Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Tertangkap Basah


__ADS_3

Byan mencoba melepaskan pelukan Kessy yang membuat dirinya tak nyaman. Namun pelukan Kessy itu semakin erat pada tubuhnya.


"Kessy lepaskan!" Byan mau tidak mau langsung mendorong Kessy sekuat tenaganya. Sungguh ia tak suka jika berkontak fisik dengan wanita lain. Lain halnya jika dengan Mara, menurutnya itu sesuatu yang belum bisa terpecahkan.


"By, sorry. Apa kamu sudah membaik?" Tanya Kessy berbasa-basi. Ia mengetahui jika Byan terluka semalam dari Andryani. Pagi ini ia pun memutuskan untuk datang ke rumah keluarga Malik.


"Aku tidak sakit!" jawab Byan ketus.


"Tapi kamu terluka, dan lukamu itu dijahit, bukan?"


Tak ada kata yang dapat dilontarkan oleh Byan untuk menghadapi Kessy. Ternyata Kessy tak pernah menyerah begitu saja. Byan sampai bosan melihat Kessy yang akhir-akhir ini terus gentayangan di dalam rumahnya.


"Aku bawakan buah untukmu, lekas membaik ya, By," tak tanggung-tanggung kali ini Kessy berani mengusap lengan Byan dengan memasang wajah untuk merayu Byan.


"Singkirkan tanganmu itu!" Perintah Byan menepiskan tangan Kessy dari lengannya.


"By, apakah sikapmu akan terus seperti ini padaku? Apa aku ini bukan wanita yang baik? Apa salah aku, By," Kessy mengeluarkan air mata bawangnya ketika melihat Andryani sudah menuruni anak tangga dari lantai dua rumahnya. Sepertinya Kessy memanfaatkan situasi ini untuk memenangkan hari Andryani.


"Hei, ada apa, Kessy? Melihat Kessy menangis, Andryani pun langsung menghampirinya.


"Byan, apa yang kamu lakukan pada Kessy?" Cecar Andryani pada putranya.


"Umi, dia tidak menangis dengan serius! Dia hanya berpura-pura!" Jawab Byan dengan penuh emosi, ia benar-benar tak habis fikir jika Kessy akan memakai senjata ampuhnya untuk mengelabui Uminya.


"Cukup Byan!" Kessy kini sudah mulai kesal. Ia pun memilih berpamitan pada Andryani untuk pulang.


"Tant, sebaiknya aku pulang. Kehadiranku di sini tidak pernah dihargai!" Kessy berlari cepat menuju keluar rumah.


"Kessy, tunggu!" Andryani mencoba mencegah kepergian Kessy. Namun Kessy tak mengindahkan panggilannya.


"Byan? Bisakah kamu berhenti bersikap kasar pada wanita?" Kali ini Andryani benar-benar marah dan tak terima akan sikap anaknya yang telah menyakiti hati Kessy.

__ADS_1


"Umi, aku tidak kasar! Aku hanya memberi pelajaran pada wanita itu," Byan mengelak atas tuduhan Andryani. Ia juga tak terima mengapa Uminya lebih membela Kessy ketimbang putranya sendiri.


"Byan, kamu benar-benar keterlaluan!" Andryani semakin pusing akan tindakan Byan terhadap Kessy. Sikap Byan terhadap wanita seperti seorang lelaki yang tak terdidik.


"Umi, Byan sudah katakan jangan lagi menerima wanita itu ke rumah ini!"


"Sekarang lebih baik kamu kejar Kessy, dan minta maaf padanya!" Andryani menunjuk ke arah luar rumah meminta Byan untuk mengejar Kessy.


"Apa?" Byan merasa terkejut atas permintaan Uminya. Bagaimanapun ia tak menginginkan ini terjadi, apalagi meminta maaf pada Kessy.


"Cepat kejar dia, atau Umi akan mengadukan hal ini pada Abi?" Ancam Andryani pada Byan.


"Umi, mengapa Byan harus meminta maaf?" Byan masih saja tidak terima. Namun ia segera pergi menyusul Kessy karena Uminya sudah mulai mengancam.


Jika Andryani sudah mengancam Byan akan melapoorkan sikapnya pada Suaminya, maka Byan langsung menuruti permintaanya.


