Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Star sakit, semua panik


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, keributan sudah terjadi di keluarga Malik. Sumi yang biasanya akan membangunkan Star dari tidurnya untuk pergi ke sekolah, terkejut mendapati suhu tubuh Star yang panas.


"Non Star, ya ampun tubuhnya panas sekali," Sumi pun beranjak keluar kamar menuju ruang makan di mana Byan dan Andryani sedang sarapan.


"Umi, maaf mengganggu,"


"Ada apa Sumi, di mana Star?" Tanya Andryani yang kini melihat Sumi hanya turun sendirian tanpa cucunya.


"Anu, Umi, Non Star ..."


"Ada apa dengan Star?" Tanya Byan yang merasa khawatir melihat gelagat Sumi. Ia pun tanpa banyak bicara langsung menuju ke lantai atas untuk menemui Star di kamarnya.


Hingga tiba di dalam kamar Putrinya, Byan pun segera membangunkan Star yang masih meringkuk di balik selimut.


"Star," panggil Byan dengan memegang pipinya. Saat itu pula ia langsung terkejut, suhu tubuh Star kali ini amatlah panas.


"Star, bangun ..." Byan menepuk-nepuk pipi Star, namun Star tak kunjung membuka matanya.


Tanpa basa-basi lagi, Byan langsung membopong tubuh Star dan membawanya turun untuk di larikan ke rumah sakit.


Melihat Byan yang kini tengah terburu-buru membopong tubuh Star, Andryani pun ikut terkejut.


"Umi, Byan harus membawa Star ke rumah sakit,"


Andryani pun panik, ia tak dapat berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengikuti Byan dari belakang menuju ke mobilnya.


Byan melajukan Mobil dengan cepat, ia tak sabar ingin segera tiba di rumah sakit. Andryani dan Sumi yang berada di kursi kemudi hanya bisa pasrah, berkomentar pun dirasa percuma.


"Bagaimana keadaan Putri saya Dok?" Tanya Byan dengan tatapan khawatir kepada Dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Star.


"Anak anda mengidap gejala tipes dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit, pak," jelas Dokter tersebut.


Semua hanya diam, tak lagi berkomentar setelah mendengar penjelasan Dokter mengenai kesehatan Star. Baik Byan mau pun Andryani hanya bisa saling menguatkan untuk saat ini.


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi pada Star, kasihan dia," ucap Andryani yang kini tengah menemani cucunya di dalam ruang rawatnya.

__ADS_1


"Tante, Tante Cantik ..." Star sepertinya sedang mengigau saat ini. Namun Byan dan Andryani terperanga ketika tahu siapa orang yang tengah disebut oleh Star.


"Star, Star, ini Papa," ucap Byan khawatir memegangi tangan dan puncak kepala Putrinya.


"Pa, di mana Tante Cantik?" Star membuka matanya, ia mencari-cari keberadaan Mara namun tak juga ia temukan. Yang ia lihat hanyalah Omma dan Papanya.


"Star, di sini ada Omma dan Papa yang akan menemani Star," ucap Andryani dengan lembut mencoba membujuk Star.


"Di sini juga ada Mba Sumi," Sumi pun ikut bicara.


"Star rindu Tante," ucap Star dengan suara yang parau dan melemah.


Baik Byan ataupun Andryani hanya bisa menghela nafas, mereka tidak menyangka jika Mara akan menjadi pengaruh besar untuk Star.


Andryani pun meminta Sumi menemani Star di ruangan rawatnya. Kemudian ia mengajak Byan untuk berbicara di luar.


"Byan, apa sebaiknya kita ..."


"Umi, aku tidak akan mengizinkan Star bertemu dengan wanita itu!" Byan langsung memotong ucapan Andryani yang belum selesai.


"Tolong jaga Star, Byan ada meeting mendadak di kantor, Umi," Byan tak menghiraukan pertanyaan Andryani. Ia lebih memilih menyalami tangan Uminya kemudian berlalu pergi.


