Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Menguatkan Hati


__ADS_3

"By, tunggu sebentar aku ingin pergi ke toilet!" Pinta Kessy, berharap Byan tak meninggalkannya malam ini seperti sebelumnya.


"Cepatlah!" Ucap Byan dengan nada tinggi.


Kessy hanya bisa merutuki perilaku Byan yang tak pernah berubah. Kata-kata kasar yang Byan lontarkan sering sekali membuatnya sakit hati. Bahkan ingin sekali Kessy membalas perbuatan Byan itu. Namun, masih banyak pertimbangan di hatinya. Hingga ia hanya memilih untuk lebih bersabar menghadapi Byan.


Ketika menuju ke toilet dengan langkah yang terburu-buru, tubuhnya bertabrakan dengan seseorang.


"Aw!!!" Kessy merasa kesakitan karena lengannya menabrak keras seorang pria.


"Kau tak apa, Nona?"


Kessy melihat pria setengah bule yang tak sengaja ia tabrak, sepertinya ia merasa tak asing dengan wajah itu. Namun ia lupa, di mana pernah melihat pria itu.


"Nona?" Steven melambai-lambaikan tangannya di depan wanita yang tadi sempat menabraknya.


"Maaf, aku terburu-buru," Kessy takjub dengan bola matanya yang berwarna sedikit kebiruan, wajahnya ya diisi dengan bulu halus itu membuat Kessy membayangkan sesuatu.


"Oh, No! Apa yang aku fikirkan?" Kessy pun berlalu saja dari hadapan Steven. Ia melaju cepat menuju ke dalam Toilet.


"Ini semua gara-gara Byan, jika dia tidak memintaku cepat pasti aku tidak akan menabrak pria bule itu!" Kessy merutuki Byan, menurutnya hal yang terjadi padanya sekarang adalah kesalahan Byan.


"Wanita aneh!" Steven pun memilih pergi menuju ke hotel di mana tempat ia menginap. Ia juga sudah membelikan obat untuk Mara yang sempat mengatakan jika sedang sakit. Mungkin ia keleleahan dan masuk angin karena belum terbiasa dengan cuaca dingin di Seoul.


Padahal niatnya malam ini ingin memberikan kejutan untuk Mara. Namun Mara malah jatuh sakit, ia tak mungkin meneruskan rencananya itu. Kesehatan Mara baginya hal yang utama, jika ia sudah sembuh maka ia tak akan menunda lagi apa yang sudah jauh-jauh hari ia persiapkan.


Tok! Tok!


Steven mengetuk-ngetuk pintu kamar Mara, namun tak kunjung di buka. Ia pun mencoba menghubungi Mara via panggilan telepon, namun Mara pun tak segera menjawab.


Steven semakin khawatir, ia kemudian mencoba mengetuk pintu lebih keras. Ia takut terjadi sesuatu pada Mara di dalam sana.


Tokkkk!! Tokkkk!!!


"Mara, kau dengar aku?"


Mara tak menjawab atau merespon panggilan Steven meski sebenarnya ia mendengarnya. Ia masih ingin sendiri, tanpa ada yang mengganggu.


"Mara, jika kau sakit ayo kita pergi ke Hospital!!" Teriak Steven lagi dari luar.


Ternyata Steven begitu mengkhawatirkannya. Mara tak punya jalan lain selain membukakan pintu untuk Steven. Dari pada nanti akan menjadi keributan dan mengganggu tamu lain yang menginap di hotel ini.


Mara memilih melihat kondisi wajahnya terlebih dulu di depan cermin sebelum keluar. Ia memeriksa bagian matanya yang sudah sembab, akibat menangis terlalu lama. Mara memilih membasuh wajahnya, kemudian ia pun segera membukakan pintu dan bertemu Steven.


"Steve, maaf aku habis dari kamar mandi," alasan Mara. Ia tak mungkin berkata yang sejujurnya.


"Syukurlah kau baik-baik saja, apa kita perlu pergi ke Hospital?" Tanya Steven masih khawatir. Matanya menelisik setiap jengkal wajah Mara. Namun yang terlihat jelas hanya bagian mata yang memerah.


