Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Dua bunga Mawar


__ADS_3

Tiba di kamarnya, Mara melihat tasnya terdapat bercak merah. Ia menelisik setiap sudut tasnya itu dan benar dugannya jika bercak merah itu adalah darah.


Ia memeriksa tubuhnya, tak terdapat luka apapun. Ia juga memeriksa bagian intinya, takut jika ia sedang datang bulan tetapi itu tidak terjadi.


Mara mencoba mengingat-ingat lagi, dan ia yakin dengan fikirannya saat ini jika darah itu adalah darah pria yang tadi menolongnya.


"Jika darahnya bisa menetes, kemungkinan lukanya begitu besar," Mara merasa semakin bersalah pada pria itu. Ia mencoba menghubungi kantor polisi untuk mengetahui hasil pemeriksaan terhadap kedua pelaku penjambretan yang dialaminya.


Namun polisi masih melakukan pemeriksaan lebih dalam untuk mengetahui kejadian sebenarnya.


Ia tak bisa tidur, akibat memikirkan banyak hal yang terjadi belakangan ini. Diingat-ingatnya lagi ketika pertama kali bertemu Bintang setelah sekian lama, setelah itu ia pun kembali berhubungan dengan masa lalunya yaitu keluarga Malik. Sebuah keluarga yang pernah menjadi bagian dari hidupnya dulu.


"Star, aku sungguh merindukan bocah itu. Bagaimana keadaannya sekarang?" Mara terus bertanya-tanya tentang keadaan Star. Setelah perlakuan Byan padanya tempo hari, mereka tak pernah bertemu kembali. Rasanya, ia ingin segera menemui Star untuk mengobati rasa rindunya.


"Dia tak mungkin mengizinkan aku bertemu dengan Star, lupakanlah Mara," batin Mara dengan buliran air mata yang kini menetes di pipinya. Sungguh, ternyata semenyakitkan ini rasanya jika rindu yang ia bendung tak dapat terobati.


Setiap malam, teapatnya setelah kejadian itu Mara selalu terbayang wajah Byan. Ia juga terbayang akan perlakuan Byan kepadanya. Sebenarnya ia tak ingin mengingat-ingat kejadian itu, tetapi entah apa yang terjadi pada otaknya saat ini. Khususnya pada hati kecil Mara yang terus saja mengingat Byan.


Mara mencoba mengubah posisi tidurnya, ia berharap matanya akan terpejam dan terlelap. Namun, sudah berguling-guling beberapa kali pun ia tak bisa menghilangkan ingatannya akan Byan.


"Apa sebenarnya maumu, Mara?" Mara pun menutup selimut tebalnya hingga menutupi seluruh tubuh serta wajahnya. Matanya pun perlahan terpejam, hingga ia pun tertidur lelap.


"Mas, Byan,"


"Mara," Byan mendekat kearahnya, dan mengecup lembut bibir ranum itu.


"Eugh ..." Mara pun melenguh merasakan kenikmatan akibat sentuhan lembut dari Byan. Meski hatinya menolak, namun tubuhnya selalu menerima kontak fisik yang Byan berikan untuknya.


"Boleh aku menyentuhnya?" Tanya Byan membutuhkan persetujuan Mara. Pasalnya, ia tak ingin mendapat penolakan oleh Mara nantinya.


Mara tak banyak berfikir, ia pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Byan tersenyum menyeringai, ia pun memainkan tangannya pada dua buah benda kenyal milik Mara dengan irama yang mengalun dan membangkitkan libidonya.


"Eugh ..." Mara melenguh kembali, sungguh sentuhan Byan dapat membuat dirinya seolah terbang tinggi. Tak dapat di pungkiri, ia begitu menyukai sentuhan ini.

__ADS_1


"Aku menyukainya, Mara," bisik Byan tepat pada telinga Mara.


Sontak bisikan dari Byan membuat tubuh Mara semakin menggelinjang dan matanya pun terbuka lebar.


"Aku tidak bisa terus begini!" Mara bangun dari posisi rebahannya. Ia menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan kakinya berharap malam ini dapat tidur dengan tenang tanpa mimpi aneh yang mengganggunya lagi.


"Ini adalah kesalahan!" Mara melihat pantulan wajahnya pada cermin yang ada di kamar mandinya. Ia terus membasuh wajahnya beberapa kali untuk membuang jauh-jauh fikirannya tentang Byan.


"Sangat memalukan! Mengapa harus mimpi seperti itu, Mara?" Hal yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah merutuki dirinya sendiri.


...****************...


"Morning, Mba," sapa Renata pada atasannya yang pagi-pagi sudah memasang wajah lesu dan tak bersemangat seperti biasanya.


