Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Mengantar Pulang


__ADS_3

"Aku hanya mengantarmu pulang malam ini," ucap Byan tak ingin membuat kesalah pahaman diantara mereka berdua. Padahal sudah jelas, ia telah membuat salah paham Mara dengan ucapannya tadi.


"Jangan salah paham, apa kamu ingin diganggu oleh bocah ingusan barusan?"


"Tidak," Mara menggelengkan kepalanya perlahan.


"Ya sudah. Kamu mau ikut denganku atau tetap berdiri di situ?" Byan berjalan lebih dulu menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh. Diikuti Mara yang berjalan mengekorinya dari belakang.


Sebenarnya setelah Mara berpamitan untuk pulang dari pesta, tak lama Byan pun ingin pulang. Namun saat tiba diparkiran mobilnya, Byan melihat Mara tengah bersama seorang pria.


Byan berusaha bersikap masa bodoh, tapi hatinya tak begitu, ia terus saja memperhatikan setiap gelagat dari pria yang mendekati Mara dari dalam mobilnya. Perasaan curiganya pun mulai muncul,


hingga pria itu menyentuh tangan Mara. membuat Byan tak lagi bisa menahan diri, ia pun segera menghampiri mereka karena tahu jika Mara saat ini tengah diganggu.


Mara mencoba membuka pintu belakang kemudi, ia merasa tak enak jika harus duduk di sebelah kemudi. Lebih tepatnya ia merasa canggung dan tak enak hati. Ia pun masuk kedalam mobil dan duduk di belakang bangku di mana Byan duduk untuk menyetir Mobilnya.


Byan melihat Mara dari kaca spion yang menggantung. Ia berdecak seolah tak terima jika Mara duduk di kursi penumpang.


"Ck! Duduk di belakang seperti Boss??"


Mara dapat mendengar jelas ucapan Byan, tatapan mereka bertemu dikaca spion. Merasa tak enak karena tatapan mata Byan yang tajam Mara pun pindah duduk di bangku sebelah kemudi.


"Safety belt!"


Mara ternyata ceroboh, ia pun segera memasang sabuk pengaman setelah mendapat peringatan dari Byan. Bukannya terpasang, tangan Mara malah terjepit oleh pengait sabuk pengaman itu.


"Aw!" Entah apa yang Mara pikirkan saat ini, hingga membuat kecerobohan di depan mantan suaminya itu. Sungguh kali ini Mara sangat malu, namun ia juga harus menahan rasa sakit di jemarinya.


"Mara, kamu tidak apa-apa?" Byan segera meraih tangan Mara yang tadi terjepit, hingga tubuh Byan sedikit condong kearahnya.


Wajah keduanya pun saling bertatapan, dengan jarak yang hanya beberapa senti saja. Dapat keduanya rasa, hembusan nafas yang hangat hingga membelai setiap kulit yang tertiup. Wajah keduanya saling menegang, tatapan keduanya terus bertemu, fikiran keduanya pun sepertinya sama.


"Mas,"


Merasa ada yang aneh pada hatinya, karena terus saja berdesir tak karuan Mara pun menyadarkan Byan.


Byan sontak terkejut, hingga ia pun membenarkan posisinya. Tangan Mara yang semula ia pegang, kini dihempaskan olehnya begitu saja.


"Ma-maaf," hanya kata itu yang keluar dari mulut Byan.


Didalam keheningan malam, Byan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak ada yang berani memulai percakapan diantara mereka berdua. Keduanya sama-sama masih merasa canggung. Mara tidak tahu apa yang harus ia katakan, ia memilih untuk mengarahkan pandangannya keluar jendela.


Drttttt..... Drtttt....


Ponsel Mara bergetar, terlihat dilayar ponsel tertera nama IBU. Mara pun segera menggulir icon berwarna hijau untuk menerima telepon dari ibunya.


"Iya bu, Mara sedang di jalan," Mara mendengarkan perkataan ibunya sembari melirik kearah Byan.


