Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Perasaan Steven


__ADS_3

Seperti janji yang kemarin, Steven menunggu Mara di depan kamarnya untuk bertemu dengan relasi bisnis yang ia bicarakan. Mara sedikit terlambat karena sesuatu yang tengah menggangunya.


Byan kembali hilang tanpa kabar, hal itu membuat Mara sedikit gusar. Belum lagi ia tak tahu kapan Byan keluar dari kamarnya semalam. Byan memang penuh misteri, sangat sulit menebak jalan fikirannya.


Tapi bagaimana lagi, Mara tetap menyayangi pria berkepala batu dan tak jelas itu. Susah memang jika sudah terlanjur sayang.


"Mara," sapa Steven pagi ini dengan membawa sekuntum bunga mawar merah ditangannya.


"Steve, ayo kita pergi," ajak Mara sudah siap untuk pergi.


"Ini," Steven menyerahkan bunga yang ia bawa kepada Mara.


"Untukku?" Mara pura-pura tak mengerti, padahal sejak melihatnya Mara sudah tahu jika bunga itu untuk dirinya.


"Bukan," jawab Steven memasang wajah datar.


"Lalu mengapa kau memberikannya padaku?" Mara mengerucutkan bibirnya.


"Ini untuk wanita yang paling berharga," lanjut Steve.


"Steven, kau bisa merayu juga rupanya," Mara menerima bunga itu, kemudian ia memilih berjalan di depan Steven.


"Jadi, hari ini kita mau kemana?" Tanya Mara setelah memasuki mobil Steven.


"Pulau Jeju," ujar Steven singkat.


Mara terkejut, bukankah pulau itu cukup jauh? Dan untuk apa Steven membawanya pergi ke pulau itu? Perasaan Mara jadi tak enak.


"Steve, mengapa kita pergi ke sana? Bukankah kita akan menemui relasi bisnismu?" Merasa Steve masih memiliki janji padanya, Mara mencoba mengingatkan.


"Oh, aku lupa. Semalam ingin memberitahumu jika orang yang akan kita temui mendadak memiliki urusan penting,"


Jawaban Steven terdengar sangat tiba-tiba. Bagi Mara ini tak masuk akal dan susah di tebak. Namun saat ini mereka sudah berada di tengah perjalanan, tak mungkin Mara membatalkan perjalanan ini begitu saja.


"Steve, kita mau apa ke pulau Jeju?" Tanya Mara dengan senyumannya, ia mencoba bersikap biasa saja agar Steven tak curiga jika saat ini hatinya sedang gundah. Di balik semua itu, ia juga penasaran kemana Steve akan membawanya pergi dan untuk alasan apa?


"Kau akan tahu, nanti," jawab Steven dengan terus fokus menyetir mobilnya. Kejutan akan ia berikan untuk Mara, tak mungkin ia memberitahunya lebih dulu.


Mara tak bisa lagi menahan, perasaan takut serta curiga terhadap Steven pun sudah mulai bermunculan. Apalagi semalam Byan sempat memberitahu kepadanya agar bersikap hati-hati.


Mara memilih mengambil ponsel di dalam tas kecilnya, kemudian mengirimkan pesan pribadi ke nomor telepon Byan.


Mas Byan, Steve mengajakku pergi ke pulau Jeju.


Setelah selesai mengetik secara singkat, Mara langsung menekan icon send agar pesan itu segera terkirim ke nomor tujuan.


Menaiki speed boat membuat Mara sedikit pusing dan mabuk lautan. Bahkan sesuatu di dalam perutnya pun ingin segera ia muntahkan.


Wajah pucat dan tubuh lemas pun kini melanda dirinya. Meski kondisi Mara begitu, Steven tak juga mengurungkan niatnya untuk pergi ke tempat yang telah ia tuju.


"Mara, tahan sedikit lagi. Sebentar lagi kita akan sampai," ucap Steven menatap kasihan pada kondisi Mara.

