Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Dilema masa lalu


__ADS_3

"Sejak kapan kalian melakukan ini di belakangku, hah???" Setelah selesai memberi peringatan pada Mara hari ini, kini Byan berganti menginterogasi Pak Kurdi dan Sumi ketika sudah tiba di rumahnya.


"Pak Kurdi, Sumi?" Tanya Byan penuh dengan tatapan marah. Emosi Byan kali ini sangat berapi-api. Ia begitu menyesali perbuatan kedua karyawannya itu karena telah membohongi dirinya.


Namun Pak Kurdi dan Sumi hanya bungkam tak berani berkata apapun. Melihat Byan marah seperti ini membuat mental keduanya seperti kerupuk yang tengah tersiram Air.


"Jawab!!!" Byan kini sudah mengeluarkan dua tanduknya.


"Byan, ada apa ini?" Andryani yang mendengar keributan di ruang tamu pun segera menghampiri dengan perasaan terkejutnya. Ia tak mengerti mengapa Byan begitu marah pada Pak Kurdi dan Sumi.


"Pak kurdi, Sumi, saya tanya sekali lagi! Atau kalian berdua saya pecat!!"


"Byan, cukup! Kamu bisa bicara baik-baik dengan kepala dingin, kenapa kamu bisa sekeras ini?" Andryani merasa bingung akan tindakan Putranya yang begitu keras terhadap karyawan mereka.


"Pak, tolong jangan pecat kami," kini Sumi pun mulai angkat bicara, ia menakupkan kedua telapak tangannya dengan penuh penyesalan berharap Byan akan memaafkan perbuatan mereka.


"Sebenarnya, Non Star mengenal wanita itu sejak kita datang ke panti asuhan. Semenjak itu, Non Star terus meminta kami untuk mengantarnya menemui wanita itu, maafkan saya pak," jelas Sumi dengan suara bergetar diiringi tangisan yang begitu sesak.


"Kalian tahu siapa wanita itu?" Tanya Andryani di tanggapi dengan gelengan kepala oleh Sumi dan Pak Kurdi.


"Byan, memangnya siapa wanita yang kalian maksud? Apakah dia menyakiti Star? Kenapa kamu bisa semarah ini?" Tanya Andryani penuh selidik pada Byan.


"Mulai hari ini, saya tidak ingin Star bertemu dengan wanita itu lagi, apapun alasannya!!"


Byan kali ini benar-benar marah, hingga membuat keduanya takut dan tak berani melakukan apapun. Tanpa ia sadari, dari balik tembok Star melihat semuanya. Star pun mendengar semua pembicaraan orang-orang dewasa itu hingga membuatnya menangis.


Tak ingin ketahuan, Star pun berlari menuju ke dalam kamarnya. Entah apa salah Tante Cantik itu, hingga Papanya tak mengizinkan jika ia bertemu dengannya.


Setelah selesai memberi peringatan pada Sumi dan Pak Kurdi, Byan pun langsung menuju ke dalam kamarnya. Namun ketika ia akan masuk ke kamar, ia mendengar suara tangisan dari dalam kamar Star.


Perasaannya campur aduk, ia takut terjadi sesuatu dengan Putrinya hingga ia memutuskan langsung menuju ke dalam kamar Star.


Byan terkejut mendapati Star tengah meringkuk diiringi tangisan yang tersedu-sedu.

__ADS_1


"Star, ada apa, Nak?" Byan segera menghampiri Star dan mencoba memeluknya.


Namun Star segera menepis tangan Byan, menolak pelukan dari Byan.


"Star," Byan mencoba lebih sabar menghadapi Star kali ini. Ia yakin tangisan Star kali ini ada hubungannya dengan Asmara.


"Papa, apa salah Tante Cantik? Kenapa Papa tidak izinkan Star bertemu dengannya?" Rengekan Star tepat seperti dugaan Byan.


"Star, Papa tidak melarang Star untuk berteman atau bertemu dengan siapapun, kecuali orang asing itu,"


"Tante itu bukan orang asing, Pa!" Teriak Star, ia merasa tak terima karena Papanya menyebut Mara orang asing.


