Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Masih berharap dan menunggu


__ADS_3

Mara pergi bersama Steven, namun fikiran dan hatinya seprti sedang bersama Byan. Haruskah ia pergi ke Papua agar bisa menemui pria yang beberapa hari ini tak dapat ia lihat? Andai ia tahu di Papua sebelah mana Byan berada, suatu hari ia bahkan ingin pergi berlibur ke pulau yang terkenal dengan wisata Raja Ampat itu.


Namun, Sepertinya keinginannya itu pupus. Setelah kemarin sempat mengingat permintaan Andryani agar menjauh dari keluarga Malik. Menjauh dari Star, juga menjauh dari Byan. Sulit memang, namun ia tak mempunyai pilihan lain.


Hari ini, ia merasa sedang berpisah dengan Byan. Meski mereka tinggal di pulau yang berbeda, namun Mara yakin suatu hari nanti mereka akan dipertemukan kembali.


Meski sudah mendapat larangan keras, Mara masih saja mengharapkan dan menunggu kabar dari Byan. Tidak tahu diri memang, tapi perasaan ini tak bisa ia bohongi.


"Mara, apa yang kau lihat?" Tanya Steve membuyarkan lamunan Mara dari arah luar jendela pesawat.


"Pulau, sepertinya menyenangkan jika berlibur ke sana," ucap Mara tanpa mengalihkan pandangannya menatap ke bawah.


"Aku akan mengajakmu pergi ke pulau itu, suatu hari nanti," Steven menjawab, namun tak ada tanggapan apapun dari Mara. Bahkan menolehkan kepalanya sebentar saja tak dilakukannya. Sepertinya Mara begitu asik menatap pemandangan bumi dari pesawat dengan fikiran yang terbang entah ke mana.


"Mara, andai kau tahu. Ke mana pun kamu ingin pergi aku akan siap mengantarmu," batin Steven dengan tatapan tak berpaling dari wajah cantik milik Mara.


Setelah bosan dengan pandangan di bawah sana, Mara mencoba menoleh dan betapa terkejutnya ia mendapati wajah Steven yang menatapnya dengan terus tersenyum.


"Steve???"


"Kenapa? Kau terkejut?" Steven semakin melebarkan senyumannya. Enggan baginya untuk berpindah, ia terus saja menatap wajah Mara.


"Kau begitu aneh!" Mara mulai mengerucutkan bibirnya, baginya tingkah Steven akhir-akhir ini amat mencurigakan.


"Aku aneh, karenamu Mara. Bahkan aku tidak tahu mengapa sikapku menjadi seaneh ini sejak tahu jika aku benar-benar menyukaimu," ucap Steven dalam hati. Meski ia tak sabar ingin mengungkapkan perasaannya secara terus terang, tapi ia mencoba untuk lebih bisa menahannya terlebih dahulu.


Tanpa terasa, setelah beberapa jam perjalanan udara akhirnya mereka sampai juga di Seoul. Sebuah Negara yang terkenal dengan sebutan negeri ginseng itu.


Setelah turun dari pesawat, Mara dan Steven menuju ke tempat di mana hotel yang Steve sewa untuk mereka menginap. Ternyata segala akomodasi sudah Steven persiapkan dengan matang tanpa kekurangan sedikitpun. Bahkan Steve juga sudah menyiapkan mobil agar mempermudah jika mereka pergi kemana pun.


"Steve, kita akan tinggal di hotel ini?" Mara tak menyangka jika Steven memesan hotel mewah ini sebagai tempat mereka menginap.


"He'eum," Steven menganggukkan kepalanya pelan.


"Steven, apa ini tidak terlalu glamour? Bahkan aku ngeri dengan pelayanan yang mereka berikan," Mara merasa tak terbiasa, hingga ia sendiri merasa aneh dengan hotel bintang lima yang Steven sewa sebagai tempat mereka menginap.


"Hey, kau adalah calon wanita sukses! Kau harus terbiasa dengan berbagai macam hotel di dunia," Steven mencoba menetralkan pemikiran Mara. Ia tak ingin Mara merasa minder atau sungkan karena tempat ini.


"Jika aku sukses, aku akan pilih-pilih tempat, Steve," umpat Mara.


"Jika nanti klien bisnismu yang memilih tempat, bagaimana? Apa kau akan menolaknya?"