__ADS_1


Ini semua ia paksakan, karena mereka sudah berada ditengah perjalanan. Jika ia menunda, maka itu tidak mungkin. Karena sudah jauh-jauh hari ia merencanakan semua ini dan menyusunnya dengan matang.


"Steve, kepalaku begitu pusing," Mara mengaduh, kepalanya memang benar-benar berat. Sepertinya ia butuh merebahkan tubuh lemasnya ini.


Ia pun di minta Steven untuk beristirahat terlebih dahulu. Karena lelah, dan habis meminum obat Mara pun tertidur lelap. Tak tahu jika ponsel di dalam tasnya terus bergetar beberapa kali.


Di tempat yang berbeda, setelah membaca pesan singkat yang ia terima, Byan merasa semakin khawatir. Ia pun segera meninggalkan kantor menuju ke tempat di mana Mara berada.


Pulau Jeju, banyak tempat yang ada di pulau itu. Byan tidak tahu lokasi mana yang menjadi tujuan akhir Steven. Sementara Mara tak mengangkat panggilan teleponnya. Hal itu menambah rasa khawatirnya.


Di perjalanan, Byan menelpon seseorang untuk membantunya melacak nomor telepon Mara agar mengetahui di mana lokasinya saat ini. Kebetulan sekali Byan mempunyai teman yang handal dalam bidang ini.


Tak butuh waktu lama, hanya lima belas menit Byan sudah mendapatkan lokasi di mana Mara berada.


Byan segera mempercepat laju kendaraannya, ia tak ingin terjadi sesuatu pada wanita pujaan hatinya itu. Ia tak memiliki waktu lama, dengan segera ia menancap gas agar segera tiba.


"Jika terjadi sesuatu dengan Mara, akan ku habisi kau!!" Umpat Byan merutuki Steven. Ia tak akan segan-segan memberi pelajaran pada Steven karena sudah berani membawa Mara pergi.


"Steven, apa sebenarnya yang kau inginkan?" Byan masih terus berfikir, apa yang Steven inginkan dari Mara.


...****************...


Mara membuka matanya, namun ia merasa asing dengan sekitar tempat yang menurutnya tak ia kenal.


"Di mana aku?" Ia memperhatikan sekelilingnya. Ternyata kini ia tengah terbaring di atas ranjang. Namun ia tak mengerti, karena dekorasi ruang yang ditempatinya kini begitu aneh.


Bahkan ia melihat bermacam bunga mawar segar menghiasi kamar ini. Matanya membola setelah melihat tulisan yang begitu besar nergiaskan balon dan bermacam-macam bunga. Hingga aroma mawar segar itu pun memenuhi seluruh ruangan ini.


Mara membangunkan tubuhnya, ia begitu terkejut setelah membaca tulisan itu. Matanya terus membola, otaknya berfikir yang tidak-tidak.


"Tidak mungkin!" Batin Mara.


Terdengar pintu pun terbuka, tanda ada seseorang yang datang memasuki kamar yang kini ia tempati.


"Mara, kau sudah bangun??" Tanya Steven menghampiri Mara dan duduk di pinggiran ranjang.


"Steve," Mara masih menahan rasa takutnya. Ia merasa ada hal yang tidak beres dengan Steven.


"Kau terlalu banyak tidur," Steven mencoba menyentuh tangan Mara. Namun dengan cepat Mara menggeser tangannya agar Steven tak menyentuhnya.


"Steve, kepalaku begitu pusing. Di mana tasku?" Mara mencari-cari keberadaan tas kecil yang didalamnya menumyimpan ponsel miliknya.


"Tas itu ada di sana," Steven menunjuk ke arah nakas di sudut ruangan ini.


"Terimakasih, Steve," Mara menjadi kaku, ia tak tahu apa yang akan Steven lakukan padanya. Yang jelas tingkah Steven kali ini begitu aneh.


