak akibat terlalu banyak menangis membuat semua orang seisi rumah khawatir.


Sudah berbagai cara yang di lakukan Sumi untuk menghibur Star, namun sampai sekarang ia belum berhasil membuat Nona kecilnya itu berhenti menangis. Bahkan sejak siang, Star juga tak mau makan nasi atau makanan lainnya.


Begitu pula Andryani, ia terus saja menghubungi Malik agar segera pulang ke rumah karena cucu mereka terus-menerus menangis tanpa henti. Malik yang masih banyak kesibukan di kantor pun merasa kewalahan, karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Belum lagi masalah cucunya yang terus saja menangis. Jika seperti ini, ia khawatir dengan kondisi kesehatan Star.


"Papa," Star terus saja menyebut nama Byan diiringi isak tangis yang begitu sesak. Bahkan setiap telinga yang mendengarnya pun ikut terbawa suasana dan menangis.


Andryani berusaha menghubungi Byan melalui panggilan video, namun ternyata nomor telepon Byan tak bisa di hubungi alias di luar jangkauan.


"Ck! Sampai sekarang ia belum juga mengabari orang rumah!" Andryani merasa kesal, bahkan saat jarak jauh pun Byan begitu menjengkelkan menurutnya.


"Jika ia kesal dengan Abi atau Uminya, setidaknya dia harus memikirkan anaknya, bukan?"


"Bagaimana, Umi? Apa Byan sudah bisa di hubungi?" Malik yang baru saja tiba dari kantor pun segera menuju ke kamar Star di mana orang sedang berkumpul.


"Belum, bagaimana ini? Jika terus-menerus menangis kesehatan Star akan terganggu, Umi tidak ingin Star sakit lagi, Abi. " Andryani bingung. Entah apa yang akan diperbuat olehnya. Rasanya fikirannya kali ini sudah buntu.


"Umi tenang, jangan bersikap panik seperti ini," Malik mencoba menenangkan istrinya.


"Ini semua gara-gara Abi! Lihat sekarang, bahkan baru saja satu hari Byan pergi, rumah ini sudah kacau!" Andryani memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Rasanya kepalanya itu akan meledak saat ini juga.


"Umi, mengapa karena Abi?"


"Abi pura-pura lupa?? Ya Tuhan," Andryani tak habis fikir tentang fikiran suaminya kali ini. Sungguh ia begitu heran.

__ADS_1


"Tenanglah, Umi, lambat laun Star akan terbiasa dengan keadaan ini!" Malik berlalu begitu saja, jika ia terus berada di sini, ia akan membuat Andryani terus mengomelinya.


Malik menuju ke kamarnya dan mencoba menghubungi Kessy. Setelah sambungan telepon itu tergubung, Malik segera berbicara pada Kessy. Orang yang ia beri tugas untuk terus berada di dekat Byan dan menjadi Asissten pribadinya selama di Seoul.


"Hallo, apa kalian sudah sampai?"


"Sudah, Abi, apa terjadi sesuatu?" Tanya Kessy sedikit bersuara pelan.


"Katakan pada Byan untuk segera menghubungi Star!" Malik pun langsung mematikan panggilan sepihak. Ia berharap Kessy akan menyampaikan apa yang kini ia perintahkan.


Sementara di tempat yang berbeda, Kessy merutuki perlakuan Malik terhadapnya. Meskipun ia ditugaskan menjadi seorang asisten, setidaknya Malik tidak berbuat semaunya. Apa lagi mematikan panggilan sepihak. Sungguh Kessy tak menyukai hal itu.


"Huh! Mengapa dia meminta Byan untuk menghubungin anak manja itu? Biar saja dia pasti sedang menangis atas kepergian ayahnya, rasakan!"


Kessy tersenyum menyeringai, hingga ia lebih memilih tidur dan beristirahat dari pada menyampaikan pesan dari Malik. Ia melakukan ini untuk menghukum Star yang menurutnya tak pernah menyukai keberadaannya. Bahkan sikap Star pada dirinya amat tak sopan.


