
Masih menunggu Mara, Byan tetap duduk di pinggiran ranjang sembari memandangi wajah itu tanpa bosan. Tangannya terasa gatal, ingin sekali menyibakkan helaian rambut yang sejak tadi menutupi wajah Mara dan menghalangi pandangannya.
"Aku tidak bisa diam, ini sangat mengganggu," batin Byan, sembari tangannya yang bergerak mengarah ke wajah Mara.
Belum sempat menyingkirkan helaian rambut itu, Mara bergerak tiba-tiba sehingga membuat tangan Byan menyentuh wajahnya tak sengaja.
"Eughhh," Mara menggeliat, merasa ada sebuah benda yang mengenai wajahnya. Namun karena matanya masih lengket, ia kembali meneruskan tidurnya.
"Bagaimana ini?" Byan kebingungan. Ia pun memutuskan untuk berbaring di sebelah Mara dan memejamkan matanya.
Setelah beberapa detik, Byan membuka sebelah matanya menatap ke arah Mara. untuk memastikan apakah Mara sudah bangun atau belum. Ternyata Mara masih memejamkan matanya. Dari situ, Byan hanya bisa terus mengulum senyumannya. Baginya, tingkah Mara saat tidur sungguh menggemaskan seperti seorang bayi.
Berbaring sembari menyangga kepalanya menatap Mara, membuatnya tak ingin lagi beranjak dari posisi ini. Sayangnya, ia hanya bisa menatap wajah itu tanpa berani menyentuhnya. Padahal, hasratnya begitu dalam untuk bertindak memangsa sosok Mara yang begitu ia rindukan. Jika lelaki lain, bukan tidak mungkin Mara sudah habis detik ini.
Byan menggeser tubuhnya, ingin lebih dekat dengan Mara. Namun hal itu justru membuat telinga Mara terusik, akibat suara sprei yang ditimbulkan oleh pergerakan tubuh Byan.
Perlahan Mara membuka matanya, samar-samar dapat terlihat sosok seseorang di depannya. Hingga ia memutuskan mengumpulkan nyawanya lebih dulu, kemudian kembali membuka matanya.
"Apakah aku sedang bermimpi??"
Mara melihat sosok Byan yang terus memandangi dirinya sembari tersenyum. Ia pun kembali membalas senyuman Byan itu.
"Bahkan siang bolong seperti ini aku masih memimpikanmu," Mara mengayun tangannya. Menyentuh wajah Byan yang kini terlihat berbeda dari sebelumnya.
Menerima sentuhan tangan Mara pada bagian wajahnya, Byan hanya bisa menelan saliva. Sentuhan ini amat membuatnya mabuk kepayang. Mara benar-benar terlihat seperti tengah menggoda dirinya.
"Kau terlihat berbeda," Mara menggeser tangannya kesana kemari menyentuh wajah Byan yang kini ditumbuhi bulu-bulu halus. Padahal sebelumnya, wajah itu bersih. Apa mungkin karena sudah lama tak bertemu, jadi Byan kali ini terlihat berbeda?
"Tak bisakah kau muncul dikehidupanku yang nyata? Mengapa kau hanya berani menampakkan wajahmu dalam mimpiku, hah???" Mara tersenyum, kemudian ia memejamkan matanya kembali dengan tubuh terlentang.
"Aku sudah ada dalam kehidupan nyatamu, bahkan sejak tadi,"
Mendengar suara khas milik Byan, Mara pun sontak terkejut dan kembali membuka matanya. Di lihatnya kembali Byan yang masih ada disebelahnya, namun kini sudah berganti posisi. Byan sudah tak berbaring lagi, ia kini telah duduk dengan kaki yang bersila.
"Ma-mas Byan???" Mara terperanjat, ia pun segera bangun dari pembaringan.
__ADS_1
"Kau begitu nyenyak, apakah kau mimpi indah??" Tanya Byan mengulum senyuman.
"Bahkan aku takut mengganggu jika membangunkanmu," lanjut Byan.
"A-apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Mara tak mengindahkan pertanyaan Byan.
"Aku bebas melakukan apapun, ini kamarku," jawab Byan enteng.
"A-apaaa????"
Mara benar-benar kalah telak, ia baru ingat jika saat ini tengah berada di Seoul. Sayangnya, ia terlalu terlena dan tidur pulas saat melihat kasur empuk tanpa mencari tahu lebih dulu siapa pemiliknya.