Dapat Byan lihat dengan jelas lirikan mata


Mara yang mengandung arti itu. Entah apa yang ia bicarakan dengan ibunya, Byan hanya bisa menebak dalam hati jika ibu Mara tengah khawatir saat ini. Ingin rasanya Byan merebut ponsel itu dari Mara dan mengatakan kepada ibunya jika Mara aman bersamanya saat ini. Tapi apalah daya, tak ada hal apapun yang bisa ia lakukan mengingat hubungannya dengan Mara. Hubungan sebagai mantan suami, yang tak lagi berhak atas Mara.


"Iya bu Mara diantar oleh teman, Mara baik-baik saja jangan khawatir,"


"Apa?? Teman? Mara bilang aku teman?" Byan bertanya-tanya dalam hati. Entah mengapa ia merasa tak terima jika disebut sebagai teman oleh Mara.

__ADS_1


Setelah selesai bicara dengan ibunya, Mara pun segera menutup sambungan teleponnya.


"Mas, setelah jalan ini di depan ada pertigaan, belok kanan saja," saat ini Mara seperti memerintah seorang sopir.


"Kenapa belok kanan, bukankah jalan ke rumahmu terus lurus?" Tanya Byan karena Google Maps yang dibaca Byan tak sama dengan apa yang diintruksikan oleh Asmara.


"Belok kanan lebih cepat mas," jawab Mara singkat.


"Apa? Lebih cepat? Apa Mara tidak betah berlama-lama denganku?" Lagi-lagi Byan hanya bisa bertanya-tanya didalam hati. Merasa tak terima, Byan pun menaikkan kecepatan mobilnya.


"Mas, pelan-pelan! Aku belum ingin mati!!!" Protes Mara.


"Kamu bilang biar lebih cepat!"


"Maksudku lebih cepat karna lewat jalan pintas, bukan berarti harus menaikkan kecepatan mobil seperti ini!"


"Ck! Wanita selalu saja merasa benar sendiri!"


"Aku memang benar, Mas!"


"Ya ya ya! Aku yang selalu salah!"


"Kamu memang salah, Mas!"


"Ya. Aku mengaku salah!"


"Baguslah jika kamu mengakuinya,"


"Aku cuma mengalah ..." Byan mulai berkata lirih, karena percuma berdebat dengan Mara.


"Ya tuhan, apa yang aku lakukan?" Byan bermonolog dalam hati sesekali ia melirik Mara disebelahnya.


Ia hanya bisa menelan salivanya setiap kali melihat Mara. Leher jenjang Mara yang semakin memikat matanya. belum lagi bibir padat berisi yang semakin membuat Byan haus.


Cittttt....


Byan tiba-tiba mengerem mendadak. Hal itu membuat tubuh Mara condong kedepan.


"Mas Byan, ada apa???" Mara terkejut, hingga jantungnya berdebar kuat karena takut.


"Ya tuhan, apa yang aku fikirkan?" Dalam hati ia menyesal karena telah berfikir m***m hingga membuatnya tak fokus menyetir.


"Mas!!!" Panggil Mara dengan nada naik satu oktaf.


"Maaf, mataku tiba-tiba kelilipan," alasan tak masuk akal, Byan sangat menyesal karena mengeluarkan kata-kata itu. Hingga ia terus merutuki dirinya sendiri.


"Kelilipan? Memangnya ada debu disini?" Mara memperhatikan sekeliling mobil, karena sejak pertama masuk kedalam mobil Byan ia tak menemukan debu sedikitpun. Mobil Byan tampak bersih dan terus wangi dengan pengharum beraroma kopi.


"Aw!! Sepertinya ada yang masuk ke mataku! Aduh perih ..." Byan berakting, ia terpaksa berpura-pura agar Mara mempercayainya.


"Mas, kamu tidak apa-apa?" Mara merasa khawatir melihat Byan yang terus saja menutup matanya seolah sedang merasa kesakitan


"Aku tidak apa-apa ..."


"Coba aku lihat, Mas, takut akan iritasi,"

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Mara, sebentar lagi pasti sembuh,"


"Mas, jangan menyepelekan! Sini biar aku bantu,"


Mara meraih tangan Byan yang terus saja menutupi matanya. Ia menjadi khawatir, hingga menarik tangan itu dengan paksa.


