Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Pamit


__ADS_3

Mara, tolong jangan menolak! Jika kita sudah menemukan kebenarannya, aku berjanji untuk memenuhi keinginanmu," ucap Byan dengan suara berat disertai mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Keinginanku??" Mara benar-benar tak mengerti apa maksud ucapan Byan.


"Aku berjanji, setelah semua terbongkar dengan jelas, aku-aku tidak akan lagi muncul di hadapanmu!"


Deg!


Entah perasaan macam apa ini, mendengar ucapan Byan barusan jantung Mara seakan berhenti berdetak. Meski hanya mendengar, Mara seakan tak bisa menerimanya. Padahal sangat jelas jika ini adalah keinginannya agar bisa terlepas dan jauh dari Byan dan keluarganya.


"Mari kita perbaiki," ucap Byan dengan suara yang semakin berat.


Tess!


Air mata Mara pun tak bisa dibendung lagi, sejak tadi matanya sudah memerah dan kini air bening itu pun sudah menetes di pipinya. Dengan sigap ia segera menghapus jejak air mata itu dengan tangannya.


"Baik,"


Akhirnya Mara pun mengiyakan ajakan Byan untuk menggali lebih dalam lagi kisah sepuluh tahun yang lalu.


"Baik, terimakasih sudah memberikan kesempatan ini padaku, Mara," ungkap Byan. Ia bersyukur, karena Mara masih memberikan kesempatan baik ini pada Byan.


"Papa," panggil Star dengan suara seraknya khas orang yang sedang bangun dari tidur.


"Star???"


Baik Mara atau pun Byan merasa canggung atas kehadiran Star yang tiba-tiba.


"Papa, apa yang Papa lakukan terhadap Tante?"


Melihat mata Mara yang memerah dan mengeluarkan air mata, Star pun bertanya perihal itu.


Byan menggelengkan kepala, dilihatnya Mara yang juga membalas menatapnya tanda tak mengerti.


"Star, ini tidak seperti yang kamu lihat, Papa dan Tante hanya ..."


"Apakah kalian bertengkar?" Tanya Star menatap mata Byan dan Mara secara bergantian.


"Tidak!!" Jawab Byan dan Mara serentak.


"Mengapa Papa selalu bertengkar? Di rumah Papa bertengkar dengan Oppa dan Omma, di sini Papa bertengkar dengan Tante, apakah Papa tidak lelah?"


"Star, hey. Ini tidak seperti apa yang kamu fikirkan. Papa tidak bertengkar dengan Tante," elak Byan mencoba menjelaskan jika apa yang Star fikirkan itu tidak benar.


Byan mendekat kearah Star, ia berjongkok agar dapat mengimbangi tubuh Star yang jauh lebih mungil dari tubuhnya.


"Papa, Star tidak ingin memiliki Papa yang jahat dan suka bertengkar," ucap Star kini diiringi air matanya.


Mendengar penuturan Star, Byan segera memeluk erat tubuh putrinya itu. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi, karena jika terus mengelak ia hanya akan membuat Star semakin ingin tahu.


"Papa tidak akan bertengkar lagi, Papa janji," ucap Byan dengan menepuk-nepuk pundak Star pelan.


Apa yang dilihat Mara kali ini benar-benar membuatnya sedih. Apalagi ketika ia mengetahui fakta baru jika Byan suka bertengkar dengan kedua orang tuanya di rumah. Ia khawatir, jika pertengkaran itu berhubungan dengan dirinya atau keluarganya.


Karena sudah merasa tenang, Byan pun mengajak Star untuk pulang ke rumah. Jika terus berada di sini Byan merasa tak enak. Setidaknya, rencana yang telah ia susun sudah berjalan lancar atas bantuan Star. Hal itu saja sudah membuatnya bersyukur. Apalagi ia telah bertemu dan berbicara dengan Mara.

__ADS_1


Byan meminta Star untuk segera berpamitan dengan Mara. Namun Star menolak perintah Byan dengan alasan ingin menunggu Kamila pulang terlebih dahulu.


