
Byan menyisiri setiap penjuru jalan dimana ia pernah bertemu dengan Mara. Sayangnya, sampai siang ini pencariannya tak juga membuahkan hasil.
Entah apa alasannya mencari Mara, ia sendiri tak mengerti. Tiba-tiba saja hatinya terdorong dan berniat untuk bertemu kembali dengan mantan istrinya itu.
Apakah dia sedang rindu?? Untuk saat ini Byan belum mengakui hal itu.
Sejak pertama kali bertemu setelah lima tahun lamanya, fikiran Byan terusik oleh sosok Mara. Namun situasinya menjadi semakin berubah ketika Mara mengembalikan jas miliknya melalui jasa ekspedisi kemarin, sejak itulah Byan malah terus saja memikirkan Mara.
Byan kembali lagi ke kantor, karena ia tak juga menemukan seseorang yang dicarinya.
Di duduki bokongnya pada kursi kebesarannya, dengan kepala menghadap langit-langit ruang kerjanya. Sepertinya hari ini ia begitu kecewa karena tak bertemu dengan Mara.
"Pak Byan," panggil Sam sekretarisnya.
"I-iya, ada apa Sam?" Seolah terkejut dengan kehadiran Sam, Byan membenarkan posisi duduknya hingga mengeluarkan aura wibawanya kembali.
"Pak maaf, ada yang ingin bertemu dengan bapak,"
"Siapa? Bukankah hari ini jadwalku tak ada pertemuan dengan siapapun?"
"Iya pak, tapi wanita itu bilang jika ingin bertemu dengan pak Byan!"
"Wanita???" Tiba-tiba saja sekelebat bayangan Asmara muncul dibenaknya. Sesegera mungkin Byan meminta Sam untuk membawa tamunya itu masuk ke dalam ruangannya.
"Suruh dia masuk!" Perintah Byan pada Sam.
"Baik pak,"
Menunggu Sam kembali bersama tamunya, Byan mencoba merapihkan pakaiannya. Ia juga sempat bercermin, khawatir jika penampilannya begitu berantakan. Entah apa yang dilakukan Byan kali ini, ia benar-benar berharap jika tamu wanita itu adalah Asmara. Senyuman dibibirnya pun mengembang.
Tok! tok!
Tak lama kemudian, pintu ruangannya pun diketuk oleh Sam, namun ia hanya mengantarkan tamu wanita itu saja, setelah itu ia pun keluar meninggalkan bossnya bersama tamu wanita itu.
"Masuk!"
Byan berdehem, dengan tangan yang terus membenahi dasi di lehernya. Berharap penampilannya kali ini takkan berantakan. Ia pun bersikap seolah sedang memeriksa beberapa dokumen di atas mejanya, menampilkan aura wibawanya kembali.
"Hai By?" Sapa seorang wanita dengan suara khas, begitu seksi ketika orang mendengarnya namun bagi Byan suara itu tak berpengaruh apapun.
"Ke-Kessy ..." Byan menatap Kessy dengan penuh rasa kecewa. Ya, bagaimana tidak? Harapannya ternyata tak sesuai yang diinginkannya.
__ADS_1
"Aku boleh duduk?" Tanya Kessy menatap tajam, ia ingin semakin dekat dengan Byan.
"Silahkan!" Byan menelan salivanya, begitu Kessy duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya.
Dapat terlihat jelas, gaun minim yang dikenakan oleh Kessy hingga menampakkan paha putih mulus miliknya. Belum lagi bagian dada yang hampir saja menyembul keluar dari wadahnya. Byan sempat berfikir, tak seharusnya Kessy memakai pakaian minim seperti itu di kantornya. Rasanya pakaian itu pas sekali jika ia berada di sebuah Club malam.
Byan tak berani mendekat, ia tetap duduk di kursi kerjanya. Bukan karena ia tergiur dengan penampakan tubuh seksi Kessy, tetapi Byan merasa sejak terakhir bertemu Mara, fikiran Byan lebih mengarah ke hal yang kotor. Hingga menyebabkan adik kecilnya dibawah sana sedikit berkedut.
"By? Jadi begini cara kamu memperlakukan tamu?" Kessy protes, karena Byan tak melayani dirinya seperti yang diharapkannya. Meliriknya saja pun tak mau. Padahal ia sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin di depan Byan.
"Aku sudah meminta Sam membawakan teh untukmu!"
"Hmmm, bukan itu maksudku, By!"
"Lalu?" Byan seolah tak mengerti arah pembicaraan Kessy?
"By, aku kemari hanya ingin bertemu denganmu. Tetapi sikapmu masih mengacuhkanku," Kessy tak ingin membuang waktu, susah payah ia mengumpulkan niat untuk merayu Byan. Hari ini ia tak mau gagal lagi, ia bertekad harus berhasil.
"Kessy, tidak ada maksudku ..."
"By, aku tahu apa yang kamu mau," Belum juga Byan melanjutkan perkataannya, Kessy sudah memotongnya.
"Aku tahu Byan, tapi aku bukan anak buahmu!"
