
"Tante cantik, maukah menjadi Mama Star?"
Ungkapan Star sontak membuat seisi ruangan terkejut. Apalagi Byan. Apakah Star kini melamar Mara untuk mewakili dirinya?
"Tante," panggil Star ketika Mara saat ini masih dalam keadaan terkejut.
"Star, sini sayang," panggil Andryani. Mencoba memberi ketenangan untuk cucunya.
Setelah Star beringsut ke dalam pangkuan Ommanya, Byan dan Mara kini duduk tanpa pembatas lagi. Kedua jantung mereka seolah sedang beradu kecepatan.
"Anak kecil memang lucu!" Ujara Andryani mencoba menetralkan suasana.
"Maaf ya, Mara. Atas ketidaknyamanannya," kali ini Malik meminta maaf atas ucapan ucapan Star barusan. Ia merasa Mara tidak nyaman.
"Tapi, sebenarnya niat kami kemari memiliki maksud baik," lanjutnya lagi.
"Bu Kamila, diawal pertemuan saya sudah katakan maksud kedatangan kami sekeluarga,"
Ucapan Malik ditanggapi senyum ramah dari Kamila, "Soal itu tadi, saya setuju saja, Pak Malik. Tapi, Mara yang lebih memiliki hak untuk menentukan,"
"Hak untuk menentukan? Dalam hal apa?" Tanya Mara di dalam hati. Masih dalam keadaan bingung karena ia tak mengetahui arah pembicaraan orang tuanya. Seketika ingin bertanya dengan orang yang berada satu kursi dengannya, namun hatinya tak berani.
"Kami berharap, Mara akan setuju dan menerimanya. Bukan begitu, Mara?" Tanya Andryani disertai senyuman penuh harapan.
Ia sangat berharap Mara akan menerima pinangan
Putranya. Karena ia tak ingin melihat Byan sekaligus Star kecewa jika saja Mara menolak. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hancurkan hati Byan apabila Mara mengatakan tidak.
"Eh," Mara tersenyum kaku. Menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Mencoba menetralkan perasaan gaduh dalam hatinya, "i-iya, Umi," jawabnya tertatih.
"Iya?" Byan yang berada di sebelahnya pun tak bisa lagi membendung perasaannya. Menoleh secara spontan kearah Mara. Ingin menatap wajah itu lebih lama. Tanpa berpaling.
Begitu pula dengan Asmara, ia membalas tatapan aneh dari Byan. Namun, dengan segera ia membuang pandangan ke arah lain. Menahan getaran aneh dihatinya yang tak lagi bisa terkontrol dengan baik.
"Mara, kamu mengiyakan. Itu tandanya kamu menerima?" Tanya Byan mencoba menahan perasaan senangnya agar tak terlalu kentara.
Mara menggeleng, "Menerima? A-pa, mas?" Jawabnya tertatih, namun memiliki makna penuh tanya.
__ADS_1
Semua orang tertawa, melihat kelakuan Mara. Namun tidak dengan Byan. Ia hanya bisa menarik nafas panjang. Ia harus lebih bersabar lagi. Meski sebenarnya rindu yang selama ini sudah menumpuk ingin segera ia akhiri dengan memeluk erat tubuh Mara, wanitanya.
"Mara, apa kamu bersedia menjadi ..."
"Byan," potong Malik menghentikan ucapan putranya.
Byan menoleh ke arah Malik, menyesali karena telah menunda ucapannya. Padahal ia sudah begitu yakin akan mengatakan hal ini pada Mara tanpa membuang-buang waktu lebih lama. Namun Abinya itu malah menghentikannya.
"Byan, Abi tahu kamu sangat tidak sabar," Malik mencoba membuat Byan agar tak terlalu tegang disela-sela keseriusannya.
Semua orang tertawa, hal itu membuat Byan sedikit tegang.
Tegang karena takut. Takut jika Mara tak akan menerima lamarannya.
"Mara, biar Abi jelaskan," ucap Malik dengan hati-hati.
"Abi sekeluarga datang kemari, ingin melamarmu untuk putra Abi," lanjutnya lagi.
Wajah Mara terlihat memerah, sikapnya pun kini tegang, sama seperti Byan. Mendengar penuturan Malik, ia jadi tidak bisa berkata apa-apa lagi.
What? Melamar?
"Jika Mara memang belum siap, tak apa. Mara bisa memikirkannya terlebih dulu," saran Andryani. Mencoba memberikan ruang dan waktu untuk Mara agar bisa berfikir.