"Morning, Re," jawab Mara tanpa menoleh ke arah Renata dan langsung masuk begitu saja ke dalam ruang kerjanya.


Renata dan Susi hanya bisa saling pandang, keduanya pun saling melontarkan pertanyaan satu sama lain, mereka berdua masih bingung dengan sikap Mara hari ini.


"Selamat pagi," sapa seorang lelaki yang kini menghampiri Renata dan Susi di tengah kebingungan mereka. Lelaki tinggi dengan nada bicara sedikit kebule-bulean.


"Apa Mara ada?" Tanya pria itu pada Susi.


"Ada keperluan apa, Pak? Kami tidak melayani hal lain selain pembeli kue," kini Renata yang angkat bicara. Ia sedikit tak menyukai basa-basi yang pria itu lakukan. Ia juga merasa tak menyukai pria blasteran itu tanpa sebab. Apa mungkin karena pria itu bukanlah pria yang menitipkan vitamin C kepada Mara tempo hari? Pria yang menurutnya lebih pantas bersama Mara.


"Re, jangan seperti itu," Susi menyenggol lengan Renata dengan tangannya. Ia tak habis fikir jika Renata akan bersikap acuh pada orang yang datang ke toko tempat mereka bekerja.


"Aku akan membeli kue, setelah bertemu Mara," ucap lelaki itu dan langsung saja tanpa permisi menuju ke ruangan di mana Mara berada.


"Heiii, anda mau ke mana??" Teriak Renata diikuti Susi di belakangnya.


"Mara?"


Suara seorang pria yang khas dan tak asing di telinganya mengganggu aktivitas melamunnya. Ia pun menoleh ke arah pintu yang telah terbuka dan menampakkan sosok pria yang begitu ia kenal.

__ADS_1


"Steve?"


"Mara, aku merindukanmu," Steven melajukan langkahnya mendekati Mara yang berdiri mematung melihat kedatangannya. Ia pun memeluk tubuh langsing wanita yang kini menjadi pemilik hatinya dengan erat.


Mara terkejut dengan aksi peluk Steven, ia merasa canggung karena dari luar sana karyawannya tengah melihat mereka. Mara pun mencoba mendorong tubuh Steve berharap ia akan terlepas dari pelukannya.


Setelah ia terlepas dari dekapan Steve yang begitu erat dan membuatnya sedikit sesak, Renata dan Susi yang melihatnya pun langsung pergi dan menutup pintu dengan rapat.


"Steve, kapan kau datang?" ucap Mara canggung, ia merasa sikap Steve kali ini begitu berbeda dari sebelumnya.


"Sudah beberapa hari yang lalu," Steve terus saja tersenyum menatap wajah Mara yang kini berada tepat di depannya.


"Mengapa kau tak memberitahuku?" Mara menggelengkan kepalanya, ia tak percaya Steve datang ke Jakarta namun tak memberitahunya.


"Kau tak pernah membalas pesanku, akhir-akhir ini," jawab Steve merasa ada sesuatu yang membuat hatinya begitu nyeri.


"Steve, maaf akhir-akhir ini aku begitu sibuk!" Mara mencoba mencari alasan, ia merasa tak enak hati pada Steve. Ia akui, terakhir melakukan seminar ia tak pernah lagi berkomunikasi dengan Steve. Bahkan pesan yang Steve kirimkan tak pernah ia baca.


"Tak apa, aku memakluminya," Steven pun menyerahkan bunga yang ia bawa kepada Mara.


"Bunga? Untukku?" Tanya Mara tak percaya sekaligus memastikan.


"Bukan," ucap Steve dengan wajah datar.


"Lalu?"


"Ya untukmu, aku menyerahkan bunga ini padamu. Bukan pada orang lain, Mara," rupanya Steve kini merasa kesal, mengapa Mara tak menerima pemberiannya dengan senang seperti yang ia bayangkan.


"Oh, terimakasih," Mara hanya bisa mengucapkan kata singkat dan sedikit senyuman. Ia tak tahu harus berkata apa pada Steven.


"Mara, apa hari ini kau juga masih sibuk?"


"Tidak terlalu, tapi aku ..." Mara menatap bunga mawar putih yang ada di sudut meja kerjanya. Kemudian ia juga menatap bunga mawar merah yang baru saja di berikan Steve kepadanya. Fikirannya menjadi menjalar dan menabak-nebak siapa orang misterius itu selama ini?

__ADS_1


Mara meletakkan bunga mawar merah tepat di sebelah bunga yang tempo hari di terimanya. Kini, di meja kerjanya ada dua jenis bunga yang sama meskipun berbeda warna.


"Apakah dia Steve?" gumam Mara dalam hati penuh tanya.


__ADS_2