
Mara mengguyur tubuhnya di bawah shower air dingin. Ia menangis sejadinya mengingat kejadian yang telah terjadi malam ini.
Mara tak habis fikir jika Byan akan melakukan hal itu padanya, rasa kecewa, marah, benci menjadi satu. Sungguh, perlakuan Byan sangat membuat dirinya trauma.
Hampir satu jam lebih Mara mengguyur tubuhnya di bawah aliran shower, tangisan sesaknya pun belum juga selesai. Karena merasa jari tangannya sudah terlihat keriput akibat terlalu lama bermain air, Mara pun memutuskan untuk menyudahi kegiatan mandinya.
Drtt.... Drtt....
Ponsel Mara bergetar, namun ia tak mempedulikan
suara getaran itu. Ia beringsut merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya. Meski Masih menggunakan bathrobe, Mara tetap saja membaringkan tubuh lemasnya itu tanpa mempedulikan penampilannya saat ini.
Drtt.... Drtt...
Ponselnya pun bergetar kembali, namun Mara tak juga menyentuh ponsel yang sejak tadi mengganggu telinganya.
Jangankan ponsel yang bergetar, Ibunya saja yang terus mengetuk pintu kamarnya tak kunjung ia bukakan. Saat ini Mara butuh waktu untuk sendiri tanpa diganggu oleh siapapun.
Tubuhnya terasa lemas, otaknya menjadi lemah, tidak tahu lagi bagaimana bentuk hatinya saat ini. Yang pasti, nyawanya saat ini seperti sedang tak berada pada raganya.
Mara memilih memejamkan mata, ia mencoba mengembalikan kewarasan dirinya agar tak terlalu terpuruk memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya.
Sementara di Negara yang berbeda, Steven terus saja menghubungi nomor telepon Asmara. Sudah beberapa hari mereka tak berkirim kabar, Steven merasa khawatir terhadap kondisi Mara kali ini.
Biasanya, pesan yang di kirimkan oleh Steven selalu di balas oleh Mara meski ia memiliki kesibukan. Namun, akhir-akhir ini Steve merasa jika Mara semakin menjauh darinya.
"Mara, apa terjadi sesuatu dengan mu?"
Steve terus saja memikirkan bayang-bayang Asmara. Sungguh, ia amat merindukan sosok janda cantik itu.
...****************...
Di kediaman keluarga Malik, pagi-pagi sekali rumah itu sudah di hebohkan dengan satu masalah.
Star, yang tiba-tiba menjerit histeris membuat semua penghuni rumah terkejut juga amat takut.
Entah apa yang dialami oleh Star, hingga membuatnya menjerit ketakutan.
__ADS_1
Sumi pun segera menghampiri Nonanya itu, namun meski Sumi sudah mencoba untuk menenangkan dirinya, Star tetap saja menangis.
"Star, ada apa?" Byan yang mendengar suara jeritan dari kamar putrinya itu langsung menemui Star. Ia melihat Star tengah menangis dengan banyak air mata yang keluar membasahi pipinya.
Huaaa.... Hua....
Star masih saja menangis dengan suara yang memekikkan telinga siapa pun yang mendengarnya.
"Star, Sayang, ada apa?" Byan mencoba mendekati Putrinya itu dengan merentangkan tangannya hendak memeluk tubuh mungil Star. Namun, tangan Byan segera ditepis olehnya. Sepertinya Star masih ingin memusuhi Papanya itu.
Byan hanya bisa menarik nafasnya yang terasa kian sesak, kali ini ia benar-benar bingung bagaimana lagi caranya untuk mendekati Star. Hatinya begitu ngilu mendapat perlakuan seperti ini dari anaknya sendiri.
"Byan, ada apa? Apa yang kamu lakukan terhadap Star?" Tanya Andryani yang baru saja tiba di kamar Star. Ia begitu terkejut mendapati Star yang kini beruraian air mata.
"Umi, Byan juga tak mengerti mengapa Star begini," ucap Byan prustasi. Ia berjalan maju mundur seperti sebuah setrika, bingung tak tahu harus berbuat apa.
Andryani pun segera mendekati cucunya itu dan merangkulnya. "Ada apa, Nak?"
HUA.... HUA....
Bukannya menjawab, Star malah semakin meneriakkan suara tangisannya itu hingga membuat Andryani menutup kedua telinganya.
