
"Mara?" Mengetahui Mara di jam sembilan pagi baru keluar kamar, ia sedikit khawatir. Namun ia juga tak ingin terlalu banyak tanya, keyakinan di hatinya tahu jika putrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Morning, Ibu, Randy," sapa Mara pada Ibunya dan Adiknya.
"Morning?? Ini sudah jam sembilan, Kak," celetuk Randy yang heran dengan Kakknya itu. Namun saat inu juga Randy langsung mendapat kode mata dari Ibunya.
"Kakak terlalu banyak tidur," Mara beralasan, padahal jelas sekali jika semalam ia tak dapat tidur meski sudah berulang kali memaksa memejamkan matanya yang kini terlihat sembab.
"Mara langsung ke Toko ya, Bu," Mara berupaya menghindari banyak pertanyaan dari Ibunya perihal semalam. Belum juga ia beranjak, Kamila sudah mencegahnya.
"Tunggu, Asmara!"
Mara hanya bisa menghela nafasnya, firasatnya kali ini tak enak ia pasti telah tertangkap oleh Ibunya dan ia harus bersiap mendapatkan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang akan membuatnya semakin lelah.
"I-ya Bu,"
"Wajahmu pucat sekali, Nak. Apa kita perlu ke dokter?" Tanya Kamila yang kini terus memperhatikan raut wajah Asmara.
Sebenarnya ia ingin sekali bertanya pada Mara perihal Byan yang mengantarnya pulang semalam. Tetapi ia urungkan niatnya itu, ia lebih memilih untuk menunggu Mara bercerita padanya. Ia juga tak ingin Mara terganggu karena pertanyaan yang akan ia lontarkan. Baginya, kali ini Mara lebih membutuhkan sebuah pengertian bukan pertanyaan.
Itulah definisi Ibu yang sesungguhnya, ia akan menjadi teman yang akan merangkul anaknya sekaligus ibu yang akan mengerti segala keadaannya.
"Mara akan ke dokter nanti, Ibu jangan khawatir," jelas Mara. Ia sedikit lega karena Ibunya tak menanyakan banyak hal padanya.
__ADS_1
"Steve menelpon Ibu, sebaiknya kau segera mengabarinya,"
"Oh, Iya Bu. Mara akan mengirim pesan pada Steve nanti setelah sampai di toko," Mara langsung menyalami tangan Ibunya. Kemudian ia menuju mobilnya yang terparkir untuk menuju toko kuenya.
Setibanya Mara di Toko kue miliknya, ia langsung masuk menuju ke dalam dengan menggunakan kaca mata hitam untuk menutupi mata sembabnya dari para pandangan karyawannya.
"Tari, jika ada yang mencariku tolong katakan saja aku sedang keluar," untuk berjaga-jaga, Mara mencoba menghindari beberapa orang terlebih dahulu saat ini.
"Ta-tapi Mba," Tari merasa titah Atasannya itu terlambat. Pasalnya sudah ada tamu yang lebih dulu menunggunya sejak tadi pagi, bahkan sebelum toko ini buka.
"Tidak ada kata tapi ..." Mara pun langsung masuk begitu saja menuju ke dalam ruang kerjanya.
Nasib sial pagi ini kembali menimpa dirinya, begitu ia masuk sudah ada sosok yang tengah duduk di sana menanti kedatangannya. Padahal, sosok itulah yang harus ia hindari hari ini dan juga hari-hari berikutnya.
Melihat Byan di sana dan sudah berdiri, ia tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya hanya bungkam dan tak mampu berkata.
"Mara, izinkan aku berbicara sebentar, tolong jangan menghindar," ucap Byan memohon.
"Mara, aku kemari hanya ingin meminta maaf," lanjut Byan lagi kali ini dengan suara beratnya.
Mara masih bungkam, ia tak habis fikir Byan akan menggunakan cara ini hanya untuk menemuinya. Mara tak sanggup mengarahkan pandangannya pada Byan, meski ia masih mengenakan kaca mata hitamnya.
Namun Mara tak bisa hanya tinggal diam, ia tak mau memberikan kesempatan lebih lama untuk Byan. Ia harus memikirkan sebuah cara agar Byan segera pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Aku sudah memaaafkanmu, jika sudah selesai bicara silahkan keluar dari sini,"
Dengan suara berat dan sedikit sesak, Mara kali ini angkat suara, ia ingin segera menyudahi pertemuannya dengan Byan yang sangat tak diinginkan olehnya.
"Mara, kamu baik-baik saja?" Bukannya segera pergi, Byan malah bertanya perihal keadaan Mara kali ini. Ia bisa mendengar suara berat Mara yang menunjukkan jika dia sedang tak baik-baik saja.
Apalagi kali ini Mara tak menyebutkan kata panggilan 'mas' kepadanya seperti biasa. Sungguh, hati Byan kini kecewa mendengarnya.
Asmara tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh mantan suaminya itu. Ia memilih beranjak dari posisinya saat ini di belakang pintu menuju ke meja kerjanya. Menghindari Byan ternyata begitu sulit bahkan dirasa percuma. Karena yang ada Byan malah ingin terus mengganggunya. Mara berfikir jika sebaiknya ia beralih menghadapi Byan.
"Mara, aku tahu kau pasti kecewa karena perbuatanku semalam. Tapi, mengertilah jika itu diluar kendaliku. Aku sedang mencari tahu apa yang terjadi padaku, secepatnya aku akan ..."
"Lupakan! Anggap saja tak pernah terjadi apapun diantara kita." Belum juga selesai Byan berbicara, Mara sudah memotongnya terlebih dulu. Hal yang utama baginya saat ini adalah ingin segera menyudahi pertemuannya dengan Byan.
Byan kecewa, tak pernah ia mendapatkan penolakan seperti ini dari Mara. Biasanya Mara selalu memberi kesempatan padanya untuk berbicara, dan hari ini memandangnya pun tak dilakukan oleh Mara. Sebegitu bencinya kah Mara padanya?
"Tolong jangan menggangguku, silahkan keluar karena aku harus segera bekerja," ucap Mara mencoba mengusir Byan kembali.
"Mara aku ..."
"Silahkan keluar, atau aku akan panggilan satpam!"
Byan menyerah, kali ini ia lebih memilih untuk membiarkan Mara sendiri dan menenangkan dirinya lebih dulu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pergi," suara lemah Byan dapat terdengar ditelinga Mara. Byan pun memilih untuk pergi dari dalam ruang kerja Mara.