"Star ingin menunggu Nenek," tolak Star.


"Star, Nenek akan pulang malam," Byan mencoba membuat Star mengerti.


"Jika begitu, Star akan tetap di sini sampai Nenek pulang," lagi-lagi Star pandai mencari alasan.


"Star, tidak baik jika kita terus berada di rumah orang lain sampai malam,"


"Orang lain? Siapa yang Papa maksud orang lain? Apakah Tante dan Nenek?"


"Star, ayolah!!"


"Biarkan Star di sini, Kak," Randy yang tiba-tiba keluar dari kamarnya pun menghampiri Star.


"Kak, Randy?" Star begitu bersemangat ketika melihat Randy datang.


"Ayo ikut ke kamar. Kak Randy akan menunjukkan mainan milik Kakak," ajak Randy yang langsung disambut hangat oleh Star. Keduanya pun berjalan menuju kamar Randy yang berada di lantai dua.


Sebenarnya ini hanya alasan Randy agar Star tak mengganggu Byan dan Mara. Ia tahu, jika banyak hal yang harus Byan bahas bersama Mara. Karena sebelumnya, Randy tak sengaja mendengar percakapan Mara dan Byan saat ingin pergi ke dapur tadi.


"Huft!" Byan menghembuskan nafasnya kencang. Ia benar-benar bingung dan kewalahan mengendalikan Star sendirian.


Mara tersadar, akhir-akhir ini ia bisa menilai jika Byan memang kewalahan menghadapi sikap manja dan marah dari seorang Star.


Kendati begitu, Mara tidak ingin lagi ikut campur atau membantu Byan untuk membujuk Star seperti sebelumnya. Apalagi memang sudah menjadi keniatan hatinya untuk menjauh dari keluarga Malik tersebut.


Menatap Mara yang hanya diam, Byan pun segera membuka suara.


"Aku tidak memeprmasalahkannya, Star hanya anak kecil yang belum tahu dan paham urusan orang dewasa," tiba-tiba kata itu pun keluar dari mulut Mara. Entah Byan merasa kecewa atau tidak, yang jelas Mara sudah mengatakannya.


"Eum, terimakasih atas pengertianmu, Mara." Entah percakapan macam apa ini, yang jelas Byan merasa canggung setelah ia berjanji untuk menjaga jarak dengan Mara.


Ting!!


Tanda ada pesan masuk di ponsel Byan. Dengan segera Byan membuka pesan itu. Hal itu pun tak hilang dari sorotan mata Mara.


"Mara, aku bisa titip Star sebentar? Ada hal yang harus aku urus," Byan berpamitan dengan Mara. Karena ada hal yang harus ia selesaikan siang ini.


"Apa yang akan kamu urus, Mas? Apa kamu akan menemui Kessy? Atau, wanita lainnya?" Tanya Mara dalam hati. Jelas ia tak berani mengungkapnya.


Mara menghempas semua tanya dalam hatinya itu. Ia pun hanya mengangguk pelan menanggapi perkataan Byan. Dapat Mara lihat dari jendela kepergian Byan yang terlihat begitu terburu-buru menuju ke dalam mobilnya.


"Mara, apa yang kamu takutkan? Bukankah ini keinginanmu? Jika Byan bertemu dengan seseorang, itu bukan urusanmu!" Mara hanya bisa bermonolog dalam hati menguatkan diri sendiri. Tangannya pun menarik kasar gorden agar menutupi jendela.


...****************...


Tepat pukul jam tujuh malam, Byan datang kembali ke rumah Mara untuk menjemput Star.


Tak mendapat penolakan, baik Mara atau pun Ibunya memepersilahkan Byan untuk mengambil anaknya itu.


"Papa, sudah selesai?" Tanya Star ketika melihat Byan sudah berada di ambang pintu.


"Iya, sayang. Mari kita pulang," ajak Byan dengan memeluk putri kecilnya itu.

__ADS_1


"Nenek, Tante, Kak Randy, terimakasih sudah menemani Star," Star menyalami satu-persatu orang yang ia sebut.