"Aku hanya butuh istirahat, besok pagi aku akan segera membaik," tolak Mara. Ia tak mau jika malam ini merepotkan Steven kembali.


"Ini, minumlah. Kau akan lebih cepat membaik," Steven menyerahkan beberapa jenis vitamin dan obat masuk angin kepada Mara yang tadi sempat ia beli.


"Terimaksih, kau begitu peduli padaku. Selamat beristirahat, Steven."


Mara segera menutup pintu begitu saja, ia tak ingin berlama-lama berbicara dengan Steven. Hal itu pasti akan membuatnya curiga. Lebih baik ia segera mengurung diri di dalam kamar dan mempersiapkan diri untuk pergi besok.


Bagaimana pun, ia harus tetap menguatkan hati. Hatinya yang semakin hari semakin rapuh.


Sementara di luar, Kessy sibuk mencari keberadaan Byan. Ia mencoba menelpon Byan karena sejak tadi tak juga menemukannya.


"Byan, kau di mana?" Setelah sambungan telepon terhubung, Kessy langsung saja mengomel. Ia yakin jika Byan kali ini sudah meninggalkan dirinya sendiri.


"Aku sudah pulang!" Byan langsung menutup telepon sepihak. Ia berharap dengan perkataannya itu Kessy akan segera pulang dan tak lagi berada di sekitaran hotel di mana ia sedang mengintai seseorang.


Byan berjalan cepat setelah mengetahui Steven yang sejak di restoran tadi ia ikuti menuju ke sebuah kamar. Ia juga dapat melihat jelas dengan siapa Steven berbicara tadi. Ternyata dugaannya benar, jika Mara memang benar-benar ada di Seoul. Dan itu bersama Steven, di dalam hotel yang sama.


Sungguh Byan juga ingin memastikan jika Mara dan Steven tidak berada dalam kamar yang sama pula. Jika hal yang mengganjal hatinya itu terjadi, maka ia tak akan memberi ampun lagi pada Steven.


Byan tak ingin menunda lagi, ia segera menuju ke arah kamar di mana ia melihat Mara. Byan mengetuk pintu kamar itu beberapa kali.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Mendengar suara pintu di ketuk kembali, Mara merasa kesal. Apalagi yang akan Steven perbuat, ia akan membuka pintu dan mengomeli Steven.


"Steve, ada apa lagi?" Mara yang membuka pintu itu pun langsung terkejut seketika. Matanya benar-benar membola ketika melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang.


"Mas, Byan?" Matanya mulai memerah, tak dapat ia ungkapkan lagi dengan kata-kata. Hatinya pun tak dapat menolak, jika sebenarnya ia sungguh mengharapkan kehadiran Byan beberapa hari ini. Dan sekarang, jelas terlihat jika Byan sudah berdiri di ambang pintu.


Byan segera mendorong pintu dan masuk ke dalam kamar Mara. Ia pun tak lupa untuk menutup pintu itu kembali rapat-rapat.


"Mara," Byan memeluk erat tubuh Mara, tanpa ingin melepaskannya.


"Mas, tolong lepaskan," pinta Mara dengan perlahan, karena untuk memberontak saat ini, ia sungguh tak memiliki kekuatan.


"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu," Byan malah semakin mengeratkan pelukannya atas tubuh langsing Mara. Dikecupinya puncak kepala Mara yang menyebarkan wangi shampo beraroma mawar. Di hirupnya dalam-dalam aroma itu, hingga membuatnya mabuk kepayang.


Hati Mara yang penuh emosi kini luluh kembali, sebegitu berartinya Byan baginya, meski ia sudah melihatnya bersama wanita lain dengan jelas. Meski ia juga sudah sering mendapatkan peringatan dari Andryani untuk tak mendekati Byan lagi. Namun ia tak peduli akan itu, ia masih saja mengikuti kata hatinya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Byan setelah melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua bahu Mara dan menatapnya penuh kerinduan. Namun di balik itu, ia juga membutuhkan penjelasan tentang apa yang telah ia lihat tadi.


"Apa yang aku lakukan? Seharusnya aku yang bertanya hal itu padamu, Mas!" Jawab Mara dengan nada kesal. Mara menepis kedua tangan Byan yang memegang bahunya hingga terlepas.


