Mengejar Cinta Jandaku

Mengejar Cinta Jandaku
Pilihan tersulit


__ADS_3

Hingga sore hari, Mara masih menunggu namun sesuatu yang ia tunggu tak juga muncul.


Mara terus memeriksa ponselnya, ponsel yang sejak semalam tak juga berdering bahkan ia sampai tak bisa tidur.


Di bukanya lagi layar ponsel itu, lalu ia letakkan di atas meja kembali karena tak mendapatkan apa yang ia harapkan. Ternyata menunggu itu begitu membosankan baginya.


"Heuh!!" Mara menghela nafasnya panjang. Ia tak habis fikir mengapa Byan tak kunjung menghubunginya, padahal semalam Mara sudah memberikan nomor teleponnya.


"Apakah dia sedang berada di pesawat?" Sepertinya Mara begitu berharap dapat dihubungi oleh Byan. Apakah mungkin Mara sudah mulai merindukannya?


"Tidak! Ini tidak benar, Mara," Mara terus menolak apa isi hatinya saat ini. Entah sampai kapan ia akan mengakui tentang perasaannya, yang jelas hari ini ia masih menolak pengakuan itu.


TOK! TOK!


"Masuk," jawab Mara ketika mendengar seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.


"Mba, ada tamu," ternyata Renata yang muncul dari balik pintu.


"Siapa, Re? Jangan sembarangan menerima tamu ..."


"Tante Cantik!" Panggil Star dengan teriakan, ia mendorong pintu kemudian langsung berhambur memeluk Mara seperti biasa ketika mereka bertemu.


"Star?" Mara tersenyum sumringah, setidaknya Star datang menemuinya meski sebenarnya ia juga berharap akan kehadiran Byan.


Mata Mara celingukan mencari keberadaan Sumi yang tak juga muncul. "Di mana Mba Sumi?"


"Star tidak datang bersama Mba Sumi," jawabnya dengan nada Manja.


"Lalu datang bersama siapa?" Tanya Mara lagi.


"Omma!"


Setelah Star memanggil, Andryani pun datang menemui Mara di dalam ruangan kerjanya.


"Umi?" Mara jadi salah tingkah, ia tak habis fikir jika kini Andryani datang menemuinya. Bahkan ia merasa ada sesuatu hal yang akan disampaikan. Entah apa itu, hingga kini perasaannya belum bisa menebak.


Melihat Andryani, Mara pun meminta Renata untuk mengajak Star bermain di luar terlebih dahulu. Karena ia sangat yakin jika ada tujuan lain di balik kedatangan Andryani.


"Bagaimana kabarmu, Mara?" Andryani memeluk tubuh janda yang kini sudah menjadi mantan menantunya itu dengan lembut.


"Baik, Umi," Mara tak pandai berbasa-basi. Ia sangat takut salah bicara, bahkan ia juga sungkan untuk bersikap lebih akrab.


"Mara, tempatmu ini begitu nyaman," Andryani memeperhatikan setiap sudut ruang kerja Mara. Meski terkesan minimalis, tapi suasana dan interiornya membuat orang yang berada di dalamnya merasa nyaman.


"Aku senang jika bisa membuat Umi nyaman," ucap Mara dengan kikuk. Meski sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan. Ia masih menunggu kejelasan dari Andryani.


"Mara, ada hal penting yang ingin Umi sampaikan, apakah kamu bisa menyisihkan waktu sebentar?"


Benar dugaan Mara, di balik kedatangan mantan mertuanya itu pasti ada sesuatu. Dan benar saja, dari tatapan matanya jantung Mara sudah di buat hampir copot.

__ADS_1


Mara tak ingin membuang waktu, ia segera membuatkan teh hangat untuk Andryani sebelum jantungnya ini jatuh, setelah mendengar apa yang akan disampaikan oleh mantan ibu mertuanya itu.


"Silahkan di minum, Umi," Mara meletakkan teh di atas meja tepat di depan sofa di mana Andryani duduk.


"Umi lihat, akhir-akhir ini kedekatanmu dengan Star semakin bertambah akrab,"


Entah basa-basi apa yang Andryani sampaikan, hingga ia bingung harus menjawab bagaimana. Pilihannya saat ini hanyalah memasang senyumannya setulus mungkin.


"Mara, Umi tahu kau begitu tulus menyayangi Star," lanjut Andryani lagi.


"Apa yang akan dikatakan Umi? Mengapa ia membuatku berdebar seperti ini? Tak bisakah dia berterus terang saja dan tidak usah bertele-tele?" Mara hanya bisa bergumam di dalam hatinya. Sembari mengumbar senyuman, ia masih sabar menantikan kelanjutan ucapan Andryani.


