
Setelah keluar dari toko kue, Byan masuk ke dalam mobilnya, ditatapnya arloji pada pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Setelah hendak menyalakan mesin mobil, tiba-tiba ada yang mengganjal di hatinya hingga membuat Byan mengurungkan niatnya untuk pulang.
"Sudah selarut ini, mengapa Mara belum pulang?" Perasaan khawatir Byan akan Mara pun tiba-tiba muncul, ia menatap kearah toko dan mobil Mara yang masih terparkir.
"Apakah aku menunggunya saja?" gumam Byan lagi dalam hati.
Beberapa menit diam bak seorang pengintai di dalam mobil, Byan melihat beberapa orang keluar dari dalam toko kue milik Mara. Ia memandang dari kejauhan dua orang yang bergantian keluar dari toko, namun ia tak melihat Mara.
"Di mana dia?" Byan masih khawatir akan keadaan Mara saat ini, matanya terus menatap kearah toko tak berkedip seolah tak sabar ingin segera melihat mantan istrinya itu.
"Bye Mba, Mara," sapa Renata pada Mara dengan melambaikan tangannya.
Mara pun melambaikan tangannya kearah Renata disertai dengan senyuman kecil. Setelah itu ia pun langsung mengunci toko.
Mara memang terkenal baik dan cukup perhatian pada karyawannya. Hingga sikapnya itu membuat mereka terlihat akrab.
Niat Byan ingin keluar dari mobil untuk membantu Asmara di sana, karena melihat wanita itu menarik Rolling Door sendirian di jam malam seperti ini.
"Ck! Apakah dia selalu pulang selarut ini? Bagaimana jika ada penjahat?" Byan hanya bisa berkata-kata sendiri di dalam mobil sembari mata yang terus memperhatikan Mara.
"Dia bekerja terlalu keras!"
Setelah Mara selesai dengan kegiatannya, ia pun langsung menuju ke mobilnya untuk pulang. Namun Mara tak sadar jika saat ini ada yang mengikutinya dari belakang.
Byan terus melajukan mobilnya mengikuti mobil Mara, sebenarnya arah rumah mereka berlawanan arah, tetapi Byan memilih untuk mengikuti Mara dengan alasan demi keamanan. Kali ini Byan bisa di sebut sebagai penguntit amatiran, karena tengah mengikuti mantan istrinya tanpa sebab yang jelas.
Entah ide dari mana perilaku Byan saat ini, yang jelas ia terus ingin mengikuti Mara dan memastikan ia pulang ke rumah dengan selamat.
Perjalanan tiga puluh menit sudah ia lalui, dan sampai pada komplek perumahan Mara. Byan memutuskan untuk berhenti dan memperhatikan Mara hingga masuk ke dalam rumahnya. Sikap Byan ini ibarat sedang mengantar Mara pulang.
__ADS_1
Rasa lelah Byan sedikit terobati karena sudah melihat Mara sampai dengan selamat di rumahnya. Byan pun memutuskan untuk pulang.
Saat pintu gerbang di tutup oleh Ibu Kamila, ia melihat ada sebuah mobil hitam metalic yang membuatnya curiga.
"Mara, apakah kamu di antara pulang oleh temanmu?"
"Teman? Mara tidak bersama siapapun, Bu," jawab Mara merasa heran dengan pertanyaan Ibunya.
"Oh, Ibu fikir mobil yang tadi lewat itu temanmu," ujar Kamila memastikan dan membuat Mara menjadi bertanya-tanya. Pasalnya ia tak merasa curiga terhadap siapapun.
"Mobil? Mara pulang membawa Mobil sendiri, Ibu ada-ada saja," Mara tersenyum kemudian masuk menuju ke kamarnya.
Kamila merasa sedikit tenang, setidaknya Mara sudah mau bicara dan mulai lebih ceria lagi dari pada kemarin. Ia juga tak ingin terlalu mengekang putrinya itu. Ia lebih memilih untuk mempercayai jika Mara adalah anak yang baik.
Mara terlalu lelah bekerja untuk menghidupi dirinya dan Randy, Kamila sebagai orang tua pun tak ingin memberatkannya.