Steven kembali membuat Mara bungkam, ucapan Steven memang ada benarnya. "Ya, ya,"


"Beristirahatlah! Ini kartu kamarmu, dan kamar ku ada di sebelahnya," Steven menyerahkan kartu pada Mara setelah mereka berdua sampai tepat di depan kamar masing-masing.


"Baiklah, aku pun tak sabar ingin merebahkan tubuh ini, aku lelah ..."


"Jika ada yang kau butuhkan, hubungi aku," Steven menawarkan sebuah bantuan kembali pada Mara. Ia harap kali ini Mara akan meminta pertolongan apapun padanya. Karena ia akan selalu siap untuk Mara, kapan pun itu.


"Ck! Kau berlebihan. Aku bisa menggunakan pelayanan hotel," Mara langsung masuk ke dalam. kamarnya begitu saja meninggalkan Steve.


"Mara, Mara. Kau benar-benar membuatku gila! Sedikit lagi, aku akan memilikimu," Steve bermonolog di dalam hati. Ia pun kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat sejenak memulihkan seluruh tenaganya. Karena malam ini, ia harus mempersiapkan segala sesuatu yang telah di rencanakan olehnya.


Siang ini, Steven pun mengajak Mara ke luar untuk meninjau tempat yang akan di jadikan Mara untuk toko kuenya. Meski sebenarnya Mara masih lelah, ia lebih baik mengikuti kata Steven, karena lebih cepat bertindak maka itu lebih baik.


...****************...


Byan membeli ponsel baru setelah mengetahui ponsel lamanya tertinggal di rumah. Pantas saja ia merasa ada yang aneh, ternyata ponselnya itu tak ikut bersamanya ke Seoul. Ia begitu menyesali keteledorannya, karena hal ini ia tak bisa menghubungi orang rumah dan juga Mara. Wanita yang bahkan selalu ia rindukan, wanita yang tak pernah pergi dari fikiran dan hatinya akhir-akhir ini.

__ADS_1


Byan mencoba mencari cara untuk mendapatkan nomor telepon mara kembali. Namun ia tak tahu harus memintanya dengan siapa? Karena ia bahkan tak memiliki teman yang dekat dengan Mara.


"Adryan?" Tiba-tiba otak Byan menuju ke arah Adryan dokter sekaligus teman konyolnya itu.


Namun ia kembali menepis fikirannya, jika ia bertanya pada Adryan tentang nomor ponsel Mara maka mulut comel itu akan menyebar kemana-mana. Byan tak mau itu terjadi, apa lagi jika sampai diketahui oleh Malik. Menurutnya ini bukanlah langkah yang tepat. Masih ada alternatif lain yang akan Byan ambil.


"By, ini daftar nomor telepon yang kamu butuhkan," kedatangan Kessy ke dalam ruang kerjanya membuat Byan menjadi lesu. Jika hari-harinya terus saja diganggu oleh Kessy, mungkin lama-lama ia bisa stress akut.


Setelah Kessy menyerahkan daftar nomor telepon beberapa orang penting dan keluarganya, ia pun kembali ke ruangan kerjanya. Memang Kessy bekerja dengan baik dan profesional, dia juga cekatan dalam menangani suatu masalah kecil. Byan mengakui hal itu, yang tak ia suka adalah mengapa harus Kessy yang dipilih oleh Abinya?


"Jika Mara mengetahui ini, ia pasti akan salah paham," Byan bingung dari mana ia harus menjelaskan hal ini pada Mara. Meski belum tentu Mara akan salah paham seperti yang ia fikirkan. Byan memang terlalu percaya diri.


Ada banyak hal yang membuat Byan bingung dan sedikit memeras otaknya. Ia belum juga bisa menghubungi Mara, jika ia sudah menghubungi Mara maka ia harus menjelaskan hal yang telah terjadi padanya belakangan ini. Ia berharap Mara akan memberikan pengertian padanya.


"Tidak! Hal yang pertama adalah, mendapatkan nomor telepon Mara!" Byan membuang jauh-jauh semua fikirannya. Ia kemudian lebih fokus untuk bekerja kembali.


Bekerja di luar negeri memang bukan hal yang pertama baginya, namun ia harus bisa beradaptasi kembali di tempat ini agar lebih terbiasa dengan suasana dan orang-orang baru.


Jam makan siang telah tiba, Kessy pun segera mengambil tas tangannya menghampiri Byan.


"By, time for lunch," ucap Kessy mengingatkan Byan yang masih saja berkutat dengan berkas-berkas di depannya.


"By?" Kessy kembali memanggil Byan yang masih tak mempedulikan kehadirannya.