"Mara, Umi tahu kamu begitu menyayangi Star. Tapi,"


"Jika memang kedekatanku dengan Star mengganggu Umi, aku minta maaf. Meski Umi memintaku menjauhi Star, itu tidak akan mengurangi rasa sayangku terhadapnya," Mara kini berani mengungkapkan isi hatinya. Ia sungguh tidak tahan jika harus menyimpannya lebih lama. Ia juga yakin, apa yang akan Andryani sampaikan berhubungan dengan kedekatannya pada cucu kesayangannya itu.


Andryani tersenyum, ia menatap lekat ke arah Mara yang kini juga menatap dirinya.


"Mara, sepertinya kamu begitu paham apa yang Umi maksud. Sebenarnya Umi pun berat ingin menyampaikan hal ini padamu, tapi ini semua demi kebaikan Star dan juga Byan tentunya," mata Andryani kini mulai memerah. Ia sungguh tak sanggup jika harus mengatakan hal yang lebih jauh lagi. Sebagai orang tua, ia ingin melihat anak cucunya bahagia, namun sebagai seorang istri ia tak bisa melihat jika suaminya harus menderita.


Pilihan yang sulit baginya, namun ia harus segera memilih meski akhirnya ada hati yang harus dikorbankan.


Terlalu sering ia menyakiti perasaan Asmara. Sekarang ia pun akan kembali menyakiti perasaan wanita ini. Jika bukan karena reputasi suaminya, ia tak mungkin mau melakukannya.


"Jauhi Star ..." ucap Andryani dengan suara berat.


"Umi??" Mara tertunduk lesu, haruskah ini terjadi lagi padanya? Mengapa permintaan Andryani sepeti ini? Bahkan mendengarnya saja Mara merasa tak kuat, apalagi jika ia harus benar-benar menjauhi Star.


Mara semakin bingung, ia tak mengerti mengapa Andryani mengatakan hal ini. Ia tak bisa lagi berkata-kata, mulutnya bungkam, matanya pun kini mulai memerah.


"Umi tahu ini berat bagimu, tapi ini semua demi kebaikan kalian. Umi minta maaf, Mara," Andryani tak dapat lagi membendung air matanya. Ia kini sudah menumpahkan nya tanpa ia tahan lagi.


"Umi, mengapa melarangku? Apa alasannya adalah masa laluku dengan Mas Byan?" Mara sangat ingin mengetahui hal yang sebenarnya. Jika memang permintaan Andryani ini karena ulahnya di masa lalu, mungkin ia akan mempertimbangkannya lagi.


Andryani menggeleng, ia tak kuasa menjawab lagi.


Melihat itu, Mara kembali melontarkan sebuah pertanyaan.


"Umi, apakah ini salah satu alasan mengapa Mas Byan pergi ke luar kota??"


"Bukan ke luar kota, tapi ..."


"Omma?" Star masuk secara tiba-tiba hingga ia membuat Andryani menghentikan perkataannya yang belum selesai. Star melihat kedua orang dewasa di dalam sana tengah menangis, hal itu membuatnya menatap Mara dan Andryani bingung.


"Apa yang terjadi? Mengapa semua orang menangis?" Star segera mendekat ke arah Andryani. Ia pun menatap bergantian ke arah Mara.


"Star, Tante dan Omma sedang bercerita. Cerita itu sangat sedih, jadi Tante dan Omma merasa terharu," Mara tak kuasa membendung air matanya. Namun ia juga harus memikirkan cara agar Star tak salah paham. Padahal sebenarnya, hatinya begitu sakit ketika di minta menjauhi Star padahal saat ini ia sedang bertatapan dengan bocah menggemaskan itu.


"Benarkah? Sayang sekali Star tidak bisa mendengar cerita itu," Star memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Lain kali, Tante akan ceritakannya lagi," Jawab Mara sembari mengusap air matanya.


Andryani semakin merasa bersalah karena telah mengatakan hal ini pada Mara. Padahal Mara begitu menyayangi cucunya itu. Tapi apa boleh buat, Andryani tak memiliki pilihan lain. Lagi-lagi ia harus mengorbankan perasaan Asmara.


"Star, sebaiknya kita pulang karena sudah hampir malam. Kasihan Oppa di rumah," Andryani mengajak Star untuk kembali ke rumah. Meski sebenarnya ia belum selesai berbicara kepada Asmara dan ingin menuntaskan semuanya.


"Baiklah," Star tertunduk lesu. Ia pun segera berpamitan dengan Mara. Namu kali ini berbeda, ketika Star ingin memeluk tubuh Mara, hal itu di tolak oleh Mara. Mara hanya mencubit pelan pipi Star.


