Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Byan yang menyebalkan


__ADS_3

"Heuh?" Mara membuang wajahnya, ia tak ingin bertatapan dengan Byan.


"Mara, jangan mencari orang yang tidak ada. Hargailah orang yang ada di depanmu saat ini," Byan merasa kelu ketika melihat Mara membuang pandangannya ke arah lain. Padahal, ia begitu ingin terus menatap mata milik Mara.


Mara semakin bungkam setelah mendengar ucapan Byan. Namun ia tak kehabisan akal pula untuk membalas perkataan Byan itu.


"Aku tidak pernah memintamu ada di sini," terdengar lirih, namun ucapan Mara kali ini begitu menusuk hati Byan.


"Jika aku sudah tak ada, mungkin nanti kau akan menyesal," Byan pun tak kehabisan akal untuk terus membuat Mara ketelimpungan.


"Untuk apa aku menyesal, tidak akan pernah!" Mara beranjak dari tempat duduknya, ia kemudian melangkah pergi dengan perasaan kesal yang kian membuncah.


"Mara, hei!!!" Byan pun mengejar Mara dengan langkah cepat. Kali ini ia tak akan membiarkan Mara kabur lagi seperti sebelumnya.


"Mara, kau mau ke mana? Bahkan kita belum selesai menikmati kencan malam ini, kau sudah mau pergi?" Byan menghalangi langkah Mara dengan mengahadang tubuhnya dari depan.


"Kencan?? Kau bilang ini kencan? Aku tidak pernah ingin berkencan denganmu!"


"Tapi aku ingin, bagaimana?" Lagi-lagi Byan tak kehabisan akal untuk membuat Mara semakin kesal.


"Itu urusanmu!" Rasanya Mara sudah menyerah, sungguh ia tak tahan lagi dengan sikap Byan yang begitu menyebalkan.


"Ck! Keras kepala!"


Byan tak ingin menunda lagi, ia menarik tangan Mara kemudian membopong tubuh itu di atas pundaknya.


"Hei, apa-apaan ini? Lepaskan aku Mas, Byan!!!" Mara menggoyang-goyangkan tubuhnya, ia berharap Byan akan melepaskannya. Namun, tenaga Byan begitu kuat hingga membuat Mara tak lagi bisa berkutik.


"Lepaskan aku!!!" Mara kembali berteriak, berharap Byan akan menurunkan tubuhnya.


Teriakan Mara tak dihiraukan oleh Byan. Ia terus saja membawa Mara kembali ke pinggir danau dan mendudukkan tubuhnya di kursi kayu, tempat di mana mereka tadi duduk.


"Cukup duduk diam di sini, jika kau keras kepala lagi aku akan melakukan hal yang lebih dari ini!" Ancam Byan dengan tatapan tajamnya.


"Hal lebih? Aku tidak takut!" Mara malah semakin menantang, ia yakin jika Byan tak akan berani melakukan hal macam-macam apalagi di tempat umum.


Namun keyakinannya itu salah, Byan meraih kepala Mara dengan kedua tangannya, kemudian ia menempelkan keningnya pada kening Mara hingga kepala mereka berdua rapat tanpa jarak.


"Kau yakin?" Tanya Byan dengan suara lirihnya, disertai nafas yang memburu.


Kini, Mara dan Byan sama-sama dapat merasakan hembusan nafas satu sama lain.


"Apa yang kau lakukan, Mas? Di sini banyak orang!" Mara tak menyangka jika Byan akan seberani ini. Ia mendorong dada bidang Byan dengan kedua tangan, ia berharap agar Byan menyingkir dari hadapannya.


"Baiklah," Byan kini menarik tangan Mara untuk ikut dengannya.


"Mas Byan, lepaskan aku! Kita mau ke mana?" Mara masih bingung dengan tindakan Byan. Ia tidak tahu lagi apa yang akan Byan perbuat padanya.


"Bukankah di sini banyak orang?" Byan menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan nakal ke arah Mara.


"Kau, kau sudah gila, Mas!" Mara mengumpat kesal merutuki perbuatan Byan malam ini.


"Aku gila karenamu! Bagiku itu tak masalah, Mara!"


"Ya tuhan," Mara merasa frustasi. Dipegangnya kedua kepala yang kini kian berdenyut. Sungguh ulah Byan malam ini membuatnya serasa serba salah.


"Lepaskan aku, Mas!!" Mara kembali berteriak. Seperti hal nya siang tadi, malam ini pun tingkah mereka berdua kembali menjadi sorotan beberapa orang di sana.