"Mara, ini tidak seperti yang kamu kira. Sesuatu telah terjadi dan ..."


"Dan kamu pergi bersama Kessy? Begitu?"


Kebiasaan Mara memang begitu, belum juga selesai Byan berbicara ia sudah memotongnya lebih dulu. Tatapan tajam seolah membutuhkan penjelasan itu dapat terpancar jelas dari raut wajahnya, Byan pun segera mengambil nafas dalam untuk memperjelas semuanya malam ini juga.


Benar memang, antara ia dan Mara sama-sama saling salah paham. Maka dari itu, ia tak ingin kesalahpahaman ini berlarut-larut.


"Mara, izinkan aku menjelaskan, jangan potong apapun ucapanku,"


"Kamu memang tidak pernah berubah, Mas! Kamu selalu berbuat semaumu, tanpa memikirkan perasaan orang lain."


"Mara," Byan sungguh tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia tahu jika saat ini Mara amat kesal padanya. Dari tatapan matanya, Mara begitu marah dan kecewa. Byan berusaha mendekat kembali, namun Mara segera menghindar.


"Mas, sebaiknya kamu segera pergi!" Usir Mara pada Byan. Ia membalikkan badannya tak ingin lagi berhadapan dengan Byan.


"Tidak!"


"Tidak, Mara!" Byan pun masih sama, ia tak mau menuruti perintah Mara. Meski ia sudah diusir berkali-kali, hal itu justru membuat gejolak di hatinya tak bisa tertahan lagi.


Byan mendorong tubuh Mara hingga terhuyung. Hampir saja Mara terjatuh jika Byan tidak sigap menangkap tubuh itu. Byan menghadapkan tubuh langsing itu kearahnya. Dan kini mereka sama-sama saling berhadapan tanpa jarak lagi.


Mata keduanya saling bertatap, seakan sama-sama membutuhkan sebuah penjelasan. Penjelasan yang setidaknya bisa membuat mereka berdua tak lagi salah paham.


"Sudah aku katakan, tolong dengarkan aku dulu, Mara," ucap Byan dengan lirih amat dekat ditelinga Mara. Memperlakukan wanita yang ia cintai membutuhkan tenaga ekstra, ia harus lebih sabar dan terus sabar agar bisa mendapatkan hati Mara sepenuhnya.


Mara masih menatap mata Byan, ia juga masih mencari-cari kejujuran dari dalam diri Byan. Namun bukannya Byan menjelaskan apa yang ingin ia dengar, Byan malah mengecup bibir Mara.


Cup!


"Aku merindukanmu," ucap Byan setelah selesai mengecup sekilas bibir ranum itu.


Perpisahan memang bukan pilihan bagi keduanya, tapi pertemuan bisa menjadi obat rindu yang sama-sama mereka rasa selama ini.


Mara mengedip-ngedipkan matanya, ia mencoba menghilangkan perasaan canggungnya. Hatinya yang terus berdebar itu pun ia coba untuk menetralkannya kembali.


"Coba kamu bayangkan, apa yang aku fikirkan saat melihatmu bersama Steven," ucap Byan tak ingin kehilangan kesempatan menjelaskan apa yang ia rasa saat ini.


"Dan ..." Byan mengehela nafas panjang. Berusaha mencari jeda agar gejolak emosinya tak meledak saat ini juga.


"Dan kamu bersama Steven di dalam hotel yang sama, coba kamu tebak apa yang aku fikirkan sekarang, Mara?"


Byan bisa sedikit lega, setidaknya Mara tak memotong ucapannya lagi kali ini. Itu berarti telinga Mara dipasang baik-baik dan mendengarkan semua penjelasannya.


"Aku tidak memintamu berfikir macam-macam Mas, karena ..."


"Itulah Mara, jangan menilai apa yang kita lihat tanpa tahu kebenarannya terlebih dahulu. Jangan asal bertindak atau menebak hal yang belum kita ketahui tanpa alasan yang pasti, please ..."


Byan kembali memeluk tubuh Mara. Ia bahkan tak tega melihat Mara yang kini sudah mengeluarkan air matanya.