Byan menyondongkan tubuhnya, semakin mendekat ke arah Mara merasa gemas dengan ekspresi yang tengah Mara tunjukkan kepadanya. Andai Mara adalah makanan, maka ia akan langsung menyantapnya hingga habis.
"Jika kau seperti ini, aku ingin segera me-"
Bughh!!
Mara melempar wajah Byan dengan bantal. Kemudian ia segera turun dari ranjang, menghindari Byan.
Mara tak lagi mengeluarkan kata-kata, sungguh ia begitu malu dengan kelakuannya sendiri. Apalagi jika mengingat jika ia telah menyentuh wajah Byan. Ingin sekali ia melepas wajah malunya itu dan meletakkan kedalam saku.
"Mara, kemarilah,"
"Maaf soal tadi, aku benar-benar tidak tahu jika ..."
"Tidak perlu minta maaf, aku justru berterimakasih karena mimpimu itu aku jadi tahu jika kamu masih meng-"
"Mimpiku itu bukan tentangmu, jangan berbangga Mas," Mara masih mengelak. Ia sangat ingin meluruskan hal ini. Susah sekali bagi Mara untuk mengakuinya.
"Benarkah? Lalu mimpi itu untuk lelaki lain??" Tanya Byan dengan mengangkat sebelah alisnya tak percaya.
"Ya!" Mara menjawab tegas.
"Jika untuk lelaki lain, mengapa kamu terlihat begitu menikmatinya saat menyentuhku??" Byan melempar bantal ke kasur, kemudian ia turun dari ranjang mendekati Mara yang hanya berdiri bak patung.
__ADS_1
"Menikmati? A-apa maksudmu, Mas? Sentuhan itu tidak disengaja, bahkan aku tidak sadarkan diri."
"Mara, apa kau yakin?"
Byan sungguh rindu saat-saat seperti ini. Di mana ia bisa berbicara banyak bersama Mara. Ia juga rindu ingin mengganggu dan menjahili Mara.
"Ya, aku begitu yakin. Lagi pula aku hanya menyentuh wajahmu, bukan yang lain," elak Mara lagi.
"Heuh, kau bahkan tak ingat apa yang sudah terjadi dengan kita," Byan memicingkan senyuman jahatnya.
"Apa yang terjadi, Mas? Jangan macam-macam!"
"Coba lihat bagian lehermu,"
Mara langsung memegang area lehernya, kemudian ia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi leher jenjangnya.
Byan hanya bisa mengulum senyumannya kembali, entah apa yang ada difikirannya, hingga ia tega mengerjai Mara.
"Ada apa di leherku??"
"Ada sesuatu yang tidak bisa kamu lihat," jawab Byan senang.
Mara mengarah pada sudut ruangan, di mana terdapat cermin dan ia segera menghampiri cermin itu. Ia mencari-cari sesuatu dilehernya, hal yang ia takutkan akibat ulah Byan. Ternyata, ia tak menemukan apapun. Tak ada hal atau jejak yang ditinggalkan di leher jenjangnya.
"Kamu mengerjaiku, Mas?" Mara sudah menampakkan wajah marahnya.
Ia pun segera membalikkan badan, ingin memberi pelajaran pada Byan yang tak pernah bisa berhenti menjahili dirinya. Namun, sepetinya ia sudah terlambat. Byan sudah berada tepat dibelakangnya. Sehingga saat ia berbalik, wajahnya langsung bertemu dengan wajah Byan.
"Mara, kau sudah tak marah lagi??"
Byan semakin melangkah dekat dan lebih dekat. Ia sudah tak ingin berdebat lagi. Yang ingin dilakukannya saat ini hanyalah mendekati Mara tanpa perdebatan, tanpa membahas masalah lain, dan tanpa penolakan dari Mara.
"Berhenti, Mas. Jangan mendekat!" Perintah Mara.
Seperti pernah mengalami hal seperti ini, di mana ia berada dalam satu kamar bersama Byan. Ia tak ingin jika mantan suaminya itu melakukan hal-hal yang pernah dilakukan sebelumnya. Hingga Mara pun harus bersikap berhati-hati.
__ADS_1
"Mara, berbulan-bulan kita tidak bertemu, aku merasa sudah menjalaninya berabad-abad. Aku merindukanmu, Mara. Aku sangat ingin memelukmu, bolehkah aku melakukannya???"