"Maaf mengganggu, Istri saya sedang marah," Byan pun meminta maaf pada beberapa orang yang kini tengah memperhatikan mereka.


"Istri, heuh?? yang benar itu mantan Istri!!" Mara kembali berteriak lagi.


Byan merasa kecewa kembali, niat hatinya untuk mendapatkan kepercayaan dari Mara, namun Mara malah bersikap seperti ini seakan tak melihat usahanya.


"Mara, hei!!" Byan merasa kesal, Mara meninggalkannya begitu saja. Ia memilih kembali sebentar menuju pedagang jagung bakar untuk membayar pesanannya. Kemudian ia baru akan mengejar Mara.


Mara melangkah dengan cepat hingga tak terlihat lagi sosok Byan di belakang, ia kembali menuju ke arah pertokoan di mana toko kuenya berada untuk mengambil mobil yang ia tinggalkan. Namun, setelah beberapa menit ia baru menyadari sepertinya jalan yang ia lalui kali ini begitu asing. Mara merasa tak pernah berjalan kaki di gang-gang sempit seperti ini.


"Di mana ini?" Mara menoleh ke belakang, tak ia temukan siapapun di sana.


Perasaannya menjadi tak karuan, ketakutan pun muncul kembali di benaknya ketika mengingat sesuatu akan terjadi padanya.


"Aku tidak boleh takut!" Mara terus berjalan menyemangati diri sendiri, ia menelusuri gang sempit dengan pencahayaan yang minim itu.


"Suiit, suuitt!" Suara siulan buatan itu terdengar dari sekelompok pria di pinggir gang yang tak ia kenal.


"Hai cantik," Beberapa pria yang tengah merokok di gang sempit itu kini menghampiri Mara dan mencoba menggodanya.


"Mau ke mana?" Salah satu Pria berambut gondrong itu semakin mendekat dengan meniupkan asap rokok ke arahnya.

__ADS_1


Mara tak meladeni mereka semua, ia terus saja berjalan cepat dengan keringat dingin yang sudah mengucur di keningnya.


"Sombong sekali!!" Umpat salah satu dari keempat pemuda itu yang tak dapat Mara lihat. Namun suara mereka begitu menyeramkan.


"Kejar dia!" perintah seseorang.


Mendengar suara hentakan kaki yang kini semakin mendekat, Asmara pun tak mau menunda lagi. Ia melepas high heel lima senti yang ia pakai kemudian langsung mengambil langkah seribu.


Ternyata gang yang ia lalui memang begitu sepi dan panjang. Meski berlari, ia tak kunjung menemukan ujung jalanan itu, "Tidak, apa yang harus aku lakukan?"


"Aw!" Entah apa yang Mara injak, kakinya begitu terasa sakit hingga ia tak kuat lagi berlari.


Mara melihat ke arah belakang, rombongan pria yang mengerikan itu semakin dekat, hingga ia tak tahu lagi harus bagaimana. Tubuhnya pun ambruk di atas jalan aspal kasar dengan jarak yang begitu sempit.


Ke empat pria tak di kenal itu pun tertawa melihat Mara kini sudah tersungkur dengan kaki yang terluka.


"Wah, dia terjatuh?" Pria berambut gondrong itu pun semakin mendekat ke arah Mara. Menyaksikan wanita cantik yang mereka kejar terjatuh, tawa mereka pun semakin keras.


"Jangan mendekat! Apa yang kalian mau??" Teriak Mara dengan penuh kepanikan.


"Jangan galak-galak, kami hanya ingin bersenang-senang denganmu!" Pria berambut gondrong itu mencoba meraih tubuh Mara.


"Singkirkan tanganmu itu!!!" Byan mengambil langkah cepat dan menendang tubuh pria berambut gondrong itu hingga terhuyung.


"Mas, Byan?" Mara semakin ketakutan, tubuhnya kali ini amat gemetar, jantungnya pun berdegup kencang.


Hingga adu duel pun terjadi. Byan tak lagi memberi ampun kepada keempat pemuda itu. Dengan bringas ia menghajar mereka hingga babak belur.


Byan tak peduli perkataan dokter yang menyarankan dirinya untuk tidak berkelahi atau terlalu keras menggunakan otot-ototnya. Lukanya belum sembuh, dan itu membutuhkan waktu yang lumayan lama. Ia sungguh tak memepedulikan dirinya sendiri. Kali ini Byan benar-benar emosi dan tak terima jika ada yang berani mencelakai Mara meski dirinya sendiri dalam bahaya.