"Ck! Jika kau ingin makan, maka pergilah sendiri!" Byan merasa kesal ketika Kessy mengambil pulpen yang kini Byan pegang.


"By, aku lapar. Dan aku tidak ingin pergi sendiri," ucap Kessy manja.


"Jangan bermanja-manja denganku! Aku bukan ..."


"Kau memang bukan kekasihku, tapi kau adalah calon suamiku. Bukan begitu?" Kessy terlalu percaya diri, dengan berani ia memotong ucapan Byan yang belum juga selesai.


"Mari makan, atau aku akan katakan kepada semua orang jika kau adalah calon suamiku," Kessy tak kehabisan akal untuk membuat Byan mau pergi keluar bersamanya.


"Kau gila!" Umpat Byan lagi. Kali ini dengan intonasi yang lebih tinggi.


"By, ada tempat yang terkenal dengan Kimchi lezatnya. Aku ingin pergi ke sana," Kessy tak mempedulikan ucapan atau umpatan Byan terhadapnya. Ia lebih fokus untuk merayu Byan agar mau pergi keluar bersamanya siang ini.


"Pergi saja sendiri!" Byan masih tak ingin pergi bersama Kessy.


"Okey, setelah aku pergi kau akan mendengar semua orang tahu jika kau adalah calon suamiku,"


"Siapa yang akan peduli dengan ucapanmu itu!" Byan masih tak ingin beranjak dari duduknya. Lebih tepatnya ia tak ingin pergi keluar dan makan bersama Kessy.


"Okay, aku akan mengatakan kepada karyawan-karyawan itu jika kau adalah calon suamiku," Kessy tertawa menyeringai, ia kemudian melangkahkan kakinya menuju ke luar ruangan Byan. Setelah tiba di luar, ia melihat banyak karyawan yang lalu lalang untuk pergi makan siang. Ini adalah kesempatan baginya, ia tak akan menyia-nyiakan waktu lagi.


"Hi all, I want to convey an important matter to all of you. Please listen carefully ..."


"Kessy!" Mendengar Kessy sudah mulai berkomunikasi dengan para karyawan di luar sana yang tengah ramai menggunakan bahasa Inggrisnya yang lancar, Byan pun akhirnya mengalah. Ia membungkam mulut Kessy dengan kedatangannya.


"By, ada hal penting yang harus aku ..."


"Ayo kita pergi!" Ajak Byan. Ia pun berjalan lebih dulu, kemudian diikuti Kessy dari belakang.


Kessy pun tersenyum senang, ia bahagia karena bisa menang dari Byan siang ini.


Ternyata semudah ini mendekati Byan. Jika ia tahu, maka dari dulu ia akan melakukan hal yang sama seperti sekarang agar Byan luluh dan tak berlaku kasar lagi padanya.


Byan mengendarai mobilnya menuju ke tempat restoran Kimchi yang Kessy inginkan. Hari ini ia akan mengalah, namun jika Kessy melakukan hal ini lagi ia tak akan segan-segan memberi pelajaran padanya.

__ADS_1


Masih dengan mimik yang sama, Byan memasang wajah dingin serta tak bicara sepatah kata pun di dalam mobil. Hal itu membuat Kessy merasa bosan karena tak diajak bicara dan selalu diacuhkan oleh Byan.


Setibanya di tempat yang mereka tuju, Byan memilih tempat duduk yang berada di sudut ruangan. Sementara Kessy memesan makanan dan menuju ke kasir lebih dahulu. Ia memesan menu makanan dan minuman yang sama untuk Byan.


"Bagaimana? Di sini ramai, bukan?" Tanya Kessy pada Byan yang sejak tadi hanya diam sibuk menatap ponselnya.


Byan tak menanggapi ucapan Kessy. Memang tempat ini begitu ramai, apa lagi di saat jam makan siang seperti ini. Biasanya tempat makan yang ramai menandakan jika makanan yang dijual enak dan digemari oleh banyak orang.


"By, kau harus mencoba ini," Kessy mencoba mengarahkan suapannya ke mulut Byan.


"Aku bisa makan sendiri," tolak Byan menyingkirkan tangan Kessy dari hadapannya.


"By, sejak tadi kau tak makan. Aku tidak ingin jika kau sakit," Kessy mencoba merayu Byan untuk makan. Namun ternyata sangat sulit, Byan masih saja bermain game di ponselnya.