Mara membaringkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian ia mengingat kembali kenangan buruknya tempo hari. Ia juga mengingat ketika Byan datang pagi tadi meminta maaf padanya.
"Argh, Mara berhentilah memikirkannya," Mara merasa lelah dengan otaknya yang terus saja mengingat perihal tentang mantan suaminya itu. Meski sudah berulang kali ia tersakiti, ia tetap tak bisa sebenci itu dengannya.
"Semakin aku mencoba membencimu, semakin kamu terus menguasai otak dan hatiku, Mas Byan."
Mara memilih menuju ke dalam kamar mandi, ia butuh memendam tubuhnya yang terasa penat itu di dalam bath tube dengan sabun aroma terapi. Namun otaknya lagi-lagi memutar wajah Byan.
"Ish! Tidak bisakah kau pergi dari fikiranku?"
Mara merasa kesal, ia menggosok kuat kulitnya dengan sponge yang sudah berbusa. Namun lagi-lagi bayangan Byan mengganggu aktivitasnya. Malahan, Mara terbayang ketika Byan mengecup bibirnya kala itu. Ia juga dapat mengingat tubuh atletis Byan dengan perut kotak-kotak yang membuat Mara hanya bisa menelan salivanya.
"Mara! Sejak kapan kamu berpikiran kotor!" Mara menepuk keningnya sendiri dengan kuat hingga membuat kepalanya terasa sakit. Ia sungguh tak habis fikir, ternyata mantan suaminya itu telah mengisi seluruh otaknya akhir-akhir ini.
__ADS_1
...****************...
Sementara di kediaman keluarga Malik yang sudah sepi, Byan memasuki ruang kamar tidur Star yang kini sudah redup oleh cahaya lampu tidur. Perlahan ia menghampiri putrinya itu dengan membenahi selimut, tak lupa ia selalu mengecup puncak kepala Star.
Sampai hari ini, Star masih tak ingin banyak bicara dan menjaga jarak pada dirinya. Ia mencoba untuk memahami aksi protes Star, namun ia tak bisa memahami gundah di hatinya sendiri.
Byan meletakkan satu toples cake cokelat yang dibelinya tadi di atas nakas kamar Star. Setelah itu Byan pun memilih keluar dan menuju ke dalam kamar tidurnya.
Byan memandangi toples yang kini terus dipegangnya, matanya membaca setiap tulisan yang ada pada toples itu.
"STAR cake's, apakah ini sebuah kebetulan?" Byan baru menyadari jika nama toko kue Mara juga sama dengan nama anaknya.
Byan tersenyum, kemudian ia mencoba satu keping kue cokelat itu. "Enak,"
Byan begitu menikmati rasa cake yang kini tengah ia kunyah. Tak ingin terlalu banyak makan cokelat, Byan pun memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Setelah selesai mandi, Byan tak langsung tidur begitu saja. Seperti biasa, ia harus membuka laptopnya terlebih dahulu untuk meninjau beberapa pekerjaannya yang belum selesai. Namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika ia bersandar pada kepala ranjang.
Ingatannya kembali akan Mara, ia mencoba menepis semua itu. Namun semakin ia mencoba melupakan, semakin jelas bayangan Mara menghampirinya.
Byan membuang pandangannya ke lantai, kemudian ia memilih menutup laptopnya. Namun Matanya di kejutkan oleh sesuatu yang mengkilap di sana.
Byan pun memilih melihat benda mengkilap yang ada di lantai itu. Setelah semakin dekat, ia pun mengambil benda itu.
"Liontin?" Byan bertanya-tanya karena ia merasa tak memiliki liontin. Apalagi liontin ini seperti milik seorang wanita.
Byan tak tahu ini milik siapa, menurutnya tak ada orang yang masuk ke dalam kamarnya selain dirinya atau asisten rumah tangga yang membenahi kamarnya. Namun ia tak pernah melihat asisten rumah tangganya itu memakai liontin seperti ini. Begitu pula dengan Uminya, ia tahu betul perhiasan apa yang menjadi selera Umi Andryani.
"Apa mungkin liontin ini adalah milik ..."
__ADS_1
To be continue ...