Mara melihat Byan begitu lihai memberi hantaman dan tendangan pada beberapa pria yang mengganggunya. Ia sungguh tak menyangka jika Byan ternyata bisa berkelahi.


Bughh!!!


Sebuah pukulan keras mengenai wajah Byan, sontak hal itu membuat Mara berteriak.


"Mas, Byan!!!!"


Mendengar teriakan Mara, Byan semakin marah. Ia pun membalas pukulan kepada pria yang tadi memukulnya tanpa ampun.


"Tolonggg!!" Mara berteriak, setelah melihat perkelahian Byan dan keempat pria tak dikenal itu kian memanas.


BUGH!!! BUGHH!


Keempat pria itu pun lari tunggang langgang dengan rasa sakit pada seluruh tubuh mereka.


"Mara, kau tak apa?" Setelah para rombongan itu pergi, Byan segera menghampiri Mara yang masih terduduk lesu.


Di lihatnya Mara dengan keringat yang kini sudah memenuhi seluruh keningnya. Ia juga melihat air bening yang sudah keluar dari sudut mata lentiknya itu.


"Mara," Byan langsung merangkul tubuh langsing itu ke dalam pelukannya. Ia tahu jika Mara saat ini sedang ketakutan.


Hiks... Hikss...


Dapat terdengar jelas suara tangisan Mara yang begitu sesak. Entah berapa kali ia menangis hari ini, namun nampaknya air mata itu tak juga kering.


"Tenang, ada aku," Byan menepuk pelan pundak Mara berharap ia akan segera tenang. Matanya mengarah pada sesuatu yang mengganjal pandangan. Di telisiknya kaki putih bersih itu yang kini telah mengalirkan cairan berwarna merah segar.


"Astaga!" Byan terkejut ketika melihat telapak kaki milik Mara telah mengeluarkan darah.


Tanpa babibu lagi, Byan langsung menggendong tubuh Mara dalam pelukannya. Ia membawa Mara ke arah di mana mobilnya berada.


Byan menggendong tubuh Mara yang lemas itu dengan langkah kaki tercepat. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada wanita pujaan hatinya itu.


"Jangan khawatir, Mara. Tak akan kubiarkan mereka hidup dengan tenang bila terjadi sesuatu pada kakimu!" Byan berjalan menelusuri lorong gang sempit itu, sembari mulutnya yang terus mengutuk para berandalan yang telah berani menyentuh wanitanya. Padahal, Mara menangis bukan karena luka pada kakinya.


Byan melangkah cepat bak sebuah roket, hingga tak terasa ia sudah melihat mobilnya terparkir di sana.


"Mara, ambil kunci mobilku!" Perintah Byan.


"Hah??" Mara tak tahu di mana ia harus mengambilnya.


"Di saku celanaku, sebelah kiri," ucap Byan lagi agar Mara mengerti.


Mara pun langsung menuruti perintah Byan, satu tangannya berpegangan pada leher Byan, satu lagi mencoba menelusuri saku celana milik Byan.


"Akh," Byan merintih, ketika tangan Mara tak sengaja menyenggol sesuatu yang berharga miliknya.


"Ma-af," Melihat mimik wajah Byan, Mara pun segera meraih kunci mobil Byan yang ada di saku celananya.

__ADS_1


Setelah menemukan kunci mobil itu, Mara segera mengeluarkannya dan menekan tombol untuk membuka pintu mobil.


Byan mengambil nafas, ia mengatur ritme detak jantung dan aliran darahnya terlebih dahulu. Setelah itu ia segera menaruh tubuh Mara pada kursi sebelah kemudi. Kemudian ia pun memutar untuk masuk ke dalam mobil melalui pintu sebelahnya.


Setelah masuk, Byan mencari kotak obat yang selalu tersedia di dalam mobil.


"Mana kakimu?" Byan mencoba meraih kaki Mara yang tadi terluka.


Dengan susah payah Mara mencoba mengangkat kaki karena ruang yang sempit.


Byan paham posisi Mara saat ini, ia pun mendekat ke arah Mara hingga hanya berjarak beberapa senti saja.


"Mas, mau apa kau?" Melihat Byan telah mencondongkan tubuh dengan posisi amat dekat bahkan begitu rapat padanya, ia mencoba mencegah tindakan Byan dengan menahan dada bidang Byan.


Byan tersenyum smirk, ia tak menyangka jika Mara selalu berfikir negatif atas semua tindakannya.


"Mas, Byan!" Mara mulai membolakan matanya.


