Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Ungkapan Hati


__ADS_3

Mara menoleh ke arah kiri dan kanan, ia melihat beberapa orang telah menonton perdebatannya dengan Byan. Mara hanya bisa menghela nafasnya panjang.


"Aku lelah, Mas. Aku lelah dengan sikapmu! Bisakah kau pergi dariku??"


Tumpah sudah air bening dari sudut mata Mara. Ia benar-benar tak kuat membendungnya lagi. Ia juga tak bisa menahan seluruh gejolak amarah dan kekesalan di dalam hatinya. Namun perasaan dan fikirannya sungguh tak pernah sinkron. Dimana otak memerintahkan untuk melupakan Byan, namun hatinya menolak keras.


"Mengapa kau datang kembali, Mas? Aku bahkan muak dengan semua ini!" Mara memilih pergi meninggalkan Byan. Ia mengambil langkah seribu menuju ke seberang jalan tepat di mana tokonya berada.


Byan hanya bisa membiarkan Mara pergi lebih dulu. Ucapan Mara begitu menusuk hati kecilnya. Bahkan selalu terngiang-ngiang di otaknya. Separuh fikirannya kini tengah memutar kata-kata menyakitkan yang sempat dilontarkan Mara padanya hari ini. Namun Byan berusaha untuk lebih kuat dan menjadikan ucapan sadis Mara sebagai motivasi baginya.


"Apakah ini karma? Ketika aku meminta Mara tak menemui bintang. Sesakit ini ternyata rasanya!" Byan hanya bisa menyesali kesalahannya sendiri. Ia tak menyalahkan sikap Mara padanya hari ini. Mara bersikap seperti itu karena ulahnya sendiri.


"Mara, aku akan berusaha untuk membuatmu percaya padaku kembali," Byan tak menunda lagi. Ia segera menyebrangi jalan dan menghampiri toko kue milik Mara.


"Pak-Pak ..." suara Renata terhenti ketika melihat siapa yang datang kali ini.


"Mara ada di dalam?" Tanya Byan menyapa Renata dengan wajah datarnya.


"A-ada, silahkan masuk Pak," Renata tanpa basa-basi pun segera menunjukkan ruangan kerja Mara pada Byan.


Tanpa menunda lagi, Byan pun masuk ke dalam menuju ke ruang kerja Mara.


Susi yang mengetahui itu pun segera menegur Renata. "Re, kamu jangan sembarangan menerima orang! Bagaimana jika Mba Mara memarahimu lagi?"


"Haduh, mampuslah aku!!!" Renata menepuk jidatnya sendiri dengan keras. Bisa-bisanya ia tak berfikir panjang, padahal sudah jelas Mara pernah melarangnya.


Semua sudah terlanjur, Byan sudah masuk ke dalam ruang kerja Mara. Baik Renata mau pun Susi hanya tinggal menunggu saja kemarahan yang akan diledakkan oleh atasan mereka itu nanti.


"Mara?"


Mara membuka wajahnya yang telah ia tutup dengan kedua telapak tangan ketika mendengar suara seseorang memanggilnya. Betapa terkejutnya ketika ia melihat orang yang sama datang lagi menemuinya. Ia memundurkan kursi kerja yang kini diduduki olehnya hingga merapat dengan tembok.


"Mara, biarkan aku menjelaskan semuanya lebih dulu! Aku mohon padamu," Byan kali ini sudah bersimpuh di depan Mara. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya sebagai bentuk permohonan.


"Apa yang kau lakukan, Mas Byan? Cepat berdiri!" Mara tak menyukai aksi memohon Byan. Biarpun ia jahat, Mara tak mau jika seseorang bersimpuh di hadapannya. Apalagi orang itu lebih tua dari usianya.

__ADS_1


"Aku menyukaimu, Mara. Bisakah kau memberikan kesempatan kedua padaku??"


Deg!!!


Jantung Mara rasanya saat ini terhenti mendengar penuturan Byan yang begitu mengejutkan. Ungkapan hati Byan kali ini sungguh tak masuk akal bagi Mara. Ia malah berfikir jika Byan mendekatinya karena mempunyai tujuan lain yang belum ia ketahui.


Mara segera menghempas jauh-jauh rasa ibanya, ia pun segera meminta Byan bangun dari posisi bersimpuhnya itu.


"Bangun Mas!"


"Aku tidak akan bangun atau pergi, meski kau mengusirku lagi Mara!" Byan masih pada tempatnya. Ia tak akan goyah lagi demi menunjukkan keseriusannya pada Mara.


"Mara, aku bersungguh-sungguh! Aku mohon jangan menghukumku dengan sikapmu ini. Aku mohon ..." Byan masih bersimpuh. Ia pun meraih kedua telapak tangan Mara dan menggenggamnya dengan erat.