Hal itu dikarenakan Malik akan mengirimnya ke luar negeri jika tak mau mematuhi Andryani. Byan tak ingin pergi ke luar negri dan jauh dari Star, hingga ia pun selalu mematuhi keinginan Andryani.


Tiba di luar rumahnya, Byan langsung menghadang mobil milik Kessy. Ia mencoba mencegah kepergian Kessy dan ingin meminta maaf sesuai permintaan Uminya.


TIT!!! TIT!!!


Kessy menekan klakson mobil, berharap Byan akan menyingkir dari depan. Namun Byan malah semakin mendekat hingga memukul-mukul pintu mobilnya.


"Kessy, turun!" Perintah Byan, spontan Kessy pun seolah terhipnotis oleh ucapannya dan keluar dari mobil itu.


"Ada apa lagi, By? Apa kau belum puas menyakiti perasaanku?" Tanya Kessy masih dengan sisa-sisa tangisannya. Ia mengusap kasar wajah mulusnya dari air mata bawang yang telah ia keluarkan.


"Kessy, aku hanya ingin ..." Byan menghela nafas panjang. Rasanya berat sekali untuk memenuhi permintaan Andryani. Apalagi permintaan itu dilandasi sebuah ancaman.


"Jangan-jangan Byan menghampiriku untuk minta maaf?" gumam Kessy dalam hati menerka-nerka tujuan Byan mencegahnya pulang.

__ADS_1


"Aku," Byan membuang nafasnya kembali. Rasanya ia tak sanggup meminta maaf pada Kessy. Menurut Byan, perlakuan kasarnya itu pantas didapatkan oleh wanita seperti Kessy.


Kessy menunggu ucapan Byan yang tertunda. Ia terus menatap wajah Byan dengan serius, berharap apa yang ia terka itu benar terjadi.


"Kau ingin mengatakan apa, By?" Tanya Kessy tak sabar.


"Maaf," ucap Byan dengan suara lemas tak bertenaga. Ia tak mampu menahan rasa malunya kaki ini. Baginya, meminta maaf pada Kessy adalah hal tak patut dilakukan. Namun ia tak memiliki pilihan lain, daripada harus pergi ke luar negeri.


"A-apa? Aku tidak mendengarnya?" Kessy berpura-pura tak mendengar perkataan maaf Byan dengan suara lemahnya itu.


"Maafkan aku," ucap Byan sekali lagi dengan suara yang sedikit lantang namun tak ikhlas.


"Apa aku tidak salah dengar? Seorang pria yang terkenal dengan sikap arogan meminta maaf padaku?" Kessy merasa bangga, hingga hatinya pun terus bertanya-tanya.


Kessy pun langsung melangkah mendekat maju ke arah Byan. Ia pun memeluk tubuh Byan yang kini sudah berdiri tegang.


"Aku tahu, By. Di balik sikap kasarmu, kau memiliki hati yang begitu lembut," Kessy tersenyum, akhirnya kini ia dapat memeluk tubuh Byan kembali. Tubuh yang begitu membuatnya tergoda sejak awal pertemuan mereka.


"Kessy apa yang kau ..."


Belum selesai Byan mengucapkan kata-katanya, dari jarak beberapa meter ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka. Mata Byan membola, sungguh ini di luar dugaannya. Byan tak bisa berkutik lagi, kali ini ia seperti sedang tertangkap basah.


Sepasang mata yang melihat itu pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah milik keluarga Malik. Ia memilih pergi dan mengambil langkah seribu.


"Kessy, aku harap kau tidak menampakkan diri lagi di rumah ini!" Byan segera mendorong tubuh Kessy dengan kuat agar terlepas dari pelukannya.


"Byan!!!!" Kessy berteriak dengan kuat. Kali ini ia benar-benar sial. Akibat dorongan Byan, ia harus terjatuh ke tanah.


Byan tak memperdulikan apapun yang terjadi pada Kessy. Tujuan utamanya saat ini adalah mengejar sosok wanita yang kini sudah menghilang dari pandangannya.


Byan meninju udara di sekitarnya, ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri. "B*doh!"

__ADS_1


Byan memilih menetralkan emosinya terlebih dahulu, ia menarik nafas dengan panjang dan membuangnya dengan cepat.


"Aku bisa gila!" Byan memilih menuju motor sportnya, dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2