"Ck! Aku tidak akan bertindak aneh, tenang saja!" Byan menekan sebuah tombol pada kursi yang kini di duduki Mara agar posisinya sedikit rendah.


"Jangan selalu berpikiran me-sum!" Byan menarik hidung bangir milik Mara.


Mara memegangi hidungnya yang kian memerah akibat tarikan dari Byan. Ia juga hanya bisa merutuki fikirannya sendiri dalam hati. "Aku bisa gila!"


"Kau bisa rebahkan tubuhmu," Byan menarik kaki Mara yang terluka. Ia menyalakan lampu pada mobilnya agar bisa melihat dengan jelas luka yang dialami oleh Mara.


"Ini akan sedikit sakit, tahan Mara," Byan mencabut sesuatu yang telah menancap pada telapak kakinya.


"Awww!!!!" Mara berteriak kesakitan. Namun, sedikit lega setelah benda itu terlepas dari kulitnya.


Byan membersihkan luka Mara dengan telaten, setelah dibersihkan ia memberi obat merah dan membalutkan perban.


Mara hanya diam tanpa suara dan gerakan apapun. Namun matanya terus menatap wajah Byan yang begitu jelas terlihat, dekatnya sorotan lampu semakin memperjelas setiap sudut wajah Byan yang tegas.


"Selesai, untung saja luka ini tak terlalu dalam dan kakimu tak perlu dijahit,"


Mara tak menanggapi perkataan Byan, hal itu membuat Byan menoleh kearahnya. Dapat Byan lihat jika mata Mara kini tengah memandang dirinya.


"Kenapa? Apa kau baru menyadari ketampananku?"


Ucapan Byan membuat Mara tersadar, ia pun membuang pandangannya ke arah luar.


"Akan ku antar pulang, Ibu pasti mencarimu,"


"Tidak! Aku bisa pulang sendiri," Mara mencoba menolak pertolongan Byan kali ini.


"Kau ingin mengendarai mobil sendiri dengan keadaan kaki terluka? Apa kau bisa?" Perkataan Byan memang benar, tidak mungkin bagi Mara untuk menginjak pedal gas atau rem ketika kondisi kakinya yang tak memungkinkan.


"Kau terlalu banyak berfikir, Mara," Byan tak menunda waktu lagi. Ia segera melajukan mobilnya.


Entah sudah berapa menit dalam perjalanan, dilihatnya Mara yang kini sudah terlelap.


"Dia pasti kelelahan," Byan menatap arlojinya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah Mara, ia juga khawatir pasti Ibu Mara tengah mencari putrinya.


Ketika sampai, Mara tak kunjung membuka mata. Mau tak mau Byan membangunkan Mara perlahan.


"Mara, hei ..." Semakin dekat ia melihat, semakin jelas pula wajah sendu milik mantan istrinya itu. Bahkan pandangannya tak ingin beralih jika tak mengingat ini sudah malam dan mau tak mau ia harus membiarkan Mara pulang.


Byan menepuk pelan wajah Mara, tak lama Mara pun membuka matanya.


"Sudah sampai," ucap Byan sedikit berbisik.


"Aku tertidur?" Mara memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Ayo turun, apa perlu aku gendong?" Tak henti-hentinya Byan menggoda Mara malam ini.


"Aku masih bisa jalan sendiri!" Mara menggelengkan kepalanya. Ia pun segera membuka pintu mobil dan keluar dengan berjalan tertatih.


Melihat Byan akan turun, Mara mencegahnya. "Tidak perlu ikut, sebaiknya kau pulang saja, Mas!"


"Aku ingin berbicara dengan Ibu ..."


"Lain kali saja, sebaiknya kau segera pulang. Star pasti mencarimu,"


"Lain kali? Baiklah, " Byan sedikit senang. Perkataan Mara seolah memberikan sinyal hijau padanya.


Mara tak ingin berlama-lama, ia juga tahu jika Byan pasti lebih lelah dibandingkan dirinya. Byan lebih banyak mengeluarkan tenaga akibat tadi berkelahi. Ia juga bisa melihat jelas luka lebam kebiruan pada wajahnya tadi. Mara segera masuk ke dalam rumah, berharap Byan akan segera pulang.


Tanpa disadari, dari dalam sebuah mobil Range Rover hitam, sepasang mata tajam tengah mengintai kegiatan mereka berdua.

__ADS_1


"Jalan, Pak!" Seseorang dengan mata tajam itu meminta sopirnya untuk melanjutkan perjalanan.


"Baik, Tuan," dengan cepat si Sopir pun mematuhi perintah Tuannya itu.


__ADS_2