Mara mencondongkan tubuhnya kearah Byan. Kemudian meniup-niup mata Byan hingga beberapa kali.


Bukan hanya tiupan Mara yang membuat jantung Byan berdebar, tapi sentuhan demi sentuhan Mara lah yang semakin membuat hampir setiap tubuh Byan rasanya menegang. Tak terkecuali bagian sensitifnya. Apalagi ketika terlihat jelas oleh mata Byan belahan da*da yang terlihat putih mulus tanpa noda. Ah, rasanya ingin sekali ia menyentuh bagian kenyal itu setelah sekian lama hasratnya sebagai pria tak tersalurkan.


Sementara Mara memperhatikan setiap mata Byan, ia mencoba mengambil ponselnya dan menyalakan flash. Dari situ dapat terlihat jelas mata dan seluruh wajah mantan suaminya itu yang tengah menatapnya dengan lekat tanpa kedip.


Mara tak mau berlama-lama, ia segera melanjutkan aktivitasnya mencari sesuatu dimata Byan. Namun ia tak menemukan apapun.


"Sudah mas, tidak ada apa-apa! Apakah masih perih?" Mara mematikan flash ponselnya. Kemudian membenarkan posisinya kembali.


"Oh ... Mungkin sudah keluar ketika aku mengucek mataku tadi," Byan beralasan lagi padahal memang tidak terjadi apapun pada matanya, ia terpaksa harus melanjutkan kebohongannya.


Sekali berbohong, maka akan terus berbohong! Ternyata kata-kata yang sering ia dengar itu benar adanya.


"Tapi sudah tidak perih lagi kan, Mas?" Tanya Mara meyakinkan.


Sebenarnya ia tak ingin bersikap seperti ini, ia takut Byan akan mengira yang tidak-tidak karena sok perhatian. Tapi, entah mengapa perlakuannya pada Byan bersifat spontan hingga ia pun tak bisa menahannya.


"Mas, aku tidak bermaksud apapun. Maaf jika tadi aku lancang," sebelum Byan melontarkan kata-kata kasar padanya, ia segera meminta maaf mencoba meluruskan niat baiknya.


"Oh, tak apa. Justru aku malah berterima kasih, karena kamu telah membantuku,"


Bukan hanya Mara yang tak enak hati, Byan pun merasakan hal yang sama. Bagaimanapun, perlakuan Mara bermula dari kebohongannya. Ia malah semakin merasa bersalah pada mantan istrinya itu.


Tak lama kemudian, mobil pun sampai di sebuah komplek perumahan Mara. Mara meminta Byan untuk menghentikan laju mobilnya.


"Mas, aku turun di sini," di depan sebuah rumah berlantai dua, bisa dibilang besar tapi tidak terlalu besar dibandingkan rumah Mara waktu di Jogja dulu. Mara pun mencoba membuka pintu mobil.


"Mas, terimakasih sudah mengantarku sampai rumah," sebelum ia keluar, Byan mencoba menghalanginya dengan mencekal lengan Mara.


"Tunggu Mara!"


Mara menoleh, mengurungkan niatnya keluar dari mobil.


"Ada apa mas?"


"Apa kamu tinggal di rumah ini?"


"Iya mas, kenapa?"


Mara sebenarnya ingin sekali menawarkan Byan untuk singgah ke rumahnya, tapi hati Mara masih takut. Takut jika Byan akan menolaknya, takut pula ibunya akan marah karena Byan yang mengantarnya pulang. Ditambah sekarang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Mas? Jika tak ada lagi yang ingin dikatakan, aku permisi," pamit Mara pada Byan.


"Oh, iya. Baiklah hati-hati," Byan terbata, ia sebenarnya ingin bertanya perihal yang lain pada Mara. Namun mulutnya tertutup seolah tak bisa mengeluarkan kata-kata lain lagi ketika berhadapan dengan Mara saat ini.


"Mas ..."


"Iya, ada apa Mara?"

__ADS_1


"Tanganku,"


__ADS_2