Kessy beranjak dari duduknya. Ia menghampiri Byan yang terus saja bekutat dengan dokumen di mejanya.
"Kessy, tetap disana!" Perintah Byan tak ingin Kessy mendekatinya.
"Kenapa By?? Apa kamu sudah mulai tertarik denganku? Oh, tidak. Sebenarnya kamu memang sudah tertarik padaku sejak pertama kali kita bertemu, bukan?"
Perbedaan Kessy benar-benar terlihat. Pasalnya saat pertama kali bertemu, Kessy terlihat sebagai wanita tegas dan juga bijak. Begitu pula ketika Kessy ke rumah Byan, ia masih menunjukkan sikap kalem dan apa adanya. Namun berbeda hari ini, menurut Byan Kessy seperti seorang wanita penggoda.
"By, aku tahu kamu sudah mulai menyukai aku? Aku tahu kamu sebenernya menginginkan aku juga?"
Rayuan Kessy tak berhenti begitu saja, ia memutar posisinya di belakang kursi yang di duduki Byan. Tangannya mulai menyentuh pundak Byan, ia memainkan jari-jarinya hingga membuat Byan merasa meremang.
"Kessy, apa yang kamu lakukan?!!!" Byan bangun dari duduknya, ia membentak Kessy dengan suara kerasnya.
"Byan, ayolah, jujur saja, kamu suka dengan perlakuan aku, bukan? Aku hanya ingin menyenangkan kamu ..." Bukannya marah, Kessy malah semakin menggoda Byan.
"Hentikan Kessy! Sekarang juga kamu keluar!!!" Usir Byan tak mau tinggal diam, ia merasa jijik atas perlakuan Kessy.
__ADS_1
"Heuh, munafik kamu By!" Kessy menyunggingkan senyum smirknya.
"Kamu tidak usah pura-pura By, aku siap melayani kamu kapan pun, aku tahu kamu kesepian selama ini," lanjut Kessy tak mau menyerah begitu saja.
"Kessy!!" Byan menampik tangan Kessy yang sudah mulai menyentuhnya kembali.
"By, aku tulus sama kamu! Aku tahu kamu kesepian setelah istri kamu meninggal. Kamu pasti membutuhkan wanita, apa kamu tidak bisa melihat kesungguhanku ini, By?"
"Dasar wanita jal**g!!!" Karena Kessy tak mau pergi meninggalkannya, bertindak tak sopan dan semakin berani terpaksa Byan yang mengalah pergi dari ruangan kerjanya sendiri.
"Byan!!!!!" Teriak Kessy, namun Byan tak juga menghentikan langkah kakinya.
Byan keluar dari kantornya, ia tak mau berurusan lagi dengan Kessy.
"Wanita gila!!! Bisa-bisanya dia berbuat hal yang tidak masuk akal di kantor!" Byan memasuki mobilnya, ia memilih pergi meninggalkan kantor.
"Aku tidak menyangka, dibalik wajahnya yang tegas itu ternyata dia... Ah, sh***ttt!!!" Byan merasa bagian sensitifnya kini mulai mengeras.
"Sial!!!!! Sial!!!" Byan melajukan mobilnya dengan cepat.
Entah sejak kapan hal ini terjadi, ia merasa akhir-akhir ini adik kecilnya sering bangun. Tiba-tiba otaknya malah kembali membayangkan wajah Mara, sialnya hal itu malah membuat adik kecilnya semakin terus menegang.
"Tidak, kenapa harus wajah Mara yang muncul?"
Semenjak pertemuannya dengan Mara kemarin malam, membuat Byan tak bisa mengontrol dirinya. Padahal selama lima tahun, ia tak pernah seperti ini.
"Ini semua gara-gara Kessy! Beraninya dia!!"
Byan mengumpat kasar, dengan kecepatan tinggi ia pun memilih pergi ke sebuah hotel dengan memesan kamar via online. Setidaknya, disana ia bisa melakukan apa yang harus dilakukannya. Tidak mungkin baginya untuk pulang ke Rumah saat ini.
Byan menelusuri lorong-lorong hotel mencari dimana letak kamar yang telah ia pesan. Matanya mencari-cari dengan langkah kakinya yang terus melaju dengan cepat sembari menahan rasa yang tak karuan pada bagian adik kecilnya.
"Arghhhh! Dimana kamarnya?" Byan terus mengumpat kesal.
Setibanya di kamar bernomor pintu 34 itu, Byan pun terhenti. Ia mencoba meraih kunci dan memasukkan kelubang knop pintu.
Ceklek!
Suara knop pintu terbuka, namun suara itu bukan berasal dari kamar yang ingin Byan tempati. Tepatnya kamar di sebelahnya, dan sosok seorang wanita keluar dari dalam sana.
"Sial! Harusnya sekarang aku punya ilmu menghilang seperti jin!" Dalam hati Byan mengumpat, ia tak sanggup jika terus bertatapan dengan mata yang berbinar di hadapannya saat ini.
__ADS_1