"Aku seperti sedang menemani seorang bocah," Kessy menertawai tingkah Byan yang seperti anak kecil.


Byan menoleh kearah Kessy yang masih saja tertawa, ia pun menatap tajam mata Kessy dan mengeluarkan ancamannya.


"Jangan bertindak bodoh! Atau aku akan mencari Asisten lain dan mendepakmu dari sini!"


Kessy menghentikan tawanya secara spontan. Melihat tatapan Byan kali ini sudah membuat dirinya merasa takut. Apalagi ia mengancam akan mengembalikannya ke Indonesia, sungguh ia masih ingin tetap berada di negara ini.


"Tak perlu mengancam, kita bisa bicarakan ini baik-baik, bukan?" Kessy melakukan penawaran dengan Byan. Berharap Byan akan mengampuninya kali ini.


"Jagalah sikapmu, jika kau masih ingin dihargai," Byan kembali fokus pada ponselnya sembari menunggu Kessy selesai makan.


Kessy merutuki sikap Byan, sungguh pria dingin berkepala batu di depannya ini begitu sulit untuk ditaklukan. Ia mengaduk-aduk makanannya tak karuan sebagai pelampiasan kekesalannya terhadap Byan.


"Sepertinya hatinya kembali beku! Dasar pria aneh! Apakah benar jika dia tak menyukai wanita?" Kessy terus merutuki sikap Byan di dalam hatinya. Bahkan ia mengingat semua gosip yang membahas Byan, karena ia tak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun.


Jika Byan adalah pria lain, mungkin sudah sejak lama akan takluk terhadapnya. Seperti kebanyakan pria yang dekat dengannya, bahkan dalam hitungan jam mereka semua akan tunduk dan memuja-muja Kessy. Lelaki mana yang tak tergiur dengan wanita cantik berpenampilan seksi bak model sepertinya?? Menurutnya itu semua tidak ada.


Untuk masalah Byan, ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Byan bukan tak menyukainya, Byan hanya perlu pembuktian dan perjuangan lebih darinya. Itulah yang ia fikirkan terhadap sikap Byan padanya selama ini.


"Awas saja, akan kupastikan kau bertekuk lutut dan mengemis cintaku!" Kessy mengunyah makanannya dengan penuh emosi. Sembari mata yang terus menatap Byan dan hati yang terus merutuki sikapnya.


Sementara Kessy yang terus menatapnya, berbeda dengan Byan yang kini sedang mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela kaca. Matanya tertuju pada sosok di luar sana. Bahkan berulang kali ia mengedipkan mata, takut jika apa yang ia lihat ini hanyalah bayangan semata. Namun, ketika ia melihat kembali ternyata ini bukan kesalahan. Wanita berkaos putih, celana jeans dilengkapi topi putih yang menutupi rambut cokelatnya itu begitu nyata.


"Tidak mungkin!" Byan beranjak dari tempat duduknya sesegera mungkin ia berlari menuju ke luar untuk memastikan dengan apa yang ia lihat barusan.


Merasa ditinggalkan, Kessy pun menjadi bingung dibuatnya. Ia pun segera membayar tagihan makanan dan menyusul Byan di luar.


Tiba di luar, Byan mencari-cari sosok yang tadi ia lihat. Namun kini ia tak menemukannya.


"Di mana dia? Apakah aku hanya salah lihat?" Mata Byan terus mengitari tempat dimana ia tadi melihat seseorang yang di carinya.


"By, apa yang kamu lakukan??" Panggil Kessy dengan sedikit berteriak. Ia kemudian menghampiri Byan di sana yang terlihat sedikit kebingungan.


"By, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Kessy lagi. Namun seperti biasa, ia tak langsung mendapatkan tanggapan dari Byan. Bahkan disituasi seperti ini pun Byan masih saja bersikap acuh padanya.


"Ck!" Byan berdecak kesal. Kali ini ia benar-benar kehilangan jejak seseorang. Padahal dengan jelas tadi ia melihat wanita itu berjalan di sini. Namun mengapa secepat itu ia pergi.


Byan berlari meninggalkan Kessy. Ia masih mencari keberadaan wanita yang tadi dilihatnya di tempat ini.


Byan segera meraih ponselnya yang ada di dalam saku celana, ia kemudian menghubungi seseorang untuk segera membantunya.


"Hallo, berikan aku informasi di mana keberadaannya saat ini!"


Byan langsung menutup dengan cepat panggilan teleponnya sepihak. Ia meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku dan berjalan menuju ke arah mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2