
"Jika ini ada hubungannya dengan keluargaku, maka aku akan bertanggung jawab, Mara,"
Byan melangkah pergi, ia keluar dari pintu rumah Mara menuju ke tempat di mana seharusnya seseorang akan memberikan penjelasan pada dirinya.
Ia juga tak lagi merasakan sakit akibat memar yang ia terima dari pukulan Steven. Seolah rasa sakit itu telah tertumpuk oleh sakit dalam hatinya.
Disinilah titik lemah Byan. Ketika ia tahu Mara mulai menjauh bahkan membenci dirinya. Ketika ia tak lagi dapat memandangi wajah Mara seperti biasanya. Dan hari ini, semua itu terjadi.
Byan mempercepat langkahnya ketika memasuki rumah yang baru saja beberapa minggu ia tinggalkan. Matanya menelisik setiap sudut ruang mencari keberadaan seseorang.
"Tuan?" Sumi terkejut ketika melihat Byan datang dengan tiba-tiba tanpa ada yang memberi tahu.
Byan hanya diam, tak menjawab sapaan dari Sumi, Baby siter anaknya itu. Ia tetap meneruskan langkahnya mencari keberadaan Malik, Abinya sendiri.
"Abi!!!!" Teriak Byan ketika melihat Malik tengah menikmati kopi hitamnya bersama Andryani di ruang keluarga rumahnya.
"Byan??"
Mendengar suara menggelegar dari Byan, Malik dan Andryani pun sama-sama terkejut. Mereka berdua sama-sama menebak jika tengah terjadi sesuatu dengan Byan.
"Byan, kapan kau tiba, Nak?" Andryani menghampiri Byan yang kini tengah memasang wajah marahnya.
"Apa yang Abi lakukan terhadap Ayah Mara?" Dengan menatap ke arah Malik, mata tajam Byan seakan ingin memangsa seseorang.
Malik hanya diam, ternyata Byan sudah mengetahui rahasia yang selama ini telah ia simpan rapat-rapat. Sepandai-pandainya ia menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Begitulah pepatah mengatakan.
"Katakan, Abi!!!!" Bentak Byan, ia sangat tak sabar ingin mengetahui masalah yang sebenarnya. Namun Malik masih memasang wajah santainya. Hal itu yang membuat Byan semakin dilanda perasaan kesal.
"Byan, kejadian itu sudah lama. Bahkan sudah berlalu sepuluh tahun yang lalu," Malik tak mengelak, ia mengakui kejadian yang telah menjerat Agung, yang tak lain adalah karyawan perusahaannya di Jogja dahulu. Namun ia juga baru tahu akhir-akhir ini, jika Agung adalah ayah dari mantan menantunya, Mara.
"Jadi, semua itu benar? Abi ada kaitannya dengan skandal ini?" Byan merasa kecewa. Ternyata keluarganya memang terlibat dalam masalah ini. Meski ia belum paham skandal apa yang telah Malik buat dan menghancurkan keluarga Asmara.
__ADS_1
"Byan, kenyataan yang sebenarnya adalah ..."
"Umi, aku hanya ingin tahu mengapa Abi tega menjebak orang lain demi keuntungannya sendiri?" Byan tak mengizinkan Andryani membela Malik. Ia dengan cepat memotong ucapan Ibunya yang belum juga selesai.
Meski begitu, Malik masih berupaya untuk menjelaskan masalah ini dengan bijak kepada Byan. Harusnya Byan tak semurka ini jika mengetahui hal yang sebenarnya. Karena kejadian itu bukanlah kesalahan Malik sepenuhnya.
"Byan, Agung adalah seorang karyawan bagian kepala produksi cabang perusahaan kita di Jogja. Ada masalah kecil yang terjadi kala itu, dan Abi juga tidak tahu jika hal ini terjadi padanya," jelas Malik, karena kala itu ia meminta orang kepercayaannya untuk membereskan masalah internal perusahaannya. Tanpa sepengetahuannya, orang kepercayaannya itu telah melibatkan Agung.
"Masalah kecil? Masalah kecil yang Abi maksud adalah sebuah Skandal, benar begitu?" Byan tak mau menerima begitu saja penjelasan Malik. Ia masih ingin mengetahui lebih dalam skandal yang terjadi tepat sepuluh tahun yang lalu.
"Byan, itu bukan skandal yang Abi buat! Itu memang benar-benar kesalahan Agung," kini Andryani angkat bicara. Bukan maksudnya membela suaminya, bukan pula ia tak membela Byan. Ia hanya ingin meluruskan masalah ini agar Byan tak lagi salah paham terhadap mereka berdua.
