Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Pria Batu


__ADS_3

Pagi ini, Star merengek meminta untuk segera pulang. Ia tak ingin terus berada di rumah sakit yang amat membosankan ini. Meski Dokter sebenarnya belum mengizinkan Star pulang, namun karena Andryani menyarankan jika Star akan di rawat di rumah saja, Dokter yang menangani Star pun akhirnya mengizinkan.


Star akhirnya sampai di rumah, namun ada yang berbeda kali ini dari sikap Star. Sejak kejadian kemarin, Star tak mau menyapa atau berbicara pada Byan. Entah ini adalah aksi unjuk rasanya, atau memang Star benar-benar marah pada Byan. Yang jelas, Mara tak mengajarkan Star untuk bersikap seperti ini pada Papanya.


Sebisa mungkin Byan mengajak Star berbicara, namun Star tetap bungkam. Ia hanya berbicara pada Andryani, Sumi, dan Pak Kurdi. Itupun hanya seperlunya saja, Star bersikap seolah tak menunjukkan kemanjaannya seperti biasa.


Sepulang dari rumah sakit, tiba-tiba seseorang datang dengan membawa satu keranjang buah segar dan bucket bunga mawar untuk Star.


Kessy, ia menyapa Andryani dan melakukan cium pipi kanan dan kiri disertai pelukan hangat. Kemudian ia menghampiri Star yang kini tengah berbaring di atas ranjang kamarnya.


"Hai, Cantik, segera sembuh ya," sapa Kessy pada Star dengan mengusap puncak kepalanya pelan.


Star tak mempedulikan itu, ia hanya menyunggingkan senyuman sekilasnya. Kemudian ia kembali memasang wajah datarnya lagi.


Kessy merasa sedang dipermainkan oleh anak kecil ini, tapi tak apa. Tujuan Kessy kemari hanyalah ingin bertemu dengan Byan, masalah Star itu bukan lah hal yang besar.


"Byan di mana Tante?" Mata Kessy celingukan mencari keberadaan Byan yang tak kunjung ia lihat.


"Byan sedang berenang," ucap Andryani dengan wajah yang lesu masih menatap cucunya yang terbaring lemah.


"Owgh," Kessy hanya menanggapi seperlunya saja. Padahal di dalam otaknya sedang berfikir keras mencari cara agar hari ini ia berhasil mendekati Byan kembali.


"Tant, aku permisi ke toilet sebentar," izin Kessy pada Andryani.


"Ya," Andryani hanya menguasai senyumannya dengan memegang pundak Kessy lembut.


Kessy pun berjalan menuruni anak tangga menuju ke arah kolam renang yang berada di samping rumah keluarga Malik yang tersohor itu.


Matanya celingukan mencari jalan keluar, dan akhirnya ia pun melihat air kolam renang yang berombak tanda ada seseorang di dalamnya yang sedang bermain air.


"Kesempatan bagus, Kessy!"


Kessy menyemangati dirinya sendiri ketika melihat Byan sudah ada di depan matanya.


Sembari menunggu Byan, Kessy duduk di kursi santai yang berada di pinggir kolam. Ia juga melihat ada handuk renang milik Byan yang tersampir di sandaran kursi.


Kessy tersenyum senang, kali ini matanya terus mengikuti arah permainan renang Byan di dalam kolam.

__ADS_1


"Dia sangat seksi," lirih Kessy tanpa berkedip memandangi setiap gerakan Byan yang sedang bermain air.


Beberapa menit kemudian, setelah di rasa cukup puas melepas penat dan lelahnya, Byan pun beranjak dari kolam.


Namun matanya membola ketika melihat sosok wanita dengan gaun bunga-bunga berwarna ungu tengah berdiri di pinggiran kolam memegang handuk renang miliknya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Byan penuh dengan tatapan selidik.


"Ini," Kessy tersenyum, ia menyerahkan handuk renang itu kepada Byan.


Byan mengambil handuk itu dengan kasar seperti orang yang sedang merampas. Ia pun segera menutupi tubuhnya yang atletis itu dari mata wanita nakal seperti Kessy.


"By, tunggu!" Kessy mencoba mencegah Byan yang hendak pergi meninggalkannya.


"Jangan pernah datang ke rumah ini lagi," ucap Byan sedikit kasar namun masih bervolume pelan.


