
"Tanganku, Mas Byan,"
"A-ada apa dengan tanganmu, Mara?"
Byan celingukan seperti sedang mencari sesuatu ditangan Mara. Bukan hanya itu, wajah Byan juga terlihat khawatir.
"Mas, bagaimana aku bisa pulang jika kau terus memegangi tanganku,"
Sontak perkataan Mara membuat Byan tersadar. Hingga ia pun melepaskan cekalan tangannya perlahan. Byan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia terus merutuku dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia melakukan hal yang begitu memalukan.
Ingin rasanya Byan memiliki ilmu seperti jin yang bisa menghilang dalam sekejap. Tapi apalah daya, tak ada yang bisa ia lakukan untuk menutupi rasa malunya.
"Aku pulang, Mas, permisi ..." Mara menyunggingkan senyuman kecilnya. Setelah turun dari mobil, ia pun segera memasuki gerbang rumahnya.
Melihat Mara sudah masuk kedalam rumahnya, Byan terus memukul-mukul setir mobilnya sendiri.
"Byan, bodoh sekali!!" Kali ini Byan menghentakkan kepalanya beberapa kali pada sandaran kursi mobilnya.
Ketika Byan sibuk merutuki dirinya sendiri, dari luar ia mendengar beberapa orang sedang berbicara tentang Mara. Kasak-kusuk dapat terdengar di telinga Byan dengan jelas.
"Tuh lihat, memang dasar janda gat*l!"
Seorang wanita berambut keriting dengan warna agak merah berbicara kasar dengan mata terus mengarah pada rumah Mara.
Sementara satu wanita yang lain pun menanggapi perkataan si ibu berambut keriting itu.
"Iya bu, ternyata Mara suka berganti-ganti pria! Kemarin dan yang sekarang sepertinya berbeda, sepertinya target Mara orang-orang kaya,"
"Ya begitulah menjadi janda Bu, pasti menginginkan pria yang banyak uang dan kaya, mana ada janda yang tidak gat*l? Wajar saja, sudah lama tubuhnya tidak disentuh!"
"Awas saja jika dia sampai mengganggu suamiku!"
"Ya, kita berhati-hati saja, Muka cantik, tapi kelakuannya bus*k!"
Tanpa pikir panjang, Byan pun segera melajukan mobilnya. Perkataan ibu-ibu yang barusan ia dengar begitu kasar. Bahkan dirinya tak sanggup mendengarnya, apalagi Mara?
"Apakah Mara terus-terusan menjadi bahan gunjingan orang-orang disini?"
"Ck! Mereka berkata seolah tahu apa yang terjadi, pasti mereka adalah Ibu-ibu biang gosip!"
Di perjalanan pulang Byan terus saja memikirkan pembicaraan ibu-ibu komplek itu.
"Tidak mungkin, Mara tidakk mungkin berbuat seperti perkataan Ibu-ibu itu!"
Byan berusaha berfikir positif, ia tak ingin mengotori otaknya dengan hal-hal yang menurutnya tak penting. Apalagi ia hanya mendengar sekelibat omongan orang yang belum dikenalnya. Byan tak percaya akan ucapan mereka. Lagi pula Byan lebih mengenal sosok Asmara dari pada Ibu-ibu tadi.
__ADS_1
"Mara tidak mungkin seperti itu! Aku tahu siapa Mara,"
"Tunggu, apa yang aku fikirkan? Jika memang benar Mara begitu, memangnya apa urusanku? Tidak ada kaitannya denganku,"
Byan berusaha menghilangkan semua tentang Mara dari otaknya. Ia merasa sejak bertemu dengan Mantan istrinya itu, ia terus-terusan terusik oleh keberadaannya.
"Ayolah Byan, apa yang kamu fikirkan?"
Ia terus saja berbicara sendiri di dalam mobilnya. Hingga tak terasa mobilnya pun telah tiba di depan rumah besarnya. Karena waktu sudah hampir tengah malam, keadaan rumah sudah sepi. Baik Uminya atau Putrinya pasti sudah terlelap di dalam kamar masing-masing. Namun sebelum ia beranjak ke kamarnya, Byan mengunjungi terlebih dahulu kamar Star yang berada tepat diseberang kamarnya. Byan hanya membuka sedikit pintu kamar Star, ia hanya bisa mengintip dari celah pintu. Dilihatnya Star sudah terlelap disana. Ia pun menutup pintu kamar itu kembali.
Di dalam kamarnya, Byan melepaskan pakaiannya kemudian menuju ke kamar mandi. Ia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu kemudian memilih untuk istirahat.
Baginya, hari ini begitu melelahkan. Belum lagi otak dan perasaannya yang rumit. Menurutnya berperang dengan perasaan itu terlalu sulit untuk dihadapi.
Lebih baik ia berperang melawan para saingan bisnisnya karena itu bisa dengan mudah ia kendalikan. Namun berperang dengan perasaan?? Entahlah, sampai saat ini ia belum bisa menemukan solusinya.
Byan menyandarkan kepalanya pada sandaran ranjang. Setelah mandi ia merasa lebih segar, setidaknya otaknya seperti habis di refresh.