"Asmara, izinkan aku menunjukkan keseriusanku ini! Beri aku waktu untuk membuktikan semuanya, please ..." Byan merebahkan kepalanya pada paha Mara. Ia mengecup kedua tangan Mara yang masih ia genggam erat.


Mara seolah terhipnotis, ia hanya bisa mematung tak percaya atas perkataan Byan barusan. Ingin ia menghempas tubuh Byan jauh-jauh, namun sekarang rasanya ia mati kutu tak bisa berbuat apa-apa.


"Kau percaya padaku?" Byan mengangkat wajahnya, ia tatap nanar Mara yang masih mengalirkan air bening itu. Diusapnya perlahan wajah mulus milik Mara yang sudah basah akibat aliran air mata.


"Mara, aku tahu perasaanku dan perasaanmu itu merasakan hal yang sama. Aku takkan mengecewakanmu, aku akan membuktikan jika aku pantas untuk kau percaya!" Byan mencoba meyakinkan Mara kembali. Namun air bening itu malah semakin mengucur deras dari wajah Mara.


"Mara, hei ..." Melihat Mara semakin menangis, Byan tak berkata apapun lagi. Ia segera merubah posisi dan berdiri memeluk tubuh Mara yang masih duduk di kursi kerjanya.


"Tenangkan hatimu," Byan mengusap pelan pundak bagian belakang milik Mara. Ia juga memberi kecupan lembut pada puncak kepala mantan istrinya itu.


"Bisakah kau menuruti satu permintaanku, Mas?" Setelah beberapa menit bungkam, akhirnya Mara pun mengeluarkan suaranya.


Byan yang mendengar itu merasa lega, ia berharap jika Mara akan benar-benar mempercayai dan memberikannya kesempatan lagi. Byan sungguh tak sabar ingin segera mendengarkan Mara.


"Apa itu??"


"Pergi dari hidupku dan jangan pernah datang kembali!"


Duar!!!!

__ADS_1


Suara serak diiringi isakan tangis Mara dapat terdengar jelas ditelinga Byan bak petir menyambar. Berkeping-keping hatinya telah hancur detik ini juga.


"Mara, jangan memintaku untuk pergi lagi! Aku tidak akan sanggup!!" Byan tak kuasa lagi, suara beratnya itu menjadi saksi betapa ia tak sanggup menuruti permintaan Mara.


"Aku tidak ingin berurusan denganmu lagi, aku tidak ingin bertemu atau pun melihat wajahmu itu, aku tidak ingin ada hubungan apapun lagi di antara kita! Silahkan keluar, dan ..."


Mara tak kuasa menahan tangisannya lagi. Di usapnya dengan kasar sisa-sisa air mata yang masih menetes di wajahnya.


"Dan jangan pernah kembali!"


Byan mulai menjauh, ia memundurkan langkahnya ke belakang. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi jika ini sudah keinginan Mara. Namun bukan Byan namanya jika menyerah begitu saja.


"Aku tidak akan kembali lagi, Mara. Apa ada yang belum kau sampaikan terutama untuk Star?"


Mara berfikir sejenak, ia baru menyadari tentang Star. Anak yang amat ia sayangi itu.


"Apakah kamu tidak menyayanginya dengan tulus?" Tanya Byan lagi.


"Aku menyayangi Star lebih dari apapun!" Jawab Mara dengan tegas. Ia tak terima jika Byan menuduhnya sembarangan.


"Jika begitu, mengapa kau mempersulit rasa sayangmu kepadanya? Mengapa kau memintaku untuk pergi menjauh darimu? Apakah kamu tidak ingin Star juga dekat denganmu?" Banyak sekali pertanyaan Byan untuk Mara. Hingga membuat Mara kebingungan harus menjawab yang mana.


"Mas, ini tidak ada hubungannya dengan Star?"


"Jika kau memintaku pergi, maka aku akan membawa Star. Itu kemungkinan yang akan terjadi!"


"Mas Byan, jangan mencoba membingungkanku!" Mara mencoba membuat Byan menuruti keinginannya tadi tanpa membawa-bawa Star dalam masalah mereka berdua.


"Kau sendiri yang membuat kebingungan itu, Mara!"


"Mas Byan kau ..."


"Tenangkan dirimu, fikirkan baik-baik tentang masa depanmu, fikirkan Star, fikirkan aku, fikirkan keluarga kita nanti dan aku akan kembali lagi besok!"


"Tidak, aku kan kembali lagi malan ini!" Lanjut Byan dengan mengulum senyumannya.

__ADS_1


"A-aapa????"


__ADS_2