"By, aku minta maaf. Aku tahu aku salah tempo hari, tapi aku melakukan itu karena aku hanya ingin lebih dekat denganmu!"


"Persetan itu!!" Kali ini Byan benar-benar berucap kasar. Ia fikir setelah melakukan olah raga renang rasa penatnya akan sedikit hilang. Namun ini malah ditambah oleh kehadiran Kessy yang membuatnya semakin marah.


Ia yakin, jika Kessy datang menemuinya akan menimbulkan ulah lagi seperti tempo hari. Byan tak ingin itu terjadi lagi kepada dirinya.


"Simpan alasan konyolmu itu!!" Byan tak ingin mendengarkan apa-apa lagi. Ia pun segera pergi menuju ke kamarnya untuk berganti baju dan menghindar dari wanita seperti Kessy.


Namun belum juga ia melangkah, telinganya sudah mendengar suara dari arah kolam renang.


Byuuurr!!!!


"Byan!!!!" Teriak Kessy dengan melambaikan tangannya ke atas.


Byan berbalik arah, ia pun menatap kearah kolam dan melihat jika Kessy sudah berada di tengah kolam renang.


"To-tolong aku By, aku tidak bisa berenang!!" Teriak Kessy lagi, dapat terlihat oleh mata Byan jika kepala Kessy kini sudah menghilang tak terlihat.


"To-tolong!!!" Teriakan Kessy kali ini sudah tak sekeras tadi.


Byan tak melihat ada siapa pun di sana kecuali dirinya. Hingga ia memutuskan untuk menghampiri Kessy dan menolongnya. Ia berfikir, jika Kessy mati di rumahnya maka itu akan membuat masalah besar. Mau tak mau Byan pun segera masuk ke dalam kolam kembali untuk menyelamatkan Kessy.

__ADS_1


"*****!!!" Umpat Byan kesal. Ia pun melepas handuk renangnya dan masuk kedalam kolam renang.


"Kessy," ia menemukan tubuh Kessy yang sudah di tengah-tengah kolam dan menarik tubuh Kessy untuk dibawanya ke pinggir kolam.


Tubuh Kessy selesai ia angkat, ia pun menaruh tubuh Kessy ke atas lantai di pinggir kolam. Namun apa yang ia lihat? Gaun tipis yang basah itu dapat menembus setiap lekuk tubuh Kessy hingga terlihat jelas.


"Kessy, bangun!" Ucap Byan dengan menepuk-nepuk wajahnya yang sudah basah kuyup.


"Kessy!!!" Teriak Byan lagi, tangannya pun menyentuh bagian hidung Kessy berharap dapat ia temukan nafas di sana.


Tak juga bangun, Byan memutuskan untuk menekan bagian perut untuk mengeluarkan air yang masuk ke dalam tubuh Kessy.


"Maafkan aku," ucap Byan lirih. Ia pun melakukan pertolongan pertama pada Kessy tanpa melihat ke arah Kessy yang mengganggu pandangan matanya.


Kessy pun terbatuk-batuk, mulutnya mengeluarkan air yang lumayan banyak dan tersadar.


Uhuk... Uhuk....


"Kess, kau tidak apa?"


Mata Kessy membola seketika melihat jaraknya dan Byan begitu dekat. Hingga setiap sudut wajah tampan Byan dapat terekspos olehnya. Begitu pula dengan dada bidang dan lengan kokoh milik Byan yang terpampang jelas. Baginya, Byan begitu seksi dan termasuk pria yang perfect!


"Perfect!" lirih Kessy tanpa mengedip.


"Kessy?" Byan membuyarkan lamunan Kessy.


"By, terimakasih sudah menolongku! Aku terpeleset!" Kessy pun dengan cepat memeluk tubuh Byan yang segar itu dengan mengeluarkan isak tangisnya. Meski tangisan itu hanya bualan, tapi terasa nyata.


Byan segera menepis pelukan Kessy, ia pun memilih untuk berdiri.


"Sudah sadar, kan?" Tanya Byan dengan menatap kesal pada Kessy.


"Sudah ..."


"Silahkan keluar dari rumah ini!!!"


Byan tak banyak bicara lagi, ia pun memilih mengusir Kessy dan meninggalkannya pergi. Baginya, berurusan dengan wanita adalah hal yang begitu merepotkan.

__ADS_1


"Dasar pria batu!!!" Umpat Kessy.


__ADS_2