"Star, sudah malam. Hati-hati di jalan," hatinya begitu tertusuk dan amat sakit. Ia melakukan hal ini ia bukan untuk menyakiti Star. Namun ia mengingat permintaan Andryani barusan. Mungkin awalnya terasa berat, namun Mara tidak memiliki hak apapun atas Star yang begitu ia sayangi. Biarpun ia begitu menginginkan mendekati Star, namun jika keluarganya tak menyetujui, ia tak bisa berbuat apa-apa.


Setelah pasangan nenek dan cucu itu pergi, Renata dan Susi segera menghampiri Mara karena mendengar suara tangisan di dalam ruangan kerja Mara.


"Mba, ada apa?" Tanya Susi yang kini melihat Mara tengah menangis dengan terisak-isak.


"Mba, Mara?" Sma halnya dengan Renata, ia pun segera memeluk tubuh Mara yang menurutnya membutuhkan suatu ketenangan saat ini.


"Mba, apa yang di lakukan oleh wanita itu? Apakah dia menyakiti Mba, Mara?" Setelah dirasa cukup tenang, Susi pun memberanikan diri bertanya pada Mara yang kini sudah tak terisak lagi.


Namun Mara masih bungkam, ia hanya menggelengkan kepala sembari terus mengusap sisa air mata di wajahnya.


"Aku jadi heran, Star memanggil wanita itu Omma. Berarti wanita itu adalah neneknya, lantas Star juga memanggil pria tampan misterius itu dengan sebutan Papa, apakah pria itu juga Papanya??" Mata Renata membola. Ia masih menebak-nebak perihal Byan yang belum ia ketahui itu. Matanya menatap ke arah Mara, berharap Mara akan memecahkan teka-teki di dalam otaknya.


"Hust! Jangan sembarangan! Mana mungkin pria misterius itu sudah mempunyai anak?" Susi menepuk bibir Renata yang kini sudah berbentuk kerucut. Ia melakukan itu juga karena berusaha menjaga perasaan Mara. Mata Susi pun membola ke arah Renata yang terkenal dengan mulut asal bicaranya.


"Pria misterius?" Mara menjadi bingung dengan apa yang Susi dan Renata bicarakan. Ia pun tertarik dengan pembahasan kali ini.


"Maksud kita, pria yang memberikan Vitamin C dan bunga mawar pada Mba tempo hari, Mba lupa?" ucap Renata dengan mimik wajah yang aneh.


"A-apa??" Mara terkejut, ia benar-benar belum paham.


"Kemarin, saat Mba terluka Star dan Pria misterius itu kemari. Mereka mencari Mba Mara," sambung Susi.


"Jadi, Mas Byan adalah pria misterius itu??" Mara hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya. Jika Byan adalah pria misterius itu, bisa jadi dia juga pria yang sudah menyelamatkannya dari penjambretan.


"Mba sudah tahu namanya?" Tanya Renata.


"Re, apakah pria misterius itu menggunakan sepeda motor sport berwarna merah?" Bukannya menjawab, Mara malah balik bertanya pada Renata.


"Loh, Mba sudah tahu juga? Apa Mba sudah mengenalnya?"


Mara benar-benar tak menyangka, bahkan ia menganggap dirinya begitu bodoh karena tak bisa menebak siapa pria itu. Pria yang begitu memperhatikannya, bahkan rela celaka hanya untuk menyelamatkan dirinya.


"Aku begitu bodoh!" Mara merutuki kesalahannya sendiri. Sungguh, kali ini ia begitu menyesal karena baru mengetahui yang sebenarnya.


"Mba," Renata dan Susi tak tahu apa yang tengah terjadi pada atasan mereka saat ini. Mara malah semakin menangis terisak, tanpa mereka tahu sebabnya.


Mengapa Byan melakukan ini padanya? Apakah ini wujud dari keseriusan yang selalu ia katakan? Tidak mungkin jika Byan bermain-main, ia bahkan rela melakukan hal yang berbahaya demi Mara?


Berbagai macam tanya bersarang di benaknya, bahkan Mara ingin sekali berbicara dan menemui Byan saat ini juga. Namun itu semua dirasa telah terlambat. Byan saat ini sudah berada di luar kota, sangat sulit baginya untuk berbicara apalagi bertemu.

__ADS_1


Jika ia bertemu Byan, hal itu juga tidak mungkin di lakukan olehnya. Mengingat baru saja Andryani memintanya untuk menjauhi anak dan cucunya.


"Bagaimana ini?" Mara bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menangis.


__ADS_2