
"Mara, berbulan-bulan kita tidak bertemu, aku merasa sudah menjalaninya berabad-abad. Aku merindukanmu, Mara. Aku sangat ingin memelukmu, bolehkah aku melakukannya???"
Deg!!
Rasanya hati Mara ingin runtuh seketika. Mendengar ungkapan Byan barusan, membuatnya luluh. Tak mengingat lagi jika saat ini ia masih memiliki rasa malu karena perlakuan Byan tadi.
Tak ada yang bisa Mara katakan, berdiam diri dengan mata yang membola menatap ke arah Byan terasa semakin kaku baginya. Belum lagi, ada getaran aneh dalam diri Mara, kali ini Mara benar-benar terpaku tak dapat lagi menggerakkan tubuhnya kemana-mana.
Byan semakin mendekatkan diri, tangannya telentang, perasaan rindu yang membuncah dalam dirinya tak dapat lagi ia tahan. Ia sangat berharap Mara tak menolaknya lagi.
"Mara, lihat aku," pinta Byan, setelah posisinya sudah berada semakin dekat dengan Mara.
Mara pun menurut saja, seakan terhipnotis akan perkataan Byan. Matanya pun menatap bola mata Byan yang tengah memancarkan sebuah kerinduan yang amat dalam.
"Mara, boleh??" tanya Byan dengan merendahkan wajahnya agar dapat melihat dengan jelas raut wajah Mara saat ini. Sungguh, rona wajah yang Mara pancarkan semakin membuat Byan haus. Haus akan menyentuhnya, haus akan mencicipi bibir ranumnya, setelah sekian lama ia tak lagi merasakan itu.
Tak ingin membuang waktu lagi, Byan bertindak cepat meski belum mendapatkan jawaban dari Mara. Ia pun langsung memeluk erat tubuh Mara, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang amat ia rindukan itu.
"Aku merindukanmu, Mara," ucap Byan lirih, sembari bibirnya yang mengecup puncak kepala Mara perlahan.
Tubuh Mara benar-benar beku, rasanya Byan telah menyiramkan air es pada dirinya. Darahnya terasa tak lagi mengalir, hingga jantungnya semakin berdegup kencang.
Mara tersadar, setelah beberapa saat. Ia mencoba menggerakkan tangannya yang kaku, mencoba mendorong tubuh Byan agar melepaskan dirinya.
"Biarkan seperti ini, aku mohon, Mara," ucap Byan sembari memegang tangan dingin milik Mara yang digunakan untuk mendorong dadanya.
Byan benar-benar masih terbius oleh aroma tubuh Mara. Bahkan ia tak ingin jika sedetik saja hal ini terlepas dari indera penciumannya. Byan sungguh tidak bisa menahan lagi gejolak hatinya saat ini.
"Mas," suara Mara terucap lirih.
"Eum," jawab Byan, dengan mata yang masih tertutup, masih pada posisi yang sama.
__ADS_1
"Tolong, lepaskan aku,"
"Tidak, Mara,"
"Mas, Byan,"
"Eum,"
"Lepaskan, please,"
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi, tidak akan pernah, Mara,"
Hati Mara terus bergejolak, sebenarnya ia pun sangat merindukan Byan. Ia pun masih ingin terus dekat dengannya. Akan tetapi Mara harus tetap menjaga batasannya, ia tak ingin jika kenyamanan yang ia dapatkan kali ini akan menjadi boomerang dikemudian hari.
Sekeras apapun ia mencoba melepaskan diri, tetapi Byan masih mendekapnya. Malah dekapan itu terasa semakin mengerat. Mara tak bisa apa-apa, ia hanya pasrah dan mengangkat kedua tangannya menuju pundak Byan bagian belakang.
Merasakan tangan Mara sudah menyentuhnya, Byan tersenyum senang. Ia yakin jika perasaan Mara kali ini sama dengannya. Mereka berdua saling merindukan satu sama lain.
Ceklek!
Star membuka pintu kamar mendapati kedua orang dewasa di sana tengah berpelukan erat.
"Star???"
Keduanya sama-sama terkejut, hingga mereka pun melepaskan dekapannya masing-masing.
Star tersenyum, sebenarnya ia tak bermaksud mengganggu Papa dan Tante cantiknya itu. Tetapi ia diperintahkan oleh Ommanya untuk memanggil mereka karena makanan sudah siap.
"Papa, Tante, Omma bilang ayo kita makan bersama,"
Setelah mengatakan hal itu, Star pun langsung menutup pintu kembali dan berlari.
__ADS_1
Jantung mara masih deg-degan, ia benar-benar sedang tertangkap basah kali ini. Bisa-bisanya Star memergokinya. Ia merasa ceroboh.
"Mara,"
"I-iya, Mas,"
"Kenapa gugup?"
"Siapa yang gugup?"
"Masih mau di sini?"
"Ya??"
"Benarkah?"
Byan kembali merentangkan tangannya menuju kearah Mara. Ia masih ingin melanjutkan kegiatannya bersama Mara yang sempat tertunda akibat kehadiran Star yang tiba-tiba.
"Mas, mau apa?"
"Bukannya masih ingin di sini, kita lanjut?"
"Apanya? Jangan macam-macam, Mas!"
Mara segera menghindari Byan. Jika meladeninya, mungkin Byan akan semakin menjadi. Hingga ia memutuskan untuk berlari keluar dari kamar.
"Mara!"
Byan menggelengkan kepalanya disertai senyum bahagia. Sudah lama ia tak merasakan hal sebahagia ini. Dia benar-benar tak sabar. Bahkan ia berniat ingin mencukik Mara agar terus berada di dekatnya.
Namun itu tidak mungkin ia lakukan. Ia mencintai Mara dengan tulus. Ia tak ingin mendapatkan Mara melalui jalan licik. Ia akan terus memperjuangkan cinta Mara.
__ADS_1
"Akan kukejar kamu sampai dapat, Asmara!"
Byan pun memilih ikut keluar menyusul Mara menuju ruang makan.