
"Ini tidak benar, Mara," Mara membenamkan kepalanya pada setir mobil. Ia benar-benar menyesali perbuatannya hari ini.
"Harusnya kau bersikap biasa saja, bukan malah lari begini!!"
Sesekali ia memukulkan kepalanya pada setir mobil itu. Saat terakhir ia melihat Byan berpelukan dengan seorang wanita, entah apa yang dirasakan oleh hatinya pada detik itu.
Nyeri, perih atau sakit? Entahlah, bermacam-macam rasa yang ia dapatkan karena menyaksikan Byan memeluk wanita lain.
"Heuh, itu HAKnya. Terserah dia mau berpelukan dengan siapa pun? Bahkan pasti dia sudah melakukan lebih dari itu!"
Mara merasa semakin kesal. Bukan kesal terhadap Byan, melainkan kesal pada dirinya sendiri. Haruskah ia mengakui jika saat ini rasa cemburu tengah melanda hatinya?
"Tidak! Itu tidak mungkin!" Mara mengelak. Baginya, Byan tak pantas mendapatkan rasa cemburu darinya. Toh, Byan bukanlah siapa-siapanya. Dia hanyalah sebuah cerita di masalalu 1yang harus ia kubur dalam-dalam.
Tapi, terasa ada yang mengganjal di dalam hatinya. Meski ia sudah mengelak dan mencoba memudarkan semua perasaan itu. Tetap saja, ia masih tak bisa menerima tentang apa yang ia lihat barusan.
Sementara di situasi berbeda, Byan yang mengendarai sepeda motornya berhenti di tepi jalan ketika ia melihat mobil Mara yang juga sedang menepi.
Byan segera melepas helm yang ia pakai dan meletakkan tepat di atas sepeda motornya. Setelah itu Byan pun langsung mengetuk pintu mobil Mara.
Tok! Tok!
Mara yang berada di dalam pun terkejut ketika melihat siapa orang yang telah mengetuk kaca mobilnya.
"Oh, tidak!" Mara bingung sekaligus kesal ketika ia tahu siapa yang datang.
"Mara, buka pintunya," pinta Byan dari luar yang dapat terdengar oleh Mara.
Mara bingung, ia tak tahu harus bagaimana. Jika ia kabur lagi, pasti Byan akan mengira yang tidak-tidak tentang dirinya. Untuk saat ini Mara memilih diam tak melayani Byan. Ia menundukkan wajahnya agar tak terlihat oleh Byan dari luar, berharap Byan akan segera pergi.
"Apakah aku harus menghadapinya?" Kebingungan masih melanda hati Mara.
Namun Byan tak menyerah begitu saja, ia terus saja mengetuk-ngetuk kaca mobil Mara. Hal yang membuatnya khawatir saat ini adalah Mara tak juga membukakan pintu atau kaca mobilnya. Ia takut terjadi sesuatu pada Mara di dalam sana.
"Mara, tolong buka pintunya!" Byan semakin khawatir akan keadaan Mara saat ini. Sehingga ia mengetuk kaca mobil dengan sedikit kuat.
"Mara, apa terjadi sesuatu padamu???? Tolong buka, Mara!" Teriak Byan lagi.
Mara yang mendengar Byan terus memanggilnya merasa risih. Apalagi dapat ia lihat beberapa orang yang melintasi jalan ini tengah menonton tindakan Byan.
__ADS_1
"Ya, Tuhan. Apa yang dia lakukan?" Mara masih tak menyangka, Byan masih tak kunjung pergi.
"Mara, buka pintunya atau aku akan memecahkan kaca ini!!!!!" Byan tak sabar lagi menghadapi Mara. Ia pun segera mengambil tindakan agar Mara mau membuka pintu mobilnya.
Byan berjalan kebelakang di mana sepeda motornya terparkir. Byan meraih helmnya dan kembali lagi menuju ke arah mobil Mara.
"Mara, aku akan memecahkan kaca ini!!" Byan mengayunkan helm miliknya, berusaha menembus kaca mobil milik Mara.
"Tidak! Apa yang akan dilakukannya?" Mara terus bertanya-tanya. Hingga ia tak punya pilihan lain saat Byan sudah semakin mendekatkan helm kearah kaca mobilnya.
Mara pun akhirnya membuka kaca mobilnya, namun hanya terbuka setengah saja.
"Mara, syukurlah," Byan dapat bernafas lega setelah Mara membuka kaca mobilnya.
"Apa yang kau lakukan Mas, Byan?" Tanya Mara dengan perasaan gugup, suara berat seolah ada sesuatu yang menimpa dadanya.