...****************...


Rasanya susah sekali meminta Star untuk makan. Sejak pagi tadi hingga sekarang Star tidak ingin makan. Ia malah mengajukan syarat kepada Ommanya.


Star hanya ingin makan apabila sudah bertemu dengan Tante Cantiknya. Hal itu membuat Andryani bingung, namun ia juga harus berfikir keras demi kesembuhan Star. Akhirnya ia meminta Pak Kurdi untuk menemui Asmara dan membawanya ke rumah sakit.


Asmara yang di hampiri oleh Pak Kurdi di toko kuenya pun terkejut ketika mendengar kabar jika Star saat ini sedang sakit.


Ia pun terburu-buru tanpa fikir panjang lagi untuk menemui Star. Masalah Byan suka atau tidaknya menurutnya itu urusan nanti. Kali ini hal yang ia fikirkan terlebih dulu hanyalah Star.


Tiba di rumah sakit, Asmara mengikuti langkah Pak Kurdi menuju ruang rawat Star. Di dalam sana ia dapat melihat tangan Star yang kini tengah terpasang selang infus dengan wajah yang begitu pucat.


"Star," panggil Mara menghampirinya.

__ADS_1


"Tante Cantik ..." Star begitu terkejut sekaligus bahagia ketika melihat Mara kini datang menemui dirinya.


Star pun langsung memeluk tubuh bocah lucu yang sangat dirindukan olehnya itu setelah beberapa hari tak bertemu.


"Star, apa ada yang sakit sayang?"


Star tak menjawab apapun, ia malah bungkam dan akhirnya menangis dipelukan Mara.


"Mba, apa Star sudah makan?" Tanya Mara pada Sumi.


"Belum Mba, sejak tadi pagi Non Star tidak mau makan," ucap Sumi dengan raut wajah sedih bercampur takut.


"Di mana makanannya, biar aku yang menyuapi,"


Sumi pun segera memberikan bubur ayam hangat ke tangan Mara.


"Star, makan ya biar cepat sembuh," rayu Mara pada Star agar ia mau membuka mulutnya menerima suapan dari Mara.


Star pun menganggukkan kepalanya dengan senang hati ia menerima suapan dari Mara hingga tandas. Setelah bubur itu habis, Mara pun memberikan beberapa potongan buah kepada Star. Dengan diiringi canda tawa, Star terlihat begitu senang berada didekat Mara. Tak jarang ia pun sering bersikap manja pada Mara.


Tanpa disadari, dari luar sana Andryani melihat keakraban yang tengah Mara dan Star lakukan. Ia begitu histeris mengetahui sosok wanita yang dipuji-puji cucunya itu adalah Asmara mantan menantunya.


"Pantas saja Byan begitu tak menyukai jika Star bertemu dengannya, ternyata ini alasannya,"


Andryani hanya bisa bergumam di dalam hati, ia ingin sekali menghampiri dan menyapa Mara. Namun hatinya masih ragu dan takut. Takut jika nanti Byan tahu jika Asmara menemui Star. Ia pun memilih menunggu di depan ruang rawat Star sembari berjaga-jaga jika ada Byan.


Andryani mengusap air matanya yang kini sudah tumpah, ia sungguh terharu melihat kejadian hari ini. Kedekatan Mara dan Star sepertinya memang terhubung sejak lama. Mereka berdua sudah memiliki ikatan batin tersendiri sejak Star kecil.


"Umi, bagaimana keadaan Star, apakah dia sudah mau makan?" Tiba-tiba Byan datang membuat Andryani terkejut, dengan segera ia menghapus sisa-sisa air matanya.


"Byan, Star ..."


"Ada apa Umi, ada apa dengan Star?" Byan merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Andryani. Hingga ia memutuskan untuk masuk ke dalam ruang rawat Star begitu saja.


Begitu terkejutnya Byan ketika tahu jika Star sedang bersama Mara saat ini.

__ADS_1


__ADS_2