"Kau boleh marah padaku, tapi tolong percaya apa yang aku katakan," lanjut Byan lagi.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau katakan?" Mara mendongakkan kepalanya, ia menatap mata Byan yang kini menatap matanya.


"Aku percaya padamu, Mara," Byan merapatkan wajahnya, ia mengecup kembali bibir ranum milik mantan istrinya itu. Sungguh, bibir itu amat membuatnya candu. Hingga berulang-ulang pun ia masih tak bosan dan ingin terus mencicipinya.


Pertahanan Mara sudah runtuh, sentuhan Byan pun kini sudah membuatnya kembali melemah. Saat nafas hangat itu menyapu wajahnya, tangannya meremas kuat kemeja putih yang Byan kenakan.


"Mara, izinkan aku," Byan kembali melu*at bibir itu dengan dalam dan penuh kelembutan. Ternyata rasa rindu yang ia bendung beberapa hari ini sudah memuncak dan ia tumpahkan. Tak ingin rasanya ia melepas atau menghentikan permainan bibir ini.


"Eugh," Mara mulai melenguh merasakan sensasi yang ia terima dari perlakuan Byan. Sungguh, sampai saat ini ia pun tak bisa menolak perlakuan Byan.


Byan mengarahkan tubuh Mara pada Ranjang tidur. Ia mendudukkan bokongnya di pinggiran ranjang. Kemudian memposisikan Mara di atas pangkuannya.


Byan menarik tangan Mara agar melingkar di lehernya. Ingin sekali ia menyingkap kaos putih longgar yang kini Mara pakai. Namun, tidak etis rasanya jika ia langsung melakukan hal itu.


Byan memilih secara perlahan menggerakkan tangannya, menyentuh dan meraba bagian tubuh Mara, tangannya pun menyelinap masuk ke dalam kaos putih longgar itu. Apa yang ia cari, kini telah tersentuh olehnya.


Merasa kehabisan nafas, Mara segera melepaskan pagutan bibir diantara mereka. Ia menatap Byan yang jelas masih menginginkan hal lebih darinya.


Meski Mara telah melepaskan pagutan bibir itu, Byan tak berhenti menggerakkan tangannya dari balik kaos putih Mara menyentuh salah satu benda kenyal miliknya. Lagi-lagi ia membuat Mara terpejam, situasi itu ia manfaatkan untuk kembali menyatukan bibir mereka kembali.


"Eughhhh ..." Mara melenguh panjang, ketika Byan merem*s lembut aset berharga miliknya. Benda kenyal itu dapat Byan rasakan dan semakin menambah gair*hnya.


"Mas," Mara kembali melepaskan pagutan bibir itu. Ia menahan tangan Byan yang masih melanjutkan permainan di balik kaosnya.


"Mara, maaf. Tapi aku tak bisa mengendalikannya, aku sangat menginginkanmu," ucap Byan dengan nafas yang memburu. Ia tak ingin permainan ini berhenti begitu saja.


Byan merebahkan tubuh Mara perlahan di atas ranjang, ia mengusap pelan rambut cokelat milik Mara. Di tatapnya dengan dalam mata yang bersinar itu hingga dapat ia lihat dengan jelas saat ini, jika Mara hanya bisa pasrah atas perlakuannya.


"Mas, apa ini yang kamu inginkan dariku?"


Tiba-tiba Mara melontarkan pertanyaan yang membuat Byan bingung. Kali ini Byan sedang tak ingin berbicara atau menjelaskan hal lain. Ia masih fokus untuk meredam gejolak yang ada dalam dirinya.


"Mara, aku tidak hanya menginginkan ini. Aku menginginkan semua yang ada dalam dirimu," Byan mendekatkan wajahnya kembali, ia membungkam mulut Mara dengan mengecupnya secara perlahan. Apalagi saat ini adik kecilnya sudah mulai bereaksi dengan terus berkedut. Hingga sesak di dalam celananya membuat ia tak dapat lagi menahan rasa yang telah lama terpendam.


Keduanya sama-sama terhanyut di dalam permainan yang mereka lakukan. Mara menggunakan jari-jemarinya untuk melepaskan setiap kancing baju kemeja Byan. Hingga semua pun terbuka dan menampakkan dada bidang dan perut kotak-kotaknya.