Kessy membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk beralaskan sprei abu-abu. Tak lupa ia pun segera menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya, karena udara di sini begitu dingin dan tubuhnya dirasa belum terbiasa menerima cuaca di negara ini.


...****************...


Setelah mendapatkan izin dari Ibunya, Mara pun segera mengatakan hal ini pada Steven. Ia juga menyetujui untuk meninjau tempat terlebih dahulu di sana. Mungkin ini juga kesempatan untuknya berlibur dan menenangkan fikiran kacau ya akhir-akhir ini. Meski sebenarnya ini adalah perjalanan bisnisnya bersama Steven.


"Benarkah?" Steven merasa sedikit tak percaya apa yang kini Mara sampaikan. Namun perasaannya saat ini begitu bahagia.


"Aku akan mempersiapkan kepergian kita besok!" Steven menggenggam tangan Mara dengan erat. Namun seprti tadi, perasaan Mara menjadi tak enak hingga ia harus segera menepis pegangan tangan Steven.

__ADS_1


"Steve, itu saja yang ingin ku sampaikan," ucap Mara dengan menarik perlahan tangannya dari genggaman Steven.


Merasa tak ingin di sentuh olehnya, Steven pun mengendurkan pegangan tangannya pada Mara. Ia segera menepis perasaan kecewanya, karena kabar yang ia terima hari ini sudah cukup membuatnya bahagia.


"Selesaikanlah pekerjaanmu, aku akan mengurus tiket untuk keberangkatan kita besok!" Steven pergi begitu saja meninggalkan Asmara dengan perasaan bahagianya.


Akhirnya Mara mau ikut dengannya ke Seoul. Tempat yang sudah ia sediakan untuk melamar Mara secara romantis. Bahkan, membayangkannya saja sudah membuatnya begitu bahagia.


Sementara Mara masih berfikir bimbang, ia merasa pilihan yang ia ambil belum didasari dari dalam hatinya. Namun, motivasi dan dukungan yang ia dapatkan dari Steven membuatnya bertekad. Meski ini adalah pertama kali baginya, ia harus memulai dengan penuh kesiapan. Ia berharap, ini adalah langkah awal menuju kesuksesan ya sebagai pengusaha kue.


"Berhasil atau tidaknya, itu urusan nanti. Yang penting kamu harus berani mengambil langkah terlebih dahulu, itu kunci sukses sebenarnya," pesan yang Ibunya sampaikan, terus terngiang-ngiang di kepalanya. Hingga dukungan itu pun menjadi salah satu penguat dan telat dalam dirinya.


"Semoga langkah yang aku ambil ini tepat," Mara mengusir semua perasaan ragu di dalam hatinya. Ia terus saja tanpa henti menguatkan diri sendiri. Kelak, jika ia sukses, semua itu pun akan kembali memberikan kemudahan bagi keluarganya.


Pagi pun tiba, Mara segera berpamitan kepada Ibu dan Adik kesayangannya. Ia pun segera berangkat menuju ke Bandara.


"Bu, aku pinjam Mara," ucap Steven sembari menyalami Kamila dan berpamitan.


"Ibu juga titip Mara," Kamila berharap Steven akan menjaga putrinya itu.


"Ibu, percayakan semuanya padaku," seakan mengucapkan janji, dengan yakin Steve mencoba membuat Kamila percaya padanya.


"Steve, ayo!" Melihat Steven yang tak kunjung masuk ke dalam taksi, Mara mencoba memanggilnya. Karena jadwal penerbangan mereka tinggal setengah jam lagi. Mara khawatir mereka akan ketinggalan pesawat.


Steven pun segera masuk ke dalam taksi, ia duduk tepat di sebelah Mara.

__ADS_1


Baik Steven maupun Mara sama-sama melambaikan tangan ke arah luar, sebagian tanda perpisahan dengan Kamila dan Randy.


Kamila dan Randy mengantarkan kepergian Mara bersama Steven menuju ke Seoul. Mereka berharap, perjalanan itu akan selamat sampai tujuan.


__ADS_2