Mara bergegas menuju ke arah nakas di mana tasnya berada, ia ingin segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Mara,"


Betapa terkejutnya Mara, setelah Steven memeluk tubuhnya dari belakang.

__ADS_1


"Steve? Ada apa?"Mara semakin yakin jika apa yang mengganjal di benaknya itu benar. Steven pun bertingkat aneh.


"Mara, apa kau belum membaca tulisan besar di sana?" Tanya Steven masih memeluk tubuh Mara, bahkan kali ini semakin erat.


"Steve, tolong lepaskan aku!" Pinta Mara sembari memegang tangan Steven agar terlepas dari perutnya.


"Mara, aku tidak mungkin melepaskanmu, aku tidak ingin membiarkanmu pergi, aku menginginkanmu,"


Ucapan Steven terdengar bagaikan bom yang meledak tiba-tiba. Tak bisa ia terima semua ini, ia tak menginginkan Steven. Ia hanya menganggap Steven sebagai teman dan saudaranya.


"Steven, apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti,"


"Mara, aku mencintaimu. Menikahlah denganku,"


Kejujuran Steven membuat Mara takut. Karena perlakuan Steven yang berani menyentuhnya.


"Steve, kau bermain-main?" Mara mencoba menghalau semua perkataan Steven. Ia sungguh tak ingin jika ini akan terjadi.


"Mara, aku bersungguh-sungguh. Bahkan sejak pertama aku bertemu denganmu, aku sudah menyukaimu sejak pandangan pertama,"


Steven mengungkapkan isi hatinya. Kali ini ia membalikkan badan Mara agar berhadapan dengannya. Ia tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Ia juga tak ingin jika Mara akan menjadi milik orang lain.


"Steve, sepertinya kau salah paham," jawab Mara melepas pegangan tangan Steven.


"Aku tahu kau belum mencintaiku, tapi tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan semuanya. Aku mohon terimalah diriku, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu atau menyakitimu, aku berjanji!"


Panjang lebar Steven menjelaskan. Namu itu di rasa percuma karena Mara tak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Apa lagi perasaan cinta.


"Steve, maaf tapi aku tidak bisa," Mara langsung saja menolak perasaan Steve. Karena ia memang benar-benar tak memiliki perasaan apapun terhadapnya.


"Kenapa? Beri aku alasannya, Mara!" Mata Steven mulai memerah. Penolakan Mara begitu membuat hatinya kecewa.


"Maaf Steve, aku hanya menganggap kamu sahabat baikku. Bahkan kita sudah seperti saudara," ungkapan Mara benar, namun hal itu tidak bisa diterima oleh Steven.


"Bukan, bukan itu alasannya."


Steven tak menerima alasan Mara. Karena ia tahu jika alasan yang Mara berikan itu bohong. Ada alasan lain yang Mara ssmbunyikan darinya.


"Steven, itu alasan sebenarnya. Percayalah," bujuk Mara.


"Aku tahu, penolakanmu ini karena Byan, bukan??"


Ucapan Steven membuat Mara terkejut. Memang itu salah satu alasannya pula untuk tak menerima perasaan Steven.


"Steve, ini tidak ada hubungannya dengan ..."


"Mara, apa yang kau lihat darinya? Apa belum cukup selama ini sakit yang dia berikan untukmu? Apa kau akan mengulang masa lalumu seperti dulu? Mara, lihat aku, ada aku disini yang mencintaimu dengan tulus,"


Steven masih tak menerima alasan Mara. Ia juga tak mau jika Mara lebih memilih Byan dari pada dirinya. Selama ini Byan hanya bisa menyakiti perasaan Mara, dan hanya dirinyalah yang selalu ada untuknya.


"Steven, ini tidak seperti yang kau kira," Mara mencoba menenangkan Steven yang sudah mulai emosi.

__ADS_1


"Mara, percaya padaku. Aku akan membuatmu bahagia, sampai akhir hayatku,"


__ADS_2