"Sayang, tidak perlu membelanya berlebihan. Papa hanya ingin melindungimu, Papa melakukan semua karena ingin yang terbaik untukmu," Byan hampir saja naik pitam karena tahu jika Star lebih memilih membela Mara. Namun ia berusaha untuk lebih bersabar lagi karena Star adalah anak-anak yang perlu bimbingan dan belum mengetahui banyak hal.


"Star, mengertilah. Semua yang Papa lakukan ini adalah yang terbaik untuk keluarga kita,"


"Tapi apa salah Tante Cantik itu, Pa?"


"Sebaiknya Star segera istirahat, Papa akan bacakan dongeng untuk Star," Byan mencoba mengalihkan pembicaraan, ia segera menarik selimut untuk Star.


Star pun mematuhi perintah Papanya, ia pun mendengarkan dongeng yang Byan bacakan untuknya hingga memejamkan mata.


Setelah Star tertidur, Byan pun memutuskan untuk keluar dari kamar Putrinya. Ketika hendak menutup pintu, Byan dikejutkan dengan kehadiran Andryani yang kini tengah menunggunya dengan melipat kedua tangan didepan dada.


"Umi??"


"Byan, apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Andryani penuh selidik, karena Byan belum juga memberikan penjelasan pada dirinya.


"Bukan apa-apa, hanya masalah kecil saja," jelas Byan tak ingin panjang lebar dan berusaha menutupi masalah Asmara dari Andryani.


"Byan, jika ini masalah kecil, kenapa kamu seperti orang yang ketakutan? Sebenarnya siapa wanita itu?"


"Umi, Byan bisa mengatasinya. Umi jangan khawatir!" Byan berlalu begitu saja menuju ke kamarnya meninggalkan Andryani.

__ADS_1


Sementara Andryani semakin geram dengan sikap Byan yang begitu keras kepala dan egois. Ia hanya bisa memijit keningnya yang semakin terasa berdenyut akibat ulah anaknya.


...****************...


Mengingat apa yang terjadi padanya hari ini, ia merasa Byan adalah sosok yang berbeda dari hari sebelumnya.


Sebelumnya Byan seperti begitu dekat dengannya, berani menyentuhnya, namun meninggalkannya begitu saja. Hari ini Byan datang kembali, namun dengan sosok yang berbeda. Sosok yang keras, bahkan menyeramkan bagi Mara.


Mara berfikir, sebenarnya apa yang diinginkan Byan padanya? Kenapa ia hadir dalam bentuk yang berubah-ubah?


Belum lagi masalah Star, ia tak menyangka jika Star adalah Bintang. Entah takdir apa yang Tuhan rencanakan untuknya hingga ia harus mengalami hal ini dan bertemu kembali dengan orang-orang di masa lalunya.


Jika akan tahu begini, mungkin ia lebih memilih untuk tidak tinggal di Jakarta. Namun semua itu tidak bisa disesali, mengingat sumber rizki yang ia dapatkan berada di Ibu Kota ini.


"Mara, apa ada yang terjadi?" Tanya Kamila melihat Putrinya sedang melamun di teras Rumahnya.


"Ibu, tidak ada apa-apa." Mara hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ibunya.


"Ibu perhatikan beberapa hari ini sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja, ceritakanlah pada Ibu, mungkin Ibu bisa membantu,"


"Ibu, Bintang ..."


Mara tak bisa lagi melanjutkan perkataannya, ia pun segera memeluk tubuh Ibunya.


"Kamu bertemu Bintang?" Tanya kamila penasaran.


"Bintang, dia sudah besar, Bu. Dia juga pintar dan cantik," Mara membayangkan wajah Bintang yang begitu ia rindukan. Tapi disisi lain, bayangan wajah Byan yang sedang marah kepadanya pun ikut mengisi fikirannya.


"Ibu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi Ibu yakin kamu bisa mengatasi masalah ini, kamu kuat, Mara."


Mara merasa sedikit tenang ketika sudah menceritakan secercah masalahnya kepada Ibunya meski tidak semuanya. Perihal Byan, ia belum berani mengatakan apapun. Ia lebih baik diam dan menunggu waktu yang tepat sembari memikirkan cara memecahkan masalah rumit yang ia hadapi kali ini.


Setelah bertemu dengan Byan, Mara tak lagi dapat tidur dengan nyenyak. Fikirannya terus menjalar kemana-mana. Ingatannya pun kembali berputar ketika bersama Byan.

__ADS_1


__ADS_2