"Umi, mengetahui semuanya?" Byan menatap tajam nanar milik Ibunya. Nanar yang menandakan jika sedang membutuhkan sebuah penjelasan.
"Ya, Umi mengetahui semuanya. Semua perbuatan Agung yang berselingkuh dengan Avril. Apakah kamu tahu siapa Avril?" Andryani mulai kesal, akhirnya mulutnya pun mengeluarkan sedikit demi sedikit rahasia itu.
"Siapa dia, Umi?" Byan benar-benar tidak tahu siapa orang yang bernama Avril itu. Bahkan ia juga tidak pernah bertemu Agung, yang tak lain adalah Ayah dari Mara. Karena sepengetahuan Byan, Mara hanya tinggal bersama Ibu dan Adik laki-laki nya.
"Apa? Lalu apa kaitannya dengan perusahaan kita di Jogja?" Jika mereka berselingkuh, itu urusan pribadi mereka, Abi, Umi!"
Byan belum bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Cerita Uminya masih menggantung dan belum bisa ia ambil inti dari kejadian yang sebenarnya.
"Avril adalah wanita simpanan Manager keuangan perusahaan kita, Pak Surya. Untuk menutupi kesalahan Pak Surya, kita harus membongkar perselingkuhan Agung dan Avril, yang notabennya hanyalah karyawan biasa. Jika tidak maka nama baik perusahaan kita akan buruk," sambung Malik.
"Abi, seharusnya tidak melakukan hal itu!" Byan meremas rambutnya dengan kuat. Kepalanya kini berubah menjadi lebih pusing, penglihatannya pun kini mulai memudar.
"Byan, apa yang terjadi?" Melihat Putranya hampir terhuyung, Malik pun membantu Byan untuk duduk di sofa.
"Abi, bagaimana mungkin melakukan hal ini? Bagaimana caraku untuk menjelaskan semua ini pada Mara?"
Byan teramat bingung, ia terus saja memegangi kepalanya. Mungkin ini juga efek karena ia belum tidur dan beristirahat sejak kemarin. Bahkan ia pun lupa belum mengkonsumsi makanan.
__ADS_1
"Byan, katakan saja yang sebenarnya. Umi yakin Mara akan mengerti," Andryani mengusap pelan pundak Byan.
"Apa ini alasan Abi menjauhkan Byan dengan Mara?" Byan kembali menatap tajam ke arah Malik.
"Ya, Abi hanya tidak mau kamu terus berhubungan dengan Mara. Karena hai ini, mungkin Mara akan membenci keluarga kita," jelas Malik.
Ia sengaja tak mengatakan jika Steven telah mengancamnya beberapa bulan yang lalu. Ia masih menyimpan rahasia itu dari Byan. Jika Byan tahu, mungkin anaknya itu akan bertindak gegabah.
"Abi, apa yang harus Byan lakukan?"
Byan masih bingung. Kali ini otak cerdasnya itu tiba-tiba melambat dan tidak dapat berfikir jernih lagi.
"Tidak ada jalan lain, kamu harus tetap menjauhi Mara," pinta Malik dengan suara lantangnya.
"Abi!!!!" Byan kini mengeluarkan suara kerasnya. Ia tidak menyangka,jika Malik tak juga mengubah keputusannya meski Byan sudah mengetahui rahasia yang telah disimpan Abinya selama puluhan tahun.
"Byan, sabar, Nak," pinta Andryani masih mengusap pelan pundak Byan dengan lembut. Ia yakin jika Byan memiliki hati yang lembut meski terlihat keras kepala.
"Umi, Byan tidak bisa menjauhi Mara. Maaf,"
"Jika kamu tetap ingin terus mengejarnya, apa dia tetap menginginkanmu, setelah tahu apa yang telah Abi buat terhadap Ayahnya?"
Ucapan Malik ada benarnya. Byan termenung sesaat. Hari ini saja, Mara tak ingin berbicara dengannya. Bahkan tatapan mata Mara menandakan sebuah kebencian yang amat dalam terhadap dirinya.
"Byan, Umi pun khawatir jika Kamila akan melarang kedekatanmu dengan Mara," Andryani pun tak hentinya memberi masukan agar Byan lebih jernih dalam berfikir untuk mengambil keputusan.
"Hanya ada satu cara," Byan kembali menatap tajam ke arah Malik dengan mata yang menyala.
"Apa?"
Baik Andryani maupun Malik sama-sama melontarkan pertanyaan. Mereka berdua penasaran, cara apa yang telah Byan putuskan.
__ADS_1
"Abi harus meminta maaf dengan keluarga Mara, dan mengakui semua kesalahan Abi!"