"Atau mungkin jika Mara menolak, kami sekeluarga pun tidak masalah. Karena ini adalah hak Mara sepenuhnya," lanjut Andryani. Padahal sebenarnya, ia sangat menginginkan Mara mengatakan 'iya'
Namun Byan merasa tak terima dengan ucapan Uminya itu. Jika saja Mara menerima lamarannya, maka ia akan sangat bahagia. Tetapi jika Mara menolak, maka hancurlah segala kehidupannya.
"Terimalah aku, Mara!" ucap Byan dengan tegas, memberikan tatapan kepercayaan. Merasa yakin jika Mara akan menerima lamarannya. Lebih tepatnya ia sama sekali tak ingin ditolak.
"Byan, kenapa memaksa?" Tanya Malik, mengulum senyumannya.
"Abi, Byan tidak memaksa. Hanya saja ..."
Byan tak melanjutkan perkataannya yang masih menggantung.
"Hanya saja, Byan tidak ingin kehilangan Mara lagi," lanjutnya dengan suara lirih setelah beberapa detik.
__ADS_1
"Byan," Andryani yang tahu jika putranya itu tengah mengingat masalalu pahitnya pun mencoba menenangkannya.
"Tante, Cantik? Kenapa diam saja?" Tanya Star yang melihat Mara hanya terpaku dan membisu.
"Tante, kalau tidak ingin menerima Papa. Maka terimalah Star," ucap Star penuh harap.
Semua orang terharu. Mendengar ucapan bocah kecil itu yang sudah begitu mengharapkan Mara menjadi Ibunya. Jelas, sikap Star diturunkan dari Papanya yang juga tidak bisa sabar dan menunggu lebih lama.
Tetesan air mata Mara kini tak dapat di bendung lagi, ia sangat tersentuh akan ucapan Star barusan.
"Tante, terima Star atau Papa?" Tanya Star lagi masih menunggu jawaban Mara.
Mara tersenyum, menyeka bulir air bening di wajahnya. Ia tak ingin mengecewakan bocah kecil itu, "Star, saja!"
Seisi ruangan terharu, mendengar penuturan Mara barusan. Tetapi tidak dengan Byan. Ia merasa ketar-ketir. Apakah Mara menerimanya atau tidak? Jelas Mara menolak, karena ia lebih memilih anaknya dibandingkan dirinya.
"Terimakasih, Tante," ucap Star sembari berhambur kepelukan Mara.
"Jadi, Tante menerima lamaran Star untuk Papa??" Tanya Star menatap mata Mara menginginkan penjelasan.
"Yes!" Ucap Byan dalam hati, tersenyum. Senang sekali. Star sungguh anaknya yang cerdik. Bisa mewakili perasaannya yang tengah gundah gulana.
Mara menoleh ke arah Byan, menatapnya sekejap. Mencari jawaban untuk memantapkan hatinya. Tak ingin terluka lagi. untuk kedua kali oleh orang yang sama. Namun ia juga tak ingin membuang kesempatan untuk Byan. Benarkah Byan sudah berubah? Akankah Byan mencintainya dengan tulus?
Byan beranjak dari sofa, kini posisinya berubah menjadi jongkok di depan Mara. Memberikan keyakinan agar Mara tak lagi ragu untuk menerimanya.
Byan mengambil tangan Mara, menyentuh telapak tangan yang terasa dingin itu dengan lembut, "Mara, percaya padaku."
"Beri kesempatan untukku, aku sangat-sangat mengharapkanmu untuk menjadi istri sekaligus ibu bagi Star," ucapnya dengan Mata berkaca-kaca.
"Jika kamu merasa belum yakin, atau membutuhkan ruang dan waktu untuk berfikir lebih dulu, aku akan berbesar hati memberikanmu waktu. Mantapkan hatimu, aku dan Star selalu menunggu," lanjutnya.
Mara menangis haru, ia tak tahu harus berkata apa. Sepertinya hatinya saat ini sudah mantap. Tetapi tak bisa langsung berkata karena saking senangnya.
Apakah dia masih butuh waktu untuk berfikir? Sepetinya tidak lagi. Ia sudah memantapkan hati.
Byan mengeluarkan sebuah kotak berbentuk hati, berwarna merah. Membuka dan menunjukkan ke kearah Mara.
__ADS_1
"Will you Marry me??"