Byan melepaskan kemeja putihnya secepat kilat, dan kini ia telah bertelanj*ng dada. Mara yang melihat itu tak bisa lagi mengedipkan Mata. Sorot lampu yang terang di dalam kamar ini dapat memperjelas apa yang di tampakkan oleh tubuh atletis Byan.


Ia mainkan jari-jari lentiknya pada perut kotak-kotak itu. Ia memegang tangan kekar itu dan memperhatikan setiap inci kulit Byan yang amat mengagumkan.


"Eugh," hanya menerima sentuhan jari pada dada dan perutnya saja sudah membuatnya Byan bereaksi. Byan sungguh tak sabar dan membenamkan kepalanya pada tengkuk leher Mara. Ditelusurinya setiap inci leher jenjang itu perlahan dan menyesapnya sesekali.


Byan tak memikirkan apapun lagi, malam ini ia sangat menginginkan Mara. Tangannya pun mencoba menyingkap kaos putih yang di pakai Mara. Ia juga mencoba membuka pengait bra milik Mara agar lebih mempermudah permainan tangannya.


Sentuhan Byan memang tak ada obatnya, Mara berpegang kuat pada lengan kekar untuk menahan rasa yang mendesir dalam tubuhnya. Seakan kupu-kupu menggelitik perutnya hingga membuatnya hampir melayang-layang.


Namun sesuatu yang janggal dirasakan oleh sentuhan tangannya, ia pun membuka mata untuk melihat itu. Ternyata kali ini ia memegang bekas luka jahitan pada tangan Byan.


Teringat akan tragedi luka itu, teringat jika Pria di atasnya saat ini adalah penyelamat baginya. Mara semakin merasa bersalah. Ia menahan dada bidang Byan agar berhenti bermain pada leher jenjang dan bibir ranumnya.


"Mas, apa luka ini karenaku??"


Byan menatap dalam mata lentik di bawah tubuhnya dengan jelas. Sepertinya Mara belum siap melanjutkan permainan yang sudah mulai memuncak hingga ubun-ubunnya ini.


"Mara, luka ini bukan karenamu. Luka ini hanya sebagai salah satu tanda rasa peduliku untuk selalu melindungimu, orang yang sangat aku cintai,"


Kata-kata Byan merasuk hingga kedalam tubuh dan menembus jantung hati Mara. Sungguh mendengarnya saja membuat Mara menjadi bahagia dan berbunga-bunga.


"Benarkah??" Mara memasang senyuman manisnya. Tak henti ia menatap lekat mata Byan yang sudah menunjukkan sesuatu yang lebih darinya malam ini.


Melihat senyuman itu, Byan langsung mengalihkan pandangannya. Ia juga mengubah posisinya menjadi tidur di sebelah Mara. Jika ia terus mengungkung tubuh Mara di bawahnya, bukan tak mungkin ia akan lepas kontrol dan melakukan hal di luar batas.


Melihat Byan sudah tergeletak di sebelahnya, Mara sedikit lega. Upaya untuk menunda permainan lebih Byan kepadanya pun berhasil.


"Mas, apakah kau tak ingin pulang?" Tanya Mara mengalihkan pembicaraan.


"Kepalaku begitu pusing," Byan beranjak dari posisi rebahannya, menuju ke dalam kamar mandi untuk mengguyur tubuh. Terutama menetralkan adik kecilnya yang sudah hampir siap itu.


Mara hanya menggelengkan kepalanya di sertai senyuman tipis melihat Byan menuju ke kamar mandi dengan wajah lesu. Ia pun segera merapihkan diri dan membenahi pakaiannya. Terutama bra hitam miliknya yang sudah tak menyangga kedua asetnya dengan benar akibat ulah Byan.


"Apa yang aku lakukan? Aku benar-benar sudah gila dibuatnya!" Mara terus merutuki diri sendiri. Baginya perlakuan Byan adalah hal yang selalu membuatnya bisa menggila.

__ADS_1


Masih untung ia dapat menghentikan ini, jika ia tak bisa mengontrol dirinya juga, mungkin ia sudah habis dan terlena.


__ADS_2