Byan tersenyum, setelah sekian lama akhirnya ia dapat mendengar Mara memanggilnya dengan sebutan 'Mas' kembali.
"Sekarang silahkan pergi," usir Mara pada Byan. Ia sudah tidak tahan lagi melihat keberadaan Byan di hadapannya. Rasanya semua hal yang pernah ia lalui bersama Byan akan terus menghantuinya.
"Mara," Byan memutari mobil Mara. Ia membuka pintu mobil kemudian duduk di sebelah kursi kemudi tepat bersebelahan dengannya.
"Keluar!!!" Mara menaikkan nada bicaranya satu oktaf. Berharap Byan akan segera pergi dari hadapannya.
"Mara, apa yang kamu lihat tadi ..."
"Apa yang aku lihat?? Mas, aku tidak melihat apapun!!!" Nada bicara Mara terdengar semakin kesal bercampur marah.
Mara tak ingin mengakui perasaannya, saat ini ia masih saja menutupi hal itu tak ingin Byan tahu yang sebenarnya. Namun, dari situ Byan malah semakin mengerti jika Mara saat ini sedang menaruh amarah padanya.
"Mara, dengarkan penjelasanku dulu," Byan masih mencoba menjelaskan dengan penuh kesabaran. Ia tak ingin Mara salah paham tentang apa yang dilihatnya. Namun sepertinya Mara tak memberikan kesempatan Byan untuk bicara lebih.
"Aku tidak membutuhkan penjelasan apapun, Mas," elak Mara.
"Sekarang silahkan keluar! Atau aku akan berteriak?" Ancam Mara. Kali ini ia tak punya pilihan lain, jika Byan tak juga pergi.
Mendengar ancaman Mara, Byan malah mengulum senyumannya. Entah mengapa melihat Mara marah seperti ini membuatnya semakin gemas.
"Dia adalah Kessy, wanita yang di perkenalkan Umi padaku. Dia selalu datang ke rumah hanya untuk menemuiku, bahkan dia juga sering datang ke kantor," Byan mencoba menjelaskan siapa Kessy pada Mara, dengan tatapan mata yang tak hentinya memandangi wajah Mara yang sudah memerah.
__ADS_1
"Tidak ada hubungannya denganku, siapapun dia itu urusanmu, Mas!!"
Mara tak ingin mendengar penjelasan apapun dari Byan. Tetapi terlambat, Byan sudah berbicara panjang lebar. Bahkan penjelasan Byan itu malah membuat hati Mara terasa semakin nyeri.
"Kau mau berpelukan, bermesraan atau melakukan lebih dari itu dengan siapapun, juga bukan urusanku!" Lanjut Mara lagi dengan nada yang makin meninggi.
"Mara, kau cemburu??" Melihat gelagat aneh pada tubuh Mara, Byan semakin berani untuk menggodanya.
"Apa???" Sontak pertanyaan Byan membuat wajah Mara semakin memerah. Ia tak habis fikir Byan akan berkata seperti itu dan asal menebak.
"Ya, benar begitu, bukan?" Goda Byan lagi.
"Kau terlalu besar kepala! Untuk apa aku cemburu?"
Mara mulai berapi-api, ia tak terima jika Byan selalu memojokkannya. Tatapan marahnya pada Byan pun mulai bertambah. Ingin rasanya Mara mencabik-cabik wajah Byan yang menjengkelkan itu detik ini juga.
"Kau marah?" Tanya Byan lagi masih dengan intonasi santai.
"Ya, jelas aku marah!" Ucap Mara lagi.
"Jadi benar?" Byan semakin melebarkan senyumannya.
"Benar? Apa maksudmu, Mas?"
"Benar jika kau marah, dan benar pula jika kau sebenarnya cemburu!"
Ingin sekali rasanya Byan meledakkan tawanya saat ini ketika melihat wajah Mara yang menggemaskan itu.
"Heuh? Apa kau bilang?? Aku tidak sudi mencemburui wanita seperti dia!" Mara masih tak mau mengakui, ia tetap mengelak akan tuduhan Byan terhadapnya.
"Lalu, katakan padaku Mara, wanita seperti apa yang akan membuatmu merasa cemburu?"
"Mas Byan, sebaiknya kau segera keluar!" Perintah Mara dengan suaranya yang sudah mulai berat. Kekesalannya terhadap Byan semakin menjadi.
"Mara," Byan mulai khawatir ketika melihat mata Mara mulai memerah seakan ingin mengeluarkan tangisannya.
"Pergi, pergi dari sini, Mas," pinta Mara lagi. Hingga ia tak tahan dan menumpahkan air mata kekesalannya.
"Mara, hei ..." Byan tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi ketika melihat Mara sudah menangis dan menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1