"Nenek juga berterimakasih karena Star sudah mau main kemari," puji Kamila diiringi senyum bahagianya.


"Seringlah main kemari, nanti Kakak akan ajak Star main bola lagi," sambung Randy.


"Yeay!" Jawab Star kegirangan.


Mendengar ucapan Randy, Kamila dan Mara pun hanya bisa saling bertatap.


"Hati-hati, Star," Mara tak banyak berkata-kata. Karena ia tahu jika ini adalah akhir dari waktu bersamanya dengan Star atau pun Byan.


"Mara, ini," Byan menyerahkan sebuah amplop cokelat berukuran folio kepada Mara.


"Apa ini?" Mara tak mengerti apa yang telah Byan berikan padanya. Ia juga tak enak hati karena Byan memberikan sesuatu kepadanya didepan Ibunya dan Randy.


"Kau akan tahu, setelah membukanya nanti," jawab Byan.


"Bu Kamila, terimakasih dan maaf jika aku dan Star merepotkanmu," ucap Byan dengan hati-hati.


Kamila tak menjawab apapun, ia hanya memberikan kode dengan menganggukan kepalanya pelan.


"Aku pamit, Mara," ucapan Byan terdengar begitu berat. Seakan ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Namun, ia tak menunjukkan apa sebenarnya yang tengah mengganggu dirinya.


Mata Mara dan Byan saling tatap. Seolah masih ada hal lain yang tertinggal dan belum sempat mereka selesaikan. Namun tak ingin terus begini, Mara memalingkan wajahnya dari Byan.


Byan tak bisa berbuat apa-apa meski ia tak suka dengan sikap Mara barusan. Ia pun segera menggandeng tangan Star untuk menuju ke dalam mobilnya.


Setelah melambaikan tangan, Byan pun segera masuk ke dalam mobil. Byan menoleh ke arah Mara sebentar, ia merasa belum puas memandangi wajah wanita idamannya itu namun ia harus menepati janjinya dan segera pergi. Tak ingin menunda lagi, ia pun segera melajukan mobilnya dengan menekan klakson satu kali hingga menghilang dari pandangan.


"Kak, apa itu?" Randy menatap amplop cokelat yang kini ada ditangan Mara.


"Oh, ini? Kakak pun tidak tahu," jawab Mara gugup.


"Benarkah? Kalau begitu buka saja, aku pun ingin tahu apa isinya," pinta Randy.


Mara tak bisa mengelak lagi, niat hatinya ingin membuka pemberian Byan di dalam kamarnya nanti. Namun karena pertanyaan Randy yang menjebak, mau tak mau ia harus membuka amplop itu di depan Ibu dan Adiknya.


"Baiklah," Mara menyesapkan senyumannya, ia berharap perasaan gugup ini akan hilang karena takut isi di dalam amplop ini sesuatu yang diluar nalar.


Semua isi di dalam amplop sudah ia keluarkan, Mara tidak mengerti mengapa ada sebuah flashdisk dan beberapa lembar kertas.


"Apa ini, Mara?" Kamila mengambil selembar kertas dan hendak membacanya. Setelah membaca beberapa baris, wajah Kamila terlihat berbeda dan berubah menjadi tegang.


"Tidak mungkin!!" Kamila histeris, setelah selesai membaca isi kertas itu.


"Ibu, ada apa?" Randy pun terkejut. Ia pun berinisiatif mengambil alih kertas yang tadi Kamila baca.


"Kak, ambil laptop!" Randy kali ini berani memerintah Mara.


Dengan segera Mara pun mengambil laptopnya, untung saja laptop itu ada di ruang keluarga hingga ia tak perlu susah payah mengambil ke kamarnya di lantai dua.


Laptop pun tiba, Randy segera menancapkan Flashdisk pada laptop milik Mara. Mereka semua menyaksikan apa isi dari flasdisk itu. Sebuah video yang mengungkap rahasia besar yang selama ini tidak mereka diketahui.


"Tidak!"

__ADS_1


__ADS_2