"Tante," ucap Star dengan diiringi isak tangisnya.
"Tante?" Andryani bingung, ia pun menatap ke arah Byan seolah bertanya karena tak mengerti.
"Star, kenapa dengan Tante?" Tanya Andryani yang lebih baik bertanya langsung pada Star. Karena memberi isyarat kepada Byan sungguh percuma. Putranya itu hanya bisa menggedikkan bahunya saja.
"Tante Cantik, hi-hilang ..." Star kembali menangis dan meraung, membuat semua yang ada di ruangan itu bingung.
"Astaga!" Andryani jadi ingat tentang Mara, entah apa yang membuatnya lupa akan Mara yang semalam masih ada di rumahnya.
Mendengar ucapan putrinya, Byan menepuk jidatnya. Ia sungguh tak menyangka, Star akan bersikap histeris seperti ini hanya karena Mara. Ternyata Mara begitu berpengaruh terhadap kehidupan Star.
"Byan?" Andryani menatap kearah putranya yang kini terlihat linglung.
"I-iya U-mi," Byan menjawab namun dengan suara yang berat dan sedikit tertatih.
__ADS_1
"Kamu melihat Mara?" Tanya Andryani lagi kali ini dengan tatapan penuh curiga terhadap Byan.
"Ma-mara? Em, Mara anu ..."
"Byan! Apa ada yang kamu sembunyikan?" Mata Andryani kini mulai menelisik setiap sudut wajah Byan. Ia juga memperhatikan mimik dan ekspresi wajah Byan yang tak biasa baginya.
"Tidak! Byan tidak menyembunyikan apapun." Byan kali ini menyangkal tuduhan Uminya. Ia pun mencoba berfikir keras agar otaknya itu mampu menemukan ide yang bagus untuk dijadikan alasan.
"Lalu?" Andryani masih tak percaya.
"Sebenarnya Mara sudah pulang semalam, Byan mengantarnya," Byan hanya bisa menelan salivanya. Meski perkataannya ini memang fakta, namun dibalik itu masih ada fakta lain yang tengah ia sembunyikan.
"A-apa? Kamu mengantarnya?" Andryani menatap Byan kembali, ia sungguh tak percaya. Bagaimana mungkin Byan mengantar Mara pulang sementara ia tahu perlakuan Byan terhadap Mara selama ini. Ia juga tahu jika Byan begitu membenci Mara. Banyak hal yang membuatnya memutar otak kali ini.
"Iya, Umi." Byan membuang wajahnya ketika Andryani menatapnya penuh selidik.
"Star, jangan khawatir. Tante Mara tidak hilang, Papa sudah mengantarnya pulang karena Tante Mara harus bekerja pagi ini," ia berusaha menghindari Andryani dengan mencoba menenangkan Star kali ini.
"Papa mengantar Tante pulang? Sungguh?" Kini Setelah beberapa hari, Star membuka suaranya untuk Byan.
Byan menjadi sedikit lega karena Star sudah mau diajaknya berbicara. "Iya, sayang,"
"Omma, apakah Papa tidak berbohong?" Star malah bertanya pada Andryani yang memang tak tahu apapun.
Andryani hanya menanggapi pertanyaan Star dengan menganggukkan kepalanya pelan, hal ini hanya untuk menenangkan Star saja. Setelah ini ia akan mencari tahu sendiri tentang Asmara.
"Apa Papa sudah tidak membenci Tante Cantik lagi?" Kali ini pertanyaan Star bagaikan petir yang menyambar ubun-ubun Byan.
Byan hanya bungkam, ia benar-benar syok atas pertanyaan Star tadi.
"Star, Papa tidak pernah membenci Tante Mara," melihat gelagat Byan, Andryani pun menjawab pertanyaan Star. Ia tahu jika Byan kali ini sedang berada di fase yang sulit.
"Lalu mengapa Papa tidak mengizinkan Tante Cantik bertemu dengan Star?"
Lagi-lagi pagi ini Byan dibuat hampir gila karena ungkapan-ungkapan Star. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana menghadapi putrinya itu.
Jika memang dirinya masih membenci Mara, mengapa tubuhnya seolah menginginkan Mara? Itulah yang memenuhi fikiran Byan saat ini. Di balik semua ini, ternyata masih banyak fakta yang belum ia ketahui. Hingga membuatnya terus bertanya-tanya sendiri.
__ADS_1
Apa aku sudah gila?