Namun, kembali lagi otaknya memikirkan Mara yang terlihat semakin cantik malam ini. Terulang lagi diingatannya, bagaimana Mara menyentuh matanya hingga bagian da*danya yang putih itu dapat terlihat jelas oleh Byan.
"Aku sudah gila!" Byan kembali ke alam sadarnya, ia menepuk jidatnya dengan telapak tangan.
Byan memilih untuk segera tidur, namun saat ia berbaring ia merasa sesuatu dibawah sana sedang berkedut dan mulai mengeras.
"Oh ****!!!!" Byan memilih mengurungkan tidurnya, ia kembali ke dalam kamar mandi dan menyirami tubuhnya dengan air dingin dibawah shower.
Berbeda dengan Byan, Mara yang baru selesai mandi langsung memakai baju tidur terusan yang biasa dipakai olehnya. Saat ia akan tidur, tiba-tiba matanya mengarah menuju ke sebuah kursi yang terletak tepat di depan meja riasnya. Sebuah jas berwarna hitam tersampir pada sandaran kursi.
"Ya ampun! Kenapa aku sampai lupa mengembalikan jas Mas Byan?" Ia pergi begitu saja, hingga lupa mengembalikan jas milik Byan.
"Lalu bagaimana caranya mengembalikannya?"
Mara terus saja memikirkan cara agar bisa mengembalikan jas milik Byan. Tapi ia tidak mungkin menemui Byan di rumahnya, Byan pasti takkan menyukai itu. Mara mengurungkan niatnya untuk tidur malam ini. Ia memilih mencuci terlebih dahulu jas Byan dan mengeringkannya pada pengering mesin cuci.
Mara memberi pewangi pakaian favoritnya pada jas milik Byan. Ia tak mungkin mengembalikan jas itu dalam keadaan kotor ataupun bau.
Merasa sudah selesai dengan tugas cuci mencucinya, ia pun segera menyetrika jas itu dengan setrika uap agar terlihat tak seberapa kusut.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Mara menghirup beberapa kali aroma yang keluar dari jas milik Byan. Senyum di wajahnya dapat terlihat, ia pun menaruh jas itu kedalam sebuah kotak berhiasakan pita untuk segera dikirim kepada Byan besok.
Malam berganti pagi, pagi pun tak terasa menuju siang.
Siang ini, Andryani tengah disibukkan dengan menonton acara kesukaannya di televisi.
Seorang asisten rumah tangga mengejutkan dirinya yang tengah asyik dan fokus mengarahkan mata pada layar berukuran 42 inch itu.
__ADS_1
"Umi, maaf ada paket!"
"Paket? Dari siapa?"
"Tidak tahu Umi, cuma tertulis untuk pak Byan,"
Setelah menyerahkan paket kepada nyonyanya, ART itu pun pergi dari hadapan Andryani.
"Paket? Dari siapa? Apakah Byan memiliki kekasih?"
Senyum sumringah terpancar jelas pada raut wajah Andryani. Matanya menelisik setiap kotak berhiaskan pita berwarna merah itu. Ingin sekali ia mengetahui apa isi paket itu, tapi ia tak mau lancang. Bagaimanapun ini adalah privasi anaknya.
Ia yakin jika paket yang dikirimkan untuk Byan itu dari seorang wanita.
"Umi??" Byan menghampiri Andryani yang terlihat sedang senyum-senyum sendiri.
"Byan???" Andryani semakin memancarkan senyum bahagianya, ternyata orang yang ia tunggu ada disini.
"Ada apa Umi? Sepertinya Uminsedang berbahagia,"
"Jelas Umi bahagia, jika kamu bahagia!"
"Lah? Maksud Umi?"
"Ini, ada paket untukmu Byan," Andryani menyerahkan kotak yang tadi sempat ia selidiki itu kepada putranya.
"Dari siapa, Umi?"
"Entahlah, Umi pun penasaran. Kenapa tidak di buka saja?"
Byan membuka kotak berpita merah itu, ia juga tak sabar ingin mengetahui apa isinya. Lebih tak sabar lagi ia ingin tahu siapa pengirimnya.
Mata Byan membola, ia hanya bisa menelan salivanya setelah mengetahui apa isi dari kotak itu. Semerbak aroma wangi dapat tercium ketika kotak itu baru saja dibuka.
"Apa isinya? Kenapa aromanya wangi sekali, seperti aroma parfum wanita?"
"Umi, Byan ke kamar dulu!"
"Byan, kenapa ke kamar? Umi juga ingin tahu apa isinya?"
Byan segera membawa kotak itu ke dalam kamarnya. Ia melihat ada secarik kertas di atas jas miliknya yang sudah terlipat dengan rapih dan wangi. Dengan segera Byan membaca isi dari tulisan tangan seseorang yang ia kenal.
*Mas, sebelumnya aku minta maaf sekaligus berterimakasih. Maaf jika telah merepotkanmu semalam, terimakasih karena sudah mengantarku pulang dan terimakasih banyak untuk jasnya.*
Ttd. MARA.
__ADS_1
Byan tersenyum sipu membaca surat dari Mara. Ia merasa sedang berada di era 90an karena saling mengirim surat sebagai media komunikasi.
"Ya ampun, Mara ..."